Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.
Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.
Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Tiga hari berlalu sejak insiden pingsannya Citra di kamar utama yang sedingin es itu.
Berkat istirahat total dan pemantauan ketat Dokter Rahman, selang infus di tangan kirinya akhirnya sudah dilepas. Luka bakar di punggung tangan kanannya pun mulai mengering, menyisakan ruam kemerahan yang dibalut perban tipis. Pagi ini, Citra sudah diizinkan keluar dari kamar dan menghirup udara segar di taman belakang Mansion Aditama yang luasnya menyaingi lapangan sepak bola.
Ia duduk termenung di kursi taman berbahan besi tempa bergaya klasik, menatap kosong ke arah puluhan ikan koi mahal yang berenang tenang di kolam jernih. Pikirannya melayang jauh menembus tembok tinggi mansion ini, kembali ke restoran tempatnya bekerja. Hari ini seharusnya ia mendapat giliran shift pagi bersama Chika. Ia rindu hiruk-pikuk dapur yang hangat, rindu aroma tumis bawang putih yang menggugah selera, denting piring dan gelas yang saling beradu, serta rindu tawa renyah teman-temannya saat jam istirahat tiba. Di sana, ia merasa menjadi manusia seutuhnya.
Lamunan Citra buyar seketika saat mendengar langkah kaki mendekat. Pak Aditama, yang sudah rapi dengan setelan kasual akhir pekannya, ikut duduk di kursi seberang meja.
"Udaranya segar, ya?" sapa Pak Aditama sambil tersenyum hangat, menatap menantunya dengan sorot kebapakan.
"Iya, Pa," jawab Citra sopan, buru-buru membalas senyuman itu agar tidak terlihat habis melamun.
Pak Aditama menatap Citra lekat-lekat, raut wajahnya berubah sedikit lebih serius. "Citra, ada hal penting yang ingin Papa bicarakan sama kamu. Ini soal pekerjaanmu di restoran."
Jantung Citra tiba-tiba berdegup lebih cepat. Firasatnya mengatakan ini bukan pembicaraan yang akan ia sukai. Tangannya yang berada di bawah meja saling meremas gelisah.
"Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Aditama," lanjut pria paruh baya itu dengan nada lembut namun tegas. "Papa sangat bangga kamu mandiri dan mau bekerja keras. Tapi, kejadian kamu pingsan kemarin membuat Papa sadar... pekerjaan sebagai pramusaji itu terlalu menguras fisikmu. Apalagi kamu sekarang punya tanggung jawab mengurus rumah dan melayani suami."
Citra menelan ludah yang terasa pahit. "Ta-tapi Pa... Citra sudah biasa kerja seperti itu sejak lulus sekolah. Kemarin Citra pingsan cuma karena kebetulan lagi demam aja kok, Pa, bukan karena kerjaannya yang terlalu berat."
"Tangan kananmu sampai melepuh parah, Nak," potong Pak Aditama lembut namun tak terbantahkan, menunjuk perban di tangan Citra. Beliau sama sekali tidak tahu bahwa luka itu disebabkan oleh air kopi mendidih karena ulah Putra, bukan kecelakaan di dapur restoran. "Papa tidak mau melihat menantu Papa melakukan pekerjaan kasar lagi. Mulai besok, Papa minta kamu resign dari restoran itu."
Satu kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Citra. Napasnya tercekat.
Resign? Berhenti bekerja berarti ia harus berada di mansion raksasa ini selama dua belas hingga dua puluh empat jam penuh. Berada di rumah ini berarti ia harus terus berhadapan dengan tembok es tak kasat mata dari suaminya, serta bersiap menjadi sasaran empuk mulut beracun Putri dan Kinan setiap harinya tanpa jeda.
Bagi orang luar, berhenti bekerja dan menjadi nyonya rumah yang tinggal menikmati fasilitas mewah, pergi arisan, atau berbelanja tas branded adalah impian terbesar. Tapi bagi Citra, restoran adalah satu-satunya tempat pelariannya yang paling aman. Di sana, ia dihargai atas keringatnya. Di sana, ia adalah Citra yang lincah, cekatan, dan ceria, bukan "Nyonya Aditama" yang selalu dianggap kampungan, benalu, dan keset kaki pembawa sial.
"Pa... Citra mohon, jangan suruh Citra berhenti," suara Citra mulai bergetar, matanya berkaca-kaca memohon pengertian. "Citra janji nggak akan kecapekan lagi. Citra bisa ambil shift paruh waktu saja, kerjanya setengah hari. Tapi tolong, biarkan Citra tetap kerja, Pa. Citra butuh kesibukan di luar rumah..."
