Maximilian Hoffmann, CEO raksasa otomotif Jerman yang dingin, memiliki satu tujuan: menghancurkan sisa-sisa keluarga Adler yang ia yakini sebagai penyebab kehancuran ayahnya. Kesempatan itu datang saat Sophie Adler melamar menjadi sekretaris pribadinya dengan identitas tersembunyi demi membiayai pengobatan ayahnya. Max yang sudah mengetahui rahasia Sophie, sengaja menjebaknya dalam lingkungan kerja yang toksik dan penuh tekanan di kantor pusat mereka di Berlin. Namun, di balik dinding kaca yang kaku, ketegangan benci mulai berubah menjadi obsesi posesif. Di tengah sandiwara cinta dan dinginnya musim dingin Eropa, mereka menemukan bahwa musuh yang sebenarnya bukanlah satu sama lain, melainkan rahasia kelam yang terkubur jauh di masa lalu keluarga mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Kharisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase kedua
Pukul lima pagi di Neukölln. Langit masih berwarna biru tua yang pekat dan udara sangat dingin hingga napas Sophie membentuk embun di udara. Sophie berdiri di depan gedung apartemennya yang kusam, berharap hanya akan melihat Lucas atau pengemudi perusahaan lainnya.
Namun, harapannya pupus saat sebuah sedan hitam mewah—kali ini model yang berbeda dari yang mogok—berhenti tepat di depannya. Kaca jendela diturunkan secara perlahan, menampakkan wajah Maximilian yang tampak segar meski sorot matanya tetap tajam dan kurang bersahabat.
"Masuk," perintahnya singkat.
Sophie menarik napas panjang, mencoba menekan rasa kesalnya, lalu duduk di kursi penumpang. Begitu pintu tertutup, aroma parfum Max yang khas segera memenuhi indranya, mengingatkannya pada kejadian di lorong semalam.
Max tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia justru menoleh ke samping, menatap Sophie dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya berhenti pada bibir Sophie yang terlihat sedikit pucat karena dingin, lalu turun ke arah tas yang dipeluk Sophie.
"Di mana mantel yang kuberikan kemarin?" tanya Max tiba-tiba.
"Saya sudah mencucinya dan akan mengembalikannya di kantor nanti, Tuan," jawab Sophie tanpa menatapnya.
Max mengerutkan kening. Ia meraih remote kontrol di dasbor dan menyetel pemanas mobil ke suhu yang cukup tinggi. "Aku tidak menyuruhmu mencucinya. Aku menyuruhmu memakainya. Kau terlihat seperti akan pingsan karena kedinginan."
Max mulai menjalankan mobilnya. Cara dia menyetir kali ini berbeda—lebih agresif, seolah-olah dia sedang berusaha mengeluarkan rasa frustrasinya pada jalanan Berlin yang masih sepi.
Setiap kali ada mobil lain yang mencoba menyalip atau berada terlalu dekat, Max akan mempercepat lajunya, menjaga jarak seolah ia sedang menjaga benteng pertahanan.
Tanpa sadar, setiap kali Sophie bergerak sedikit untuk membetulkan duduknya atau meraih ponselnya, mata Max akan melirik ke arahnya lewat spion tengah atau secara langsung.
"Apa yang kau cari?" tanya Max saat melihat Sophie merogoh tasnya.
"Hanya ponsel saya."
"Untuk menghubungi Von Arnim?" suara Max mendadak menjadi sangat dingin.
Sophie menoleh dengan tatapan tidak percaya. "Saya hanya ingin mengecek jadwal pertemuan Anda hari ini, Tuan Hoffmann. Tidak semua hal di dunia ini berputar di sekitar Julian."
Mendengar nama Julian disebut dengan begitu akrab oleh Sophie, cengkeraman tangan Max pada kemudi semakin mengeras hingga buku jarinya memutih. Tanpa sadar, Max mengunci semua pintu mobil secara otomatis dengan satu tekanan tombol di sampingnya—bunyi klik yang bergema di kabin itu seolah menegaskan bahwa Sophie tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Mulai hari ini, semua komunikasi pribadimu selama jam kerja harus melalui filter keamanan Lucas," ucap Max dengan nada bicara yang seolah-olah itu adalah kebijakan perusahaan yang sah, padahal itu murni keinginannya sendiri.
"Itu melanggar privasi!" protes Sophie.
"Itu untuk keamananmu setelah sabotase kemarin," dalih Max, meskipun sorot matanya mengkhianati alasannya. "Seseorang mengincarku, dan kau adalah titik terlemah yang bisa mereka gunakan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk teman masa kecilmu itu—memberikan celah bagi musuhku."
