Siapa sangka putri tertua perdana menteri yang sangat disayang dan dimanja oleh perdana menteri malah membuat aib bagi keluarga Bai.
Bai Yu Jie, gadis manja yang dibuang oleh ayah kandungnya sendiri atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Dalam keadaan kritis, Yu Jie menyimpan dendam.
"Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Sabarlah untuk menunggu pembalasanku, ibu dan adikku tersayang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 11
Fang Yin tersadar dari lamunannya. Ingatan akan kejadian belasan tahun lalu terukir jelas di setiap aliran darahnya. Li Wei berhasil mengukir kenangan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidup.
"Ibu, ibu kenapa?" tanya Mei Yin khawatir.
Fang Yin menggeleng lalu berkata, "Ibu haus."
Mei Yin mengambil segelas air untuk ibunya, tapi di dalam hati, dia sangat penasaran kenapa ibunya tidak menjawab pertanyaannya.
Keesokan paginya di gubuk tua Yu Jie. Xing Lian, Li Mei, dan Nuan bangun lebih dulu. Mereka langsung menjalankan rutinitas pagi dan tugas mereka masing-masing.
Untuk sementara, Li Mei memilih membantu Nuan mencari kayu di hutan yang tidak begitu lebat. Letaknya sekitar lima ratus kilo meter dari gubuk mereka.
Hari ini tugas mereka adalah memperbaiki jendela dan pintu yang rusak. Sedangkan, Xing Lian mengurus urusan perut mereka. Ling Hua bangun sedikit telat dari mereka.
Gadis muda itu segera membersihkan diri dan mengambil air bersih di sungai. Mereka mengerjakan tugas masing-masing tanpa suara tak ingin menganggu nona muda mereka yang masih terlelap.
Yu Jie terbangun saat panjang bayangan sama dengan bendanya. Sekitar pukul sembilan pagi. Setelah beberapa malam berlalu, tadi malam adalah malam terbaik bagi Yu Jie.
Gadis cantik itu tertidur lelap hingga hampir melewati waktu sarapan pagi. Mendengar suara Yu Jie dari dalam gubuk membuat Nuan meninggalkan pekerjaannya.
Untung saja ada Li Mei yang membantunya mencari kayu di hutan. Jadi, pekerjaannya lebih cepat selesai.
"Selamat pagi, nona."
"Hoam!" Yu Jie menguap sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku.
Mereka belum memiliki kasur. Jadi, meski tidur nyenyak, tubuh Yu Jie tetap pegal saat bangun. Karena mereka tidur beralaskan kain.
"Sepertinya aku bangun kesiangan," ucap Yu Jie.
Nuan tersenyum lalu menyerahkan baskom berisi air untuk nona mudanya mencuci muka.
"Tidur nona pulas sekali. Kami sengaja tidak membuat keributan agar nona terlelap."
"Hmm," Yu Jie merasa aneh mendengar Nuan menyebutnya nona.
Tidak hanya Nuan. Bibi Lian, Ling Hua, dan Li Mei juga masih memanggilnya dengan sebutan nona. Dari kecil dia sudah terbiasa dengan panggilan itu, tapi mengingat kondisi saat ini dan perjalanan mereka selama satu bulan lebih membuat Yu Jie ingin menghapus panggilan itu.
"Nuan, temani aku ke sungai. Aku ingin mandi," ucap Yu Jie.
"Baik nona."
"Nona lagi," kesal Yu Jie dengan suara pelan.
"Anda bilang apa nona? Maaf, Nuan tidak mendengar ucapan nona dengan jelas."
Yu Jie tertawa tak enak hati, "Tidak. Aku tidak bicara apa-apa."
"Oh, kalau begitu Nuan akan menyiapkan perlengkapan nona."
"Hmmm," Yu Jie mengangguk.
Setibanya di tepi sungai, Yu Jie berdecak kagum. Airnya sangat jernih membuat dia dapat melihat ikan-ikan yang berenang. Meski jauh, Yu Jie dapat melihatnya dengan jelas.
Yu Jie tersenyum melihat ikan-ikan gemuk itu. Dalam hatinya, dia sangat bersyukur karena tidak perlu susah payah mencari lauk untuk makan mereka. Sedangkan daging, Yu Jie berpikir akan memelihara hewan ternak.
"Kambing, sapi, ayam. Ah, memelihara burung juga bagus!" ucap Yu Jie pelan sambil melepas pakaiannya.
Sebelah kakinya perlahan memasuki sungai. Air sungai yang dingin membuat Yu Jie sedikit bergidik dingin. Bukannya menarik kembali kakinya, Yu Jie malah menceburkan dirinya langsung ke sungai.
