NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 Harga Sebuah Ingatan

Aula sekolah yang tadinya riuh dengan musik festival kini berubah menjadi medan tempur yang sunyi dan mencekam. Di bawah pengaruh kekuatan The Eraser, waktu seolah membeku menjadi kristal. Anita berdiri mematung hanya beberapa senti di belakang Saka, sebuah senyum kebahagiaan yang terekam diam di wajahnya, tidak menyadari bahwa maut sedang menatapnya dari atas balkon.

Saka menerjang. Dengan bantuan The Void Watch, gerakannya menciptakan distorsi cahaya biru. Ia melompat melewati deretan kursi yang melayang diam di udara, menuju balkon tempat The Eraser berdiri.

"Bodoh," desis The Eraser. Ia hanya menggerakkan jarinya, dan seketika tekanan gravitasi di sekitar Saka berlipat ganda. Brak! Saka jatuh menghantam lantai kayu panggung dengan keras.

"Kamu menggunakan alat yang tidak kamu pahami, Saka," The Eraser melayang turun, jubah hitamnya berkibar seperti asap cair. "Setiap kali arloji itu berputar mundur untuk memberimu kekuatan, ia memakan sesuatu sebagai bahan bakar. Bukan baterai, bukan listrik. Tapi ingatanmu."

Saka terengah-engah. Ia mencoba bangkit, namun tiba-tiba kepalanya terasa kosong.

Siapa nama guru SD-ku yang paling baik?

Ia mencoba mengingat, tapi hanya ada kabut abu-abu. Ingatan itu telah terbakar untuk memberinya kekuatan melompat tadi.

"Jangan dengarkan dia, Saka!" suara Luna mendengar dari arah pintu aula. Gadis berambut perak itu muncul dengan membawa busur panah yang terbuat dari jalinan cahaya. "Dia mencoba memecah fokusmu! Jika kamu ragu, waktu akan menelanmu bulat-bulat!"

Luna melepaskan anak panah cahaya ke arah The Eraser. Ledakan energi terjadi, melepaskan pembekuan waktu selama beberapa detik. Orang-orang di aula sempat bergerak sedikit sebelum kembali membeku saat The Eraser memperkuat auranya.

"Luna... pengkhianat kecil dari Chronos Academy," The Eraser tertawa. "Saka, lihat istrimu... ah, maksudku pacarmu. Apakah kamu masih ingat warna kesukaannya? Atau lagu yang kalian dengarkan saat pertama kali kencan?"

Saka melihat ke arah Anita. Ia mencoba mengingat momen di warung bakso saat ia baru kembali ke masa lalu. Warna apa yang dia pakai? Lagu apa yang diputar di radio warung itu?

Kosong. Saka merintih kesakitan. Setiap detik ia memegang The Void Watch, potongan-potongan hidupnya dicuri.

"Saka, gunakan 'Sync-Soul'!" teriak Luna sambil menahan serangan bayangan dari The Eraser. "Jangan ingat masa lalumu, tapi rasakan detak jantung Anita di masa sekarang! Jadikan itu sauhmu!"

Saka memejamkan mata. Ia berhenti mencoba mengingat masa lalu yang mulai menghilang. Ia fokus pada suara napas Anita yang tertahan di belakangnya. Ia merasakan kehangatan yang memancar dari keberadaan gadis itu di sana, di detik ini.

Tiba-tiba, jarum bayangan di arloji saku Saka berhenti berputar liar dan mulai berdetak stabil dengan cahaya emas yang menyilaukan.

"Aku mungkin lupa siapa aku di masa lalu," Saka berdiri, auranya kini lebih tenang namun jauh lebih padat. "Tapi aku tahu persis siapa yang harus aku lindungi sekarang!"

Saka bergerak dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh mata The Eraser. Bukan dengan melompat, tapi dengan "memotong" jarak waktu. Dalam satu kedipan mata, Saka sudah berada di depan The Eraser.

Bugh!

Saka menghantam topeng perak itu dengan tinju yang dialiri energi murni. Topeng itu retak. The Eraser terlempar menghantam dinding aula hingga hancur.

"Ini belum selesai, Sang Penjaga," suara The Eraser melemah, tubuhnya mulai memudar menjadi partikel hitam. "Aku telah menanam benih di masa lalu yang tidak bisa kamu jangkau. Selamat menikmati hidup sebagai pria tanpa sejarah."

The Eraser menghilang. Waktu kembali berjalan normal secara tiba-tiba.

Jreeeng! Suara musik kembali berdentum. Orang-orang kembali bersorak, melanjutkan percakapan mereka seolah tidak ada yang terjadi.

Anita mengerjapkan mata, melihat Saka berdiri di depannya dengan napas tersengal dan tangan yang gemetar.

"Saka? Kamu kenapa? Kok keringetan banget?" Anita menyeka keringat di dahi Saka dengan sapu tangannya. "Tadi kita lagi ngomongin soal... soal apa ya? Kok aku lupa?"

Saka menatap Anita. Ia ingin mengatakan sesuatu yang manis tentang masa lalu mereka, tapi ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Ia tahu dia mencintai gadis di depannya ini, tapi ia tidak ingat lagi bagaimana mereka pertama kali bertemu. Memori tentang hari-hari pertama mereka di SMA telah lenyap sepenuhnya.

Saka tersenyum getir, air mata menetes di pipinya. "Nggak apa-apa, Nit. Yang penting kita ada di sini sekarang."

Di kejauhan, Luna menatap mereka dengan tatapan sedih. Ia tahu, ini baru permulaan. Saka telah menyelamatkan nyawa Anita, tapi ia mulai kehilangan dirinya sendiri dalam prosesnya.

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!