NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Kamar Dingin

Kegelapan di Desa Sunyi kali ini tidak membawa ketenangan, melainkan rasa sesak yang merayap melalui celah dinding bata merah yang mulai berembun. Listrik telah padam total sejak senja menyentuh cakrawala, menyisakan kesunyian yang mencekam. Di dalam rumah pengasingan, Arkananta berdiri di depan jendela yang buram oleh uap napasnya sendiri. Ia mencoba menyalakan lampu minyak tanah, namun jemarinya yang beku membuat pemantik di tangannya berulang kali jatuh ke lantai kayu.

"Sial," umpat Arkan rendah, suaranya parau. Ia merasakan sensasi ulu hati yang ditusuk ribuan jarum es—sebuah resonansi yang memberi tahu bahwa di balik punggungnya, Nayara sedang menggigil hebat dalam diam.

"Arkan... suhunya terus merosot," suara Nayara terdengar tipis, nyaris hilang di telan deru angin hutan jati yang menghantam atap seng. "Ini bukan fenomena alam biasa. Ada yang mencoba membekukan jiwa rumah ini."

Arkan akhirnya berhasil menyalakan sumbu lampu. Cahaya jingga yang lemah memantul di mata abu-abunya yang kini tampak lebih tajam sekaligus lelah. Ia menoleh dan melihat Nayara duduk bersimpuh di atas dipan, terbungkus selimut tipis. Tasbih kayu di genggaman Nayara bergetar, memantulkan bayangan retakan yang semakin nyata akibat tekanan batin dari penolakan suap miliaran rupiah tadi siang.

"Nyonya Besar sedang mengirimkan manifestasi kebenciannya, Nayara. Kamar dingin ini adalah konsekuensi dari deklarasimu yang menghancurkan harga diri mereka," Arkan melangkah mendekat, aroma minyak tanah yang menyengat bercampur dengan bau hawa es yang tidak alami.

"Tuan!" Bayu menyeruak masuk dari pintu belakang, membawa sebuah radio satelit yang statisnya terdengar menyakitkan di telinga. "Blokade logistik dikonfirmasi. Seluruh pasokan dari Panti Cahaya Sauh diintersepsi di zona perbatasan. Selimut wol dan bahan bakar medis disita secara paksa."

"Mereka mengganti kiriman itu dengan apa, Bayu?" tanya Arkan, rahangnya mengeras.

Bayu meletakkan sebuah kotak kayu di atas meja. Isinya adalah tumpukan kain sutra yang sangat halus, mengilap, namun tipis dan dingin saat disentuh. "Sutra perak eksklusif dari High Tower. Pesan mereka jelas: kehangatan hanya tersedia bagi mereka yang bersedia kembali ke dalam kendali marmer gedung pusat."

Nayara meraih selembar sutra itu. Teksturnya yang licin dan dingin seolah menghisap sisa panas dari telapak tangannya. "Kain ini adalah simbol penghinaan. Mereka ingin kita menukar integritas dengan selembar kenyamanan yang mematikan."

"Aku lebih baik membeku di atas tanah Terra ini daripada menyentuh sisa kemewahan yang mereka jadikan umpan politik," Arkan menyambar kain sutra itu dan melemparkannya ke sudut ruangan. "Bayu, dekonstruksi kursi kayu atau apa pun yang bisa dibakar. Jangan biarkan bara di perapian itu padam sepenuhnya!"

"Tapi Tuan, ada anomali pada pembakaran. Bara ini tidak memancarkan energi termal; asapnya justru turun dan membawa aroma ozon yang busuk," Bayu menunjuk ke arah perapian. "Ini adalah interferensi metafisika Kyai Hitam."

Nayara menutup matanya, jemarinya bergerak cepat meraba butiran tasbih. "Hawa es mayat... saya bisa merasakan keberadaan entitas yang mencoba menarik sisa panas dari pusat jantung kita, Arkan."

Arkan merasakan telinganya berdenging dengan frekuensi tinggi yang menyakitkan. Melalui Shared Scar, ia bisa merasakan bagaimana paru-paru Nayara mulai menyempit karena dingin yang menusuk. Ia berjalan menuju Nayara, mengabaikan nyeri di sendi-sendinya sendiri yang terasa seperti akan pecah.

