Georgio Cassano adalah antagonis paling menyedihkan yang pernah Selin baca. Dimana sedari kecil dia tidak pernah mendapat perhatian keluarganya,cinta pertamanya malah menikah dengan rivalnya, dan istrinya berselingkuh. Sang Antagonis mendapat akhir trangis, Perusahaan yang dibangun dengan hasil kerja kerasnya sendiri bangkrut, dan dia meninggal dibunuh protagonis pria.
"Andai saja aku yang menjadi istri antagonis. Pasti aku akan membuat dia bahagia." Kata-kata yang diucapkan Selin malah membuatnya memasuki tubuh Cassandra, istri antagonis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diberikan cinta, lalu dihancurkan begitu saja
Setelah kejadian Cassandra menangis di balkon pagi tadi, Georgio membawanya jalan-jalan ke mall. Ia membelikan apa pun yang Cassandra mau, tapi anehnya, Cassandra tidak meminta barang mewah satu pun. Ia hanya ingin menghabiskan waktu di area permainan, berlari dari satu mesin ke mesin lain, sampai mereka benar-benar kelelahan.
Siang ini mereka berada di sebuah kafe. Rasa lapar mulai menyerang, lebih tepatnya Cassandra yang merasa lapar setelah tenaga mereka terkuras. Sembari menunggu pesanan, pandangan Cassandra tanpa sengaja menangkap dua sosok yang ia kenali lewat di depan kafe.
Cassandra mengernyitkan dahi. Ia penasaran. Georgio yang menyadari perubahan raut wajah itu segera menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya, mengikuti arah pandang Cassandra.
Cassandra menggeleng pelan. "Tidak apa-apa. Tadi sepertinya aku melihat orang yang aku kenal, mungkin salah orang," ucapnya tenang, yang hanya dibalas anggukan oleh Georgio.
Sebenarnya, Cassandra tidak salah lihat. Dia hanya enggan merusak momen ini dengan membahas mereka. Dia tak ingin Georgio kembali terbebani oleh masa lalu di sisa waktu mereka yang tinggal hitungan jam.
"Sistem! Kamu ada di sini, kan?" panggil Cassandra dalam hati.
"Ya, aku di sini. Ada yang bisa kubantu?"
"Aku penasaran dengan hubungan Annabella dan Jordan. Sepertinya mereka sudah sangat dekat lagi."
"Benar. Mereka telah menemukan bahagia mereka. Annabella memilih menemani masa sulit Jordan dan berjanji membantunya bangkit." Cassandra mengangguk samar, ada rasa lega di dadanya.
"Lalu, bagaimana dengan Jordan? Apa dia benar-benar berubah?"
"Sudah. Jordan telah berubah total. Ia mengakui semua kesalahannya. Sebuah keberuntungan baginya bisa kembali bersama Annabella, dan dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua itu."
Cassandra kembali mengangguk kecil, membuat Georgio menatapnya penuh heran. Pria itu bingung melihat Cassandra yang seolah sedang berdialog dengan dirinya sendiri.
"Berarti... tugasku benar-benar sudah selesai?"
"Ya, tugasmu sudah selesai. Tidak ada lagi urusan mu di sini."
Cassandra menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah terangkat namun meninggalkan lubang besar di hatinya. Kenapa badai ini berlalu begitu cepat? Cassandra justru mencintai badai itu, asalkan ada Georgio di sisinya.
Dalam hitungan jam, ia harus melangkah keluar dari dimensi ini, meninggalkan pria di hadapannya untuk selamanya. Cassandra tersenyum getir menatap Georgio yang masih tampak bingung.
"Jangan terlalu dipikirkan aku kenapa. Tenang saja, aku tidak gila kok," ucap Cassandra, seolah mampu membaca pikiran suaminya.
Georgio tersenyum kecil, meski matanya menyiratkan kekhawatiran. "Terus kamu kenapa, hm? Dari tadi kamu bertingkah aneh."
Cassandra menggeleng, "Bukan aneh, akhir-akhir ini aku terlalu banyak berfikir."
"Apa pun itu, jangan terlalu banyak berpikir. Aku akan selalu ada di dekatmu," ucap Georgio tulus.
Mendengar itu, senyum Cassandra bergetar. Sayangnya, aku yang tidak bisa selalu ada di dekatmu, batin Cassandra lirih.
★★★
Rembulan memancarkan cahaya pucat yang tenang. Malam ini terasa begitu sunyi, seolah alam semesta tahu akan ada perpisahan yang terjadi. Di dalam kamar yang hangat, Cassandra memberikan seluruh dirinya kepada Georgio. sebuah kenangan terakhir yang ia simpan rapat dalam memori jiwanya.
