Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apple To Apple
Jamuan teh sore ini bukan sekadar ritual minum teh biasa. Ini adalah Diplomatic High Tea.
Tamu utamanya adalah Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Mr. Van Houten, beserta istri, dan beberapa atase perdagangan Uni Eropa.
Sekar duduk di kursi kayu jati berukir di sisi kiri Pangeran Arya.
Tubuhnya dibalut kebaya encim modern berwarna sage green berbahan katun jepang, sederhana, nyaman. Namun, kalah telak jika dibandingkan dengan gaun cocktail sutra tenun songket berwarna merah marun yang dikenakan Raden Ajeng Mawar.
Mawar duduk di seberang mereka, tepat di samping GKR Dhaning. Posturnya sempurna. Punggung tegak 90 derajat, kaki menyilang miring dengan anggun, dan senyum yang terkalibrasi presisi.
"Di Oxford, kami sering mendiskusikan hal ini di Union Hall," suara Mawar terdengar renyah, menggunakan Bahasa Inggris dengan aksen Received Pronunciation (RP) yang kental.
Mewah.
Berkelas.
Dia sedang berbicara dengan Mr. Van Houten.
"Masalah utama ekspor komoditas agrikultur negara berkembang ke Eropa bukan hanya tarif, Your Excellency. Tapi standar keberlanjutan. Sustainability certification," lanjut Mawar, tangannya bergerak luwes saat bicara.
"Petani lokal kita seringkali kesulitan memenuhi standar karbon rendah yang diminta Brussels."
Mr. Van Houten mengangguk antusias.
"Tepat sekali, Miss Mawar. Anda sangat memahami kompleksitas regulasi kami."
Arya, yang duduk di sebelah Sekar, tampak gelisah. Dia beberapa kali melirik Sekar, khawatir gadis itu merasa terasing dalam pembicaraan tingkat tinggi ini.
Sekar hanya diam. Matanya menatap uap tipis yang mengepul dari cangkir teh poci.
Analisis Audio: Frekuensi suara Mawar stabil di 200 Hz. Percaya diri.
Analisis Konten: Valid, tapi tekstual. Itu jawaban yang bisa ditemukan di buku teks Hubungan Internasional semester satu.
Sekar menyesap tehnya.
Manis gula batu terasa di lidah. Dia tidak berniat menyela. Dia sedang mengumpulkan data. Mengobservasi variabel lawan.
Namun, Mawar tidak membiarkan Sekar menjadi penonton pasif. Predator sejati tidak membiarkan mangsanya bersembunyi.
Mawar menoleh ke arah Sekar. Matanya menyipit ramah, terlalu ramah.
"Oh, maafkan saya terlalu teknis," ucap Mawar dalam Bahasa Indonesia, lalu beralih kembali ke Bahasa Inggris, sengaja untuk menguji kemampuan bahasa Sekar.
"Nimas Sekar, as a practitioner... sebagai pelaku lapangan..."
Mawar memberi penekanan pada kata 'pelaku lapangan' seolah itu sinonim dengan buruh kasar.
"Do you face difficulties explaining 'carbon footprint' to your farmers? I imagine it must be hard to teach complex concepts to... simple villagers."
Hening.
GKR Dhaning tersenyum tipis di balik kipas lipatnya.
Dia menunggu momen Sekar tergagap, menjawab dengan Bahasa Inggris patah-patah, atau lebih parah lagi, hanya tersenyum bodoh karena tidak paham.
Para tamu asing menatap Sekar dengan sorot mata sopan namun meremehkan.
Ekspektasi mereka rendah.
Bagi mereka, Sekar hanyalah 'Gadis Desa' yang beruntung dipungut istana.
Arya hendak membuka mulut untuk membela, tapi di bawah meja, tangan Sekar menyentuh lutut Arya.
Menahannya.
Sekar meletakkan cangkir tehnya ke lepek tanpa suara denting sedikitpun.
Gerakannya tenang, presisi, seolah dia sedang menaruh tabung reaksi berisi nitrogiserin.
Dia mengangkat wajah.
Tatapannya tidak tertuju pada Mawar, tapi langsung mengunci mata Mr. Van Houten.
"With all due respect, Miss Mawar's concern is valid, but slightly outdated," suara Sekar meluncur.
Bening.
Tajam.
Tanpa aksen medok Jawa.
Tanpa tata bahasa yang canggung.
Itu adalah Bahasa Inggris akademis yang biasa digunakan di podium konferensi sains internasional.
Mata Mawar melebar sepersekian milimeter.
Sekar melanjutkan, "The problem isn't the villagers' inability to understand carbon footprints. The problem is the calculation method used by the EU which creates an uneven playing field."
Sekar berdiri perlahan, berjalan menuju meja display tempat beberapa produk unggulan keraton dipajang.
Dia mengambil sebotol 'Royal Essence' buatannya dan sebuah parfum impor dari merk terkenal Eropa milik istri Dubes.
Dia meletakkan kedua botol itu berdampingan di meja marmer.
"Let's compare apples to apples," ujar Sekar. Suaranya berubah menjadi mode kuliah umum. Dingin dan analitis.