"Gunakan cahaya perapian itu sebagai jangkar penglihatanmu, Nayara. Jangan biarkan fokus batinmu membeku," Arkan merangkul bahu Nayara, membimbingnya dengan sangat hati-hati.

"Arkan, tangan Anda... Anda juga mulai mengalami hipotermia," bisik Nayara saat kulit mereka bersentuhan. Dinginnya tangan Arkan terasa seperti logam yang baru saja keluar dari salju.

"Aku adalah penyerap residu penderitaanmu, Nayara. Jika napasmu membeku, maka sumsum tulangku yang harus menjadi bahan bakarnya," Arkan duduk di belakang Nayara, memeluknya erat agar panas tubuhnya yang tersisa bisa berpindah.

"Jangan lakukan itu, Arkan. Jantung Anda tidak akan mampu menahan beban resonansi sedalam ini. Saya merasakan frekuensi detak jam Anda mulai tidak beraturan," Nayara mencoba melepaskan diri, namun Arkan menahannya dengan kekuatan sisa yang ia miliki.

"Tetaplah pada posisimu. Ini adalah pertaruhan martabat. Jika fajar menemukan kita menyerah pada hawa dingin ini, maka kemenangan mereka akan menjadi mutlak," Arkan berbisik di dekat telinga Nayara, napasnya mengeluarkan uap putih yang tebal.

"Mengapa jalan kejujuran selalu dipenuhi dengan rasa sakit yang begitu destruktif?" tanya Nayara, suaranya mulai bergetar karena hipotermia spiritual yang mulai menyerang sarafnya.

"Sebab bagi mereka, integritas adalah ancaman yang harus dibasmi hingga ke akarnya. Tapi rasa sakit ini adalah validasi bahwa kita memiliki sesuatu yang tidak bisa mereka beli," Arkan mengeratkan pelukannya.

Tiba-tiba, suara derit dari radio satelit di tangan Bayu berubah menjadi suara manusia yang halus namun dingin—suara Nyonya Besar.

"Arkananta, apakah atmosfer di wilayah pengasinganmu sudah cukup menyegarkan?" suara itu bergema di ruangan yang gelap, membawa aura penindasan dari High Tower. "Atau kau membutuhkan pasokan beludru dan teh hangat dari High Tower? Aku masih memiliki ruang untuk negosiasi."

Arkan menatap radio itu dengan kebencian murni. "Gunakan tehmu untuk menjamu kegagalanmu sendiri, Ibu. Kami menemukan kehangatan yang jauh lebih murni dalam harga diri kami di sini."

"Nayara terlihat sangat rapuh dalam laporan visual yang kuterima. Berapa lama lagi tasbih retak itu mampu menahan hawa es mayat yang kusemprotkan? Tanda tangani dokumen itu, dan aku akan memulihkan energi desa ini dalam hitungan detik," tawar Nyonya Besar.

Nayara mendongak, menatap radio itu dengan Mata Truth yang mulai bercahaya redup di tengah kegelapan. "Nyonya Besar... Anda bisa menguasai aliran listrik, namun Anda tidak akan pernah sanggup menjangkau cahaya sholawat yang menjaga nurani kami."

"Gadis keras kepala. Kau akan menjadi patung es sebelum fajar menyentuh tanah itu," Nyonya Besar memutus sambungan.

Keheningan kembali melanda, jauh lebih berat dari sebelumnya. Kabut hitam di lantai mulai naik, menyelimuti kaki Arkan dan Nayara. Arkan merasakan kakinya kebas sepenuhnya, namun ia melakukan Manual Breathing, memaksakan setiap sel di tubuhnya untuk tetap terjaga.

"Arkan, daya tahan batin saya mencapai ambang batas. Semuanya mulai menggelap," Nayara menyandarkan kepalanya di dada Arkan.

"Nayara, tetaplah sadar! Ingat aroma dapur panti. Ingat suara anak-anak saat fajar menyingsing. Jangan biarkan fokusmu luruh!" Arkan mengguncang bahu Nayara, suaranya penuh keputusasaan yang tertahan.

