Di dunia di mana setiap tetes air mata dikonversi menjadi energi Qi-Battery, perang bukan lagi soal wilayah, melainkan bahan bakar eksistensi. Li Wei, sang "Pedang Dingin" dari Kekaisaran Langit, hidup untuk patuh hingga pengkhianatan sistem mengubahnya menjadi algojo yang haus penebusan. Di seberang parit, Chen Xi, mata-mata licik dari Konfederasi Naga Laut, dipaksa memimpin pemberontak saat faksi sendiri membuangnya sebagai aset kedaluwarsa.
Saat takdir menjebak mereka dalam reruntuhan yang sama, rahasia kelam terungkap: emosi manusia adalah ladang panen para penguasa. Di tengah hujan asam dan dentuman meriam gravitasi, mereka harus memilih: tetap menjadi pion yang saling membunuh, atau menciptakan Opsi Ketiga yang akan menghancurkan tatanan dunia. Inilah kisah tentang cinta yang terlarang oleh kode etik, dan kehormatan yang ditemukan di balik laras senjata. Apakah mereka cukup kuat untuk tetap menjadi manusia saat sistem memaksa mereka menjadi dewa perang tanpa jiwa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Dekripsi Luka
Gema tetesan air yang jatuh ke permukaan genangan yang tenang menjadi satu-satunya instrumen di dalam Ruang Pompa bawah tanah yang pengap. Li Wei duduk bersandar pada dinding beton yang dingin, napasnya mulai stabil meski sisa-sisa amarah dari kejadian di pipa induk masih memanaskan aliran darahnya. Di telapak tangannya, chip saraf milik Han yang berlumuran darah kering terasa seperti beban seberat gunung.
"Kau harus berhenti meremasnya, Li Wei. Jika sirkuit internalnya retak, semua yang kau korbankan akan menjadi sia-sia," ucap Chen Xi pelan. Ia sedang berlutut di depan sebuah konsol kontrol tua, jari-jarinya bergerak lincah menghubungkan kabel antarmuka saraf dari pergelangan tangannya ke slot data manual.
Li Wei membuka kepalan tangannya, menatap benda logam kecil itu dengan mata yang redup. "Berikan padaku alasannya, Chen Xi. Katakan padaku bahwa kematian sahabatku bukan hanya karena algoritma sialan yang salah."
"Itulah yang sedang kucoba lakukan," balas Chen Xi. Ia mengulurkan tangan, meminta chip tersebut. Saat jemari mereka bersentuhan, Chen Xi merasakan getaran halus dari tangan Li Wei—sebuah resonansi yang tidak berasal dari zirah, melainkan dari sisa syok fisiologis. "Duduklah. Kau butuh istirahat sebelum sarafmu benar-benar terbakar."
Li Wei menyerahkan chip itu, lalu menatap bayangannya di air yang tenang di bawah kakinya. "Tadi aku merasa seolah-olah sesuatu di dalam dadaku pecah. Saat pedangku menembus tengkuknya, aku tidak merasa seperti sedang membela diri. Aku merasa seperti mesin yang sedang membongkar mesin lain."
Chen Xi memasukkan chip Han ke dalam pemindai. Layar konsol yang tadinya mati kini berkedip, memancarkan pendar biru pudar yang menyinari wajah mereka yang pucat. "Itu mekanisme pertahanan Dragon Heart, Li Wei. Kau menekan kemanusiaanmu agar bisa melakukan apa yang diperlukan. Jika kau tidak menjadi dingin, kau akan mati bersamanya di pipa itu."
"Tapi harga yang harus dibayar terasa terlalu mahal," bisik Li Wei. Ia mengeluarkan kalung pengenal milik Han dari sakunya, menggenggamnya erat hingga buku jarinya memutih. "Dia menyebut tentang Xiao Hu. Kenapa seorang prajurit yang dicuci otak oleh Kekaisaran membawa nama itu di detik-detik terakhirnya?"
"Mungkin karena dia belum sepenuhnya dicuci otak." Chen Xi mengerutkan kening, matanya terpaku pada barisan kode yang mulai mengalir di layar. "Sial, enkripsinya berlapis. Ini bukan standar Sektor 7. Ini protokol keamanan elit dari pusat."
