Lisa Kanaya, meninggalkan keluarganya yang toxic untuk bertugas di pelosok desa. Siapa sangka dia berada di tengah tim yang absurd. Trio semprul dan dokter yang diam-diam menghanyutkan.
"Mana tahu beres tugas ini saya dapat jodoh," ucap Lisa.
“Boleh saya amin-kan? Kebetulan saya juga lagi cari jodoh," sahut Asoka.
“Eh -- "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Kamu Cantik
Bab 8
Inka berdecak sambil bersedekap setelah meletakan ponselnya di atas meja. Doni yang sedang menyuap lalu mengunyah pelan. Berpikir apa yang terlupa atau ia salah ucap. Perasaan sudah menuruti apa yang dimau oleh kekasihnya itu.
“Kenapa?” tanya Doni pelan lalu menelan meski belum selesai dia kuny4h.
“Kamu nggak bisa ajak aku ke tempat yang lebih mewah. Masa makan malam di café doang. Liburan kemana kek, Bali gitu.”
Entah sudah berapa kali Doni menghela nafas sejak mereka bertemu malam ini. Hubungan mereka belum genap satu bulan dan itu pun sembunyi-sembunyi, baru kemarin mereka publish, tepatnya Inka yang pamer di media sosial.
Bukan tanpa alasan ingin merahasiakan sementara hubungan mereka karena Doni adalah mantan kekasih Lisa, masih saudara sambung Inka.
“Inka, kamu tahu sendiri pekerjaan aku ….”
“Iya, kamu hanya wakil manager HRD di rumah sakit. Minta dong posisi yang lebih bagus, katanya kamu masih kerabat petinggi di sana.” Inka mengoceh menyela ucapan Doni.
“Ya nggak bisa begitu. Posisi aku sekarang sudah lumayan.”
“Lumayan apanya. Aku mau kuliah di Aussie, kalau lulus nanti kita nggak selevel dong. Makanya dari sekarang kamu harus kerja lebih hebat lagi.” Inka mengambil ponselnya dan melihat update status Lisa di depan tempatnya bertugas. Ada dua sosok yang menarik perhatiannya, ia kembali berdecak lalu melirik Doni. “Pindah sini, aku mau selfie terus pamerin ke Lisa.”
“Untuk apa sih? Kenapa harus pamer?”
“Kenapa, kamu nggak suka aku pamer sama Lisa? Masih cinta sama dia?” cecar Inka dan Doni kali ini mengusap wajahnya.
“Bagus dia sekarang dimutasi. Selama ini kalian pasti masih sering bertemu,” tuduh Inka.
“Ya nggak-lah, aku di di office dan dia dibangsal. Gedung tugas kami sudah pasti berbeda.”
“Bisa aja kalau kalian rencanakan. Mana tahu sering ketemu di kamar jenazah.”
“Ya sudah, jadi gimana?” tanya Doni. Ada sedikit sesal karena merajut kisah bersama perempuan ini. Berbeda dengan Lisa, sama-sama sibuk dan tidak meributkan hal receh dan tidak prinsip seperti ini.
“Gimana? Memang kita kenapa? Aku Cuma minta kamu lebih baik, apalagi kalau nanti aku pulang dari Aussie.”
“Memang kapan kamu berangkat?” tanya Doni, berharap saat perempuan itu kembali dunia sudah gonjang ganjing dan hubungan mereka kandas.
“Belum tahu.”
“Astaga,” gumam Doni. Dia pikir keberangkatan wanita itu sudah pasti, nyatanya masih ilusi.
“Eh, akhir bulan ada libur dan cuti bersama. Kita samperin Lisa ya,” ajak Inka antusias.
“Hah, untuk apa?”
“Perlihatkan kemesraan kita-lah, bilang aja sekalian cari tempat untuk prewed.”
Doni menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kuliah di Aussie, foto prewed dan sengaja pamer. Sebenarnya apa rencana Inka, tidak jelas sekali hidupnya, batin Doni.
***
Sapri, Lisa dan Yuli berada di ruang tengah. Dimana sisi kiri dua kamar pada pria dan sisi kanan kamar yang ditempati Yuli dan Lisa. Duduk di atas karpet ditemani televisi sedang menyiarkan berita selebritis. Hanya Sapri yang fokus dengan acara, sedangkan Lisa dan Yuli berbincang sambil sesekali melihat ponsel mereka. Tentu saja berselancar di media sosial.
