Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Puluhan Inti Monster menggelinding keluar, berkilauan di bawah sinar matahari. Merah, hijau, biru, kuning. Ada ratusan! Dan di antaranya, ada satu Inti Monster hitam besar yang memancarkan tekanan menakutkan—Inti Piton Sisik Besi.
"Apakah ini cukup untuk biaya pendaftaran terlambat?" tanya Lin Xiao santai.
Wasit menelan ludah. Jumlah inti monster itu nilainya ribuan koin emas! Dan inti hitam itu... itu milik monster tingkat puncak!
"C-Cukup! Sangat cukup!" gagap wasit. "Lin Xiao, masuk ke barisan!"
Lin Xiao menyeringai tipis. Dia melompat turun dari karung itu, berjalan santai menuju barisan Keluarga Lin.
Saat dia melewati Wang Lei, dia berhenti sejenak.
Wang Lei sudah menguasai dirinya kembali. Wajahnya merah karena sempat mundur ketakutan tadi. Dia menatap Lin Xiao dengan kebencian mendalam.
"Kau beruntung bisa keluar dari hutan hidup-hidup, Sampah," desis Wang Lei pelan. "Tapi kau hanya mengantarkan nyawamu ke sini. Aku akan menghancurkanmu di babak duel."
Lin Xiao tidak menoleh. Dia hanya melirik dari sudut matanya, tatapan merendahkan yang mutlak.
"Simpan napasmu, Wang Lei," jawab Lin Xiao datar. "Kau akan butuh itu untuk berteriak minta ampun nanti."
Dia terus berjalan, berdiri di samping Lin Hong yang gemetar ketakutan melihat sepupunya sendiri.
Di tribun utama, Patriark Wang Tian menyipitkan mata. Dia meremas gelas anggurnya hingga hancur. Dia mengenali aura di Inti Monster hitam itu.
"Itu... Inti Piton Sisik Besi," gumam Wang Tian. "Itu monster Tingkat 2 Puncak. Bagaimana mungkin anak ingusan ini membunuhnya? Pembunuh bayaran yang kukirim... semuanya mati?"
Wang Tian menatap Lin Zhen di seberang tribun. Lin Zhen menggeleng panik, memberi isyarat bahwa dia tidak tahu apa-apa.
"Undian dimulai!" teriak wasit, mencoba mengembalikan ketertiban acara.
Kotak undian diputar.
"Pertandingan Pertama!"
Wasit mengambil dua bola kayu.
"Wang Feng (Keluarga Wang) melawan... Lin Xiao (Keluarga Lin)!"
Sorak sorai penonton meledak seketika. Takdir sepertinya ingin drama ini dimulai lebih cepat. Wang Feng adalah sepupu Wang Lei, kultivator Tingkat 4 Menengah. Dia dikenal brutal dan suka mematahkan tulang lawan.
Wang Feng melompat ke arena, menyeringai lebar sambil memutar-mutar gada besinya. Dia menatap Lin Xiao seperti melihat daging segar.
"Hahaha! Keberuntunganku bagus hari ini!" teriak Wang Feng. "Tuan Muda Lei, izinkan saya memberi pelajaran pembuka pada sampah ini!"
Lin Xiao berjalan pelan menaiki tangga arena. Dia bahkan tidak menarik pedang hitam di punggungnya.
Wang Feng mendengus. "Hei! Cabut senjatamu! Atau kau mau mati tanpa melawan?"
Lin Xiao berdiri santai, kedua tangan di belakang punggung. Dia menatap Wang Feng dengan tatapan bosan.
"Melawanmu?" Lin Xiao menggeleng. "Aku tidak butuh senjata. Dan aku tidak butuh kedua tanganku."
"Apa?!" Wang Feng murka. "KAU MEREMEHKANKU?!"
"Satu tendangan," kata Lin Xiao dingin. "Jika kau bisa bertahan dari satu tendangan, aku akan mundur dari turnamen ini."
"MATI KAU, BAJINGAN SOMBONG!"
Wang Feng meledak. Aura Tingkat 4-nya menyelimuti gada besi. Dia melesat maju, menghantamkan gada itu ke kepala Lin Xiao dengan niat membunuh penuh.
Lin Xiao diam. Gada itu semakin dekat. Lima meter. Dua meter. Satu meter.
Tepat saat gada itu hendak menyentuh rambutnya, Lin Xiao lenyap.
Bukan lenyap karena sihir, tapi kecepatannya melampaui kemampuan mata Wang Feng untuk mengikuti.
Detik berikutnya, Lin Xiao muncul di udara, tepat di depan wajah Wang Feng.
"Terlalu lambat."
Kaki kanan Lin Xiao menyapu horizontal. Sederhana, tanpa teknik mewah. Hanya kekuatan fisik murni yang ditempa oleh darah naga dan api teratai.
BUAAGH!
Kaki Lin Xiao menghantam leher Wang Feng.
Suara tulang retak terdengar mengerikan. Tubuh Wang Feng terlipat ke samping, lalu terpelanting seperti peluru meriam keluar arena. Dia menabrak dinding pembatas tribun batu hingga dinding itu runtuh menimbunnya.
Wang Feng tidak bergerak lagi. Pingsan total (atau mungkin koma). Gada besinya bengkok.
Hening. Lagi-lagi hening.
Lin Xiao mendarat kembali di lantai arena dengan mulus. Dia menepuk-nepuk debu di celananya, lalu menatap wasit yang bengong.
"Wasit, umumkan pemenangnya. Aku lapar, ingin segera makan siang."
Seluruh alun-alun membeku. Satu tendangan. Tanpa Qi yang terlihat. Tanpa tangan. Melumpuhkan Tingkat 4?
Di tribun Keluarga Wang, wajah Wang Lei berubah pucat pasi untuk pertama kalinya. Keyakinannya goyah.
"Dia... dia bukan sampah," gumam Wang Tian dengan nada berat. "Dia monster."
Lin Xiao berdiri di tengah arena, di bawah sinar matahari, tampak seperti Dewa Perang muda yang tak terkalahkan. Pesan telah dikirim: Kaisar Naga telah kembali, dan dia tidak akan berhenti sampai semua musuhnya rata dengan tanah.