Pak Aditama menghela napas panjang, keningnya berkerut dalam. Ia salah mengartikan kepanikan Citra. Ia mengira gadis itu bersikeras bekerja karena masalah finansial yang mendesak.
"Apa uang bulanan yang diberikan Putra kurang untuk keperluan pribadimu?" tanya Pak Aditama dengan nada curiga dan suara yang mulai meninggi. "Kalau kurang, Papa akan panggil dan tegur dia habis-habisan sekarang juga. Suami macam apa yang membiarkan istrinya kekurangan sampai harus memelas ingin jadi pelayan?"
Mendengar ancaman itu, mata Citra membelalak panik. Wajahnya seketika pias. Jika Pak Aditama benar-benar menegur Putra masalah uang padahal kenyataannya Putra memang tidak pernah memberinya uang belanja sepeser pun sejak mereka menikah suaminya itu pasti akan sangat murka. Putra akan langsung menuduhnya sebagai tukang mengadu yang licik. Bayangan kemarahan Putra di dalam kamar yang terkunci membuat bulu kuduk Citra meremang ketakutan. Hukuman yang menantinya saat Pak Aditama pergi nanti pasti akan jauh lebih mengerikan dan tak terbayangkan.
"Enggak, Pa! Cukup! Uang dari Mas Putra sangat cukup, bahkan lebih!" sergah Citra cepat-cepat, suaranya sedikit meninggi karena panik, terpaksa menutupi kebohongan suaminya dengan kebohongannya sendiri demi menyelamatkan nyawanya.
"Lalu kenapa kamu masih bersikeras bekerja di luar sana?" Pak Aditama menatapnya dengan pandangan penuh selidik. "Apa kamu tidak betah di rumah ini? Apa Putri dan Kinan mengganggumu lagi saat Papa tidak ada?"
Citra menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa kebas. Ia ingin sekali menjerit, Iya! Rumah ini seperti neraka dan anak-anak Papa adalah iblisnya! Namun, ia ingat ancaman suaminya. Ia tidak ingin menghancurkan keharmonisan semu keluarga ini. Ia juga tidak ingin membuat Pak Aditama, satu-satunya orang yang menyayanginya di sini, jatuh sakit karena memikirkan kelakuan buruk anak-anaknya.
Dengan berat hati yang luar biasa dan dada yang sesak, Citra menundukkan pandangannya. Pertahanannya runtuh, air matanya menetes jatuh ke pangkuannya membasahi gaun tidurnya.
"Nggak, Pa... Citra betah kok di sini. Adik-adik juga baik," dusta Citra dengan suara parau yang menyayat hati, menelan pahitnya kebohongan itu sendirian. "Baik, Pa. Kalau itu memang kemauan Papa dan demi kebaikan keluarga... besok Citra akan ke restoran untuk serahkan surat resign."
Senyum lega langsung mengembang di wajah keriput Pak Aditama. Beliau mengusap bahu Citra dengan lembut, merasa menang karena berhasil "melindungi" menantunya. "Anak pintar. Ini semua demi kebaikanmu dan kesehatanmu, Nak. Mulai sekarang, fokuslah merawat dirimu dan suamimu dengan baik."
Setelah Pak Aditama beranjak pergi kembali ke dalam rumah, Citra tertunduk lesu di kursi taman itu. Bahunya berguncang hebat menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Di lantai dua mansion, tepat di balik kaca jendela besar ruang kerjanya yang terbuka separuh, Putra Mahesa Aditama berdiri bersedekap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana bahannya. Pria itu menatap lurus ke bawah, menatap lekat punggung Citra yang bergetar menahan tangis di taman. Ia telah mendengar seluruh percakapan itu dengan sangat jelas dari atas balkon.
Sebuah seringai tipis, sangat dingin, dan penuh dominasi terukir di sudut bibir Putra. Rasa puas menjalar di dadanya, perlahan menggantikan rasa kesal karena ditampar ayahnya beberapa hari lalu.
Citra kini telah resmi kehilangan sayapnya. Gadis keras kepala itu tidak punya lagi alasan sah untuk keluar rumah. Tidak ada lagi tempat untuk melarikan diri atau mencari simpati dari teman-temannya di luar sana. Mulai besok, Citra akan sepenuhnya berada di bawah kendalinya. Terkurung rapat di dalam sangkar emas bersamanya, di bawah pengawasannya yang ketat selama dua belas jam sehari, tujuh hari seminggu.
"Selamat datang di neraka sesungguhnya, Istriku," gumam Putra pelan pada angin pagi, matanya berkilat penuh kemenangan, sebelum akhirnya berbalik kembali ke meja kerjanya.
atau happy bersama lelaki lain
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih