Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.
Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.
Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang menganga lebar
Helena tidak dapat membendung lagi air matanya, ia melangkah menjauhi Farhan juga Elnara. Jadi ini alasan Farhan yang langsung melamarnya padahal mereka kenal hanya sebulan, belum lagi mereka yang sangat jarang bertemu? Jadi ini alasan mengapa keluarga Farhan tidak ada satu pun yang datang ke acara pernikahan dirinya? Jadi ini alasan mengapa keluarga besar Farhan tidak menyukai kehadiran dirinya?
Sakit sekali, Helena bersembunyi di balik tanaman bunga mawar yang menghiasi pinggiran dekat kolam renang, ia menangis sejadi-jadinya, tangannya mengepal erat sembari memukul kuat dadanya, rasanya benar-benar sangat menyakitkan. Lebih sakit dibandingkan saat ia harus di bentak oleh anak tirinya.
Teganya Farhan mempermainkan cintanya yang tulus, Helena kira, pernikahannya dengan Farhan adalah awal dari sebuah kebahagiaan yang belum sempat Helena rasakan, tapi nyatanya pernikahan dirinya dan Farhan adalah awal dari sebuah kehancuran baru yang diciptakan.
"Tega sekali kamu mas, jadi ini alasan kamu tidak pernah membawaku bertemu dengan orang tuamu juga saudara-saudaramu,"
Helena menghapus kasar air matanya, lalu masuk ke dalam ruangan kaca yang di dalamnya terdapat kolam renang besar, ia mencari keran air untuk dirinya mencuci wajah yang pasti sangat sembab. Menghapus sisa-sisa air matanya masih belum mau berhenti.
"Setidaknya saat aku masuk ke dalam lagi, aku tidak terlihat menyedihkan," monolognya seraya mengusap wajahnya dengan air dari dalam keran.
Begitu selesai, Helena masuk ke dalam dan mencari kamar mandi, ia akan sedikit merias wajahnya agar tidak terlihat sembab, beruntung, tidak ada satu pun yang melihat ke arah dirinya.
Helena menghela napas panjang, rasanya lelah sekali karena hari ini menangis dua kali dengan luka yang begitu menyakitkan, satu dari anaknya dan satunya lagi dari papanya, lengkap sudah penderitaan Helena.
"Ngapain kamu di sini sendiri? Gak punya teman?" Tiba-tiba Freya datang dengan entah siapa, tapi gadis itu memakai kerudung berwarna putih di kepalanya.
Helena menghela napas lagi, ia sudah cukup lelah menangis dua kali, biarkan sekarang ia menenangkan dulu perasaannya yang masih terluka.
Helena tersenyum lebar dan menatap Freya seakan-akan tidak terjadi apa-apa, "loh Freya sama siapa? Sepupu ya?" tanya Helena menatap lembut gadis berhijab yang berdiri di sebelah Freya.
"Halo tante, aku Gina, aku sepupu Freya," Hina mengulurkan tangannya ke arah Helena yang di balas oleh Helena, namun Freya menepis kasar tangan Helena sampai sedikit memerah.
"Jangan sentuh-sentuh sepupu aku," peringat Freya menatap tajam Helena.
"Eh, tidak boleh seperti itu, Frey, nanti papa kamu marah," bisik Gina yang masih dapat di dengar Helena.
"Tidak peduli, sudahlah kita pergi saja ke kamar mandi lain," Freya menarik lengan Gina untuk keluar dari dalam kamar mandi itu, benar-benar tidak mau berada di dalam satu ruangan dengan Helena.
Helena menatap sendu kepergian Freya dan Gina, apa dirinya sanggup menjadi wanita jahat demi melindungi hatinya yang terluka, demi membalaskan semua luka yang mereka torehkan kepada Helena, apalagi Helena sudah menyayangi Freya dan Kenzo layaknya anak sendiri, walau tidak bisa di pungkiri jika Helena juga sering kali terluka dengan sikap dan perkataan mereka.
"Loh, kamu di kamar mandi, aku cariin kamu kemana-mana, ternyata kamu di sini,"
Helena mendongakkan kepalanya begitu suara yang begitu familiar menyapa indra pendengarannya.
