Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wedding Of The Year
Rencana pernikahan yang awalnya diprediksi bakal jadi "Wedding of the Year" dengan ribuan undangan yang memadati ballroom Skylar Hotel, perlahan mulai berubah arah. Setelah negosiasi panjang yang melibatkan perdebatan sengit antara dua keluarga, keputusan akhirnya jatuh pada konsep intimate wedding. Hanya orang-orang terdekat, hanya saksi yang benar-benar mengenal mereka dari nol.
Viona, yang biasanya benci diatur, justru jadi pihak yang paling antusias menyiapkan segala detailnya.
Di depan cermin besar butik pengantin, Viona memperhatikan pantulan dirinya yang terbalut gaun satin putih simpel namun sangat mewah. Ia menyentuh pinggiran kainnya, ada senyum kecil yang terukir di wajahnya.
Bagi orang lain, ini mungkin cuma pernikahan kontrak atau perjodohan paksa. Tapi bagi Viona, ini adalah acara sekali seumur hidup yang nggak boleh gagal. Ia sudah memutuskannya: Menikahi Noah Sebastian Willey adalah pilihan terbaik yang pernah ia ambil sepanjang hidupnya.
Kenapa? Karena Noah adalah satu-satunya orang yang membiarkan Viona tetap menjadi 'Viona'. Noah nggak menuntutnya jadi istri konglomerat yang kaku dan membosankan. Bersama Noah, Viona tetap bisa menjalani kehidupannya yang bebas, tentunya dengan pengawasan ketat dari sang 'Pak Dosen'.
"Vio, lo nggak nyesel?"
Viona tersentak saat melihat Noah berdiri di ambang pintu butik dengan setelan tuxedo yang sudah pas di tubuhnya. Noah tampak begitu gagah, tipikal pria yang bisa membuat seluruh isi ruangan terdiam hanya dengan kehadirannya.
"Nyesel?" Viona membalikkan tubuh, memamerkan gaunnya pada Noah. "Gue malah mikir, kenapa kita nggak kepikiran buat nikah dari dulu aja ya kalau ternyata lo semudah itu diajak kompromi?"
Noah mendengus, meski matanya nggak bisa bohong kalau dia sedang mengagumi betapa cantiknya Viona malam itu. "Semudah itu? Lo nggak tahu aja harga yang harus gue bayar buat 'nemengin lo clubbing' tiap minggu itu mahal, Vio."
Viona tertawa kecil, melangkah mendekat dan merapikan dasi Noah yang sedikit miring. "Tenang aja, Pak Dosen. Anggap aja ini penelitian lapangan tentang gaya hidup generasi messy kayak gue."
Noah menunduk, menatap Viona yang jaraknya begitu dekat. Wangi parfum Viona yang manis kini bercampur dengan aroma kain baru. "Gue pegang omongan lo. Jangan sampai pas kita udah sah, lo malah mau kabur karena baru sadar kalau tinggal sama gue itu nggak sebebas yang lo pikir."
Viona cuma menjulurkan lidahnya, mengabaikan peringatan Noah. Di kepalanya, dia sudah membayangkan masa depan yang sempurna: Pesta, kebebasan, dan... Noah yang selalu ada buat menangkapnya kalau dia jatuh.
Setelah urusan fitting yang melelahkan itu selesai, Noah nggak langsung mengantar Viona pulang. Mobil sedan hitamnya melaju ke arah kawasan perhiasan paling prestisius di pusat kota.
“Kita mau ke mana lagi, Pak Dosen? Gue laper, mau makan steak," keluh Viona sambil menyandarkan kepalanya di kaca mobil.
“Makan steaknya nanti. Kita ambil barang yang lebih penting dari daging lo itu," sahut Noah datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Ternyata, tujuan mereka adalah sebuah butik perhiasan eksklusif yang pintunya dijaga ketat. Noah langsung disambut hangat oleh sang manajer toko. Beberapa hari lalu, Viona memang sempat bilang, "Serah lo deh mau cincin kayak gimana, asal mahal!" karena dia terlalu pusing milih konsep dekorasi. Tapi dia nggak nyangka kalau Noah bakal seserius itu.
Begitu kotak beludru kecil itu dibuka, Viona mendadak lupa caranya protes soal steak.
Di dalam kotak itu, melingkar dua buah cincin emas putih yang elegan. Namun, pusat perhatiannya ada pada cincin untuk Viona; sebuah berlian dengan emerald cut?, berlian persegi panjang yang jernih dan berkelas.
“Wah! Keren banget selera lo!" pekik Viona. Matanya berbinar, tangannya gemetar sedikit waktu menyentuh permukaan berlian itu.
“Ini... ini kan emerald cut?"
“Lo dulu setiap hari, hampir tiap jam kalau kita lewat depan toko emas, selalu bilang kalau cincin bentukan begini tuh elegan," jawab Noah santai, meski ada seulas senyum tipis yang dia sembunyikan.
