Nessa Ibrahim Halana, seorang gadis berjilbab yang baru menduduki bangku SMA. Dipertemukan dengan seorang guru baru yang penampilannya membuatnya selalu mendapat cemooh oleh murid-muridnya sendiri. Berbeda dengan Nessa yang tidak pernah menjelekkan gurunya itu.
Tiba-tiba suatu kejadian yang membuat mereka dinikahkan padahal status Nessa masih anak sekolahan. Berawal dengan ketidaksengajaan tidur bersama malah membuat orang tua mereka memutuskan untuk menikahkan keduanya.
"Menikah dan membina rumah tangga di usia muda bukanlah keinginan dan tujuanku." ~ Nessa Ibrahim Halana.
"Nessa, izinkan saya mencintaimu." ~Dimas Endi Rey.
Sama-sama awam persoalan cinta dan perasaan. Berusaha saling memahami. Mereka hanya mengikuti naluri hati masing-masing. Berjalan sesuai garis yang sudah ditetapkan Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MT part 11
Dengan izin Allah, izinkan hati ini untuk kembali berlayar meski perahunya belum berjalan. Dengan izin Allah, izinkan rasa ini kembali hidup. Karena cinta adalah fitrah dan hanya semata-mata untuk-Mu
~Dimas Endi Rey~
🌼🌼🌼
Drttt drttt
Suara getaran ponsel beserta pekikannya membuat fokus pria itu ambyar seketika. Dengan gesit dia menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja. Saat ini dia sedang duduk di sofa ruang tamu sambil mengerjakan pekerjaannya.
Setelah melihat ikon kontak tersebut, dia ragu untuk mengangkatnya. Hanya diam melamun, sampai panggilan itu mati dengan sendirinya. Namun, rupanya panggilan tersebut berbunyi sekali lagi dan ini sudah panggilan kesekian membuat pria itu terpaksa mengangkatnya.
"Halo?"
"Assalamu'alaikum."
Ah ya, pria itu sampai lupa mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam, ada apa?" tanyanya to the point.
Terdengar suara lembut dari panggilan tersebut. Suara yang sudah lama tidak dia dengar, suara yang telah lama mengisi kekosongan hatinya. Dan kini, rasa itu perlahan hilang karena tidak seharusnya rasa itu hadir. Semuanya tidak tau dan itu akan menjadi rahasia dirinya dan Allah.
"Baiklah, besok pagi saya akan menjemput kalian."
Pria itu langsung memutuskan panggilannya secara sepihak saat selesai mengucap salam. Tidak ingin berlarut, akhirnya pria itu kembali melanjutkan aktivitasnya.
Panggil saya dia Pak Endi. Ya, Pak Endi, guru yang mengajar mata pelajaran agama Islam. Pak Dimas panggilannya saat Nessa berbicara kepadanya.
Drttt drttt
Sekali lagi ponselnya memekik membuat pria itu menghela nafas panjang, baru saja dia kembali mengambil konsentrasi, namun semua itu kini sudah sirna.
"Assalamu'alaikum, Rey. Mama kamu sakit. Hanya itu aja yang ingin Papa sampaikan."
Tut
Panggilannya mati secara sepihak. Jantung pria itu berdetak tidak karuan saat mendengar ibunda tercinta tengah sakit. Hatinya was-was setelah mendapat kabar buruk itu.
Dengan tangan sedikit gemetar, pria itu memaksa bangkit. Membereskan pekerjaannya dan meninggalkannya karena semua tugas itu tidak terlalu penting.
🌼🌼🌼
Setengah jam yang lalu pria itu sudah berada di depan rumah minimalis. Entahlah, dia ragu antara masuk ataukah tidak, antara mengetuk pintu ataukah langsung nyelonong. Rasanya sungguh tidak sopan.
Dengan hembusan nafas berat, akhirnya pria itu memutuskan untuk mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun, saat baru ingin mengetuknya pintu itu sudah terbuka dan menampakkan figur seorang laki-laki yang wajahnya hampir serupa dengannya.
"Assalamu'alaikum." ucap pria itu sambil membawa telapak tangan laki-laki itu untuk dia cium.
"Wa'alaikumsalam."
