NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perjanjian Pernikahan

“Selamat ya,” ucap hampir setiap orang yang berjabat tangan saat naik ke singgasana pengantin. Elia dan Dave kini resmi menjadi sepasang suami istri. Perjodohan yang awalnya mendapat penolakan keras dari Dave akhirnya tetap berujung di pelaminan.

Ya, meski Dave terpaksa menjalani semua ini demi permintaan ibunda tercintanya, Sarah. Wanita yang usianya kini telah menginjak kepala lima itu sempat dilarikan ke rumah sakit ketika Dave menolak untuk menikah dengan Elia, gadis cantik yang merupakan putri mendiang sahabatnya.

Semasa muda, Sarah dan ibunda Elia menjalin persahabatan yang sangat erat. Mereka selalu saling menguatkan dalam suka maupun duka. Hingga sebelum ibunda Elia jatuh sakit parah, keduanya sempat bersepakat untuk menjodohkan Elia dengan Dave.

Tak ingin dihantui rasa bersalah karena melanggar janji, Sarah pun mendesak Dave agar segera menikahi Elia. Terlebih, kondisi kesehatannya yang semakin menurun membuatnya mudah drop akibat terlalu banyak pikiran.

Elia terus memasang wajah manis, menyapa para tamu undangan yang menyalami mereka dan mengucapkan selamat. Bahkan, beberapa di antaranya mendoakan agar Elia dan Dave segera dikaruniai momongan.

"Cih! Memiliki momongan? Jangan harap! Tunggu saja, Elia. Sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup di neraka" gumam Dave dalam hati dengan ekspresi wajahnya yang dingin dan datar.

Dari kejauhan tampak seorang wanita cantik menggendong anaknya yang baru berusia dua tahun. Ia datang berdua dengan sang buah hati, mengenakan pakaian serasi.

“Elia, selamat atas pernikahanmu,” ucap wanita itu yang merupakan sahabat Elia.

“Terima kasih, Nadine,” balas Elia sambil tersenyum. Pandangannya lalu tertuju pada anak yang digendong Nadine, begitu cantik dan menggemaskan. “Halo, sayang.”

“Hi, Auntie,” sapa anak itu dengan suara lucu.

“Aku doakan semoga kalian cepat punya momongan, ya,” ujar Nadine.

Elia melirik ke arah Dave, namun pria itu justru membuang muka. Telinganya terasa panas, muak mendengar setiap doa yang disampaikan hari itu.

Saat para tamu undangan sedang menyantap hidangan yang telah disajikan. Fotografer mengambil kesempatan untuk mengabadikan momen kedua mempelai pengantin tersebut.

"Tuan, Nona tolong duduk nya lebih dekat lagi". Titah pria yang telah siap dengan kamera nya. Dave tidak menyahut dan lebih memilih untuk memainkan ponsel. Berbeda dengan Elia yang begitu antusias hingga mendekatkan dirinya sendiri pada Dave.

"Apa-apaan kau ini?"

"Simpan dulu ponsel mu, fotografer menyuruh kita untuk berfoto".

"Aku tidak mau, kau saja!" ucap Dave ketus.

Di antara kursi tamu yang hadir, Sarah memperhatikan keduanya. Ia juga menilai sikap Dave yang begitu acuh terhadap istrinya sendiri.

"Mom, kau mau kemana?" tanya Angel.

"Aku mau menjewer telinga adikmu itu. Lihat dia mengabaikan fotografer dan Elia demi ponsel nya".

Angel hanya menggelengkan kepala, sejujurnya ia juga merasa geram dan tidak enak dengan tamu-tamu yang melihat sikap Dave yang terlalu cuek.

"Ouch!" Dave meringis kesakitan saat Sarah menarik daun telinga nya. "Ada apa Mom?"

"Kau ini, lebih mementingkan ponsel daripada istrimu".

Dave memilih mengalah, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.

"Sayang maafkan sikap Dave ya" ucap Sarah sambil membelai lembut kedua tangan Elia.

"Tidak apa-apa Mom, mungkin Dave sedang capek dan banyak pikiran". Ucap Elia untuk meredam amarah Sarah.

Sarah menarik tangan Elia dan Dave, kemudian memberi kode untuk fotografer mengarahkan gaya yang bagus. Dengan sarah berdiri seperti bodyguard di samping Dave, untuk memastikan anaknya itu tidak lagi melakukan penolakan.

"Tahan ya! Satu... Dua..."

CEKREK! Kilatan yang berhasil mengambil momen kemesraan mereka berdua. Dengan posisi Elia yang menyentuh dada bidang Dave. Meski ekspresi Dave sama sekali tidak enak dipandang, tapi setidaknya ada momen yang bisa dijadikan kenang-kenangan.

