Elizabeth Stuart memiliki lukanya sendiri hingga enggan untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya bersama lelaki lain. Kegagalan dalam rumah tangganya dengan sang mantan suami membuat Elizabeth memilih hidup sebagai orang tua tunggal.
Hingga suatu hari, apa yang telah ia rencanakan dan susun dengan baik hancur begitu saja dalam sekejap karena takdir berkata lain.
Hadirnya sosok lelaki yang hangat dan penuh cinta membuat Elizabeth perlahan mulai melupakan rasa sakitnya, dan belajar membuka hati.
Namun, lagi-lagi seolah takdir mempermainkan hidupnya. Sang mantan suami datang, dan memohon dengan penuh rasa cinta agar Elizabeth kembali bersamanya.
Elizabeth kini kini menjadi dilema, akankah ia lebih memilih sang mantan suami demi kebahagiaan kedua anaknya, atau justru ia lebih memilih lelaki baru yang membuatnya bangkit dan menjadi utuh kembali sebagai seorang wanita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Canda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A thousand years
Setelah beberapa saat merenungi apa yang akan dilakukannya, pria itu berjalan keluar rumah sambil membawa kunci mobilnya, ia tidak ingin menundanya lagi, ia harus segera melaksanakan niatnya untuk meminta maaf pada wanita itu. Ia mengendarai mobilnya menuju pusat kota dan berniat mencari Lizzy di stand kue miliknya. Ia ingin segera meminta maaf dan menyelesaikan kekeliruanya pada wanita itu.
Ia memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dan dengan segera berjalan menuju stand kue milik Lizzy. Namun sayang, ia harus mendapatkan kekecewaan karena ternyata stand kue milik Lizzy sudah tutup, dan pemiliknya pun sudah tidak terlihat di sana. Dengan segera ia berjalan kembali menuju mobilnya, dan dengan tergesa ia mengendarai mobilnya. Ia berpikir mungkin saja wanita itu telah kembali ke toko roti miliknya, ia pun segera menuju toko roti milik Lizzy.
Ia berhenti di seberang jalan, sejenak ia ragu untuk turun dari mobil, ketika ia menatap ke arah toko, ia berharap melihat mobil Lizzy terparkir di sana. Tapi lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan, Lizzy tidak ada di sana. Ia menunggu beberapa saat berharap wanita itu muncul di tokonya. Meskipun jika nanti wanita itu datang bersama sang mantan suami, ia akan tetap menghampirinya dan meminta maaf. Ia tidak mau jika masalah ini sampai berlarut-larut, ia takut itu akan membawa masalah baru baginya.
Benar saja tak lama kemudian sebuah mobil SUV memasuki parkiran toko itu, ia bersiap untuk turun namun ketika melihat siapa penumpangnya ia menjadi ragu. Dua orang itu berjalan bersisian, dan tangan kiri si pria menyentuh punggung si wanita, terlihat sekali pria itu ingin melindungi wanitanya. Akhirnya ia memilih untuk menunggu sejenak di dalam mobil, dan mengumpulkan lagi keberanian yang sudah menguap entah kemana. Dari dalam mobilnya, terlihat jelas si pria langsung duduk di sudut toko itu dan si wanita tak lama kemudian membawakan sesuatu di atas nampan dan meletakkannya di meja, di hadapan pria itu.
Entah kenapa ada sesuatu yang mengganggu pikirannya saat itu, sudah bisa dipastikan bahwa memang benar, wanita itu adalah seorang wanita baik-baik, karena ia tetap menjaga hubungan dengan sang mantan suaminya. Jarang sekali ada seorang wanita yang masih mau melayani mantan suaminya, meskipun hanya sekedar untuk formalitas.
Ia terus mengamati mereka hingga beberapa saat, sambil mengumpulkan keberaniannya. Dan saat ia sudah membulatkan tekad, justru ia melihat mereka berdua bersama kedua anaknya keluar dari toko dan beranjak dari sana. Akhirnya ia pun hanya bisa menatap kepergian mereka berempat dengan tatapan sendu, karena lagi-lagi ia gagal untuk meminta maaf.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mereka akhirnya tiba di kediaman sang ayah, begitu turun dari mobil Clara dan David langsung berlari masuk ke dalam rumah, membuat sang ibu menggelengkan kepalanya "Anak-anakmu terlihat begitu bahagia Jacob, kurasa keputusanmu untuk pindah kesini adalah pilihan yang tepat. Dan yah, selagi hanya ada kita berdua di sini aku ingin menagih janjimu, singkirkan semua orang-orangmu yang kau suruh untuk mengawasi kami, ayolah Jacob, kau sudah berada di sini, jadi kami tidak membutuhkan lagi itu semua."
