NovelToon NovelToon
Istri Yang Mereka Remehkan

Istri Yang Mereka Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nona Jmn

Elina bukan istri yang polos. Saat suami dan mertuanya berusaha merebut aset dan perusahaannya, ia memilih diam sambil menyiapkan perangkap.

Mereka mengira Elina tidak tahu apa-apa, padahal justru menggali kehancuran sendiri.

Karena bagi Elina, pengkhianatan tidak dibalas dengan air mata... melainkan dengan kehancuran yang terencana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kilau yang menyakitkan

"Bunda..."

Elina langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri sosok yang baru masuk ke ruangannya. Aurelia Anastasya Anderson—Bunda Elina, berdiri dengan senyum hangat yang selalu sama sejak dulu.

"Kejutan," ucap Aurelia ringan sambil merentangkan kedua tangannya.

"Bunda..." Elina memeluknya tanpa ragu.

"Putri Bunda..." balas Aurelia, memeluk erat putrinya. Ia tahu betul apa yang sedang Elina hadapi, tahu tentang retakan dalam rumah tangga putrinya, namun memilih menyimpannya rapat. Tidak semua luka perlu disentuh untuk sembuh.

Elina melonggarkan pelukan, lalu menatap wajah Bundanya yang terlihat anggun. "Bunda kenapa nggak bilang kalau mau ke sini? Elina kan bisa jemput."

"Kalau Bunda bilang, bukan kejutan dong namanya," balas Aurelia sambil mencolek lembut dagu Elina.

Elina tersenyum, lalu menuntun Bundanya duduk di sofa.

"Bunda mau minum apa?"

Aurelia menggeleng pelan. "Nggak usah repot, Nak. Bunda ke sini cuma mau lihat kamu, bukan mau inspeksi."

Elina tertawa kecil. "Syukurlah. Kalau inspeksi, Elina pasti langsung deg-degan."

Aurelia melirik meja kerja Elina yang penuh map dan dokumen. "Deg-degan karena kerjaan atau karena meja berantakan?"

"Bunda!" protes Elina setengah malu. "Ini namanya berantakan terstruktur."

"Ah iya, terstruktur. Cuma kamu yang paham strukturnya," balas Aurelia sambil terkekeh.

"Bunda lapar? Atau mau kopi?" tawar Elina lagi.

Aurelia kembali menggeleng. "Kalau minum kopi nanti Bunda malah cerewet."

Elina mengangkat alis. "Bulannya dari tadi sudah?"

Aurelia langsung mencubit pelan lengan putrinya. "Kurang ajar. Tapi benar juga."

Mereka tertawa bersama, mengisi ruangan dengan kehangatan yang jarang Elina rasakan belakangan ini. Aurelia menatap putrinya dari atas ke bawah dengan mata penuh perhatian.

"Kamu kurusan. Jangan-jangan makannya kalah sama kerjaannya."

"Elina makan kok, Bun. Cuma kadang lupa jamnya."

"Lupa jam, lupa makan, tapi nggak pernah lupa kerja," gumam Aurelia pelan. "Aneh tapi khas Elina."

Elina nyengir kecil. "Itu karena didikan Bunda."

Aurelia tersenyum bangga. "Didikan Bunda itu bikin kamu mandiri, bukan bikin kamu jadi robot."

Elina bersandar santai di sofa. "Tenang saja, Bun. Kalau baterai Elina habis, tinggal ketemu Bunda, langsung full."

Aurelia tertawa puas. "Wah, Bunda ini power bank sekarang?"

"Iya. Power bank paling mahal dan paling susah dicari," jawab Elina ringan.

Aurelia mengusap kepala putrinya dengan lembut. "Selama Bunda masih bisa datang, kamu aman."

Elina tersenyum lebar. "Kalau begitu, Bunda jangan pulang cepat."

Aurelia memeluk putrinya dari samping. Ia tahu, di balik sikap tegar dan tenang Elina, ada hati yang rapuh dan pandai menyimpan rahasia.

"Sayang, Mall yuk," ajak Aurelia tiba-tiba.

"Mall? Tapi, Bun—"

"Nggak ada tapi-tapian. Kerjaan kamu bisa dilanjut kapan saja. Hari ini kamu harus happy-happy sama Bunda," potong Aurelia dengan nada tegas.

