NovelToon NovelToon
Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Mas Kapten, Ayo Bercerai!

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:2.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Lima tahun lalu, malam hujan hampir merenggut nyawa Kapten Shaka Wirantara.
Seorang wanita misterius berhelm hitam menyelamatkannya, lalu menghilang tanpa jejak. Sejak malam itu, Shaka tak pernah berhenti mencari sosok tanpa nama yang ia sebut penjaga takdirnya.

Sebulan kemudian, Shaka dijodohkan dengan Amara, wanita yang ternyata adalah penyelamatnya malam itu. Namun Amara menyembunyikan identitasnya, tak ingin Shaka menikah karena rasa balas budi.
Lima tahun pernikahan mereka berjalan dingin dan penuh jarak.

Ketika cinta mulai tumbuh perlahan, kehadiran Karina, gadis adopsi keluarga wirantara, yang mirip dengan sosok penyelamat di masa lalu, kembali mengguncang perasaan Shaka.
Dan Amara pun sadar, cinta yang dipertahankannya mungkin tak pernah benar-benar ada.

“Mas Kapten,” ucap Amara pelan.
“Ayo kita bercerai.”

Akankah, Shaka dan Amara bercerai? atau Shaka memilih Amara untuk mempertahankan pernikahannya, di mana cinta mungkin mulai tumbuh.

Yuk, simak kisah ini di sini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. masih cemburu

Pintu mobil tertutup pelan. Amara duduk dengan napas masih tak beraturan, wajahnya memanas, dan jantungnya seperti baru saja disetrum. Ia menatap lurus ke depan, tangan meremas rok seragamnya erat. Zico mengintip dari sisi kemudi, ekspresi khawatir langsung muncul.

“Nona … Anda oke?” tanya Zico hati-hati.

Amara tidak menjawab, bibirnya masih terasa hangat bekas ciuman yang sama sekali tidak ia duga. Dia mengangkat jemari, menyentuh sudut bibirnya seperti mencoba memastikan itu benar-benar terjadi.

Zico semakin gelisah. “Nona, wajah Anda merah banget. Tadi Kapten Shaka bilang apa? Dia ... apa dia bikin Anda tidak nyaman?”

Amara menutup mata sebentar, mencoba menetralkan napas yang naik turun.

“Tidak … bukan begitu.” Suaranya pelan dan bergetar.

Zico menelan ludah. “Saya … melihat dari tadi Kapten Shaka kayak … nggak bisa fokus kalau Nona ada di ruangan itu.”

Amara mengalihkan wajah ke kaca jendela, menatap pantulan dirinya. “Dia … tetap sama. Tetap seenaknya.”

“Nona Amara, Anda masih mencintai Kapten Shaka, ya?” Pertanyaan itu menghantam tepat di tempat yang paling lemah. Amara menahan napas bahkan menahan air mata yang tidak boleh tumpah.

“Cinta itu … tidak selalu cukup,” gumamnya lirih. “Dan dia selalu datang terlambat.”

Zico menatap Amara lama, hatinya ikut sesak. “Kalau gitu … biar saya yang bilang ini.” Ia mencondong sedikit tubuhnya. “Anda berhak bahagia, Nona. Bukan cuma jadi seseorang yang Kapten Shaka perlakukan semaunya.”

Amara tersenyum tipis, danpahit. “Aku tahu.”

Dia menarik napas panjang, mencoba mengusir sensasi hangat di bibirnya, mencoba menepis debar dadanya. Namun tubuhnya masih sangat sadar akan sentuhan Shaka, seolah memori itu baru saja tertanam.

“Zico,” panggilnya lirih. “Tolong … jangan tanya apa-apa lagi, ya.”

Zico mengangguk pelan. “Baik, Nona.”

Mobil melaju perlahan keluar dari area perusahaan. Di kursi penumpang, Amara memejamkan mata, satu tangannya menggenggam dada. Ia membenci dirinya karena jantungnya masih berdebar seperti itu.

