Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Pertemuan yang Tidak Diinginkan
Rania Wijaya berdiri di atas lantai 23 gedung pencakar langit yang menjadi markas kantor pusat PT. Wijaya Group, matanya memindai laporan keuangan yang tersebar di atas meja kerjanya yang luas. Lima tahun telah berlalu sejak dia memutuskan untuk mengambil alih bisnis yang dulunya hanya sebuah usaha kecil yang dikelola oleh keluarga. Kini, PT. Wijaya Group telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan pengembangan produk makanan dan minuman terkemuka di Jakarta, dengan cabang yang tersebar di lima kota besar di Indonesia.
Rania menghela napas lega sambil menandatangani lembar terakhir laporan. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Setelah Arga pergi dan meninggalkan rumah makan serta modal pengembalian yang sudah terbayarkan beberapa tahun yang lalu, Rania menghadapi pilihan sulit. Rumah makannya tidak berkembang karena pengelolaan yang sebelumnya menuai kekecewaan masyarakat.
Daripada terus menjalankan rumah makan yang penuh dengan kenangan dan risiko kebangkrutan, dia memutuskan untuk menjual seluruh aset tersebut. Uang hasil penjualan tidak digunakan untuk hal lain – melainkan untuk mendirikan Panti Asuhan Kasih Wijaya, sebuah tempat perlindungan bagi anak-anak yatim dan terlantar yang kini berada di pinggiran kota Bogor. Setiap bulan, sebagian besar laba dari PT. Wijaya Group dialokasikan untuk mengoperasikan panti asuhan tersebut, menjadi bentuk rasa syukur dan tanggung jawab sosial yang Rania yakini sebagai bagian dari misi kehidupannya.
“Bu Rania, rapat dengan tim pemasaran akan dimulai dalam 15 menit,” ujar Sekar, sekretarisnya yang masuk dengan lembut ke dalam ruang kantor eksekutif.
“Baik, Sekar. Beritahu mereka aku akan segera datang. Sebelumnya, tolong siapkan surat pernyataan kerjasama dengan distributor baru di Surabaya,” jawab Rania sambil menyusun berkas-berkas di mejanya.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan penting, Rania memutuskan untuk pergi sendiri ke lokasi baru pabrik yang akan dibangun di kawasan industri Cikarang. Dia lebih suka mengemudi sendiri ketimbang menggunakan jasa sopir, karena saat mengemudi dia bisa merenungkan berbagai rencana pengembangan perusahaan. Mengendarai mobil SUV putihnya, Rania keluar dari gedung kantor dan memasuki jalan raya yang cukup ramai pada jam kerja siang.
Saat melewati simpang besar dekat kawasan Kuningan, sebuah mobil mewah berwarna hitam mendadak keluar dari jalan kecil tanpa memberikan sinyal. Rania yang sedang menghindari kendaraan lain di depannya terpaksa melakukan pengereman mendadak dan sedikit menyerempet sisi kiri mobil tersebut. Suara gesekan logam yang jelas terdengar membuat kedua kendaraan berhenti di pinggir jalan.
Rania segera turun dari mobilnya untuk memeriksa kerusakan dan meminta maaf. Namun, sebelum dia bisa membuka mulut, pintu mobil hitam terbuka dan seorang pria berperawakan tinggi gagah perkasa keluar dengan wajah yang sangat dingin. Badan yang proporsional tertutupi jas biru tua yang terlihat sangat mahal, rambut hitamnya rapi disisir ke belakang, dan matanya yang tajam seperti sedang membakar api kemarahan.
“Apakah kamu tidak bisa mengemudi dengan hati-hati?! Lihat apa yang kamu lakukan pada mobilku!” teriak pria tersebut dengan suara yang dalam dan menekan. Mobil yang terkena kerusakan ternyata adalah sebuah Mercedes-Benz G-Class yang tampak sangat terawat. Bagian sisi kiri bumper dan pintu depan menunjukkan bekas lecet yang cukup jelas.