"Aku sudah menarik mereka semua Lizzy, kau tidak perlu khawatir mengenai hal itu."
"Kau tidak bisa membohongiku Jacob, kau tidak menarik mereka semua, kau bahkan menempatkan beberapa penjaga di luar rumahku sekarang, terserah jika mereka berada di sekitaran rumahmu, tapi jangan di rumahku. Aku merasa tidak nyaman, bagi orang lain mungkin mereka tidak terlihat, tapi bagiku mereka ada dan nyata. Apa kau mau aku menarik salah satu dari mereka dan membuktikan ucapanku padamu?" Lizzy kemudian berjalan ke arah sebuah pohon yang tidak begitu besar dan terletak di luar halaman rumah Jacob, dan tanpa disangka ia menendang batang pohon tersebut dengan keras, lalu tiba-tiba keluarlah seseorang dari balik pohon, Lizzy seketika memegang lengan orang tersebut dan menyeretnya kehadapan Jacob.
"Kau lihat kan apa yang aku dapatkan?" ia menunjuk orang itu di hadapan jacob.
"Dia hanya penjaga rumahku Lizzy bukan penjaga rumahmu."
"Tapi beda cerita jika dia ada di rumahku, aku akan langsung memukulnya dan membuatnya tidak bisa berjalan selama satu minggu. Ini peringatan Jacob, dan aku tidak main-main," Kemudian ia berjalan masuk menyusul kedua anaknya yang sudah lebih dulu ke dalam rumah.
Setelah kepergian Lizzy, ia menatap pria yang ada di depannya dengan marah. "Kenapa kau malah bersembunyi di sana? Dan kenapa kau malah keluar saat Lizzy menekanmu?"
"Maaf tuan, tadinya saya tidak bersembunyi di sana, saya sedang mendengar laporan dari orang kita yang berjaga di toko roti milik nyonya, ketika mendengar suara mobil anda, saya refleks bersembunyi. Saya tidak menyangka, nyonya akan mengetahui keberadaan saya, saya pikir lebih baik saya keluar untuk menghindari kemarahan nyonya," Pria itu mencoba menjelaskan alasannya pada Jacob.
"Dengarkan aku baik-baik, jangan sampai kau tertangkap lagi oleh nyonya, jika sampai tertangkap lagi, kau akan kupecat, sampaikan itu juga kepada yang lain, termasuk yang berjaga di rumah dan di toko nyonya," Jacob pun berjalan kedalam rumah, tapi baru saja ia berjalan beberapa langkah, pria itu memanggilnya.
"Tunggu tuan, baru saja aku mendapat laporan ada seorang pria yang sejak tadi mengamati toko nyonya, dia cukup lama berada di seberang toko nyonya, pria itu adalah orang yang sama dengan yang kemarin menghina nyonya di festival."
"Daniel Allan? Untuk apa dia terus mengamati toko Lizzy?"
" Entahlah tuan, sepertinya ia memang sengaja menunggu nyonya, karena begitu tuan dan nyonya pergi dari sana, ia pun ikut beranjak dari sana. Tapi...dia tidak melakukan pergerakan apapun selain menunggu di dalam mobilnya."
"Kau, suruh beberapa orangmu untuk mengawasi pria itu mulai sekarang, aku tidak mau saat aku tidak bersama Lizzy, pria itu mendekatinya dan mencoba untuk menyakitinya lagi."
"Baik tuan, saya akan menyuruh beberapa orang untuk mengawasinya mulai sekarang," Setelah itu ia pamit undur diri dan kembali keluar halaman rumahnya.
Di dalam rumah, kedua anaknya sudah mulai berlatih, David bermain biola dan Clara mencoba mengiri dengan piano milik ayahnya. Meskipun Clara sudah lama tidak bermain piano, tapi itu tidak serta membuatnya kehilangan kemampuannya memainkan tuts-tuts piano.
Jacob memandang kedua anaknya dengan bangga, fakta bahwa ia lah ayah dari kedua anak itu, membuat perasaannya membuncah seketika. Dia menatap Lizzy yang sedang duduk menopangkan kepalanya di lengan sofa sambil memperhatikan anak-anaknya, membuatnya menepiskan senyumnya.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari puncak festival rakyat selalu lebih dipadati oleh para pengunjung, karena dihari ini akan ada banyak pertunjukan yang digelar. Ada juga orang-orang yang mengikuti karnaval dengan memakai berbagai kostum. Kemeriahan diacara puncak festival memang sudah dinantikan oleh orang-orang. Termasuk kedua anak Lizzy.
