Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nine dan Deset
CHAPTER 11
Deset bergerak mendekat ke arah sumber suara itu, atau lebih tepatnya ke arah tempat Shinji bersembunyi.
Deset sudah sangat dekat. Saat ia melihat apa yang ada di balik kotak-kotak itu, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana.
"Hah?..." Ia memegangi kepalanya yang pusing. "Mungkin cuma tikus."
Nine menatap tajam. "Kau yakin?" Ia sedikit mendekat. "Bagaimana kalau yang tadi itu adalah Nightshade?"
Muka Deset mulai berkeringat dingin. Dalam pikirannya, ada kemungkinan bahwa Nightshade telah memata-matai mereka sejak dalam perjalanan menuju markas.
"B-baiklah, akan kucek lagi!" ucap Deset dengan tergesa-gesa.
Saat ia melihat lagi dan memeriksa lebih teliti, tetap saja percuma. Deset tidak menemukan petunjuk apa pun. Sampai akhirnya ia mengaktifkan Ten. Energi oranye menyelimuti tubuhnya dan merambat ke monokel (kacamata satu lensa) yang ia kenakan.
Monokel yang ia kenakan menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Dari penglihatan Deset, terlihat jejak kaki seseorang yang menyelinap masuk.
"A-ada... ada penyusup ternyata!" Deset menunjuk bekas jejak itu.
"Ke mana arahnya!" teriak Nine.
Deset menelusuri jejak itu lebih jauh dan kemudian memberitahukan arah jejak itu kepada Nine. Nine langsung bergerak menuju tempat yang ditunjuk oleh Deset.
Di sisi lain...
Shinji yang telah sampai di dekat mobil persembunyian mereka masih belum tahu bahwa ada orang yang mengejar. Shinji mulai memberi tahu apa saja yang ada di dalam markas itu.
Tentang Voda yang tidak ada di sana dan dua dari Sepuluh Jari Voda yang menjaganya. Shun bertanya siapa kedua orang dari Sepuluh Jari Voda itu.
Frederica menjawab bahwa mereka adalah anggota yang dilatih langsung oleh Voda. Asal usul mereka pun tidak pernah diketahui. Bisa dibilang bahwa Sepuluh Jari Voda adalah anggota rahasia yang tidak diketahui oleh masyarakat umum.
Mereka bekerja langsung di bawah perintah Voda. Shun pun mengerti. Pasti akan sulit jika melawan mereka secara langsung, mengingat bahwa mereka dilatih langsung oleh Voda.
Mereka pun mulai memasuki mobil, namun... Saat Shinji hendak membuka pintu, di belakangnya muncul sosok besar secara tiba-tiba.
"Ketemu kau... tikus kecil," ucap sosok itu dengan nada mengancam.
Dia adalah Nine yang berhasil menemukan persembunyian mereka. Anggota Black Roses lainnya pun keluar lagi dari mobil.
Nine yang berada di belakang Shinji pun tidak ragu untuk langsung memukulnya. Shinji masih bisa menghindar, namun bertarung di tempat sempit sangat sulit bagi musuh maupun bagi mereka.
"Lumayan untuk seorang sampah," ejek Shinji.
Karena ejekan itu, Nine lagi-lagi memukul Shinji secara diagonal. Shinji masih bisa menghindar, namun yang tidak diketahui oleh Shinji adalah tinju Nine yang datang dari sisi lain.
Pukulan itu mengenai Shinji dengan telak. Pukulan itu bukanlah pukulan biasa. Shinji terpental dan menabrak tembok, tembok itu juga langsung retak dan berlubang.
"A-apa... Pukulan macam apa itu!" pikir Shun dengan terkejut.
"Yuzu, bawa Shun dan Shinji pergi, dan panggil bantuan," Frederica memakai kacamatanya. "Biar aku mengulur waktu."
"Ha! Kau pikir aku akan menurut? Tentu saja tidak," Yuzuriha mengambil jarum yang mengikat rambutnya. "Kata Boss, jika terpaksa bertarung, bunuh musuhnya, bukan?" Yuzuriha mengaktifkan Ten.
Energi merah menyelimuti tubuhnya, kemudian merambat ke jarumnya. Jarumnya berubah menjadi lebih besar dan panjang yang berwarna merah gelap.
"Shuchan! Kau boleh menunjukkan kemampuanmu saat latihan!" ucap Yuzuriha dan menoleh ke Shun sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu!" Shun mengambil kapak kecil di dalam tasnya.
"Hem... Kalian..." Frederica menoleh ke mereka. "Ayo bertarung mati-matian!"
Frederica mengaktifkan Ten. Energi ungu menyelimuti tubuhnya dan kacamatanya. Kacamatanya menjadi gelap. Seketika, Frederica maju tanpa ragu.
Nine memukul secara diagonal. Frederica menghindar dengan mudah berkat kemampuan kacamatanya. Ia memukul dagu Nine.
Namun, Nine tidak merasakan apa pun. Ia kembali memukul Frederica, lurus ke arah perut. Frederica menahannya, namun ia kesulitan karena tangan Nine yang sangat besar itu. Hal ini membuat Frederica harus menguras banyak tenaga.
Melihat kesempatan itu, Yuzuriha maju tanpa ragu. Saat sudah dekat dengan Nine, Yuzuriha langsung melancarkan serangan horizontal. Namun, serangan itu ditahan oleh Nine.
Nine menahannya dengan tangan yang satunya lagi. Saat ini, Nine sangat terpojok. Shun maju untuk mengakhiri pertarungan. Ia mengaktifkan Ten.