Beni di beranda sedang video call dengan sang istri sedangkan Asoka di ruang tamu melakukan meeting online.
“Kalau malam serem nggak ya, besok gue kebagian piket,” keluh Yuli lalu mendessah kesal.
“Lah, kata dokter Oka kalau kita Cuma sampai jam sembilan malam aja. nanti A Ujang akan hubungi kalau ada pasien darurat,” jelas Lisa. “Dari sini ke sana Cuma lima menit. Kecuali ada pasien rawat inap, mau nggak mau harus standby.”
Yuli mengangguk meski tidak pu4s dengan keputusan dan kebijakan dari Asoka. Baginya keputusan terbaik adalah dia kembali ke Jakarta.
“Gue tuh ogah ke sini, tapi lo kenapa mau-maunya gantiin orang.”
Lisa tersenyum dan enggan menjelaskan alasan sebenarnya. Tidak mungkin terlalu jujur dengan kondisi keluarga.
“Cari suasana baru.”
“Cari suasana baru mah, nikah Sa.”
“Calonnya belum ada,” sahut Lisa lagi dengan pandangan ke layar ponsel membuka pesan dari Inka
Inka Penjaga Neraka
Foto
Foto
Gue makan malam romantis sama Doni. Lo nggak pernah kayak gini ‘kan, pasti iri
Yuli menggeser duduknya semakin merapat. “Gimana dokter Oka?” tanyanya sambil berbisik.
“Gimana apanya?”
“Ya apa kek. Baik atau gimana gitu. Dia udah punya pacar belum sih?”
Lisa mengedikan bahu, mungkinkah Yuli tertarik dengan Asoka. Siapa yang tidak tertarik, bahkan emak-emak pun kalau ditanya pasti kagum.
“Tapi dia nggak ada lirik-lirik gue.”
“Mbak Yuli sama Mas Rama saja, saya lihat cocok banget.” Sapri ikut bicara dengan logat jawa medoknya. Ternyata dia mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua gadis ini.
“Heh, cocok apanya dilihat dari mana?” tanya Yuli agak nyol0t.
“Dari segi apapun, kalian cocok mbak. Istilahnya saling melengkapi.”
“Iya Yul. Lagian Rama ganteng kok, teteh yang bagian pendaftaran aja tanya nomor WA Rama sama aku.”
Asoka sepertinya sudah selesai dan ikut bergabung di karpet.
“Siapa yang ganteng?” tanyanya memilih duduk bersandar pada tembok di samping Lisa meski berjarak.
“Dokter Oka yang ganteng,” sahut Yuli lalu terkekeh.
“Mas Rama juga ganteng ya dok, dia cocok sama mbak Yuli.”
“Sapri, lo diem deh. Udah fokus aja tuh sama berita artis yang pada latah main padel.”
“Saya jadi penasaran, main paddle kayak gimana. Dokter Oka, pernah?” tanya Sapri.
“Pernah, tapi saya lebih suka futsal.”
Ponsel Yuli berdering, ia pun beranjak untuk menerima panggilan itu. “Iya, mah. Udah makan kok.”
Lisa menoleh ke samping ternyata Asoka sedang melihat ke arahnya.
“Sapri! Kau mau ikut nggak? Ke depan beli rokok,” teriak Beni dari luar.
“Ikut bang.” Sapri beranjak meninggalkan Lisa dan Asoka hanya berdua saja.
Mendadak atmosfer ruangan terasa berbeda dan canggung karena tatapan Asoka. Kali ini bukan lagi menyerang jantung, tapi ke hati, usus dan jer0an lainnya.
“Apa?” tanya Lisa karena Asoka masih menatap seolah mengobservasi wajahnya.
“Udah ada yang bilang belum, kalau kamu cantik.”
“Dih, gombal,” sahut Lisa lalu membuang pandangan dan mengu-lum senyum. Dompet mana dompet, jadi pengen nyawer batin Lisa.
Rama Cs jadi tamengnya
rasakan kejahilan Yuli 😆😆😆😆
jangan lama-lama jangan lama-lama nanti aku kabur
mau telp damkar biar bersih otak dan pikiran encep di cuci pake damkar🤭