NovelToon NovelToon
Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Hunter X Hunter: Raito In The Hunter World

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Action / Fantasi Isekai / Anime / Menjadi NPC / Jujutsu Kaisen
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Di tengah dendam, pengkhianatan, dan calamity yang tak terbayangkan, Raito menjadi “cahaya kecil” yang tak pernah padam. penyeimbang yang selalu ada saat dunia paling gelap.

Sebuah kisah survival, pertumbuhan, dan pencarian makna di dunia Hunter x Hunter

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lebih Keras

Malam itu terasa seperti ada yang menunggu di balik setiap bayang-bayang. Raito, Mira, dan Sera berjalan kembali ke gudang nomor 47—bukan karena dipanggil, tapi karena Raito merasa batu itu “memanggil” lagi. Bukan suara, bukan bisikan jelas, tapi denyut hangat di dada yang semakin kuat setiap langkah mendekat. Seperti detak jantung kedua yang tidak mau diam.

Yuna ditinggal di penginapan dengan pesan ketat dan kunci ganda. “Kalau ada yang ketuk, jangan buka. Kalau kami nggak balik sebelum subuh, lari ke Heavens Arena. Cari Taro. Dia akan lindungi kamu.”

Yuna mengangguk dengan mata besar, tapi suaranya kecil. “Janji kalian balik ya?”

Raito mengaitkan kelingkingnya. “Janji.”

Sekarang ketiganya berdiri di depan pintu besi yang sama. Kali ini tidak ada penjaga. Pintu sedikit terbuka, seperti mengundang.

Sera memegang Echo Prism erat-erat. “Aku nggak masuk kalau terlalu berbahaya. Tapi aku akan coba baca dari luar.”

Mira mengangguk. “Kami masuk dulu. Kalau ada masalah, kabur ke lorong samping.”

Raito mendorong pintu pelan. Gudang dalam gelap, hanya satu lampu gantung kuning yang menyala di atas meja tengah. Eclipse Stone ada di sana, sendirian, tanpa Harlan, tanpa Viktor, tanpa siapa pun.

Batu itu bercahaya pelan—garis retak di dalamnya berdenyut seperti urat nadi, cahayanya putih keemasan yang sama dengan Inner Light Raito.

Raito maju selangkah. Dadanya berdegup kencang.

“Ini… seperti batu itu nunggu aku.”

Mira pegang lengan Raito. “Jangan dekat dulu. Biar Sera coba baca.”

Sera angkat Echo Prism. Prisma itu bergetar di tangannya, mulai bercahaya ungu samar. Garis-garis cahaya kecil muncul di permukaannya—seperti peta retak yang hidup, tapi kali ini lebih jelas, lebih dalam.

Sera menarik napas tajam. “Ini… bukan cuma retak Nen. Ini seperti… pintu yang sudah setengah terbuka. Batu itu sudah ‘mengenal’ kamu sejak pertama disentuh. Ia sudah lihat bagian dalam dirimu yang kamu sembunyikan.”

Raito menelan ludah. “Bagian apa?”

Sera menatap prisma itu lama. Matanya melebar.

“Rasa takut menjadi biasa lagi. Rasa takut kalau pulang ke dunia lama, kamu akan hilang semua yang kamu dapat di sini—Mira, Yuna, kekuatan ini, tujuan ini. Retak itu bukan kelemahan. Itu pintu ke bagian dirimu yang ingin tetap di sini. Yang ingin jadi lebih dari orang biasa.”

Mira memandang Raito. “Itu… masuk akal. Kamu sering bilang kamu takut pulang dan jadi orang yang sama seperti dulu.”

Raito diam. Dia maju satu langkah lagi ke batu itu. Cahaya dari dadanya mulai mengalir keluar tanpa dia kendalikan—bukan meledak, tapi mengalir pelan seperti air yang menemukan celah.

“Aku… aku nggak mau bohong lagi sama diri sendiri,” kata Raito pelan. “Aku takut pulang. Aku takut kalau aku pulang, semua ini cuma mimpi. Aku takut kalau aku tinggal, aku nggak akan pernah tahu apa yang ada di balik portal itu.”

Sera menurunkan prisma. Suaranya gemetar. “Kalau kamu terima retak itu… cahaya-mu akan berubah. Ia akan lebih kuat. Tapi kamu nggak akan bisa kembali tanpa kehilangan sebagian dari dirimu yang sekarang. Kamu harus pilih: tetap di sini dengan retak terbuka, atau pulang dengan retak tertutup selamanya.”