Tanpa sepengetahuan Nuan, Yu Jie berjalan perlahan menuju bagian sungai yang sedikit dalam. Gadis cantik itu menyelam beberapa saat. Dia ingin seluruh tubuhnya basah. Dinginnya air tak membuat tubuhnya rileks.
"Nona! Nona!" teriak Nuan dari tepi sungai.
Gadis itu terlihat khawatir melihat Yu Jie langsung menceburkan diri dan belum timbul ke permukaan.
Sebentar sebelah kakinya masuk ke sungai, sebentar dia tarik kembali karena teringat bahwa dirinya tidak bisa berenang. Ingin berteriak minta tolong, tapi tidak ada orang yang lewat.
"Ya ampun, nona. Nona! Nona!" Nuan mencoba sekali lagi meneriaki nona mudanya.
Tidak berapa lama, Yu Jie muncul ke permukaan. Nuan langsung mengusap menepuk dadanya berkali-kali.
"Ya ampun, nona! Anda hampir membuat jantungku pindah ke ginjal!" seru Nuan khawatir.
"Mana ada jantung pindah ke ginjal," jawab Yu Jie sambil terkekeh.
Nuan menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan nona mudanya. Maklum saja, selama dia melayani nona mudanya itu, Nuan belum pernah sekalipun melihatnya berenang. Wajar saja dia khawatir.
"Nona, nona, lengah sedikit selalu saja ada yang terjadi," ucap Nuan.
"Nuan, di sini hanya ada kita berlima. Jadi, kau tidak usah terlalu khawatir," jawab Yu Jie.
"Masalahnya Nuan tidak pernah melihat nona berenang," ujar Nuan.
"Aku memang tidak bisa berenang," jawab Yu Jie santai.
"Hah!" seru Nuan disertai tubuhnya yang merosot ke bawah.
Dia tak habis pikir dengan kelakuan nona mudanya. Tidak bisa berenang tapi berani menyelam. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu pada nona mudanya dan dia yang disalahkan. Untung saja sungai itu tidak begitu lebar dan arusnya tenang.
Yu Jie masih enggan untuk keluar dari tempatnya menyelam. Dia ingin berendam sedikit lebih lama sebelum beraktivitas.
"Nona, jangan terlalu lama di dalam air!" seru Nuan.
"Sebentar lagi. Aku masih rindu berendam. Bukannya waktu itu kau tidak membiarkanku mandi untuk waktu yang cukup lama," balas Yu Jie.
"Itukan demi kebaikan nona," balas Nuan sopan.
Yu Jie tersenyum. Dia senang karena keempat pelayan setianya lebih banyak berbicara padanya dan tentunya tidak kaku seperti saat tinggal di kediamannya dulu.
"Baiklah, gadis cerewet! Beri aku waktu sebentar lagi," balas Yu Jie.
"Nona, apa anda ingin Nuan menggosok tubuh anda?" tanah Nuan.
Yu Jie menggeleng, "Tidak. Aku bisa sendiri. Siapkan saja pakaian gantiku!" seru Yu Jie.
"Baik nona," jawab Nuan sambil bangkit.
Nuan berjalan ke samping menuju tempat di mana dia meletakkan pakaian ganti nona mudanya. Baru saja gadis itu hendak duduk, tiba-tiba dia mendengar teriakan dari samping."
"Aaa!"
Sontak saja Nuan berbalik ke sumber suara. Namun, tidak ada seorang pun di sana. Nuan kembali terserang rasa khawatir. Nona mudanya tidak berada di sana.
Nuan bangkit dan melempar pakaian ditangannya secara asal. Gadis itu berlari mendekati sungai.
"Nona! Nona!" teriak Nuan.
Wajahnya mulai basah karena air mata dan jantungnya berdegup kencang. Nuan yakin kali ini jantungnya akan pindah lokasi.
"Nona!" Nuan berteriak lebih kencang.
Permukaan air tampak bergelombang tak karuan. Sepasang tangan muncul dari dalam sungai lalu pemilik tubuh.
"Ah, nona!" seru Nuan.
Untuk kedua kalinya tubuhnya merosot ke tanah. Kakinya lemas, tapi Nuan berusaha bangkit untuk membantu nona mudanya.
"Uhuk! Uhuk!" Yu Jie terbatuk beberapa kali.
"Nona, apa yang terjadi?" tanya Nuan sambil berjalan memasuki sungai.
"Ada sesuatu yang menyentuh kakiku," jawab Yu Jie.
Nuan terdiam di tempat. Dia berhenti melangkah mendekati nona mudanya. Yu Jie ikut diam melihat Nuan yang tiba-tiba mematung.
"Nuan!" panggil Yu Jie pelan.
"Kenapa?" tanyanya lagi.
"Nona, ada sesuatu di belakangmu," jawab Nuan.
lanjut up lagi thor
lanjut up lagi thor