Pukul setengah dua belas malam. Cassandra menatap wajah Georgio yang tertidur pulas. Pria itu tampak begitu tenang, lelah setelah seharian penuh memberikan seluruh waktunya hanya untuk Cassandra. Itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi Cassandra.
Dengan gerakan sepelan mungkin, Cassandra memungut pakaiannya yang berserakan. Ia duduk di meja rias, tangannya gemetar saat menggoreskan pena di atas kertas. Dia tidak sanggup mengucap pamit secara langsung, dia tahu dia akan goyah jika melihat mata Georgio yang memohon.
Di atas kertas itu, dia menumpahkan segalanya. Tentang siapa dia sebenarnya, tentang jiwa bernama Selin yang terjebak di tubuh Cassandra, dan tentang kenyataan pahit bahwa cinta Georgio selama ini mungkin ditujukan untuk raga yang salah. Dia meminta Georgio untuk mengikhlaskan kepergiannya dan juga Cassandra yang asli. Dia berharap Georgio menemukan cinta yang baru, cinta yang nyata, bukan pada bayang-bayang seorang perempuan yang tidak dari dunianya.
Cassandra meletakkan surat itu di atas meja, dihimpit vas bunga mawar merah yang mulai layu. Dia melirik jam di pergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi.
Cassandra membungkuk, mencium kening Georgio untuk terakhir kalinya. Air mata jatuh tepat di pipi Georgio, bersatu dengan senyuman pedih di bibir Cassandra.
"Aku mencintaimu. Tapi, dunia ini tidak merestui kita." bisiknya lirih sebelum melangkah keluar kamar.
Dia berjalan menuju tepi kolam renang. Angin malam menusuk kulitnya, namun tak sebanding dengan dingin yang merayap di hatinya.
"Gimana? Kamu sudah siap?" Suara Sistem menggema, memecah kesunyian.
Cassandra mengangguk lemah.
"Baiklah. Aku hitung mundur. Setelah hitungan terakhir, melompatlah ke dalam kolam."
"Tiga... Dua... Sa-"
"SANDRA!"
Teriakan itu menggelegar, menghancurkan keheningan malam. Cassandra tersentak, jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Georgio berlari terengah-engah ke arahnya dari pintu belakang. Wajah pria itu pucat pasi, penuh ketakutan.
"Sialan! Kenapa dia bangun?!" Cassandra panik.
"Cepat lompat! Waktumu habis! Jika tidak sekarang, kamu akan menderita disini! Aku beri tau kamu satu hal, dunia ini tidak akan mengizinkan kamu lebih lama disini, kamu akan sakit-sakitan kalau nekat tinggal didunia ini!"teriak Sistem menjelaskan kepada Cassandra.
Mendengar itu Cassandra mengangguk mengerti. Tanpa sempat menoleh lagi, Cassandra memejamkan mata dan menjatuhkan dirinya ke dalam air kolam yang dingin.
Georgio sampai di tepi kolam hanya selisih satu detik. Tanpa ragu, dia langsung melompat masuk, berusaha menggapai tangan istrinya. Namun, saat dia membuka mata di dalam air, kolam itu kosong. Tidak ada siapa pun. Hanya ada kegelapan dan riak air.
Georgio muncul ke permukaan dengan napas memburu. Dia kembali menyelam berkali-kali, meraba setiap sudut dasar kolam hingga jemarinya memerah. Namun nihil. Cassandra benar-benar hilang seolah-olah dia hanyalah fatamorgana yang menguap disapu angin.
"SANDRA! KAMU TEGA MENINGGALKAN AKU!"
Georgio berteriak histeris. Dia memukul permukaan air dengan brutal, membiarkan air kolam bercampur dengan air matanya. Dia menengadah menatap langit malam dengan tatapan kosong dan hancur.
Inilah akhir dari sebuah perjalanan singkat yang menyakitkan. Mereka mengira takdir akan berbelas kasih, namun kenyataan jauh lebih kejam. Georgio kembali kehilangan dunianya. Dia kembali dipaksa berdiri sebatang kara di tengah kemegahan yang terasa hampa.
Mereka berasal dari dunia yang berbeda, dan semesta tidak pernah mengizinkan dua kutub yang berbeda untuk bersatu selamanya. Cinta mereka hanya sebatas persinggahan, yang kini terkubur bersama dinginnya air kolam dan sunyinya malam.