Energi hitam dan merah menyelimuti tubuhnya dan kemudian merambat ke kapak kecil yang ia pegang. Kapak itu berubah menjadi lebih besar. Ukurannya seperti tubuh anak berusia enam tahun.
Shun memegang kapak itu dengan kedua tangannya. Ia meloncat cukup tinggi menggunakan teknik Ten, memusatkan energi Ten di area kakinya, membuat Shun melompat tinggi.
Shun mengangkat kapak lurus ke atas, namun Shun heran saat melihat Nine...
Nine tersenyum. "Lumayan juga, bocah!"
Nine mengaktifkan Ten. Energi cokelat gelap menyelimuti tubuhnya dengan sangat cepat, kemudian menyebar ke gelang yang ada di setiap pergelangan tangannya.
Gelang itu berubah menjadi lebih tebal dan mengeluarkan pisau yang cukup besar. Nine juga langsung memutar tubuhnya. Sehingga Frederica dan Yuzuriha terpaksa melepaskan pegangan mereka.
Hal ini membuat Shun merasa takut tidak berhasil. Shun ragu untuk menggerakkan kapaknya.
"Ayo!... Shuchan!" Suara Yuzuriha terdengar di telinga Shun.
Suara Yuzuriha yang mirip dengan ibunya, walau bedanya saat itu mungkin suara ibunya sedang marah.
Shun langsung menggerakkan kapaknya secara vertikal. Sayangnya, serangan itu berhasil diblokir oleh Nine. Nine mendorong Shun dan menyerang secara beruntun.
"Boleh juga ya!... Boleh juga kau memiliki Ten yang sama seperti Tuanku," Nine menyerang terus-menerus. "Walau bedanya dari warna, ya!!" Ia melancarkan serangan terakhir yang mengarah ke jantung Shun.
Saat sudah dekat dengan dada Shun, secara tiba-tiba Yuzuriha menangkis serangan itu dan secara tepat ia menendang dagu Nine. Nine mundur sedikit karena terkejut dengan kedatangan Yuzuriha.
Dari samping juga muncul Frederica yang langsung menerjang dan menendang secara horizontal ke arah perut Nine, membuat Nine kembali termundur ke belakang.
Shun mengangkat kapaknya. Ia memusatkan Tennya ke tangannya supaya lebih kuat.
"Jangan samakan aku... dengan tuanmu yang sampah itu!" Shun melempar kapaknya.
Tepat di atas kepala Nine. Tapi Nine berhasil menghindarinya. Walaupun dihindari, tapi itu sudah cukup karena mereka bisa keluar dari lorong yang sempit itu.
Hal ini membuat Frederica dan Yuzuriha lega, dan bisa menyerang dengan lebih leluasa. Saat Nine ingin bergerak maju, di sampingnya muncul Yuzuriha yang ternyata lebih cepat darinya.
Yuzuriha menusuk menggunakan jarumnya yang menembus dari sisi ke sisi di lengan Nine dan melepas paksa dengan menendang Nine begitu saja.
Tubuh Nine membentur pohon di belakangnya. Dengan cepat, ia kembali berdiri tegak, namun saat ia mengangkat kepala, sudah ada Frederica yang berdiri dan menendang secara horizontal di samping perut Nine.
Hal ini membuat Nine terpental cukup jauh.
"Oi, oi, oi... Padahal wanita jalang, kenapa tendanganmu sekuat ini, ha!!" Dengan tubuh besarnya, Nine melesat ke depan Frederica dan menendangnya menggunakan lutut.
Tepat di perut Frederica, hal ini membuat ia muntah darah. Yuzuriha datang, di sinilah pertarungan antara pengguna dua senjata dimulai.
Yuzuriha dan Nine bertarung sangat sengit. Dari setiap serangan yang dilancarkan, tidak ada satu pun yang mengenai sasaran. Kecepatan mereka juga setara.
Saat itu juga Yuzuriha heran. Padahal, dari segi kecepatan ia lebih unggul, tapi saat ini kecepatan mereka setara. Bahkan sebentar lagi, kecepatan Nine akan lebih cepat darinya.
Tidak lama kemudian, Yuzuriha mulai terkena goresan akibat serangan Nine.
"Hahahah! Kau juga lumayan, Nona!" Serangan dilancarkan terus-menerus oleh Nine.
Hal ini membuat Yuzuriha kesulitan. Serangan Nine mulai mendekat ke lehernya. Yuzuriha memejamkan matanya.
Namun, ia tiba-tiba mendengar suara dentuman senjata. Ya, saat Yuzuriha membuka mata, Shun menangkis serangan Nine dengan belati berwarna hitam dan merah. Menunjukkan bahwa itu adalah perubahan kedua kalinya dan sisa perubahan untuk Shun hanya satu kali.
Shun mendorong Nine dan menyerang terus-menerus. Nine yang melihat Shun seakan melihat Tuannya sendiri, yaitu Voda.
Nine membayangkan bahwa ia melawan Tuannya sendiri karena energi Ten Shun yang sama dua warnanya dengan Voda. Dari pertama kali bertemu, Nine selalu ingin melawan Voda, bukan karena ia membelot, tapi karena ia ingin merasakan kekuatan orang yang ia panggil tuan itu.
Nine tiba-tiba sangat bersemangat, urat lengan dan urat lehernya muncul. Ia tersenyum lebar, menandakan bahwa ia sangat puas bertarung melawan Shun.
Dari penglihatan Shun, ia bukan melihat Nine, melainkan ia melihat monster yang besar dan bisa melahap Shun dengan mudah.
Frederica mendekat ke Yuzuriha dan berbisik, "Ke mana Shinji?"
Dari tadi, ternyata Shinji tidak ada di sana.