Ia membenci fakta bahwa meskipun ia yang memilih bercerai Shaka masih menjadi satu-satunya lelaki yang bisa membuatnya gemetar hanya dengan satu ciuman.

Dua hari berlalu, sejak ciuman pertama setelah enam tahun berpisah.

Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan seluruh ruangan dipenuhi orang-orang penting dari industri penerbangan. Malam itu semua penerbangan besar menghadiri acara bergengsi tersebut, Wirantara Air, Marvionne, dan Garuda Air ada beberapa penerbangan lainnya.

Amara melangkah masuk bersama pamannya, Arya. Gaun hitam simpel namun elegan membalut tubuhnya, rambut disanggul rapi tampilannya membuat beberapa kepala otomatis menoleh.

“Keponakanku selalu mencuri perhatian,” gumam Arya dengan bangga. Amara tersenyum tipis, dia tidak sedang ingin menjadi pusat perhatian, apalagi ketika ia tahu Shaka pasti hadir.

Dan benar saja, dari sisi ruangan, Shaka masuk bersama Haris. Sosoknya gagah dengan setelan gelap, bahunya lebar, wajahnya tegas, kapten kebanggaan Wirantara yang selalu menjadi sorotan. Namun malam itu matanya hanya fokus pada satu orang, yaitu Amara.

Shaka berhenti sejenak tanpa sadar, rahangnya mengeras. Haris memerhatikan perubahan itu dan hanya menghela napas panjang.

“Baru masuk udah tegang, Kapten?” goda Haris. Shaka tidak menjawab, sorot matanya tidak pernah lepas dari mantan istrinya. Namun detik berikutnya, suasana berubah. Arya menghampiri sekelompok tamu baru salah satunya pria muda yang tampan, berkelas, dan membawa aura percaya diri khas pewaris perusahaan besar.

“Tuan Muda Pratama,” ujar Arya bangga, “izinkan saya memperkenalkan ini keponakan saya, Amara.”

Pria itu tersenyum ramah pada Amara, mengulurkan tangan.

“Senang bertemu dengan Anda, Nona Amara. Saya Raja Pratama. Mendengar banyak hal tentang Anda di dunia penerbangan. Apalagi Anda satu-satu orang yang dipercaya membawa keberuntungan,"

Amara kaget tetapi tetap sopan. “Oh … terima kasih, Tuan Raja.”

Shaka yang berada tidak jauh di belakang mereka, sedang pura-pura berbicara dengan tamu lain, langsung berhenti. Ia memiringkan kepala sedikit, mendengar jelas percakapan itu.

Mata Shaka menggelap, Haris menyikut pelan.

“Eh, Kapten … matanya jangan menusuk begitu. Itu tamu perwakilan dari Garuda Air, loh.”

Shaka menoleh ke Haris sebentar, suaranya dingin. “Kenapa Tuan Arya memperkenalkan Amara ke dia?”

“Karena itu normal di acara sosial?” Haris menjawab canggung.

Sorot mata Shaka kembali ke arah Amara yang kini sedang tertawa kecil mendengar candaan Raja Pratama. Dan itu menyulut api di dada Shaka.

“Terlalu dekat,” gumam Shaka.

“Kapten … mereka cuma ngobrol.”

“Dia menatap Amara terlalu lama.”

“Itu … normal?”

Shaka memutar gelas sampagne di tangannya, tapi genggamannya terlalu kencang, sendokannya berubah tegang, seperti ia mencoba menahan diri agar tidak melangkah dan menarik Amara pergi.

Raja memberi komentar lain yang membuat Amara tersenyum. Dan senyum itu, senyum yang sudah dua bulan tidak ia dapatkan seperti pisau yang menyayat kesabaran Shaka.

“Sepertinya Tuan Muda itu tertarik, Kapten,” ujar Haris pelan, mencoba bercanda.

Shaka menatapnya tajam. “Itu masalahnya.”

Haris langsung terdiam, Shaka membenarkan jasnya. “Aku akan ke sana.”

“Kapten! Jangan bikin heboh!”