"Elia sekali lagi selamat ya atas pernikahan kalian berdua". ucap Ema yang merupakan adik dari mendiang ibunya. Ia menjadi saksi atas pernikahan keponakan nya itu.

"Terimakasih Bibi".

"Kalau begitu Bibi pamit ya, Dave titip Elia ya". ucap Ema sambil mengusap pelan lengan Dave.

"Baik Bibi". ujar Dave, terdengar berat untuk menjawab nya.

Ema pulang dengan di antar oleh sopir yang sudah disiapkan oleh Sarah. Keduanya mengobrol sebentar dan terlihat Ema juga menerima sesuatu dari Sarah. Semua bingkisan yang berisi makanan serta souvenir mata pernikahan.

Ema melangkah pergi meninggalkan aula resepsi dengan senyum lega, meski hatinya masih menyimpan banyak doa untuk keponakan kesayangannya. Sarah menatap kepergian wanita itu cukup lama, seolah memastikan semuanya berjalan sebagaimana mestinya.

Pesta pernikahan pun selesai para staff wedding organizer mulai membenahi ruangan tersebut. Kini Elia dan Dave sudah berada di dalam mobil. Keduanya akan di antar ke hotel bintang lima.

Sarah dan keluarga sengaja tidak ikut, agar mereka lebih banyak menghabiskan momen berdua dan mengenal lebih dekat.

Sesampainya di lobi hotel seorang pria yang merupakan Bell boy menghampiri keduanya, untuk membantu membawa barang bawaan tamu.

"Tuan Dave, ini kartu akses nya" seorang wanita yang merupakan staff resepsionis segera menghampiri ketika melihat anak dari pemilik hotel tersebut telah tiba.

Dave menyambar benda tipis tersebut tanpa mengucapkan apapun.

"Selamat atas pernikahan Tuan, semoga-"

"Diam!" bentak Dave pada resepsionis wanita itu.

"Jika kau memberikan ku doa agar pernikahan ini langgeng dan mempunyai momongan, aku akan memecat mu detik juga".

"B-baik Tuan, saya minta maaf". Ujar resepsionis tersebut sambil menangkupkan kedua tangan nya di depan dada.

Elia hanya diam meski hatinya sakit. "Sebegitu tidak menginginkan nya kah kau pernikahan ini Dave, sampai orang lain kau larang untuk memberikan doa".

TING!

Pintu lift terbuka, Dave berjalan lebih dulu tanpa memedulikan Elia yang sedikit kesulitan berjalan karena gaun panjang nya.

Dave menempelkan kartu akses ke layar di samping lift. Dan mereka pun tiba di lantai yang khusus untuk kamar tipe president suite.

Kamar yang megah dan mewah dengan fasilitas serta peralatan yang lengkap. Bahkan lemari tersebut sudah tersedia baju-baju Elia, yang memang dipindahkan sebelum hari H.

Dave meraih telepon genggamnya mendial nomer seseorang untuk memberikan perintah. "Hallo Nick, aku baru saja mengirimkan file ke email mu, buka dan segera cetak antarkan hotel keluarga ibuku".

[Baik Tuan] kata Nick singkat tanpa menanyakan hal apapun.

Nick membuka email tersebut, ia terperangah ketika file tersebut telah terunduh. Membaca satu persatu setiap kata yang Dave buat sendiri. "Huh! Baiklah aku akan segera mencetak nya". Nick tahu pernikahan bos nya itu karena hasil perjodohan, tapi sampai membuat perjanjian pernikahan? menurut nya Dave sudah keterlaluan.

Bunyi pesan masuk diterima, Nick segera membuka pesan ketika nama Dave yang terlihat di layar. Meminta nya untuk tidak berlama-lama mengantarkan surat itu.

Sementara Elia merasa kesulitan untuk membuka resleting gaun nya. Sedari tadi ia bersusah payah sendirian. Dengan memberanikan diri Elia menghampiri Dave yang sedang menikmati segelas wine.

"Dave" lirih Elia.

"Ada apa?" tanya nya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Elia. Pandangan nya tetap fokus menikmati suasana kota Bangkok yang indah, namun tidak membuat hatinya merasa bahagia.

"Aku tidak membuka resleting gaun ku ini" ucap Elia dengan malu-malu.

Dave menghembuskan nafas kasar, ia berdiri lalu membalik tubuh Elia.

Sreett! Resleting itu kini telah terbuka, menampilkan punggung mulus Elia yang mulus, tapi tidak membuat Dave bergeming. "Kau ini merepotkan ku saja" ketusnya.

"Terimakasih Dave".

Elia masuk ke dalam bilik mandi membuka gaun pengantin nya dan menggantung nya di sana. Ia menatap wajah nya di cermin, riasan yang cantik itu seakan tertutup dengan hati nya yang terasa sakit.

"Tenanglah Elia, ini hanya awal. lambat laun Dave akan luluh dan mencintaimu" gumam nya, seperti memberi semangat dan harapan yang entah akan terjadi atau tidak.