Keduanya masuk ke dalam rumah. Laki-laki itu membimbing Endi ke ruang tengah. (Endi, Pak Endi, sama aja ya. Panggilan menyesuaikan situasi)
Saat sudah sampai di ruang tengah, pria itu menemukan seorang wanita yang sedang duduk di sofa sambil menikmati cemilannya. Perkataan tidak sesuai kenyataan, itulah yang ada di pikiran Endi saat ini.
"M-mama sehat?" tanya pria itu tergagap.
"Alhamdulillah sehat. Tadi pagi cuma drop aja, mungkin banyak pikiran." jawab wanita itu sambil menepuk pelan sofa kosong di sampingnya agar Endi duduk di sana.
"Lagi mikirin apa?" tanya Endi saat sudah duduk di samping wanita itu.
"Mikirin kamu, Sayang. Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu menghindari Mama dan Papa, bahkan kalau ditelfon aja selalu kamu abaikan. Apa Mama dan Papa punya salah sama kamu? Katakan, Nak! Biar kami bisa tau di mana letak kesalahannya."
Yap, ternyata itu kedua orang tua Endi. Papanya sengaja menelfon dirinya dan mengatakan bahwa sang Mama sakit. Karena alasan tersebut sudah pasti bisa membuat Endi mau mengunjungi mereka.
"Maaf, Mama dan Papa tidak salah. Endi yang salah. Maaf... maaf, Ma, Pa. Maafin Endi." sekuat apapun dia menahan tangisnya, namun semuanya tidak bisa. Air matanya jatuh begitu saja tepat di saat dia merasakan sebuah pelukan hangat.
"Mama sudah memaafkan semua kesalahan kamu, Nak. Sekarang, kembalilah tinggal bersama Mama dan Papa."
Satu bulan yang lalu, pria itu memutuskan untuk pindah ke kota yang saat ini dia tinggali, Banten. Sebelumnya pria itu tinggal di Depok bersama kedua orang tuanya sedangkan saudaranya rata-rata sudah berkeluarga. Hanya tinggal pria itu seorang yang masih belum melepas masa lajangnya. Endi anak ke-2 dari 3 bersaudara.
Alasannya kabur itu apa? Anggap saja kabur ya, hehe. Pria itu sebelumnya sudah memikirkan rencananya dengan matang-matang. Namun, rencana itu gagal karena tiba-tiba dia dipindahkan tugas ke sekolah lain.
Dan ada satu hal yang membuatnya ingin sekali jauh dari jangkauan keluarga, yaitu tertekan. Iya, pria itu tertekan setiap ditanya kapan menikah, apalagi pertanyaan dari Tantenya. Sementara kedua orang Endi tidak mempermasalahkan itu karena mereka sudah memiliki rencana lain untuk putra mereka.
🌼🌼🌼
Malam hari menyapa. Saat itu Nessa sedang asik bergelut di hadapan laptopnya. Layarnya menyala melihatkan sebuah drama Korea yang pemeran utamanya dimainkan oleh Aktor tampan, yaitu Lee Jong-suk.
Tiba-tiba saat sedang fokus-fokusnya pintu kamarnya di ketuk. Gadis itu langsung menekan tombol pause dan menutup sedikit laptopnya.
Ceklek
"Tumben rapi, Mami mau ke mana?" tanya gadis itu penasaran saat melihat sang Mami telah rapi.
"Mami sama Papi mau ke luar. Kamu mau ikut?" tawar Mami Hana.
"Harus ya, Mi?" tanya Nessa balik.
Mami Hana menggelengkan kepalanya. "Enggak, Sayang. Kalau kamu mau di rumah silahkan, lagi pula Papi sama Mami cuman mau jenguk teman yang sakit." jawab Mami Hanya.
"Enggak deh, Nessa di rumah aja. Mami sama Papi hati-hati di jalan, pulangnya jangan malam-malam." pesan Nessa membuat Mami Hana tersenyum lalu tangannya langsung mengusap pucuk kepala Nessa.
"Ya udah, Mami sama Papi berangkat. Kamu baik-baik di rumah sama Mbok Jum."
"Iya, Mi." balas Nessa patuh.
Nessa kembali masuk ke kamarnya setelah mengantarkan kedua orang tuanya sampai teras rumah dan memastikan mobil yang dikendarai Papinya sudah tidak terlihat di pelupuk matanya.
Nessa segera mencari posisi ternyamannya, karena gadis itu masih ingin melanjutkan acara menontonnya tadi yang sempat tertunda.