Saat mereka berhenti di lampu merah, Max tiba-tiba mengulurkan tangannya. Sophie sempat mengira pria itu akan menyentuhnya lagi, namun Max hanya menarik sabuk pengaman Sophie agar lebih kencang, sebuah gestur yang sebenarnya tidak perlu namun dilakukan Max hanya untuk berada sedekat mungkin dengan Sophie.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Max bisa melihat bulu mata Sophie yang lentik dan Sophie bisa mencium aroma kopi dari napas Max.
"Kau aman bersamaku, Sophie. Ingat itu," bisik Max, matanya mengunci mata Sophie. "Jangan pernah berpikir untuk mencari perlindungan pada pria lain lagi. Aku tidak akan mengizinkannya."
Lampu berubah hijau, dan Max memacu mobilnya kembali dengan kecepatan tinggi menuju pusat kota. Sophie hanya bisa terdiam, menyadari bahwa Max sedang membangun penjara emas di sekelilingnya, dan bagian yang paling menakutkan adalah: Max melakukannya sambil meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu semua demi kebaikan Sophie.
...****************...
Lobi utama Hoffmann Motors yang berlantaikan marmer mengilap masih tampak lengang saat Max dan Sophie melangkah masuk. Namun, ketenangan itu segera pecah ketika sosok tinggi dengan balutan gaun merah menyala dan kacamata hitam besar berdiri menghalangi jalan mereka.
Isabella von Lutz tidak lagi terlihat seperti model yang anggun. Wajahnya merah padam, dan napasnya memburu saat ia melihat Max turun dari mobil yang sama dengan Sophie—bahkan Max sendiri yang membukakan pintu untuk asistennya itu.
"Jadi ini alasan kau mengabaikan teleponku semalam, Max?" suara Isabella melengking, menggema di langit-langit lobi yang tinggi.
Beberapa staf keamanan dan resepsionis mulai menoleh, pura-pura sibuk namun telinga mereka tertuju pada drama tersebut.
Max menghentikan langkahnya, wajahnya langsung mengeras menjadi topeng es. "Isabella, jangan membuat keributan di kantorku."
"Keributan? Kau menjemput asisten rendahan ini di rumahnya subuh-subuh! Apa kau sudah gila?" Isabella melangkah maju, tangannya terangkat seolah hendak menunjuk wajah Sophie dengan hina. "Kau, Nona Adler! Kau pikir dengan wajah memelasmu itu kau bisa menggoda Max? Kau tidak lebih dari sekadar pelayan yang—"
Sebelum jari Isabella menyentuh udara di depan wajah Sophie, Max sudah melangkah maju. Dengan gerakan yang sangat protektif, ia berdiri di depan Sophie, menutupi tubuh wanita itu sepenuhnya dari jangkauan Isabella.
"Cukup, Isabella," desis Max dengan nada yang begitu rendah dan berbahaya hingga membuat Isabella terdiam sejenak. "Jangan pernah berani meninggikan suaramu pada asistenku, apalagi menghinanya. Apa yang aku lakukan dan siapa yang aku jemput bukan urusanmu."
"Kau membelanya? Di depan semua orang?" Isabella menunjuk ke arah staf yang mulai berbisik-bisik. "Keluargamu akan malu jika tahu kau lebih memilih sampah ini daripada aku!"
Di tengah ketegangan itu, Sophie yang berada di balik punggung lebar Max perlahan melangkah keluar. Ia tidak terlihat takut atau butuh perlindungan. Ia justru berdiri tegak, merapikan blazer abu-abunya dengan sangat tenang, lalu menatap Isabella dengan sorot mata yang tajam dan berkelas.
"Nona von Lutz," suara Sophie terdengar jernih dan stabil, memotong kemarahan Isabella. "Jika Anda ingin membahas masalah pribadi dengan Tuan Hoffmann, saya sarankan Anda membuat janji temu melalui sekretaris di lantai atas, bukan berteriak seperti orang yang kehilangan akal sehat di lobi perusahaan."
Isabella ternganga. "Apa kau bilang?"
"Saya sedang bekerja," lanjut Sophie tanpa gentar. "Waktu Tuan Hoffmann sangat berharga, dan setiap menit yang Anda buang di sini merugikan perusahaan. Jika Anda peduli pada reputasi keluarga Hoffmann seperti yang Anda klaim, Anda seharusnya tahu bahwa tontonan yang Anda buat sekarang adalah hal yang paling memalukan bagi nama besar mereka."
Sophie kemudian menoleh ke arah Max, memberikan anggukan profesional yang singkat. "Tuan Hoffmann, saya akan naik lebih dulu untuk menyiapkan materi rapat pukul enam. Silakan selesaikan urusan pribadi Anda."
Sophie berjalan melewati Isabella dengan kepala tegak, langkah kakinya yang mantap terdengar berirama di atas lantai marmer. Ia tidak menoleh sedikit pun, menunjukkan bahwa hinaan Isabella sama sekali tidak bisa menyentuh harga dirinya.