Ting.. Tong..

Suara bel terdengar, Dave segera bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu. Namun sebelumnya ia mengintip dulu dari celah di pintu. Ternyata Nick ia telah sampai dengan membawa amplop coklat di tangan nya.

"Selamat Tuan" Nick menyapa terlebih dahulu.

"Masuklah".

Nick melangkah masuk setelah mendapat izin. Matanya sempat menyapu singkat seisi kamar president suite yang megah itu, sebelum akhirnya berhenti pada Dave yang kini berdiri dengan wajah dingin.

“Ini suratnya,” ucap Nick sambil menyerahkan amplop cokelat tersebut.

Dave menerimanya tanpa ekspresi. Ia membuka amplop itu sekilas, memastikan setiap lembar berada di tempatnya, lalu menutupnya kembali. Tangannya mencengkeram tepi amplop itu erat, seolah kertas-kertas di dalamnya adalah pengingat akan keputusan yang tak bisa ia tarik kembali.

"Duduklah" ucap Dave sambil menuntun Nick ke sebuah sofa dimana di atas meja nya tersedia wine. Dave berjalan ke arah dapur dan mengambil gelas kosong. Lau ia menuangkan nya untuk Nick. "Minumlah".

"Ah, terimakasih Tuan". Ujar Nick sambil menerima gelas tersebut dari tangan Dave.

Dave membaca kembali perjanjian pernikahan yang telah ia buat sendiri memastikan tidak ada satupun yang terlewat.

Setelah kurang lebih dua puluh menit Elia keluar dari bilik mandi. Ia menggunakan jubah mandi dan handuk di kepala nya.

"Selamat malam Nona Elia" ucap Nick begitu melihat Elia yang tiba-tiba muncul.

Elia mengerutkan keningnya, "Selamat malam, maaf kau siapa?" tanya nya lembut.

"Oh, perkenalkan Nona. Aku Nick asisten Tuan Dave" terangnya.

Elia mengangguk sambil tersenyum. Mata nya teralihkan pada selembar kertas yang sedang Dave baca.

"Elia, kemari kau" titah Dave dengan ketus.

"Ada apa Dave".

"Duduk" titah nya ketus.

"Baca" . Dave menyerahkan kertas tersebut kepada Elia tanpa ragu.

Kedua bola mata Elia bergerak perlahan, membaca kata demi kata yang tercetak rapi di atas kertas putih itu. Semakin lama, wajahnya semakin pucat. Jemarinya yang memegang kertas mulai bergetar, napasnya terasa berat seolah udara di sekelilingnya menipis.

Surat perjanjian pernikahan. Setiap poinnya menusuk, dingin, tanpa sedikit pun ruang untuk perasaan.

Tidak ada kewajiban sebagai suami istri.

Tidak ada hak untuk menuntut perhatian.

Tidak ada cinta, apalagi keturunan

Tidak berhak ikut campur urusan suami

Tidak boleh melarang kemanapun suami pergi dengan kata lain. Suami bebas pergi tanpa izin begitupun sebaliknya. Pernikahan ini hanya bersifat sementara dan mengikat secara hukum demi keluarga.

"Apa-apaan ini Dave, aku tahu kita menikah karena dijodohkan. Tapi". ucapan Elia terjeda. "Aku tidak ingin membuat dosa hanya karena tidak memenuhi kewajiban ku sebagai seorang istri".

Sepengalaman teman-teman Elia yang sudah menikah dan mempunyai anak. Ia pernah di nasehati tentang apa saja kewajiban seorang istri dan apa dosa nya jika melanggar.

Dave tertawa menyeringai. "Jangan berlagak so suci kau, Elia. Aku tidak akan termakan dengan trik busuk mu itu! Sekarang cepat tanda tangani surat nya".

“Aku bukan berlagak suci, Dave,” ucapnya lirih namun tegas. “Aku hanya ingin menjalani pernikahan ini dengan benar. Meski tanpa cinta, setidaknya tanpa merendahkan satu sama lain.”

Nick yang menyaksikan semua itu hanya bisa menunduk. Dadanya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, namun posisinya sebagai asisten membuatnya memilih diam.

Dave berdiri dari duduknya, mendekati Elia dengan langkah berat. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Elia dari jarak dekat, sorot matanya dingin dan penuh tekanan.

“Kau tidak punya pilihan,” katanya rendah namun tajam. “Tanda tangan, atau kau akan membuat segalanya semakin rumit. Aku tidak ingin ada drama, tidak ingin tuntutan, apalagi ikatan yang tidak kuinginkan.”

Elia mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia menunduk sejenak, menarik napas panjang seolah mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki. Perlahan, ia kembali menatap Dave. “Baik,” ucapnya pelan. “Aku akan menandatanganinya.”