Ruangan hening. Hanya suara denyut batu yang terdengar seperti detak jam.

Raito maju lagi. Tangan kanannya mendekati batu itu—tapi tidak menyentuh. Dia hanya berdiri dekat, membiarkan cahaya dari dadanya menyatu dengan cahaya batu.

Tiba-tiba, garis retak di batu melebar sedikit. Cahaya putih keemasan menyembur pelan—bukan ledakan, tapi seperti pintu yang terbuka setengah. Di dalam cahaya itu, Raito melihat kilasan samar:

Jakarta malam hari, motor maticnya melaju di jalan tol, lampu neon minimarket berkedip.

Hutan Zevil, senyum Gon yang riang.

Mira di atap penginapan, tersenyum kecil saat bilang “kita sama-sama”.

Yuna memeluknya erat, menangis karena takut kehilangan.

Dan di tengah semua itu, bayangan dirinya sendiri—dua versi: satu berdiri di dunia lama, biasa, aman tapi kosong; satu lagi berdiri di dunia ini, penuh retak tapi hidup.

Cahaya batu berdenyut lebih kuat. Suara samar terdengar di kepala Raito—bukan kata-kata, tapi rasa:

Kau sudah tahu jawabannya. Retak itu bukan akhir. Ia adalah awal. Pilih apa yang ingin kau jadi, bukan apa yang kau takut hilang.

Raito menarik napas dalam. Dia lepaskan tangan dari dekat batu itu. Cahaya batu meredup kembali, retakannya tidak melebar lagi.

“Aku belum siap pegang sekarang,” katanya pelan. “Tapi aku sudah tahu… aku nggak mau tutup retak itu. Aku mau biarkan terbuka. Aku mau terima bahwa aku sudah berubah. Dan kalau aku pulang suatu hari… aku akan pulang sebagai orang baru.”

Sera menatapnya dengan mata berbinar. “Itu… jawaban yang jarang. Kebanyakan orang takut retak. Kamu malah mau peluk retak itu.”

Mira meletakkan tangan di bahu Raito. “Kamu yakin?”

Raito mengangguk. “Ya. Retak itu sekarang seperti jendela. Bukan lubang yang bikin aku bocor. Ia tempat cahaya masuk… dan keluar.”

Mereka bertiga keluar dari gudang. Batu itu ditinggal sendirian di meja—denyutnya pelan, seperti menunggu.

Di luar, angin malam menyapu wajah mereka. Raito merasa dadanya lebih ringan—bukan karena beban hilang, tapi karena dia sudah terima beban itu.

Mira berjalan di sampingnya. “Besok kita cari Yuna sarapan yang enak. Dia pasti lapar setelah nunggu.”

Raito tersenyum. “Dan latihan lagi. Aku mau coba bentuk baru dari cahaya ini. Bukan senjata. Bukan perisai. Mungkin… jembatan.”

Sera berjalan di belakang, memegang Echo Prism. “Aku akan catat semuanya. Kalau kamu berhasil… ini bisa jadi penemuan besar.”

Raito menoleh ke Sera. “Terima kasih. Kamu nggak harus bantu kami.”

Sera tersenyum tipis. “Aku penasaran. Dan… aku mulai percaya cahaya kecil bisa ubah banyak hal.”

Mereka bertiga berjalan pulang melalui gang gelap.

Di kejauhan, Yorknew terus bernapas—gelap, berisik, penuh bahaya.

Tapi malam ini, retak di dalam Raito tidak lagi terasa seperti luka.

Ia terasa seperti pintu yang mulai terbuka.

Dan cahaya yang masuk lewat pintu itu—meski masih kecil—sudah cukup untuk menerangi tiga langkah di depan.

1
Cucu 23
Ini semakin menarik ☠️💀☠️🥶🥶
Kashvatama: terimakasih supportnya 💪💪💪
total 1 replies
Cucu 23
Let's go!!!!!☠️💀🥶😎👍🔥
Cucu 23
Kerja bagus 😎😎👍👍🔥
Adibhamad Alshunaybir
mantap author lanjutkan up nya
Adibhamad Alshunaybir: karya nya bagus bagus ya kak minta saran dan ajaran nya kak author☺🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!