“Maaf sekali pak, saya tidak sengaja. Ada kendaraan lain yang mendadak keluar di depanku jadi saya terpaksa menghindar,” jelas Rania dengan nada sopan namun tetap tegas. Dia memang merasa bersalah, tapi tidak suka dengan cara pria tersebut yang langsung marah tanpa mau mendengar penjelasan.
“Alasan tidak akan memperbaiki mobil yang rusak ini! Kamu harus bertanggung jawab dan membayar ganti rugi sesuai dengan biaya perbaikan yang akan aku keluarkan. Tahukah kamu berapa harga untuk memperbaiki bagian ini dengan bahan dan teknisi yang tepat?” kata pria tersebut sambil mengelilingi mobilnya sambil melihat kerusakan dengan ekspresi yang semakin memburuk.
“Saya sudah bilang maaf dan tentu saja saya akan bertanggung jawab. Silakan hubungi pihak asuransi saya atau beri tahu saya biaya perbaikannya nanti saya akan bayarkan,” jawab Rania dengan nada yang mulai menunjukkan rasa tidak senang. Dia tidak menyukai orang yang hanya berpikir tentang uang dan tidak mau mendengarkan alasan dari pihak lain.
“Tidak usah repot dengan asuransi. Kamu bisa langsung mentransfer uangnya ke rekening saya setelah aku tahu total biayanya. Dan jangan coba-coba menghindari tanggung jawabmu!” tegas pria tersebut sambil memberikan kartu nama kepadanya. Di atas kartu nama tertulis Saka Pratama – CEO PT Saka Perkasa. Rania sedikit terkejut karena tahu PT Saka Perkasa adalah perusahaan kontraksi terbesar di Indonesia yang dikenal luas dan memiliki proyek-proyek besar di seluruh negeri.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Saka masuk ke dalam mobilnya dan segera mengemudi pergi, menyisakan Rania yang berdiri dengan wajah jengkel di pinggir jalan. “Sangat tidak sopan sekali,” gumam Rania sambil masuk ke dalam mobilnya dan melanjutkan perjalanan ke Cikarang.
Setelah selesai memeriksa lokasi pabrik dan memberikan instruksi kepada tim lapangan, Rania merasa ingin minum kopi hangat untuk menyegarkan pikiran. Dia ingat bahwa Rina, temannya sejak SMA yang kini bekerja sebagai konsultan keuangan, telah mengajaknya bertemu di Kafe Kopi Cemara yang terletak di kawasan Kemang. Kafe tersebut dikenal dengan suasana yang tenang dan kopi berkualitas tinggi.
Setelah memasuki kafe, Rania melihat Rina yang sudah menunggu di meja sudut yang dekat dengan jendela. Namun, saat dia sedang berjalan menghampiri meja tersebut sambil membawa cangkir kopi panas yang baru saja dia beli di kasir, seseorang yang sedang keluar dari arah toilet tidak sengaja menabraknya. Hasilnya, seluruh isi cangkir kopi hangat tersebut tumpah ke atas jas biru tua yang dikenakan oleh orang tersebut.
“Ah, tidak!” teriak Rania dengan terkejut. Namun, ketika dia melihat wajah orang yang terkena tumpahan kopi, wajahnya langsung berubah menjadi tidak percaya. Ternyata orang tersebut adalah Saka Pratama – pria yang baru saja dia temui dan menyerempet mobilnya beberapa jam yang lalu.
“Kamu lagi?! Apa ini permainan kamu ya?! Pertama mobilku rusak, sekarang jas mahalku yang kamu rusak!” teriak Saka dengan kemarahan yang jelas terlihat di wajahnya. Dia segera menarik serbet dari meja terdekat dan mencoba membersihkan noda kopi yang sudah meresap ke dalam kain jasnya. “Tahukah kamu berapa harga jas ini? Ini dibuat khusus oleh perancang busana ternama di Italia!”
“Saya benar-benar tidak sengaja pak! Saya sedang jalan dan tidak melihat Anda datang,” jelas Rania dengan nada khawatir namun juga sedikit jengkel karena merasa ini adalah kebetulan yang sangat buruk. “Saya akan membayar untuk membersihkannya atau bahkan menggantinya jika perlu. Saya sudah sangat menyesal.”