"Uni Eropa menerapkan Renewable Energy Directive II yang membatasi produk berbasis kelapa sawit dan turunannya karena isu deforestasi. Tapi, kalian mengecualikan minyak kedelai dan bunga matahari yang diproduksi di Eropa."
Sekar menunjuk botol parfum Eropa.
"Secara Life Cycle Assessment (LCA), produktivitas minyak nabati tropis adalah 4 ton per hektar. Sementara minyak bunga matahari subtropis hanya 0,6 ton per hektar. Artinya, untuk menghasilkan volume minyak yang sama, Eropa membutuhkan lahan 7 kali lebih luas dibanding kami."
Hening yang berbeda kini menyelimuti pendopo.
Hening yang berisi keterkejutan.
Sultan Prabu Wirabhumi, yang sejak tadi hanya menyimak sambil merokok cerutu klobot, kini menegakkan punggungnya.
Sudut bibirnya terangkat.
"So, scientifically speaking," Sekar menatap Mawar tajam.
"Who has the bigger deforestation footprint per liter of product? The 'simple villagers' maximizing their land efficiency, or the industrial subsidies protecting inefficient crops?"
Sekar kembali duduk, melipat tangannya di pangkuan dengan anggun.
"Intellectual barrier is not with the farmers, Miss Mawar. It is within the trade barriers disguised as ecological concerns."
Skakmat.
Mulut Mr. Van Houten sedikit terbuka. Dia tidak menyangka akan mendapat kuliah Bio-ekonomi dan Geopolitik dari gadis berkebaya yang dia kira hanya pemanis ruangan.
"Brilian..." gumam Mr. Van Houten pelan, lalu tertawa renyah.
"Brilliant! You touched on the very heart of the debating point in Brussels, Miss Sekar. Life Cycle Assessment... I haven't heard that argument articulated so clearly in years."
Wajah Mawar yang tadi bercahaya, kini tampak sedikit kaku. Senyumnya masih ada, tapi matanya dingin seperti es.
Dia baru saja mencoba mempermalukan Sekar dengan isu "petani bodoh", tapi Sekar membalasnya dengan membongkar ketidakadilan sistem perdagangan global menggunakan data sains.
"Nimas Sekar sepertinya banyak membaca," komentar Mawar, suaranya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.
Mencoba menguasai keadaan kembali.
"Tapi teori LCA itu sangat... akademis. Di dunia diplomasi nyata, kita butuh kompromi, bukan konfrontasi data."
Sekar menoleh ke Mawar, tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata.
"Data adalah bahasa universal, Raden Ajeng. Tanpa data yang akurat, diplomasi hanya sekadar obrolan minum teh yang mahal."
Suasana menjadi canggung.
Ketegangan antara dua wanita itu terasa nyata.
Satu menggunakan tameng tata krama aristokrat, yang satu menggunakan pedang logika akademisi.
GKR Dhaning buru-buru menyela, "Ah, sudahlah. Mari kita nikmati kue lapis legit ini. Ini resep warisan leluhur."
Arya mengambilkan sepotong kue untuk Sekar.
Tangannya menyenggol lengan Sekar pelan.
Saat Sekar menoleh, dia melihat tatapan Arya. Bukan hanya cinta, tapi kekaguman yang meluap-luap. Dan rasa hormat.
"Kamu tidak pernah bilang kamu menguasai hukum dagang internasional," bisik Arya pelan, hampir tak terdengar.
"Hanya membaca sedikit jurnal sebelum tidur," jawab Sekar bohong. Kemampuan itu adalah sisa ingatan Profesor Sekar Ayu yang pernah menjadi konsultan ahli untuk kementerian.
Di seberang meja, Mawar meminum tehnya dengan cepat. Cangkir porselen itu beradu agak keras dengan lepeknya.
Klontang.
Bunyi kecil itu menandakan retaknya ketenangan sang diplomat muda.
Selesai acara, Sekar meminta izin untuk memeriksa dekorasi bunga di taman belakang, alasan klasik untuk mencari udara segar.
Energinya terkuras. Menjadi "pintar" di depan orang yang membencimu membutuhkan glukosa otak dua kali lipat lebih banyak.
Dia berdiri di depan kolam teratai, menatap pantulan bulan.
"LCA... Life Cycle Assessment," suara wanita terdengar dari belakang.
Sekar tidak menoleh. Dia tahu siapa itu. Aroma parfum Jo Malone Peony & Blush Suede itu terlalu khas.
Mawar berdiri di sampingnya.
Tidak ada lagi senyum manis palsu. Wajahnya datar, serius, dan menilai.
"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Mawar langsung.
"Gadis desa lulusan SD Inpres tidak mungkin tahu istilah spesifik seperti itu. Bahkan dosen saya di Oxford butuh dua semester untuk memahamkan konsep efisiensi lahan pada mahasiswa."
Sekar menoleh. Menatap Mawar.
Setara.
"Saya pembelajar cepat, Raden Ajeng."
"Jangan bohong," desis Mawar pelan. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak personal.
