Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Arungi Lautan Kabut Abadi
Perjalanan menuju Benua Utara bukanlah perjalanan darat biasa. Satu-satunya jalan adalah melewati Lautan Kabut Abadi, sebuah wilayah perairan yang dianggap sebagai "Lubang Pembuangan Dunia."
Di sini, airnya berwarna kelabu pekat dan udara selalu tertutup kabut tebal yang mengandung gas halusinogen. Tidak ada kapal kayu biasa yang bisa bertahan; kayu akan membusuk dalam hitungan jam, dan awak kapal akan saling bunuh karena kegilaan yang dipicu oleh kabut.
Namun, di tengah lautan yang sunyi itu, sebuah pemandangan ganjil terlihat. Sebuah kapal yang seluruhnya terbuat dari kristal ungu kehitaman membelah ombak. Itu bukan kapal biasa, melainkan Bahtera Inti Racun yang dibentuk Xiao Chen dari kepadatan energi Qi-nya.
Di atas dek kapal, Xiao Chen berdiri menatap kabut yang bergulung. Di belakangnya, Ling sedang duduk bersila, berjuang keras menstabilkan energinya.
Berkat bimbingan Xiao Chen dan pil dari kuali Han Zhong, Ling kini telah resmi memasuki Ranah Pengumpulan Qi. Udara di sekitar gadis kecil itu bergetar, ditarik paksa masuk ke dalam pusaran energi di perut bawahnya.
"Fokus, Ling," ucap Xiao Chen tanpa menoleh. "Kabut di luar sana bukan hanya gas. Itu adalah sisa-sisa jiwa para pendekar yang gagal. Jika Qi-mu tidak murni, mereka akan masuk dan memakan jiwamu."
"Baik, Guru!" jawab Ling dengan keringat dingin yang mengucur, namun matanya tetap terpejam rapat.
Tiba-tiba, kapal kristal itu berguncang hebat. Dari kedalaman air kelabu, muncul tentakel-tentakel raksasa yang dilapisi lendir bercahaya hijau.
Setiap tentakel memiliki mata di sepanjang permukaannya. Ini adalah Kraken Penjerat Jiwa, monster laut purba yang telah mencapai tingkat kekuatan setara Ranah Langit tingkat puncak.
Bai, yang sejak tadi bergelayut manja di pundak Xiao Chen, tiba-tiba berdiri. Wajah cantiknya yang lembut berubah menjadi sangat dingin. Matanya yang ungu berpendar terang, pupil vertikalnya melebar saat ia menatap ke arah laut.
"Makhluk rendahan," desis Bai. "Kau berani mengguncang kapal tempat Tuanku beristirahat?"
Bai melompat ke udara. Gaun peraknya berkibar, dan di belakang punggungnya muncul sayap-sayap cahaya yang transparan namun tajam seperti silet. Dengan satu gerakan tangan, ia menciptakan ribuan jarum perak dari uap air di sekitarnya.
"Seni Permaisuri Naga: Hujan Perak Pemutus Sukma!"
Jarum-jarum itu menghujani laut, menembus kulit keras sang Kraken. Namun, Kraken itu melawan dengan menyemburkan tinta hitam yang mengandung racun asam tingkat tinggi. Tinta itu sangat kuat hingga mampu melubangi energi pelindung kapal.
"Berani sekali kau melawan?!" Bai berteriak murka. Ia tidak tahan melihat kapal Xiao Chen dikotori.
Bai menukik tajam, tangannya berubah menjadi cakar naga perak yang besar. Ia mencengkeram salah satu tentakel raksasa itu dan, dengan kekuatan fisik yang tidak masuk akal bagi sosok wanita anggun, ia mengangkat seluruh tubuh Kraken seberat puluhan ton itu keluar dari air.
"Mati!" Bai meremas tentakel itu, mengirimkan energi racun naga purba langsung ke jantung monster tersebut.
Kraken itu membeku seketika. Seluruh tubuhnya berubah menjadi warna perak keunguan, lalu mulai mencair menjadi aliran energi murni.
Sebelum energi itu hilang, Bai menariknya dengan gerakan tangan, memadatkannya menjadi sebuah bola kristal energi berukuran kepalan tangan.
Ia mendarat kembali di dek kapal dengan sangat anggun, seolah-olah baru saja memetik bunga di taman. Ia berjalan mendekati Xiao Chen dan menyodorkan bola energi itu dengan wajah yang kembali manis dan penuh kasih sayang.
"Tuanku, ini sedikit 'makanan ringan' untuk meningkatkan pondasi Ling, atau mungkin untuk membersihkan tenggorokanmu?" Bai tersenyum lebar, matanya penuh obsesi menanti pujian dari Xiao Chen.
Xiao Chen mengambil bola energi itu dan menyerahkannya pada Ling yang baru saja membuka mata. "Telan ini. Ini akan memadatkan Qi-mu agar kau siap saat kita menginjakkan kaki di Benua Utara."
Ling menelan bola itu, dan seketika auranya meledak, mengukuhkan posisinya di Ranah Pengumpulan Qi tingkat menengah.
Xiao Chen kembali menatap ke depan. Di balik kabut yang mulai menipis, terlihat pegunungan salju putih yang menjulang tinggi—Benua Utara, markas dari Lembah Dewa Obat.
"Lautan Kabut sudah terlewati," gumam Xiao Chen. "Persiapkan dirimu, Bai, Ling. Kita akan bertemu dengan mereka yang mengaku sebagai penyembuh dunia, tapi tidak tahu cara menyembuhkan kematian mereka sendiri."
Bai memeluk lengan Xiao Chen lebih erat, menyandarkan pipinya di bahu sang legenda. "Selama aku di sisimu, Tuanku, seluruh benua ini pun akan menjadi kuburan jika kau menghendakinya."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.