"Mas," sambut Helena tersenyum kecil, rasanya ia ingin kembali menangis melihat senyum yang terukir di wajah suaminya, mengingat jika senyuman suaminya sekarang itu bukanlah benar-benar tulus dari dalam hatinya, lagi-lagi ia kembali terluka mengingat pembicaraan antara Farhan dan Elnara.
"Kok malah melamun? Kenapa?" tanya Farhan membawa wajah istrinya agar menatap dirinya.
Helena menggelengkan kepalanya, "aku tidak apa-apa, hanya sedikit tidak enak badan saja,"
"Mau istirahat dulu, acaranya mungkin akan selesai tengah malam nanti, istirahat dulu aja, yuk!" ajak Farhan melingkarkan tangannya di pinggang Helena.
Helena hanya pasrah begitu Farhan membawa dirinya menaiki lift, entah ke lantai berapa, tapi begitu ia dan Farhan turun, Helena dapat melihat lantai paling dasar dari tempatnya berdiri.
"Badan kamu panas, kamu kecapean ya?" tanya Farhan menatap Helena dengan raut wajah yang begitu khawatir.
Helena hampir saja terbuai dengan sikap lembut dan perhatian Farhan kepadanya jika ia tidak mengingat perbincangan antara suaminya dan mantan istrinya itu di belakang pohon besar.
"Udah makan malam belum?" tanya Farhan yang diberi anggukkan oleh Helena.
Tentu saja ia berbohong, kapan ia bisa makan malam sedangkan tidak ada kursi kosong yang tersedia untuknya, belum lagi Helena yang merasa segan untuk mengambil makanan ringan di atas meja ataupun makan malam yang sudah di sediakan prasmanan, karena tidak ada satupun keluarga Farhan yang menawarinya makan. Farhan pun malah sibuk berdebat dengan mantan istrinya.
"Kamu istirahat dulu ya, mas masih harus berkumpul dengan keluarga yang lain,"
Helena mengangguk, dan membiarkan Farhan mengecup lama dahinya sebelum akhirnya ia pergi keluar dari dalam kamar.
"Kenapa rasanya masih sakit?" lirih Helena meremas kuat dadanya.
Helena mungkin tidak sadar mengapa setiap kali ia melihat Farhan masih merasakan sakit yang mempu membuat dadanya seperti dihantam batu, itu karena Helena masih mengharapkan cinta tulus dari Farhan, wajar jika Helena begitu merasakan terluka dengan Farhan yang hanya mempermainkan dirinya, Farhan adalah cinta pertamanya setelah ia hidup di dunia selama 27 tahun.
Farhan adalah pria yang pertama kali datang untuk menolongnya bukan untuk mengejeknya ataupun menodai dirinya, itulah mengapa Helena begitu mencintai Farhan, Helena tidak sadar jika sikap Farhan di awal itu adalah sebuah pintu yang akan membawa Helena masuk ke dalam sebuah kehancuran yang lebih dalam lagi.
"Wajar saja Farhan menikahi anak dari seorang pelacur itu, Farhan ingin balas dendam dengan mantan istrinya yang selingkuh itu,"
Samar-samar Helena mendengar dua percakapan di depan pintu kamarnya, pelan-pelan, Helena mendekati daun pi tu dan menempelkan telinganya agar suara orang di luar terdengar olehnya.
"Sayang, Farhan salah menikahi orang,"
"Itu memang sengaja, dilihat secara mata pun, Orang-orang akan tahu jika wanita bernama Helena itu wanita gampangan, belum ada tiga bulan saling mengenal saja, ia langsung menyetujui menikah dengan Farhan, memang pesona duda anak tiga begitu kuat," kekeh seorang wanita, merasa jika yang dibicarakannya adalah sebuah lelucon yang pantas di tertawakan.
"Sepupuku memang tidak ada duanya,"
"Ngomong-ngomong, dia sepupuku juga ya,"
Dua wanita itu langsung tertawa bersamaan, "istrinya itu benar-benar sangat bodoh, jelas-jelas anak-anak Farhan tidak menyukai kehadirannya, dia malah tetap mempertahankan diri agar tetap bisa hidup bersama dengan pria yang dicintainya,"
"Tidak tahu saja, jika mertuanya saat ini sedang menjodohkan Farhan dengan wanita yang lebih baik dari dirinya,"
Helena tersenyum kecut, jadi mereka benar-benar tidak menganggap kehadiran dirinya?