Viona tertegun. Itu obsesi masa kecilnya saat mereka masih sering main bareng sepulang sekolah. Dia pikir Noah cuma dengerin dia sambil lalu, ternyata cowok itu menyimpannya di memori paling dalam.
“Ah! Emang nggak salah ya nikah sama sahabat. Tahu banget mau gue apa!" goda Viona sambil menyikut lengan Noah, berusaha menutupi rasa haru yang mendadak muncul.
Noah mendengus, menerima kembali kotak cincin itu setelah Viona puas melihatnya. "Lo itu memanfaatkan gue seutuhnya, Vio! Gila sih, gue dijadiin pengurus administrasi, pelindung dari gosip, sekarang jadi bank berjalan buat cincin impian lo."
Viona tertawa renyah, suara tawanya memenuhi butik mewah itu. Dia merangkul lengan Noah dengan akrab, seolah mereka bukan calon pengantin yang dijodohkan, tapi memang pasangan yang saling melengkapi.
“Daripada lo dimanfaatin orang lain yang nggak jelas, lebih enak mana? Kan mending gue," ucap Viona enteng sambil menaikkan alisnya.
Noah terdiam sejenak, menatap Viona yang sedang tersenyum lebar. Dalam hati, dia bergumam, Iya, mending lo yang manfaatin gue sampai puas, daripada gue harus liat lo nangis gara-gara dimanfaatin cowok brengsek di luar sana.
Terserah lo deh. Ayo makan, keburu lo pingsan terus gue lagi yang repot," ajak Noah sambil menarik pelan tangan Viona menuju pintu keluar.
Gue nggak tahu kenapa orang tua gue beneran obses banget sama lo," ucap Noah sambil kembali fokus menyetir, meski tangannya sesekali mengetuk setir, tanda kalau dia sendiri masih agak nggak percaya dengan kecepatan rencana ini.
“Ya secara, siapa sih yang nggak mau punya menantu secakep dan sepinter gue?" sahut Viona narsis, sambil sibuk memotret cincin di jarinya untuk arsip pribadi.
Noah meliriknya sekilas, lalu berdeham. "Lo tahu kan rumah yang halamannya luas di bukit komplek sana? Yang desainnya minimalis tapi tanahnya nggak masuk akal itu?"
Viona menghentikan aktivitas ponselnya. Matanya membulat. "Itu bakal kita tinggalin setelah nikah?"
Noah mengangguk pasrah.
“Hah? Rumah yang punya danau pribadi itu?! Gila sih! Orang tua lo beneran se-effort itu menyambut menantunya," pekik Viona. Dia hampir melompat dari kursi mobil. Rumah itu adalah properti paling mahal di kawasan mereka, dan sekarang dia bakal jadi nyonya di sana?
“Jangan seneng dulu," potong Noah cepat, memecah gelembung kegembiraan Viona. "Ya lo tahu sendiri itu rumah deket banget sama mansion orang tua kita. Jaraknya cuma lima menit. Artinya apa? Mereka bisa mampir kapan aja tanpa chat dulu."
Viona terdiam sebentar, membayangkan Mama Rose tiba-tiba muncul di ruang tamu saat dia lagi asyik pesan fast food atau dengerin musik kencang.
“Bisa aja durasi sandiwaranya harus lebih lama dari yang kita duga, Vio. Kita nggak bisa cuma akting di depan umum, tapi di rumah pun harus 'siaga satu'," ungkap Noah serius.
Viona menyandarkan punggungnya, kembali ke mode santai. "Gue mah jago sandiwara, Noah. Lo lupa gue pernah pura-pura pingsan pas upacara cuma buat bolos ke kantin?"
Noah mendengus. "Itu mah ketauan, bego. Lo pingsannya malah sambil pegangan tiang biar nggak kotor."
“Ya intinya gue bisa!" Viona tertawa renyah.
“Gampang lah. Pokoknya kalau ada Mama atau Bunda, gue bakal jadi 'Istri Skylar' yang paling teladan sedunia. Gue bakal bikinin lo teh, pijitin pundak lo, meski gue nggak janji pijatannya enak, dan kita bakal kelihatan kayak pasangan paling harmonis se-Asia Tenggara."
Noah cuma bisa geleng-geleng kepala. "Terserah lo. Tapi inget ya, sandiwara ini butuh kerja sama tim. Jangan sampai lo malah keceplosan manggil gue 'monyet' pas ada nyokap gue."
“Iya, iya, Sayang..." goda Viona dengan nada yang dibuat-buat manja, bikin Noah mendadak merinding diskotik.
“Diem, Vio. Gue lagi nyetir, jangan bikin gue nabrak pohon," gerutu Noah, meski telinganya mulai memerah tipis, efek godaan Viona yang entah kenapa mulai terasa berbeda dari biasanya.