Dengan napas tertahan, Elia menorehkan tanda tangannya di bagian bawah kertas itu. Lalu meletakkan kembali pulpen itu.

"Bagus, ku harap kau tidak hanya membaca nya namun mencerna nya di kepala mu. Sekarang kau boleh pergi".

Elia bangkit dengan wajah tertunduk lesu. Ia meninggalkan Dave dan Nick tanpa menoleh sedikitpun. Hatinya sakit dan sesak, ingin berteriak sekencang-kencangnya.

Sesampainya di kamar tubuh Elia merosot di sisi tempat tidur. Air mata yang sejak tadi terbendung akhirnya meluap. Bantal dan guling seakan menjadi saksi bisu atas kesedihan yang gadis itu rasakan.

Surat pernikahan telah selesai di tanda tangani, Nick juga telah pamit undur diri karena Dave tidak lagi memberikan nya perintah.

Suara ponsel berbunyi, Dave melihat panggilan video dari ibunya. Seketika kedua matanya membulat. "Mom?" gumam nya dalam hati. Wajah Dave seketika panik, menggaruk kepala yang tidak gatal.

Panggilan video itu mati, namun tak lama kemudian terhubung kembali. Dave mencari keberadaan Elia, ia tahu jika Sarah menghubungi nya hanya untuk memastikan jika keduanya memang berada di dalam satu kamar.

"Hallo Mom" kata Dave menerima panggilan itu.

[ Kau ini lama sekali menjawab telepon dari ku] omel Sarah dari sebrang video. Terlihat dari layar wajahnya tampak terlihat kesal.

"Maaf tadi aku sedang di kamar mandi".

[Mana Elia, Mom mencoba menghubungi nya dan mengirimi nya pesan tapi tidak ada jawaban]

"Elia... Elia sedang istirahat mom, dia baru saja selesai membersihkan diri" kata Dave gugup.

Sarah tersenyum penuh arti. [Apakah kalian baru selesai melakukan nya?] tanya nya dengan terkikik geli.

"Mom!"

[Mana panggil Elia, mom ingin melihat keadaan nya]

Dave bergegas mencari keberadaan Elia, sekilas ia melihat suara isak tangis. Dengan terpaksa Dave membisukan dulu panggilan tersebut dan mematikan kamera.

"Elia.. Mom sedang melakukan panggilan video dengan ku".

Mendengar itu Elia paham jika Dave tidak ingin Sarah mendapati dirinya yang tengah menangis. Kamera dan suara kembali di aktifkan.

[Anak kurang ngajar kenapa kau mematikan kamera nya?] omel Sarah.

"Maaf Mom" . Katanya singkat tanpa ingin berdebat.

[ Hallo sayang ] Omelan Sarah terhenti ketika melihat wajah Elia pada layar ponsel.

"Hallo Mom" ucap nya dengan suara yang masih menyisakan isakan.

[ Syukurlah kalau kalian berada di dalam ruangan yang sama. Ku kira anak nakal itu akan mengusir dan membiarkan mu tidur di luar]

Elia tersenyum tipis. "Aku baru saja selesai mandi Mom".

[ Baiklah Sayang, aku tahu kegiatan yang dilakukan saat malam pertama] katanya dengan nada menggoda.

"Mom, sudahlah". Dave mulai kesal.

[Baiklah, selamat menikmati malam pertama kalian sayang. Dan ingat cepat berikan mom cucu]

Keduanya terdiam dan menatap satu sama lain dengan perasaan yang berbeda. Panggilan video selesai, Dave memasukan kembali ponsel nya ke dalam saku. Ia berjalan ke arah lemari dan mengambil bed cover.

"Dave" lirih Elia.

"Jangan harap aku juga ingin satu tempat tidur dengan mu!"

Elia terdiam. Kalimat Dave terasa seperti pisau yang menusuk tepat di dadanya. Ia menunduk, jemarinya mencengkeram ujung jubah mandi yang ia kenakan, berusaha menahan getaran di tubuhnya.

“Aku… aku tidak berharap apa pun,” ucap Elia lirih. “Aku hanya memanggilmu.”

Dave berhenti sejenak. Punggungnya masih membelakangi Elia saat ia meraih bed cover dari lemari. Rahangnya mengeras, emosinya bercampur antara kesal dan tertekan oleh situasi yang ia ciptakan sendiri.

Elia melangkah perlahan menuju tempat tidur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan. Kata-kata Sarah tentang malam pertama dan cucu terus terngiang di kepalanya, membuat dadanya semakin sesak.

Ia merebahkan tubuhnya, memunggungi pintu. Air mata kembali mengalir, kali ini lebih pelan, lebih lelah. “Tidak apa-apa, Elia,” bisiknya pada diri sendiri. “Kau sudah melakukan yang terbaik.”

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!