Tapi Shaka sudah melangkah, tubuhnya tegap, langkahnya mantap, dan tatapannya tajam seperti pesawat yang sudah memutuskan target.

1
Ning Suswati
jgn sampai karinanya dibunuh, biar tau rasanya disiksa lahir dan bathin, dan biarkan dia memohon untuk dibunuh,
Ning Suswati
siapa lagi dirga,
Ning Suswati
ada2 saja kaya gk ada laki2 lagi di dunia ini, dasar kunti laknat, semoga amara selalu didepan🤭
Ning Suswati
emangnya saka bisa apa, waktu ada gangguan di perusahaan wirantara aja amara yg segera bertindak, laupun dia sdh memutuskan untuk bercerai, tapi tetap peduli dg shaka, dan shaka tetap tdk mengakui, boro percaya apa yg sdh dilakukan amara pada perusahaannya, yg dufikirannya cuma nek kunti
Ning Suswati
ya begitulah sakitnya perempuan, bibir bisa memafkan tapi sulit untuk bisa melupakan, bayangkan karena hasutan nek kunti, sampai tdk mengakui anak yg dikandung amara dan banyak lagi, kata2, prilaku yg menyakitkan, lebih percaya orang lain daripada menggunakan otaknya sendiri, aq jadi curhat nih, karena itu aq merasakan
Ning Suswati
ya terserah amara lah, dia yg merasakan, orang lain hanya bisa menasehati dan memberi masukan, tapi gk pernah merasakan pada posisi amara selama 5 thn di sia2kan suami dan berjuang sendiri.
Ning Suswati
ya tuhan semoga amara segera selamat, amara hukan orang biasa kan, paati ada cara untuk bertindak dan menyelamatkan diri
Ning Suswati
semua nya yergantung taqdir, kalau memang bukan jodoh ya paling tidak jgn masuk ke lobang yg sama
Bulan Hampa
sengaja langsung lihat bab ahir kirain benar cerai, gajadi deh.
Ning Suswati
aq suka keputusan amara, laki2 tdk akan pernah berubah total, kalau ada maunya, ber baik2, tapi akan mengulanginya lagi
Ning Suswati
semua kehancuran keluarga saka, ortunya sendiri yg membuat nasib rumah tangga anaknya se hancur2nya, sdh tau ada kunti di dln rumah tapi diam selama ber thn2,
Ning Suswati
sama dong kayanya plan plin plen, sdh basi, emang masih ingin disakiti kembali, laki2 gk akan berubah, kecuali apa y🤔
Ning Suswati
kok zico yg jadi pelampiasan, emangnya ciuaman belum tuntas, sok2an merasa gagah, tapi dikadali laki2 dodol masih aja nyosor.
Ning Suswati
woooiiiii sdh pisah masih aja bikin masalah, selama ini kemana aja gk pernah membela dan percaya sama isteri sendiri, sekarang didekati laki2 lain sewot aja lho, sinting gila miring🤭
Fitri Guntoro
lanjut thor gantung banget deh
Ning Suswati
keegoisan ortu selalu dg nafsu tanpa perasaan, apa imbas dari keegoisan mereka
Ning Suswati
gk malu apa keluarga wirantara masih menyebut cucuku, selama ini kemana aja, membiarkan ular menyebarkan racun dlm rumah tapi tetap diam, pengausaha apa, pengusaha kotoran kali y🤔, biasanya pengusaha itu selalu berfikir dan bertindak, bukan diam seribu kata
Ning Suswati
seringkali kejadian ceritanya seperti ini, terus katanya tdk ingin lagi ketemu, masih ada rasa peduli, tapi apa lukanya amara sdh sembuh, terlalu baik juga jgn
Ning Suswati
terus siapa perempuan dan suaminya yg membela anak dan isterinya, tanpa tau masalah
Ning Suswati
yah kalamaan sampe 5 thn lagi2 5 thn, gk ada kata lain apa y, dan td siapa wanita yg ingin memukul azril, apakah nek kunti
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!