mencintai mungkin bukanlah sesuatu yang salah....
Tapi....mencintai milik orang lain, apakah itu juga bukan sesuatu yang salah ?!
Xyraisin Collin,
entah dari mana nama itu di peroleh seorang gadis cantik yatim piatu yang tinggal di sebuah yayasan yatim piatu dan akhirnya di nikahi oleh seorang laki laki yang di kemudian hari membawanya keluar dari panti itu.
Namun kehidupan rumah tangga bahagia yang ia impikan nyatanya tak pernah ia dapatkan karena keluarga sang suami yang sama sekali tidak pernah mau menerimanya.
Apalagi ia yang tak kunjung hamil di usia pernikahan mereka yang memasuki usia dua tahun.
Bryan Nikolas Yu,
seorang pria dingin yang tak lagi mau mengenal cinta.
Namun...
tiba tiba ia merasa tertarik dan jatuh hati pada sosok pelayannya yang bertugas merawat sang nenek.
tapi sayang....cintanya jatuh pada orang yang salah,
ia mencintai istri orang.
mampukan Bryan mewujudkan keinginannya memiliki seorang Xyraisin Colins yang notabene adalah istri orang.
CINTA TERLARANG
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5 hati yang keras
Xyra terus mendorong kursi roda nyonya Laura ya telah menjadi majikannya sejak hampir dua bulan itu dengan pelan dan hati hati sekali ke halaman depan untuk mencari sinar matahari yang lebih hangat.
Sesekali ia nampak tersenyum mendengar ucapan sang majikan.
Bersama nyonya Laura...untuk sesaat ia terlupa dengan beban mental yang tengah ia hadapi kini.
" kenapa diam Xyxi....kau tak mau menjawab pertanyaanku ?! " tanya nyonya Laura kepada Xyra.
Wanita tua itu memanggil Xyra dengan panggilan Xyxi.
Menurutnya wajah Xyra yang memiliki garis keturunan Tionghoa meski seperti dirinya meski tak begitu kentara sekali sangat cocok dengan panggilan yang ia sematkan itu.
Selain itu...wajah Xyra juga mengingatkannya pada seseorang.
Yakni adik sepupu laki lakinya yang bernama Hans yang saat ini tinggal di Belanda dan melajang hingga kini.
Nyonya Laura memang langsung menyukai Xyra sejak pertama kali mereka bertemu.
Keduanya memang langsung akrab sejak hari itu.
Bagi nyonya Laura...
Sosok Xyra adalah sosok yang sopan dan seperti tahu diri.
Gadis itu tak pernah menolak dan terdengar mengeluh setiap kali ia memintanya melakukan sesuatu.
Bahkan meski sesuatu itu di luar perjanjian pekerjaan yang telah mereka sepakati.
Misalnya ketika nyonya Laura meminta Xyra memasak untuknya.
Xyra tak pernah menolak.
" Xyxi..." panggil nyonya Laura lagi ketika ia tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya dari wanita yang dengan memaksa ia anggap masih gadis itu.
Bagaimana tidak, usia Xyra masih 20 tahun saat ini...
dan bagi nyonya Laura, usia Xyra masih sangat muda.
" ya nyonya..."
" kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau sudah menikah di usiamu yang masih muda ini ?!
dan...
apa kau bahagia dengan pernikahanmu ini...?! "
ucap nyonya Laura mengulang kembali pertanyaannya yang belum mendapat jawaban dari Xyra.
Xyra terdiam sejenak,
Mencerna pertanyaan sang majikan kepadanya, ia paham pertanyaan itu.
Tapi....
Bagaimana ia menjelaskannya...itu yang sulit baginya.
" takdir nyonya....mungkin sudah takdir saya menikah di usia muda " jawab Xyra kemudian dengan wajah sendu.
" lalu...apa kau bahagia ?! Apa laki laki yang menikahimu memperlakukanmu dengan baik ?! " tanya nyonya Laura lagi.