Elina terkekeh melihat mode tegas Bundanya muncul. "Baiklah, Baginda Ratu," ucapnya sambil memberi hormat bercanda, membuat Aurelia menggeleng sambil tersenyum.

Ibu dan anak itu pun beranjak dari duduk. Elina mengambil tasnya, lalu melangkah pergi bersama Bundanya—meninggalkan sejenak dunia yang penuh tekanan di balik pintu ruangan itu.

Di sepanjang lobi menuju pintu keluar, langkah Elina dan Aurelia seolah menarik perhatian banyak pasang mata. Para karyawan yang berpapasan spontan memperlambat langkah, bahkan ada yang berhenti sejenak, terpaku menatap ibu dan anak itu.

"Nyonya Aurelia dan Nona Elina kelihatan seperti adik dan kakak," bisik salah satu karyawan, suaranya dibuat serendah mungkin.

"Iya, Nyonya Aurelia kelihatan awet muda banget," sahut karyawan lain, yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Bisik-bisik serupa terdengar di sana sini, memuji kencantikan, aura elegan, dan kehangatan yang terpancar dari keduanya.

Namun Elina dan Aurelia melangkah santai, seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian, menyisakan kekaguman yang tertinggal di sepanjang jalan.

Aurelia menggandeng lengan putrinya dengan santai, seolah tak peduli pada bisik-bisik yang terdengar di sepanjang lorong kantor. “Dengar tuh,” bisik Aurelia sambil menahan senyum. “Katanya kita mirip kakak-adik.”

Elina melirik Bundanya sekilas. “Berarti Elina yang kelihatan tua dong, Bun.”

Aurelia langsung berhenti melangkah. “Heh! Maksud Bunda itu Bunda yang kelihatan muda.”

Elina terkekeh. “Iya, iya. Maaf, Bunda awet muda, Elina awet kerja.”

“Kurang ajar,” gumam Aurelia sambil kembali menarik putrinya berjalan.

Mereka akhirnya tiba di parkiran. Sopir sudah membuka pintu mobil. Aurelia masuk lebih dulu, disusul Elina yang langsung menyandarkan punggungnya begitu duduk. “Capek?” tanya Aurelia lembut.

“Sedikit,” jawab Elina jujur. “Tapi aman. Sekarang kan Elina lagi bolos kerja resmi."

Aurelia tersenyum puas. “Bagus. Hari ini kamu milik Bunda seratus persen.”

Elina menoleh. “Kalau besok?”

“Besok kita pikirkan besok,” sahut Aurelia ringan.

Mobil melaju meninggalkan gedung kantor. Sepanjang perjalanan, Aurelia sesekali menunjuk keluar jendela, bercerita hal-hal ringan, sementara Elina hanya mendengarkan dengan senyum kecil yang jarang muncul akhir-akhir ini. Tanpa terasa, suasana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat.

Tak lama kemudian, mobil memasuki area parkir mall. Aurelia menepuk ringan tangan Elina. “Nah, sampai.”

Elina menatap gedung mall di depannya lalu menghela napas pelan. “Rasanya sudah lama nggak ke tempat begini.”

“Makanya,” jawab Aurelia sambil membuka pintu. “Hari ini kita balas dendam. Makan enak, jalan santai, dan belanja tanpa mikir.”

Elina tertawa kecil sambil turun dari mobil. “Bunda ini berbahaya kalau sudah pegang kartu.”

Aurelia menyeringai. “Tenang. Yang bahaya itu kalau Bunda bahagia.”

Ibu dan anak itu pun melangkah masuk ke dalam mall, berdampingan, dengan senyum yang sama-sama lega.

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah sebuah toko berlian ternama, salah satu butik perhiasan paling eksklusif di pusat perbelanjaan itu. Etalasenya berkilau, memamerkan kilatan cahaya dan berlian-berlian bernilai fantastis.

"Beli berlian, yuk," ucap Aurelia santai, seolah hanya mengajak membeli permen.

Elina terdiam sesaat. Berlian? Senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tahu betul, kilau benda kecil itu bisa membuat para benalu di sekitarnya semakin panas dan gelisah. Tanpa ragu lagi, Elina mengangguk setuju.