"Aku sudah meriset latar belakangmu. Ayahmu birokrat oportunis, ibumu petani biasa. Tidak ada akses pendidikan, tidak ada kursus bahasa. Tiba-tiba kamu muncul, bicara seperti profesor, dan membuat produk yang menentang logika pasar."
Mawar mencengkeram pagar pembatas kolam. Kukunya yang terawat menekan kayu ulin yang keras.
"Apa kamu mata-mata? Atau..."
Mawar menatap Sekar intens. "Seseorang mengajarimu lewat earpiece? Arya?"
Sekar tertawa kecil. Tawa yang tulus karena tuduhan itu terdengar konyol secara ilmiah.
"Raden Ajeng Mawar," suara Sekar merendah, menggunakan layer suara internalnya yang berwibawa.
"Anda terlalu terpaku pada wadah, sampai lupa melihat isi. Anda pikir karena cangkirnya dari tanah liat, isinya pasti air keruh?"
Sekar memetik sekuntum bunga kamboja yang jatuh di pagar.
"Di dunia ini, ada variabel yang tidak bisa dihitung oleh statistik Oxford Anda. Variabel itu bernama..."
Sekar menjeda kalimatnya, mencari istilah yang tepat. "...Ketahanan hidup, Survival."
"Saya tidak peduli dengan filosofi murahanmu," potong Mawar dingin.
"Aku cuma mau memperingatkanmu. Hari ini kamu menang satu poin. Tapi ini bukan debat akademis. Ini Keraton. Ini rumahku."
Mawar mendekatkan wajahnya ke telinga Sekar, berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk meremang.
"Disertasi S2-ku membahas tentang bagaimana feodalisme menghancurkan pemberontak dari dalam. Kamu adalah anomali, Sekar. Dan dalam sistem yang teratur, anomali selalu dibuang."
"Atau..." balas Sekar, tidak mundur satu inci pun. Dia menoleh hingga hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Anomali itulah yang memicu evolusi. Tanpa mutasi, spesies akan punah, Raden Ajeng."
Mata mereka bertadu.
Cokelat terang melawan hitam legam.
Ini bukan lagi persaingan memperebutkan Arya.
Ini adalah perang ideologi.
Mawar mewakili Status Quo yang mapan dan eksklusif.
Sekar mewakili Inovasi yang disruptif dan inklusif.
"Kita lihat saja," Mawar menarik diri. Dia merapikan selendang sutranya seolah baru saja terkena debu kotor.
"Seberapa lama 'evolusi'-mu bisa bertahan tanpa oksigen di tempat ini."
Mawar berbalik dan berjalan pergi. Langkah kakinya bergaung di koridor batu alam, tegas dan ritmis.
Sekar menghela napas panjang.
Dia merasakan detak jantungnya sendiri.
Denyut nadi: 110 bpm. Kortisol meningkat. Adrenalin siaga.
Dia meraba jari manis tangan kirinya, merasakan tonjolan kecil tanda lahir bulir padi.
"Dia berbahaya," gumam Sekar pada dirinya sendiri.
"Dia bukan parasit seperti Dhaning yang cuma bisa menumpang inang. Mawar adalah kompetitor yang sepadan."
Sekar butuh strategi baru.
Pengetahuan saja tidak cukup.
Mawar benar, ini bukan kampus.
Ini medan perang politik.
Dan di medan perang, orang pintar seringkali mati lebih dulu daripada orang licik.
Tiba-tiba, Pak Man, sopir setianya, muncul dari balik bayangan pilar dengan wajah pucat.
"Nimas... Nimas Sekar!" panggilnya setengah berbisik.
Sekar segera mengubah ekspresinya menjadi lembut kembali. "Ada apa, Pak Man? Kok seperti melihat hantu?"
"Anu, Nimas... Barusan ada telepon dari desa. Dari Ibu Rahayu."
Jantung Sekar mencelos.
Ibunya adalah titik lemah terbesarnya.
"Ibu kenapa? Sakit?"
"Bukan sakit, Nimas. Tapi... tanah bengkok, tanah garapan milik desa yang Nimas pakai untuk lahan percobaan sutra itu..." Pak Man menelan ludah, takut menyampaikan kabar buruk.
"Tadi sore didatangi petugas agraria kabupaten. Katanya sertifikatnya ganda. Ada investor Jakarta yang mengklaim tanah itu miliknya."
Sekar memejamkan mata.
Investor Jakarta.
Dia teringat senyum Mawar tadi. "Aku sudah meriset latar belakangmu."
Serangan Mawar bukan hanya kata-kata di meja makan.
Wanita itu bergerak multi-platform.
Sementara dia mengalihkan perhatian Sekar dengan debat diplomatik di depan, tangannya yang lain sedang mencabut akar kehidupan Sekar di belakang.
"Cerdas," desis Sekar.
Amarah mulai mendidih di ulu hatinya, tapi segera didinginkan oleh logika.
"Siapkan mobil, Pak Man. Kita pulang ke desa malam ini juga."
"Tapi Nimas, acara belum selesai..."
"Persetan dengan acara," umpat Sekar, sisi Profesornya yang kasar keluar sesaat.
"Kita harus selamatkan aset produksi sebelum mereka memagarinya."
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