Dan pertanyaan wanita tua itu lagi lagi tak lekas mendapat jawaban dari Xyra.
Xyra yang masih berdiri di belakang kursi roda nyonya Laura kian tertunduk.
Bahagia ?!
Apakah ia patut bahagia dengan semua perlakuan buruk yang ia terima hampir setiap hari ?!
" tentu saja nyonya...suami saya memperlakukan saya dengan baik " jawab Xyra pelan.
Ia tak tahu bagaimana seharusnya ia menggambarkan perlakuan Yari kepadanya.
Yari memang memperlakukannya dengan baik, tapi....
Apakah laki laki yang membiarkan istrinya di perbudak dan di hina setiap hari oleh keluarganya itu juga termasuk laki laki yang memperlakukan istrinya dengan baik....?!
Cicit Xyra di dalam hati,
" syukurlah...berapa usia pernikahanmu hem ?! "
" hampir dua tahun nyonya.."
" kau sudah punya anak ?! "
Xyra lagi lagi tertunduk mendengar pertanyaan sang majikan.
" belum... nyonya..." jawab Xyra kemudian masih dengan pelan.
Nyonya Laura mendongak dan menatap Xyra,
Kening wanita tua itu sedikit berkerut melihat ekspresi wanita yang merawatnya itu.
Dari raut wajah itu, ia menyimpulkan jika Xyra tak suka dengan pertanyaannya yang mungkin terlalu pribadi darinya itu.
" maaf....
aku tidak bermaksud ingin tahu urusan pribadimu,
tapi aku hanya ingin sedikit lebih mengenalmu " ucap nyonya Laura kemudian.
" tidak nyonya...sungguh saya tidak keberatan dengan pertanyaan anda " Xyra segera mengklarifikasi.
Nyonya Laura tersenyum,
" benarkah ?! " tanyanya kemudian masih mendongak menatap Xyra.
" iya nyonya "
" baiklah...aku masih ingin tahu tentangmu boleh ?! "
" silahkan nyonya "
Nyonya Laura tersenyum,
" berapa saudaramu ?! Apa kau punya adik atau kakak ?! " tanya nyonya Laura kemudian.
Saat ini tatapannya tak lagi terarah kepada Xyra.
Ia tengah menatap ke arah hamparan rumput hijau di hadapannya.
Sementara Xyra menarik nafas dalam.
" saya tidak punya adik juga tidak punya kakak nyonya " jawab Xyra kemudian.
" saya juga tidak mempunyai ayah dan ibu dan saya juga tidak tahu tentang mereka karena sebelumnya saya tinggal di panti asuhan.
Saya...yatim piatu nyonya " jawab Xyra kemudian panjang lebar.
Degh...
Nyonya Laura seketika terdiam, lidahnya seakan kelu dan seperti tercekat di tenggorokan.
Sungguh ia tak bermaksud apa apa selain hanya ingin tahu asal usul seseorang yang saat ini tengah merawatnya itu.
Entah kenapa ia merasa sangat tertarik dengan Xyra sejak pertama bertemu dengannya.
" maaf...aku..." cicit nyonya Laura penuh sesal.
" tidak apa apa nyonya...
saya sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu..."
Hening,
Suasana seketika menjadi hening, nyonya Laura merasa menyesal dengan semua perkataan yang telah keluar dari bibirnya.
" Xyxi..." panggil nyonya Laura kemudian setelah kebisuan di antara mereka.
" ya nyonya "
" tolong ambilkan tasbihku di kamar, aku ketinggalan dia di kamar " ucap Nyonya Laura kemudian dan berhasil memecah kesunyian.
Nyonya Laura beragama Konghucu, namun ia juga masih memakai tasbih untuk beribadah karena ia juga masih kental dengan tradisi Budhis atau Taoisme yang juga memakai tasbih atau manik manik yang mirip seperti tasbih untuk menghitung sesuatu jumlah dalam doanya.
