NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Terjebak dalam Napas Terakhir

​Suasana aula yang tadinya dipenuhi gelak tawa dan denting gelas kristal mendadak berubah menjadi neraka sunyi. Satu per satu tamu undangan tumbang, memegangi leher mereka seolah-olah udara di dalam ruangan itu telah berubah menjadi duri yang menusuk paru-paru.

​"Gas... ini gas saraf!" teriak seorang pengawal Mahendra sebelum akhirnya ia sendiri jatuh berlutut dengan mata memerah.

​Devan bereaksi lebih cepat dari siapa pun. Begitu mencium aroma aneh seperti almond pahit yang samar, ia segera merobek kain sapu tangan dari saku tuxedo-nya, membasahinya dengan sisa champagne di meja, dan membekap mulut serta hidung Clarissa.

​"Jangan bernapas dalam-dalam, Clarissa! Ikut aku!" Devan menarik lengan Clarissa dengan paksa, menerobos kerumunan orang yang mulai histeris.

​"Devan... kepalaku... pening sekali," bisik Clarissa. Tubuh Lestari yang mungil ternyata lebih rentan terhadap racun daripada tubuh atletis Devan. Kesadarannya mulai naik turun, dunianya berputar seperti gasing.

​"Bertahanlah, Ratu! Jangan berani-berani memejamkan mata!" Devan menggendong Clarissa ala bridal style, berlari menuju lift khusus CEO yang tersembunyi di balik dinding marmer aula.

​Begitu mereka masuk, Devan menekan tombol menuju basement tempat mobil antipeluru mereka menunggu. Pintu lift tertutup rapat, memberikan perlindungan sesaat dari kepulan gas di aula. Namun, tepat saat lift mulai bergerak turun, sebuah guncangan hebat terjadi.

​BRAAAK!

​Lampu lift berkedip merah, suara kabel baja yang bergesekan terdengar memekakkan telinga, dan lift itu berhenti mendadak di antara lantai 15 dan 14.

​"Sial! Mereka memutus aliran listriknya!" Devan menghantam dinding lift dengan tinjunya.

​Di dalam ruang sempit yang hanya diterangi lampu darurat berwarna merah redup, suasana menjadi sangat mencekam. Suhu di dalam lift mulai meningkat, dan oksigen terasa semakin tipis.

​Clarissa terkulai lemas di sudut lift. Wajahnya yang cantik kini pucat pasi, bibirnya mulai membiru. Efek gas saraf yang sempat ia hirup tadi mulai bekerja, melumpuhkan sistem saraf motoriknya.

​"Devan..." Clarissa menggapai udara dengan tangan gemetar. "Rasanya... sesak sekali."

​Devan segera berlutut di depan Clarissa, menangkup wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Matanya yang biasanya dingin kini dipenuhi ketakutan yang murni. "Lihat aku, Clarissa! Tetap fokus padaku! Jangan bicara, simpan oksigenmu."

​Devan membuka dasi dan kancing kemejanya, mencoba memberikan ruang napas lebih luas bagi dirinya sendiri agar tidak ikut pingsan, lalu ia mendekap Clarissa erat. Ia bisa merasakan jantung Clarissa berdetak sangat cepat namun lemah.

​"Kau tahu..." Clarissa berbisik, suaranya hampir tidak terdengar di tengah sunyinya lift. "Elena benar... aku memang hanya... sebuah kode. Jika aku mati di sini... kau bisa mencari... tubuh cadangan itu, kan?"

​"Tutup mulutmu, Clarissa Wijaya!" Devan membentak, namun suaranya bergetar karena tangis yang ditahan. "Tidak ada kode, tidak ada tubuh cadangan! Hanya kau! Jika kau pergi, aku akan meledakkan gedung ini dan ikut bersamamu ke neraka! Kau dengar?!"

​Clarissa tersenyum getir. Di ambang kematiannya yang kedua, ia melihat sisi Devan yang paling jujur. Pria ini tidak sedang melindungi aset; ia sedang melindungi dunianya.

​Tiba-tiba, suara statis terdengar dari pengeras suara lift.

​"Bagaimana rasanya, Tuan Mahendra? Melihat wanitamu mati perlahan dalam pelukanmu?" suara itu disamarkan secara digital, namun kebenciannya terasa nyata. "Kau mengambil segalanya dariku di Alpen, sekarang aku mengambil napasnya."

​"Siapa kau?! Tunjukkan dirimu, pengecut!" raung Devan ke arah kamera CCTV lift.

​"Aku adalah bayangan yang tidak bisa kau tangkap. Selamat tinggal, pasangan abadi."

​Koneksi terputus. Di saat yang sama, Devan menyadari sesuatu yang lebih mengerikan. Asap putih tipis mulai masuk melalui ventilasi atas lift. Mereka memompa sisa gas saraf langsung ke dalam ruang sempit itu.

​"Clarissa! Clarissa, bangun!" Devan mengguncang tubuh Clarissa yang mulai lunglai.