Begitu mereka melangkah masuk ke toko berlian ternama itu, suasana seketika terasa lebih hening. Lampu-lampu kristal memantulkan cahaya ke etalase kaca, membuat deretan berlian berkilau sempurna.

Beberapa karyawan yang sedang melayani tamu lain langsung menoleh. Detik berikutnya, mereka saling memberi isyarat.

"Selamat siang, Nyonya Aurelia. Nona Elina," sapa salah satu staf dengan senyum profesional, sedikit menunduk hormat. "Kami sudah menyiapkan koleksi terbaru."

Aurelia mengangguk ringan. "Tunjukkan saja yang paling bagus."

Elina hanya tersenyum tipis, sikap tenang, seolah kata paling bagus itu hal biasa baginya.

Seorang karyawan lain segera membuka etalase khusus. "Nona, ini koleksi limited. Berlian alami, clarity tertinggi, dan sertifikat internasional. Untuk cincin ini, harganya sekitar tiga koma dua miliar." ia lalu menunjukkan berlian lain. "Yang ini empat miliar, dan anting satu set, dua koma delapan miliar."

Elina dan Aurelia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut. Aurelia bahkan mengamati berlian itu dengan santai, seolah sedang memilih permen.

"Modelnya klasik," komentar Aurelia. "Tapi kurang berani."

Elina menoleh sekilas. "Bunda cari yang bikin silau atau yang bikin iri?"

Aurelia tersenyum miring. "Kalau bisa dua-duanya."

Para karyawan saling berpandangan, makin yakin siapa tamu di hadapan mereka. “Kalau begitu,” ujar salah satu staf dengan hati-hati, “kami punya satu koleksi private, Nyonya. Tidak dipajang untuk umum.”

Aurelia menoleh pada Elina. “Nah, itu baru menarik.”

Elina mengangguk pelan. “Silakan. Kami lihat.”

Senyum para karyawan makin lebar saat mereka bergegas mengambil koleksi khusus itu, sementara ibu dan anak tersebut duduk dengan tenang, sama sekali tak terpengaruh oleh angka-angka fantastis yang barusan disebutkan. Bagi mereka, ini bukan soal harga. Ini soal selera… dan pernyataan sikap.

Dari luar toko, Maya menangkap sosok yang terasa familiar. Langkahnya terhenti ketika matanya tertuju pada Elina dan Aurelia di dalam.

Dengan ragu bercampur penasaran, Maya mendekat, memastikan bahwa yang dilihatnya benar-benar mereka.

“Itu benar Elina…” gumamnya pelan. “Dan Tante Aurelia.”

Maya menelan ludah saat melihat seorang karyawan membuka etalase khusus, lalu menampilkan perhiasan yang bahkan dari jarak jauh saja sudah terlihat berkilau menyilaukan. Ia bukan orang awam soal harga. Sekilas saja, Maya tahu, itu bukan berlian sembarangan.

“Mereka beli berlian?” bisiknya tak percaya.

Di dalam toko, Elina terlihat santai, bahkan sesekali tersenyum kecil saat Aurelia mengomentari model perhiasan. Tak ada raut ragu. Tak ada ekspresi menimbang harga. Seolah angka miliaran itu hanya detail kecil yang tak layak dipikirkan.

Maya menarik napas dalam sebelum akhirnya melangkahkan kaki masuk ke dalam toko berlian itu. Bel kecil di atas pintu berbunyi pelan, cukup untuk menarik perhatian beberapa karyawan.

“Selamat datang, Nyonya,” sapa seorang pramuniaga ramah.

Maya hanya mengangguk singkat, lalu pura-pura mengamati etalase di dekat pintu. Namun pandangannya diam-diam tertuju pada dua sosok yang duduk tak jauh darinya.

Dan benar saja.

"Elina?" ucap Maya dengan nada dibuat-buat terkejut.

Elina menoleh perlahan. Tatapannya tenang, nyaris datar, sebelum akhirnya tersenyum tipis. "Oh," sahutnya ringan.

Aurelia ikut menoleh, senyum ramah langsung terbit di wajahnya. "Wah, Maya, kebutulan sekali," ucapnya hangat. "Belanja juga?"