Max terpaku sejenak, menatap punggung Sophie dengan rasa kagum yang tak bisa disembunyikan. Keberanian dan kelas yang ditunjukkan Sophie barusan justru membuat Max semakin terjerat.
Ia menoleh kembali pada Isabella dengan tatapan dingin. "Kau dengar dia, Bella? Dia jauh lebih profesional dan memiliki harga diri daripada kau saat ini. Sekarang, silakan pergi sebelum aku meminta keamanan mengantarmu keluar secara paksa."
Max meninggalkan Isabella yang berdiri mematung di tengah lobi, menahan malu di bawah tatapan mata para staf. Max bergegas mengejar langkah Sophie menuju lift, menyadari bahwa wanita yang ia anggap "mangsa" itu ternyata memiliki kekuatan yang mampu mengguncang dunianya.
Pintu lift tertutup dengan denting halus, menyisakan keheningan yang kontras setelah keributan di lobi. Maximilian berdiri di sisi Sophie, sesekali melirik pantulan wanita itu di dinding lift yang mengilap seperti cermin.
"Tindakanmu barusan..." Max membuka suara, nadanya mengandung kekaguman yang sulit disembunyikan. "Kau sangat tenang. Tidak banyak orang yang bisa membuat Isabella bungkam hanya dengan beberapa kalimat."
Sophie tetap menatap lurus ke arah pintu lift, tangannya menggenggam erat tali tasnya. "Saya tidak melakukan itu untuk memikat Anda, Tuan Hoffmann. Saya hanya menjaga efisiensi kerja saya. Drama di lobi hanya akan menghambat jadwal kita."
Max terkekeh kecil, langkahnya bergeser sedikit lebih dekat. "Kau selalu punya jawaban yang dingin, Sophie. Tapi akui saja, kau menikmati saat melihatnya tidak berkutik, bukan?"
"Saya hanya melakukan apa yang harus saya lakukan," balas Sophie datar. "Harga diri saya bukan untuk diinjak-injak, baik oleh tamu Anda maupun oleh Anda sendiri."
Max baru saja akan membalas kalimat ketus itu ketika tiba-tiba, lift berguncang hebat. Suara logam berderit yang menyakitkan telinga terdengar dari atas langit-langit kabin. Lampu lift berkedip-kedip liar sebelum akhirnya mati total, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh lampu darurat berwarna merah yang redup.
"Apa yang terjadi?" Sophie bertanya, suaranya tetap tenang meski napasnya memburu.
"Sial," umpat Max. Ia segera menekan tombol darurat dan interkom, namun tidak ada jawaban. Hanya ada suara statis yang mengerikan.
Tiba-tiba, lift itu merosot jatuh beberapa meter dengan kecepatan tinggi. Sophie kehilangan keseimbangan dan terlempar ke depan. Dengan sigap, Max menangkap pinggang Sophie dan menariknya ke dalam pelukannya, menyudutkan wanita itu ke sudut kabin agar tidak terbentur.
BRAK!
Rem darurat berfungsi, menghentikan jatuhnya lift secara mendadak. Mereka kini tergantung di antara lantai 15 dan 16. Bau logam terbakar mulai tercium dari sela-sela pintu.
"Ini bukan kerusakan teknis biasa," bisik Max, suaranya bergetar karena amarah. Ia meraba dinding lift, mencoba mencari celah. "Seseorang meretas sistem kontrol lift ini dari pusat data. Sama seperti mobil kemarin."
Sophie terdiam dalam dekapan Max. Ia bisa merasakan jantung pria itu berdetak kencang di punggungnya. Kesadaran mengerikan menghantamnya: mobil di hutan, dan sekarang lift yang jatuh. Seseorang tidak hanya ingin mengancam Max, seseorang benar-benar menginginkan mereka mati.
"Mereka tahu kita ada di sini, Max," bisik Sophie, untuk pertama kalinya ia tidak menolak saat tangan Max mendekapnya erat. "Pelaku ini ada di dalam gedung ini."
"Aku tahu," geram Max. Ia menarik Sophie lebih dekat, seolah-olah tubuhnya adalah satu-satunya pelindung yang tersisa. "Dan aku bersumpah, siapa pun yang mencoba menyentuhmu atau mencelakaimu lewat aku... mereka tidak akan melihat matahari terbit besok."
Di dalam lift yang tergantung maut itu, Max tidak lagi memikirkan bisnisnya. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya agar wanita di pelukannya ini tetap bernapas. Sabotase kedua ini membuktikan bahwa musuh mereka sangat dekat, dan mereka kini terjebak di dalam "kotak kematian" yang dirancang khusus untuk mereka berdua.