Hari itu, David memakai kemeja berwarna biru dan celana panjang jeans berwarna hitam, lengan kemejanya ia gulung tinggi sampai siku, sedangkan Clara memakai dress berwarna biru senada dengan dress yang dipakai oleh Lizzy. Rambutnya dikepang oleh sang ibu, dan ia terlihat sangat cantik.
Jacob sendiri hari itu memakai kemeja panjang biru senada dengan warna kemeja milik David, lengan kemejanya pun ia gulung sampai setinggi siku, sama seperti David. Sejak pagi mereka berempat sudah berada di pusat kota, dan menunggu giliran untuk tampil di dalam stand. Hari itu toko roti milik sang ibu sengaja ditutup, karena tidak ada yang menjaga, sebab Adelina saat itu bertugas menjaga stand kue, sedangkan Lizzy dan Clara bertugas menyemangati David dan Jacob.
David terlihat sangat gugup, karena ini adalah pertunjukkan perdananya di hadapan orang banyak. Ia terbiasa bermain biola hanya di hadapan guru lesnya, sang ibu, sang kakak dan juga sang ayah. Sesekali ia bermain biola di hadapan kakek dan neneknya.
Pasangan suami istri keluarga Allan juga berada di sana, beserta putra mereka Daniel. Pasangan suami istri itu begitu antusias ketika mendengar bahwa David akan ikut melakukan pertunjukkan.
Daniel yang melihat penampilan Lizzy berbeda dari biasanya hanya bisa menatap dengan penuh rasa kagum. Ia tak menyangka akan memiliki kesempatan melihat wanita itu mengenakan sebuah dress cantik selutut, berlengan pendek, dengan hiasan bordir di bagian leher dan bagian tepi bawah dressnya. Rambutnya yang biasa dikuncir tinggi seperti ekor kuda, sekarang ia gerai dan dibuat bergelombang.
Ingin rasanya ia mendekati wanita itu dan berbicara dengannya. Namun ia tak memiliki keberanian, mengingat sang mantan suami yang selalu menempel pada wanita itu bagaikan seekor lintah.
Tanpa Daniel sadari sejak tadi ibunya selalu memperhatikan gerak geriknya dengan senyum yang tertahan. Sang ibu melihat anaknya sekarang telah menatap Lizzy dengan tatapan kagum, bukan lagi dengan tatapan kebencian seperti beberapa waktu lalu.
"Lizzy, bukankah kau harus melihat kesiapan di belakang panggung, sebelum giliran David dan ayahnya tampil? Pergilah untuk melihatnya Lizzy, aku dan pamanmu yang akan menjaga David dan Clara di sini, Daniel akan menemanimu," Sang ibu menatap dan tersenyum kearah Daniel dengan penuh arti.
Daniel, yang merasa diberikan kesempatan untuk menjauhkan Lizzy dari pria itu pun merasa senang. Ia mengangguk dan tersenyum hangat kearah Lizzy. Namun belum sempat Lizzy menjawab perkataan sang bibi, Jacob sudah lebih dulu menjawabnya.
"Tidak perlu nyonya Allan, orang suruhanku sudah melakukannya untuk kami, jadi Lizzy tidak perlu repot-repot untuk pergi kebelakang panggung. Dan ketika sudah tiba waktunya giliran kami, orang itu akan menghubungiku," Seakan Jacob tahu apa yang direncanakan oleh wanita paruh baya itu, ia langsung meraih pinggang Lizzy menandakan kepemilikan.
Keluarga Allan langsung menatap Jacob dengan tatapan sengit, sedangkan Lizzy tidak menyadari apa yang sedang terjadi, ia terlalu fokus untuk membantu Adelina yang sedang melayani pembeli.
Kau tidak akan bisa mendapatkan Lizzyku lagi anak muda, kau telah kehilangan kesempatanmu untuk memilikinya secara utuh. Aku tidak akan membiarkan dia kembali padamu, akan kupastikan Daniel akan mendapatkan Lizzy. Pikir wanita paruh baya itu.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya tibalah giliran David dan Ayahnya untuk melakukan pertunjukan. David berjalan menaiki panggung kecil itu bersama sang ayah, tangan sang ayah terlihat merangkul pundaknya dengan hangat berusaha membuatnya tenang.
Sang ayah pun langsung menempati posisinya duduk di bangku di balik piano, dan David berdiri di hadapan piano sambil memegang sebuah biola, setelah sang pembawa acara memberikan kesempatan pada mereka untuk memulai pertunjukan, maka mulailah terdengar alunan musik yang indah, kolaborasi antara biola dan piano, mengalunkan nada-nada harmoni yang terdengar merdu, sebuah lagu berjudul A whole new world mereka mainkan dengan penghayatan yang sempurna membuat siapapun yang mendengar akan terdiam sejenak untuk menikmati indahnya alunan musik yang mereka mainkan.