Maya tersenyum, senyum yang sedikit kaku. "Iya, Tante. Niatnya cuma lihat-lihat," katanya, lalu melirik ke arah kotak beludru hitam di atas meja. "Nggak nyangka ketemu Elina di sini?"

"Kenapa memangnya?" tanya Elina santai, nada suaranya datar namun menusuk halus.

Maya terkekeh kecil. "Nggak apa-apa. Cuma... ya, aku kira kamu lagi sibuk."

"Sibuk, iya," jawab Elina tanpa ragu. "Tapi meluangkan waktu buat diri sendiri juga penting."

Aurelia mengangguk setuju. "Betul. Apalagi kalau bisa sekalian bikin hati senang."

Seorang pramuniaga mendekat, membawa nampan berisi beberapa cincin berlian. "Ini koleksi terbaru kami, Nyonya. Berlian asli, grade tertinggi."

Mata Maya refleks melebar. Ia menatap satu per satu perhiasan itu, lalu tanpa sadar bertanya, "Itu... harganya berapa?"

"Yang ini mulai dari empat koma tiga miliar," jawab pramuniaga itu sopan.

Maya terdiam sejenak. "Empat... miliar?" ucapnya pelan, nyaris tak terdengar.

Elina hanya melirik sekilas, lalu kembali fokus pada cincin di hadapannya. "Modelnya simpel, Bun. Tapi aku suka."

"Ambil yang kamu suka," balas Aurelia santai. "Bunda bayar."

"Saya ambil yang ini," ucap Elina singkat pada pramuniaga, suaranya tenang dan yakin.

"Baik, Nyonya. Kami akan segera menyiapkannya," balas pramuniaga itu sopan.

Aurelia melirik Maya, lalu bertanya dengan nada datar namun menusuk halus, "Maya, kamu mau beli model berlian yang bagaimana?"

Di dalam hatinya, Aurelia menahan keinginan untuk menampar wajah Maya, perempuan yang telah merusak rumah tangga putrinya itu.

Maya tersenyum tipis, terlihat ragu. "Oh... nggak, Tante. Aku cuma lihat-lihat saja," jawabnya cepat.

Aurelia membalas dengan senyum sinis. “Tante kira kamu mau beli juga.”

Maya menggeleng pelan. “Tante, Elina, aku duluan ya… sampai ketemu lagi.”

Elina hanya mengangguk singkat, begitu pula Aurelia yang tak menambahkan sepatah kata pun.

Setelah Maya benar-benar keluar dari toko, Aurelia dan Elina saling berpandangan. Tanpa perlu kata-kata, keduanya sama-sama tersenyum miring, seolah memahami satu sama lain dengan sangat baik.

1
Ma Em
Ares pasti akan ngamuk karena sdh dibohongi sama Elina , karena kedudukan CEO yg Ares inginkan ternyata zonk .
tia
lanjut Thor
Nona Jmn: Sabar yah🫶🥰
total 1 replies
Ma Em
Sudah ga sabar nunggu kehancuran Ares dan keluarganya , Elina cepat tendang para benalu yg nempel dirumah mu .
Nona Jmn: Sabar
total 1 replies
Ma Em
Duh sdh ga sabar Ares dan keluarganya diusir dari perusahaan juga rumah Elina
tia
cepat singkirkan benalu
Nona Jmn: Sabar😭😁
total 1 replies
dyah EkaPratiwi
keterlaluan area
Nona Jmn: Sabar😁
total 1 replies
kaylla salsabella
pasti si maya
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
anak buah dewa
kaylla salsabella
lanjut
kaylla salsabella
🤣🤣🤣🤣 res Ares
kaylla salsabella
ayah belum tahu klu Ares selingkuh
kaylla salsabella
nah khawatir kan kamu res 🤣🤣
kaylla salsabella
lanjut thor
Nona Jmn: Besok ya kakak🥰 jangan lupa vote🙏😭🫶🫡
total 1 replies
@Mita🥰
😍😍😍
Nona Jmn
Besok ya kakak🥰
tia
lanjut Thor
kaylla salsabella
ooo ku kira Elina udah yatim piatu 🤭🤭
Ma Em
Semoga Elina selamat dari para benalu yg mau menguasai semua harta kekayaan nya , jgn sampai si mokondo Ares juga keluarganya yg benalu berhasil menguasai semua harta Elina .
kaylla salsabella
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!