Nayara mencoba tersenyum, meski bibirnya sudah membiru. "Saya sedang mencoba... namun aroma kemenyan ini meracuni ingatan saya."

"Bayu! Dekonstruksi sisa mebel dan bakar sekarang! Lakukan!" teriak Arkan.

Bayu dengan panik mematahkan kaki meja jati dan melemparkannya ke perapian. Ia menyiramkan sisa minyak tanah ke atas kayu itu. Api berkobar sesaat, namun hawa es yang dikirimkan Kyai Hitam seolah memiliki tangan yang meremas lidah api itu hingga kembali mengecil.

"Tuan, api ini kehilangan energi termalnya secara tidak logis! Infiltrasi metafisikanya terlalu padat!" Bayu berteriak di tengah kepulan asap yang dingin.

Arkan memejamkan mata. Ia tahu tidak ada pilihan lain. Ia harus menggunakan koneksi Shared Scar secara maksimal—sebuah risiko yang bisa merusak sistem sarafnya sendiri. Ia menggenggam tangan Nayara yang memegang tasbih, menyatukan telapak tangan mereka tepat di atas jantung masing-masing.

"Nayara, lepaskan semua rasa beku itu ke dalam sistem sarafku. Biarkan tulang besiku yang menanggung residunya," bisik Arkan.

"Tidak, Arkan! Protokol ini akan menghancurkan organ vital Anda!"

"Aku adalah pemegang komando di sini. Ini perintah mutlak!" Arkan mengunci pikiran Nayara dengan tatapannya.

Dalam sekejap, Nayara merasakan gelombang panas yang aneh mengalir dari tangan Arkan, sementara rasa dingin yang membeku di dalam dadanya seperti ditarik keluar melalui pori-pori kulitnya. Sebaliknya, Arkan merasakan tubuhnya mendadak kaku. Rambut dan bulu matanya mulai ditumbuhi kristal es tipis. Suara detak jam peraknya di pergelangan tangan terdengar semakin lambat, seolah-olah waktu sedang membeku di dalam nadinya.

Bayu bergerak cepat menumpuk kayu jati yang sudah patah itu di atas tungku, namun lidah api tetap menari dengan warna biru pucat yang mengerikan, seolah-olah suhu dingin itu sendiri adalah pemangsa yang sedang menelan cahaya. Arkananta mengabaikan getaran hebat di lengannya. Ia memejamkan mata, memusatkan seluruh kesadarannya pada titik di ulu hatinya—pusat dari resonansi Shared Scar.

"Bertahanlah... Arkan... suhu tubuh Anda berada di titik kritis," bisik Nayara, suaranya kini terdengar sangat jauh, hampir teredam oleh denging frekuensi tinggi di telinga Arkan.

"Jangan fokus padaku. Jaga ritme batinmu, Nayara. Biarkan sumsum tulangku yang bekerja," Arkan menggeram, rahangnya terkunci rapat.

Arkan menarik napas panjang, dan setiap tarikan udara terasa seperti menelan serpihan kaca es. Secara sadar, ia membuka pintu gerbang di dalam jiwanya, membiarkan aliran rasa beku dari tubuh Nayara meluap masuk ke dalam sistem sarafnya sendiri. Seketika, Arkan merasakan sumsum tulangnya—Iron Bone Marrow yang baru saja ia aktifkan saat menahan beban katrol sumur tempo hari—berontak hebat. Tulangnya terasa panas membara karena menahan beban es yang berlawanan, sebuah kontras yang membuat Arkan nyaris memuntahkan darah.

Nayara perlahan mulai merasakan napasnya lebih ringan. Rasa kebas yang tadi mencengkeram dadanya perlahan meluruh, digantikan oleh kehangatan yang dipompa paksa dari tubuh Arkan. Namun, saat ia mendongak, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya. Bibir Arkan memutih sepenuhnya, dan ada bintik-bintik merah di sudut matanya—kapiler yang pecah karena tekanan internal.

"Tuan! Jam perak Anda berhenti total! Sinkronisasi waktu telah hilang!" Bayu berteriak, melihat jarum detik pada jam perak Arkan yang kini mematung di angka dua belas.