Lizzy meneteskan air matanya karena terharu, ia tak menyangka latihan singkat yang dilakukan oleh dua pria berbeda generasi itu berbuah manis. Hatinya terasa penuh ketika mendengar salah satu lagu favoritnya dimainkan, mengingatkannya pada masa-masa saat ia dan Jacob masih bersama.
Jacob sering bermain piano untuknya saat malam hari menjelang tidur, sebagai penutup hari setelah beraktivitas. Ia akan berdiri bersandar pada piano di samping pria itu, atau bahkan ikut duduk di belakang piano bersama pria itu. Itu adalah salah satu momen terindah dan menyenangkan dalam hidupnya.
Tanpa terasa pertunjukan mereka pun berakhir, namun entah kenapa Jacob dan David tidak juga beranjak dari sana. Sekilas ia menatap Jacob dengan bingung dan meminta jawaban kenapa ia dan David belum juga turun dari panggung. Tapi pria itu hanya membalas tatapan Lizzy dengan tersenyum hangat, tak lama si pembawa acara kembali naik ke atas panggung dan mengumumkan bahwa mereka berdua akan memainkan sebuah lagu tambahan, dan sang pembawa acara berkata, bahwa lagu itu dipersembahkan untuk seorang wanita yang luar biasa, dan sangat dicintai oleh kedua pria di atas panggung itu.
Detak jantung Lizzy terasa lebih kencang dari biasanya saat matanya kembali menatap Jacob dan David. Dan tanpa disangka, putranya maju kedepan untuk berbicara memakai microfon " Lagu ini kami persembahkan padamu bu, sebagai kado ulang tahun untukmu dan sebagai ungkapan rasa cinta dan sayang kami terhadap ibu."
Kemudian alunan musik biola dan piano kembali terdengar, kali ini mereka berdua memainkan lagu A thousand year. Tubuhnya menegang, ia terkejut. Kapan mereka berlatih lagu ini? bukankah ia selalu hadir dalam sesi latihan mereka?
Lagu ini, adalah lagu pernikahannya. Lagu yang mengiringinya ketika berjalan di lorong menuju altar tempat Jacob menantinya sebagai calon suami. Ia tidak dapat berkata-kata, bagaimana bisa mereka berdua memainkan lagu itu dengan latihan yang terbilang singkat. Dan hasilnya pun sangat mengagumkan.
Malam itu, ditutup dengan sangat indah oleh Jacob dan David, membuat para penonton memberikan tepuk tangan yang meriah, tak terkecuali Lizzy, namun ada dua pasang mata yang menatap Lizzy dengan penuh rasa kecewa, karena mereka melihat hubungan Lizzy dan Jacob yang semakin membaik.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Anggota keluarga Allan akhirnya undur diri dan pamit dari tempat acara, mereka bertiga hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing selama perjalanan pulang.
Daniel, dengan pikirannya yang kusut, karena belum bisa bicara pada Lizzy untuk meminta maaf. Ia tidak mau membuat masalah ini berkepanjangan, melihat betapa sang mantan suami masih sangat mencintainya, jelas itu akan membuatnya semakin berada dalam kesulitan.
Sang ibu, dengan pikirannya sendiri yang merasa kecewa karena sepertinya jalan untuk mewujudkan keinginannya untuk memiliki menantu Lizzy masih sangat panjang, padahal selama ini ia selalu berusaha membuka hati wanita itu untuk bisa menerima kehadiran anaknya meskipun tidak secara gamblang.
Sang ayah, dengan isi kepala yang berkecamuk menyadari bahwa pria manapun sudah pasti akan sulit untuk bisa melepaskan wanita sebaik Lizzy begitu saja. Jika ia yang berada diposisi Jacob pun sudah pasti ia akan melakukan hal yang sama seperti yang pria itu lakukan. Namun, ia juga sangat ingin memiliki menantu Lizzy. Seorang wanita cerdas dan mandiri juga memiliki kepribadian yang sangat baik. Ia dan istrinya jatuh hati pada Lizzy sejak pertemuan pertama mereka, membuat ia dan sang istri saling menatap dan mengangguk setuju bahwa wanita itulah yang akan jadi menantunya. Tapi setelah melihat kejadian malam ini, ia sadar. Bahwa ia dan istrinya harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Lizzy dan bersedia menjadi menantu mereka.
1. My Innocent Girl (up)
2. I Love You Badly (masih new)
jangan lupa mampir ya guys, aku tunggu loh ya like, komen, dan juga vote okeeyyy? okey dongg wkwkk :v🙏
kenapa harus like dan komen?
-yaa karena like dan komen kalianlah yang bisa bikin Author semangat🤗
Sekian dan terimakasihh luvv🙏💛✨🤗