“Bayar? Apakah kamu pikir uang bisa menyelesaikan semua masalah?! Jas ini bukan hanya tentang harganya, tapi ini jas yang saya butuhkan untuk rapat penting dengan investor dari luar negeri besok!” kata Saka dengan wajah yang semakin dingin tanpa sedikit pun senyuman atau rasa pengertian. “Mengapa setiap kali saya bertemu denganmu selalu ada masalah yang terjadi? Sepertinya kamu membawa sial bagi hidupku!”
Rania merasa darahnya mulai mendidih. Meskipun dia memang merasa bersalah, tapi kata-kata Saka yang menyatakan dia membawa sial benar-benar membuatnya marah. “Saya sudah berkali-kali meminta maaf pak! Semua ini adalah kebetulan yang tidak diinginkan. Saya juga tidak sengaja ingin bertemu dengan Anda dua kali dalam sehari!” jawab Rania dengan nada yang semakin keras, menarik perhatian beberapa pelanggan lain di kafe tersebut.
Rina yang melihat kejadian tersebut segera mendekat dan mencoba menenangkan kedua pihak. “Tenang saja, Kak Rania. Pak, maafkan teman saya ya. Kami akan bertanggung jawab sepenuhnya atas kerusakan jas Anda. Bolehkah kami membawa jas tersebut ke tempat cuci khusus yang bisa menangani kain mewah? Kami akan memastikan jas tersebut kembali seperti semula atau menggantinya jika tidak bisa diperbaiki,” ujar Rina dengan nada yang sangat sopan dan tenang.
Saka melihat wajah Rina yang penuh kesediaan membantu dan kemudian melihat Rania yang masih menunjukkan ekspresi marah di wajahnya. Setelah beberapa saat, dia menghela napas panjang dan mengangguk perlahan. “Baiklah. Bawa jas ini ke tempat cuci yang aku sebutkan besok pagi. Jika tidak bisa diperbaiki dengan baik, kamu harus menggantinya dengan yang sama persis. Dan jangan sampai terlambat karena saya sangat membutuhkannya untuk rapat besok sore,” kata Saka dengan nada yang masih dingin namun tidak lagi sekeras tadi.
Setelah mendapatkan alamat tempat cuci jas dan beberapa informasi penting lainnya, Saka segera meninggalkan kafe tersebut. Rania duduk di mejanya dengan wajah yang masih tampak kesal, sementara Rina duduk di depan dia dan memberikan dia segelas air putih.
“Kenapa bisa begitu ya, Rin? Pertama mobilnya saya tabrak, sekarang jasnya saya tumpahi kopi. Padahal saya benar-benar tidak sengaja,” ujar Rania dengan suara yang sedikit terengah-engah karena kemarahan.
“Tenang saja Kak Rania. Semua ini pasti ada hikmahnya. Mungkin itu adalah takdir yang ingin menjodohkan kamu dengan pria itu,” ujar Rina dengan sedikit tersenyum, mencoba membuat Rania merasa lebih baik.
“Jodoh? Jangan dong Rin. Pria itu sangat sombong dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Saya tidak ingin sekali lagi bertemu dengannya,” jawab Rania dengan menggelengkan kepalanya. Namun, di dalam hatinya, dia tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran tentang sosok Saka Pratama – seorang CEO muda yang sukses namun memiliki sifat yang sangat keras dan dingin.
Setelah beberapa saat berbicara dan menikmati kopi yang baru dipesan, Rania dan Rina memutuskan untuk pulang. Rania mengambil jas Saka yang sudah dibungkus dengan hati-hati dan membawanya ke mobilnya. Dia bertekad untuk segera menyelesaikan masalah ini sehingga tidak perlu lagi bertemu dengan pria yang membuatnya merasa tidak nyaman tersebut. Namun, apa yang tidak dia duga adalah bahwa pertemuan-pertemuan mereka belumlah selesai, dan akan ada banyak hal yang akan mengubah hidup keduanya dalam waktu yang tidak lama.
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