​Clarissa tidak menjawab. Matanya terpejam rapat. Devan panik. Ia tidak punya alat medis, tidak ada masker oksigen. Hanya ada satu cara untuk memberikan oksigen bersih yang masih tersisa di paru-parunya kepada Clarissa.

​Devan menarik napas dalam-dalam dari udara di lantai lift (udara bersih biasanya mengendap di bawah), lalu ia menempelkan bibirnya ke bibir Clarissa. Ia memberikan napas buatan secara paksa, menyalurkan oksigen dan kehidupannya sendiri ke dalam tubuh gadis itu.

​Satu kali... dua kali...

​Clarissa terbatuk kecil, matanya terbuka sedikit, menatap Devan dengan pandangan kabur.

​"D-Devan... kau akan ikut... keracunan..."

​"Diam dan terima saja, Ratu Cerewet," Devan menyeka keringat di dahi Clarissa. Ia sendiri mulai merasakan dadanya sesak dan kepalanya berdenyut hebat. Pandangannya mulai berbayang, namun ia menolak untuk menyerah.

​Devan berdiri dengan sisa tenaganya, melihat ke langit-langit lift. Ada pintu darurat kecil di atas sana. Dengan bahu yang masih belum pulih total dari luka tembak, ia mencoba melompat dan meraih pinggiran pintu itu.

​"Argh!" Devan terjatuh kembali. Bahunya berdarah lagi, membasahi kemeja putihnya dengan warna merah yang mengerikan.

​"Jangan... Devan... lukamu..." Clarissa menangis, ia mencoba merangkak untuk menahan Devan.

​"Aku... tidak akan membiarkanmu... mati lagi..." Devan menggeram. Ia mencoba lagi. Kali ini dengan amarah yang meledak, ia berhasil meraih lubang itu dan menarik dirinya ke atas, lalu membuka penutup daruratnya.

​Udara segar dari lorong lift masuk ke dalam. Devan menghirupnya dalam-dalam sebelum kembali turun untuk mengangkat Clarissa.

​"Naik ke pundakku, Clarissa! Cepat!"

​Dengan sisa kekuatan yang ada, Clarissa memanjat bahu Devan. Devan mendorong tubuh Clarissa ke atas hingga gadis itu berhasil keluar dari lift dan duduk di lantai atas kabin yang gelap.

​Namun, tepat saat Devan hendak menarik dirinya naik, kabel baja lift mengeluarkan suara KRAK yang mengerikan. Lift itu merosot turun beberapa senti.

​"Devan! Berikan tanganmu!" Clarissa menjulurkan tangannya dengan panik.

​"Lari, Clarissa! Ikuti tangga darurat di dinding lorong! Aku akan menyusul!" teriak Devan. Ia tahu kabel ini tidak akan kuat menahan beban mereka berdua jika ia mencoba melompat sekarang.

​"TIDAK! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi!" Clarissa berteriak histeris. "Berikan tanganmu atau aku akan melompat kembali ke bawah!"

​Devan menatap mata Clarissa yang penuh tekad. Ia tahu, wanita ini tidak sedang menggertak. Dengan satu lompatan nekat tepat saat kabel utama putus, Devan menggapai tangan Clarissa.

​DUAAR!

​Lift itu jatuh bebas ke dasar gedung, menciptakan suara ledakan yang menggetarkan seluruh lorong. Devan tergantung di dinding lorong lift, hanya berpegangan pada tangan kecil Clarissa yang kini menariknya dengan kekuatan yang tidak masuk akal.

​"Aku dapat... aku dapat kau..." Clarissa mengerang, otot-otot lengannya terasa mau putus, namun ia berhasil menarik Devan masuk ke lantai 15 yang pintunya sedikit terbuka.

​Mereka berdua terjatuh di lantai koridor yang dingin, terengah-engah, dengan tubuh yang penuh debu dan keringat. Mereka selamat.

​Clarissa langsung memeluk Devan, menangis sesenggukan di dada pria itu. Devan mengelus rambut Clarissa, meskipun tangannya sendiri gemetar hebat.

​"Sudah... kita aman sekarang," bisik Devan.

​Namun, saat mereka mencoba berdiri, mereka melihat sesosok pria berdiri di ujung koridor yang gelap. Pria itu mengenakan masker gas dan memegang sebuah detonator.

​"Luar biasa. Benar-benar cinta yang mengharukan," ucap pria itu. Suaranya tidak asing.

​Clarissa membelalak. "Suara itu... Kenzo?!"

​Pria itu membuka maskernya, dan benar saja, itu adalah Kenzo. Wajahnya yang dulu tampak pengecut kini dipenuhi dengan kegilaan. "Kau pikir aku akan membiarkanmu mengambil Wijaya Group begitu saja? Jika aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada yang boleh!"

​Kenzo menekan tombol di detonatornya.

​BIP. BIP. BIP.

​Lantai di bawah mereka mulai bergetar. Seluruh gedung The Mahendra Star telah dipasang bom.

1
Mommy Ayu
masak iya secepat itu bakal terungkap siapa lestari sebenarnya
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!