Wanita tua itu merasa usianya tak lama lagi, karenanya ia memutuskan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Ia lebih sering terlihat menghabiskan waktunya dengan berdoa.
Ia bercita cita ingin mati dengan keadaan selamat dan beragama tentunya seperti mendiang sang suami.
" baik nyonya...tunggu sebentar..." jawab Xyra,
kemudian ia memutar tubuhnya dan melangkah kembali menuju kamar sang majikan melalui pintu samping yang juga terletak di teras samping rumah itu.
Bersamaan dengan itu, Bryan keluar dari vila yang lebih seperti rumah besar dan mewah itu melalui pintu utama.
Netranya sempat menangkap tubuh Xyra yang melangkah menjauh dari sang nenek dan menatap sosok wanita itu dari belakang.
" selamat pagi nenek... " sapa Bryan sambil berjongkok di hadapan sang nenek.
Mengambil ke dua tangan wanita tua itu kemudian menggenggamnya.
Cup...
Bryan membawa kedua tangan sang nenek kemudian menciumnya.
Nyonya Laura menatapnya tajam...
Plak...
Tiba tiba wanita tua itu memukul pelan bahu sang cucu.
" kapan kau sampai ?! " sentak sang nenek.
Dua tahu sudah mereka tak bertemu, dan sang cucu tak pernah mengunjunginya juga selama dua tahun itu.
" auwww... Semalam nenek..." Bryan pura pura meringis sambil nyengir.
" dasar anak nakal....masih ingat kamu kalau punya nenek yang masih hidup hemmm ?! " ucap nyonya Laura menahan kesal.
" ingatlah nek..." jawab Bryan dengan menatap sang nenek manja.
" lalu kenapa kau tak pernah mengunjungiku sama sekali...
dasar anak nakal...cucu durhaka... " omel sang nenek lagi.
" aku sibuk nek...
suamimu itu meninggalkan terlalu banyak beban pekerjaan di pundakku yang lemah ini " jawab Bryan menghiba.
Selama ini,
Bryan hanya bisa bersikap lepas dan terlihat riang di hadapan sang nenek.
Bagi Bryan....
Nyonya Laura adalah wanita kedua setelah mendiang sang mama yang ia jadikan tumpuan hidupnya.
" jangan terlalu menenggelamkan hidupmu dalam pekerjaan Bryan...
kau juga harus memikirkan masa depanmu, semakin hari usiamu akan semakin bertambah...
seiring berjalannya waktu, kau akan semakin tua.
Carilah wanita yang akan mau mencintaimu dan merawatmu dengan tulus...yang mau menerimamu apa adanya... " nyonya Laura menasehati sang cucu.
Bryan tersenyum tipis.
" aku sudah bahagia dengan hidupku nek...
selama ada nenek di sisiku,
aku tidak butuh wanita manapun.....
baru ini q mendukung yg namanya Pelakor
ayo kak up lagi, esmosi jiwa ini aku🤣🤣🙏🙏
Manusia seperti Yati akan sadar,ketika dia sudah di tinggalkan.
dia akan tahu kekurangannya sebagai laki laki normal.
Bener² suami yg cocok jadi hujatan netizen.
Makasih Kak Thara, hari ini udah up 3 kali. aku kasih kopi deh yah biar lancar ide dongeng dan up lagi wkwkwkw
bikin ilfil tahu kelakuan mu yariii!!!
cobalah jadi laki laki gentleman gitu nah..akui kalau km yg gak bisa menghamili istrimu.
jangan diem ajj nyari aman.
kenapa setiap part "Julid" di buku kak Tara ini bikin hati dongkol..mbayangin yg ngomong persis mulutnya ibu² komplek yg suka ghibah.
rasa pengen ku remes mulut mertuanya xhyra
emosi akuhh🤭🙏🙏
yg ada malah bikin Xyxi jengkel.