"Abaikan simbolisme itu, Bayu! Pertahankan posisi di ambang pintu!" Arkan berteriak, suaranya pecah namun tetap penuh komando.

Di luar, suara tawa Kyai Hitam seolah terbawa angin, mengitari rumah bata merah itu. Namun, di dalam rumah, Nayara mulai mengerahkan pertahanannya sendiri. Ia menggenggam tasbih kayunya, meraba retakan yang melintang di salah satu butirannya. Dengan sisa tenaganya, ia mulai membisikkan kalimat perlindungan dengan ritme yang stabil.

"Jika mereka mengirimkan kegelapan, maka biarlah jiwa ini menjadi pelita bagi kami," bisik Nayara.

Tiba-tiba, butiran tasbih itu berpendar redup. Sebuah cahaya kuning pucat menyelimuti mereka berdua, menahan kabut hitam yang merayap di lantai. Suhu di dalam ruangan memang masih di bawah nol, namun hawa jahat yang mencoba mencekik jiwa mereka mulai terpental.

"Arkan, lihat saya," Nayara meraih wajah Arkan dengan tangannya yang kini sudah sedikit lebih hangat. "Kita tidak akan hancur malam ini. Kekuatan mereka memiliki batas, sedangkan integritas kita tidak."

Arkan membuka matanya. Visi abu-abunya perlahan kembali fokus. Ia melihat Nayara yang begitu kuat, bukan sebagai gadis lemah yang butuh perlindungan, melainkan sebagai pilar spiritual yang sedang menopangnya. Ironisnya, di kamar dingin yang dikirimkan untuk menghancurkan mereka, martabat mereka justru menyatu menjadi perisai yang tak tertembus.

Menjelang subuh, hawa es itu perlahan memudar. Kabut hitam di lantai menyublim menjadi embun biasa yang membasahi lantai kayu. Bayu jatuh terduduk di depan perapian, napasnya tersengal-sengal, sementara sisa kayu jati telah menjadi abu putih.

"Intensitas serangan menurun, Tuan. Mereka telah menarik energinya kembali," bisik Bayu sambil menatap fajar yang mulai menyembul di balik hutan jati.

Arkan melepaskan pelukannya perlahan. Tubuhnya terasa kaku, setiap sendinya berbunyi saat digerakkan. Namun, ia berdiri dengan tegak, membiarkan jas hitamnya tetap menyelimuti bahu Nayara. Ia berjalan menuju jendela, melihat ke arah perbatasan desa. Di sana, blokade High Council masih berdiri, namun rakyat desa mulai berkumpul, membawa obor dan bambu runcing—sebuah bentuk solidaritas yang lahir dari keberanian Arkan menahan dingin semalam.

"Bayu, kirimkan transmisi melalui jalur satelit sekarang," Arkan menatap matahari terbit dengan mata yang membara.

"Apa isi instruksinya, Tuan?"

"Katakan pada Ibu saya, hawa dinginnya justru membuat struktur tulangku semakin solid. Dan sampaikan bahwa aku akan segera membalas kiriman bunga es ini dengan sesuatu yang akan membakar martabat mereka," ucap Arkan, suaranya dingin namun penuh intrik.

Nayara berdiri di samping Arkan, menyentuh bahu suaminya yang masih terasa sedingin es. "Strategi apa yang akan Anda lancarkan setelah ini, Arkan?"

"Kita akan mengirimkan bunga dari Terra, Nayara. Bunga liar yang akarnya mampu menghancurkan fondasi marmer High Tower yang rapuh itu," Arkan melirik Nayara, sebuah isyarat menuju taktik berikutnya yang sudah ia susun di dalam kepalanya.

Nayara menggenggam tasbihnya erat. Ia tahu, setelah hawa dingin ini lewat, musuh akan beralih ke racun yang lebih halus. Namun, menatap punggung Arkan yang kokoh seperti Karang, ia tidak lagi merasa takut. Di "Benua Rendah" ini, mereka telah membuktikan bahwa marmer High Tower tidak punya kuasa atas sumsum tulang yang ditempa oleh penderitaan.

Malam telah berlalu, namun perang baru saja memasuki babak yang lebih beracun.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!