Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35; Lembah Hantu
Untungnya, dia jatoh tepat ditanah lunak dan rerumputan. Sehingga dia gak mengalami luka yang parah.
Mereka pun ngelanjutin perjalanan.
Seperti sebelumnya, Aya berada di depan dan Ari berada dibelakang.
Tanpa sadar, ternyata ada ratusan luka-luka di tangan Ari akibat semak-semak yang dia tebas menggunakan tangannya.
Semangat Ari yang tinggi, bikin Aya jadi semangat juga.
Aya terus ngikutin Ari sambil terus bersihin tanah yang masih melekat di rambut dan kepala.
Gak lama setelah itu, tiba-tiba...
Ari hilang dari pandangan Aya.
Ternyata... Ari jatoh ke bawah tebing yang lebih tinggi dari tebing sebelumnya.
Dia jatoh dengan tangan yang di rapatkan menahan dada.
Suasana pun jadi hening seketika.
Aya yang liat kondisi itu seketika jadi pucat dan panik.
"Ri! Ari! Aman? Ri! Ri!" panggil Aya.
Hampir beberapa menit mereka kehilangan komunikasi.
Aya bingung bukan maen, dia gak henti-hentinya berdo'a sambil terus manggil-manggil Ari.
Gak lama kemudian akhirnya Ari ngeluarin suara khasnya yang sedikit serak dan berat.
Ari pun berusaha buat berdiri dengan susah payah.
Kepalanya terasa berat, ada sesuatu mengalir di wajahnya.
Perlahan Ari ngusap keningnya.
Dan bener aja, darah yang pekat, menempel di telapak tangannya.
"Ri! Aman Ri?" kata Aya lagi.
"Aman, aman Ya. Tenang aja." kata Ari.
"Alhamdulillah... Tinggi ke bawahnya Ri?"
"Tinggi Ya, tapi, turun aja gak papa."
Setelah percakapan itu, Aya yang penasaran dengan kondisi Ari pun berusaha nyari posisi yang tepat.
Sambil terus komunikasi. Ari akhirnya ngasih informasi yang sedikit bikin bulu kuduk merinding.
Ari bilang, "Ya! Dibawah ada orang!"
"Ada orang gimana Ri?” kata Aya.
"Iya Ya, dibawah ada cewek. Rambutnya keriting, tengkurep. Gak pake baju, tapi pake rok warna biru."
"Astaghfirullah, bukan orang itu Ri."
"Orang kok, ayo turun. Kita selamatkan, kalo itu mayat, kita kubur dia baik-baik."
"Ri! Gua rasa gak mungkin dia pendaki. Mana ada pendaki naik gunung pake rok."
Ari, termenung. Bener apa yang dibilang sama Aya. Mana ada pendaki gunung pake rok.
Dia langsung baca ayat suci Al Qur'an buat ngelindunginya dari makhluk-makhluk halus.
Bersamaan dengan itu, Karna kondisi yang mulai gelap, akhirnya Aya mau gak mau mutusin buat turun.
Dia ngejadiin rumput-rumput kecil sebagai pegangan.
Tapi, rerumputan itu putus, dan dia jatoh sampe gak sadarkan diri.
Liat itu, spontan Ari teriak.
Ari nangis liat pacarnya kayak gitu. Berkali-kali dia coba guncang tubuh Aya, sampe nampar pipinya buat nyadarin Aya.
Tapi Aya belum juga sadar.
Sesekali Ari mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sampai akhirnya dia sadar bahwa mereka sudah kehilangan arah.
Beratap langit, diselimuti lembah hijau yang terbentang luas. Mereka udah terlalu jauh masuk ke rimbunan hutan terlarang.
Hutan yang hanya di huni oleh makhluk-makhluk gunung, dan makhluk-makhluk misterius.
Orang-orang biasa menyebutnya, 'Lembah Hantu.'
Usaha Ari menyadarkan Aya, akhirnya membuahkan hasil.
Aya terbangun, tapi kayaknya masih ling lung akibat terjatuh tadi.
"Alhamdulillah, akhirnya lu sadar." kata Ari. "Tapi, kita tersesat Ya. Kita, hilang di hutan."
Muka Aya keliatan makin pucet denger kata itu.
Setelah berjam-jam menempuh perjalanan yang melelahkan. Sekarang mereka baru sadar, bahwa sebenarnya mereka udah tersesat.
Mereka udah berjam-jam terpisah dengan Ucu, Irwan dan Iman.
Setelah yakin kalo Aya udah cukup kuat. Ari membantunya buat berdiri kayak semula.
Belum sempet Aya berdiri, dia kaget liat kening Ari yang berdarah.
"Ri, kening lu berdarah!" kata Aya.
"Iya, Ya. Tapi yaudah lah gak usah dipikirin. Sekarang yang harus dipikirin, kita harus nyari tempat neduh." kata Ari. "Ayo kita jalan."
Aya pun berusaha berdiri. Tapi...
"Ri,"
"Apa lagi Ya? Ayo kita jalan."
"Tangan gua gak bisa di gerakin Ri."
Kreeek!
Ari pun narik tangan Aya.
Tapi setelah tangannya ditarik, Aya bisa gerakin tangannya lagi.
Aya bilang, "Wah, hebat juga lu Ri."
"Baru tau lu, Ya?"
Diam-diam Ari bersyukur Aya udah sadar. Jadi, mereka bisa ngelanjutin perjalanan.
Dia udah sangat ingin pulang.
Kembali ke Ucu, Irwan, dan Iman. Yang lagi diterpa angin kenceng.
Butuh perjuangan buat nyalain api unggun di tempat itu.
Tapi pada akhirnya, setelah melalui segala macam cara, akhirnya api bisa dinyalain, walaupun gak terlalu besar.
Mereka bertiga pun menjalankan misi untuk berjaga secara bergantian di dekat jalur turun.
Meskipun diterpa angin, tapi gak menggoyahkan semangat mereka buat nunggu Ari sama Aya turun.
Waktu itu juga masih banyak rombongan para pendaki naik turun, hilir mudik menuju ke puncak gunung, M.
Bersamaan dengan itu, Iman masih berusaha mengamankan api yang makin lama, makin mengecil.
Seraya menggigil kedinginan, dia coba melindungi api kecil itu dari terpaan angin dengan menggunakan kedua tangannya.
Malam yang makin larut, akhirnya berhasil ngubah keadaan.
Rasa ngantuk, perlahan udah mulai hadir.
Tapi, sulit rasanya memejamkan mata.
Akhirnya, mereka kembali berkumpul di depan tenda, sambil meratapi api yang udah padam.
Mereka pun menyusun strategi untuk istirahat secara ganti-gantian.
Ucu nyuruh Irwan dan Iman buat tidur duluan, sedangkan dia, berjaga.
Beberapa saat setelah Ucu menginstruksikan perintah itu, mereka bertiga justru tidur di dalam tenda.
”Terus siapa yang berjaga malam itu?” tanyaku di sela-sela cerita mereka.
"Gak ada," kata mereka.
"Ah, konyol emang kalian." tambah ku seraya sedikit ketawa.
Mereka ikut ketawa juga.
Dan katanya, itu adalah malam pertama Ucu, Irwan, Iman di gunung itu.
Terus gimana malem pertama Ari sama Aya di Lembah Hantu?
jangan2 yang tadi cerita itu bukan orang asli nih..
ih serem...
pas kena sorot mobil Ari di tengok udah ga ada orangnya...
malah orangnya baru keluar dari mobilnya Ari...
gimana tuh bang kalo bener begitu kejadiaanya...
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech