Xu Qinqin adalah fotografer abad ke-21 yang terkenal dengan foto-fotonya yang fantastis. Ia dikenal karena citranya yang nakal namun terampil, terkadang membuat modelnya merasa kesal sekaligus terkesan dengan tingkah lakunya.
Tak disangka, setelah tanpa sengaja memotret pria aneh yang mengenakan jubah kuno, Ia justru terlempar ke tubuh istri dari Jenderal Perang tertinggi di Kekaisaran.
Istri yang tidak disentuh suami nya , disakiti oleh ibu sang jenderal , dan dinggap sampah.
"Ck , gini doang ga becus banget! Pelayan macam apa kau!" Sungut Xu Qinqin dengan berkacak pinggang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 : Menuju Timur
Derap kaki kuda Windchaser menghantam tanah berbatu dengan ritme yang memekakkan telinga. Wu Lian memimpin di depan, jubah hitamnya berkibar seperti bendera perang. Di belakangnya, Qinqin berusaha menyamai kecepatan suaminya, meskipun otot-ototnya terasa seperti ditarik paksa.
Sudah beberapa hari mereka berkuda dan hanya istirahat beberapa kali.
Para pengawal bayangan mengikuti di belakang yang dipimpin oleh Huo Lu.
Sambil memacu kuda, pikiran Wu Lian melayang kembali ke hari pernikahan mereka setahun yang lalu. Pernikahan itu bukanlah karena cinta, melainkan sebuah transaksi politik yang dirancang oleh Kaisar. Xu Manchu, ayah Qinqin, bukan hanya seorang bangsawan di Timur, melainkan Menteri Perdagangan yang memegang kendali atas jalur pasokan logistik di Timur. Kaisar ingin mengikat pengaruh besar itu dengan menjodohkan putri sulung sang Menteri dengan Jenderal perang terkuatnya di Barat.
Wu Lian pernah dengar kasak kusuk dari beberapa bangsawan bahwa Xu Manchu---ayah Qinqin awal nya tidak setuju bahwa putri kesayangan nya harus dijodohkan dengan Jenderal. Namun, Nyonya Bai meyakinkan suami nya agar segera menikahkan Qinqin---Nyonya Bai ingin Qinqin segera pergi keluar dari kediaman Mentri Xu.
Setahun pernikahan itu berjalan dingin. Wu Lian hanya menganggap Qinqin sebagai "pajangan" politik yang penurut dan lemah. Ia bertemu Qinqin secukup nya bahkan tak pernah menyentuh nya sekalipun. Wu Lian menyerahkan urusan istri nya pada ibunda nya. Namun sekarang, istri nya seakan berubah drastis.
"Berhenti di depan! Ada pos kecil!" teriak Wu Lian memecah lamunan.
"Jangan berhenti! Kita bisa kehilangan waktu!" balas Qinqin, suaranya parau karena debu jalanan.
Wu Lian tidak membantah, ia justru menarik kekang kudanya hingga berhenti mendadak, memaksa Qinqin untuk ikut berhenti. Ia turun dan menghampiri Qinqin, lalu mengangkat tubuh gadis itu turun dari pelana dengan gerakan tegas.
"Eh! Aku bilang jangan berhenti, Jenderal Kaku!" protes Qinqin, meski kakinya gemetar saat menyentuh tanah.
"Diamlah. Kuda butuh napas, dan kau butuh air," ujar Wu Lian sambil menyodorkan kirbat air. "Kau sudah mau mengajari aku soal stamina? Wilayah di depan adalah Jalur Sutra Mati. Para perampok tahu bahwa posisi Menteri Perdagangan sedang goyah, mereka pasti akan berpesta menjarah siapa pun yang lewat."
Qinqin meminum air itu dengan rakus. "Justru karena Ayahku Menteri Perdagangan, aku tahu jalan-jalan tikus di sini. Nyonya Bai pasti sudah menyewa tentara bayaran untuk mencegat kita sebelum sampai ke gerbang Timur."
Baru saja kalimat itu selesai, telinga tajam Wu Lian menangkap suara siulan burung yang janggal di kejauhan. Itu adalah sinyal pengintai. Dari balik semak-semak dan rimbunnya pepohonan Jalur Sutra, muncul sekitar sepuluh pria berpakaian compang-camping namun memegang parang yang mengkilap.
"Wah, lihat mangsa kita hari ini," ejek pemimpin perampok, seorang pria raksasa dengan tato ular di lehernya. "Seorang pria dengan wanita cantik berambut emas. Serahkan kuda kalian, dan mungkin istrimu bisa kami jadikan 'pelayan' di kamp kami."
Qinqin perlahan berdiri, mengusap sisa air di bibirnya. Bukannya ketakutan, ia justru menyeringai tipis. Ia mencabut belati perak pemberian Wu Lian dan memainkannya di jari dengan lincah.
"Aduh, bro, sekalian. Kalian ini kurang riset ya?" ujar Qinqin dengan nada tengilnya. "Jenderal di sebelahku ini kalau marah bisa meratakan satu batalyon. Tapi karena aku sedang buru-buru dan sangat bad mood gara-gara ibu tiri, bagaimana kalau kalian saja yang memberikan kuda tambahan untuk kami?"
Si raksasa tertawa terbahak-bahak, namun tawanya terhenti seketika saat Wu Lian bergerak.
SRETT!
Tanpa mencabut pedang dari sarungnya, Wu Lian menghantamkan hulu pedangnya ke dagu si raksasa hingga pria itu terpelanting dan pingsan seketika.
"Serang!" teriak perampok lainnya.
Pertarungan pecah. Qinqin tidak tinggal diam. Saat seorang perampok mengayunkan parang ke arahnya, ia merunduk dengan gerakan yang sudah ia latih bersama Huo Lu. Ia memutar tubuhnya, menggunakan tenaga dalam tipis yang baru ia kuasai untuk mempercepat tendangannya.
DUK!
Tendangan Qinqin telak mengenai ulu hati lawan, disusul dengan hantaman gagang belati ke saraf leher pria itu hingga ia lumpuh.
"Ternyata latihan tenaga dalam ini lebih ampuh daripada alat kejut listrik di duniaku!" batin Qinqin puas.
Dalam waktu singkat, area itu bersih dari perampok yang kocar-kacir melarikan diri. Wu Lian kembali ke sisi Qinqin, menatap istrinya dengan tatapan yang kini lebih dalam dan penuh rasa hormat.
"Selama setahun ini, aku benar-benar menyia-nyiakan bakatmu," gumam Wu Lian pendek.
Qinqin mengangkat bahu dengan acuh tak acuh. "Makanya, jangan cuma lihat dari cover ny saja, Jenderal. Ayo, kita harus sampai sebelum matahari terbenam esok hari."
Mereka kembali memacu kuda. Kali ini, Wu Lian tidak lagi membiarkan Qinqin berada di belakangnya, melainkan sejajar dengannya. Di ujung cakrawala, gerbang wilayah Timur mulai terlihat. Qinqin menatap lurus ke depan, ke arah rumah ayahnya.
Tunggu aku, Nyonya Bai. Aku datang sebagai badai yang akan menghancurkanmu, batin Qinqin dingin.
***
Happy Reading ❤️
Jangan lupa like, komen, ikuti penulis noveltoon ANWi, vote(kalo ada) dan rate 5 , terimakasih❤️
semoga tuh rencana mertua gagal total.....
😡
aku menunggu kelanjutan nya thor😍😍
semangat up trus thor😍
bar bar gak ya ne MC nya.. suka kali klo dia bisa war😂😂😂😂