Li Wei bangkit berdiri, langkahnya masih sedikit goyah karena retakan di kakinya yang belum pulih benar. "Bisa kau membukanya?"
"Aku bisa meretas pintunya, tapi kuncinya ada padamu," jawab Chen Xi sambil menoleh. "Sistem ini menggunakan pengenalan biometrik berbasis resonansi saraf. Chip ini mengenali frekuensi komandan unitnya. Kau adalah komandannya, Li Wei. Letakkan tanganmu di sensor induksi ini."
Li Wei ragu sejenak, lalu meletakkan telapak tangannya di atas pad sensor yang dingin. Seketika, rasa panas menjalar dari tangan menuju pangkal otaknya. Di layar konsol, visualisasi memori saraf Han mulai terurai—bukan dalam bentuk angka, melainkan fragmen emosi dan suara yang terdistorsi.
"Apa yang terjadi? Kenapa datanya berbentuk seperti ini?" tanya Li Wei dengan nada cemas.
"Mereka memanen emosinya, Li Wei," suara Chen Xi melemah, ada nada kemarahan yang tertahan di sana. "Lihat log aktivitas ini. Setiap kali Han merasakan takut atau rindu, chip ini mengubahnya menjadi energi Qi untuk mengisi baterai sarafnya. Zhao Kun bukan hanya mengendalikan Han, dia menggunakan penderitaan Han sebagai sumber daya."
Li Wei tertegun. Di layar, ia melihat cuplikan memori Han yang dipaksa berulang-ulang—memori tentang sebuah bengkel tua di zona kumuh, bau oli mesin yang akrab, dan seorang gadis kecil yang tertawa sambil memegang kunci inggris.
"Itu Xiao Hu," bisik Li Wei. "Jadi selama ini Han melindungi keberadaannya dengan mengunci memori itu di lapisan terdalam sarafnya?"
"Ya, dan itulah kenapa dia dikirim untuk memburumu," Chen Xi menunjuk pada koordinat yang baru saja muncul di layar setelah enkripsi terbuka. "Pusat tahu Han memiliki koneksi dengan 'aset' ini. Mereka ingin Han membunuhmu agar rahasia ini terkubur selamanya, atau menggunakanmu untuk memancing Xiao Hu keluar."
"Bengkel Mekanik Void... Sektor B-12," Li Wei membaca teks yang berkedip di layar. "Itu tujuan kita."
"Kita tidak bisa langsung ke sana, Li Wei. Sarafmu sudah di ambang batas. Kau butuh tidur meski hanya dua jam," Chen Xi menarik kabelnya, memutus koneksi. "Aku akan berjaga. Jika patroli udara Megacity lewat, aku akan mematikan semua daya di ruangan ini."
Li Wei ingin membantah, namun rasa lelah yang luar biasa tiba-tiba menyerang kesadarannya. Dragon Heart yang tadi membara kini meninggalkan rasa hampa yang dingin di tubuhnya. Ia duduk kembali di sudut ruangan yang paling gelap, menyandarkan kepalanya pada dinding beton.
"Kenapa kau membantuku sedalam ini, Chen Xi?" tanya Li Wei sebelum matanya terpejam. "Kau bisa saja mengambil data itu dan pergi sendiri."
Chen Xi diam sejenak, menatap pendar biru yang perlahan meredup di konsol. "Karena di dunia yang penuh dengan salinan yang salah ini, aku ingin melihat apakah seorang algojo sepertimu benar-benar bisa menemukan penebusan."
Keheningan kembali menguasai ruang pompa setelah pendar konsol benar-benar padam. Li Wei tidak benar-benar tidur; ia hanya membiarkan sistem sarafnya memasuki mode hibernasi rendah sementara kesadarannya terus berputar pada fragmen memori Han yang baru saja ia saksikan. Dalam kegelapan, suara tetesan air terasa seperti hitungan mundur yang tidak menyenangkan.
"Jangan bergerak," bisik Chen Xi tiba-tiba. Suaranya hampir tidak terdengar, namun ada ketajaman yang membuat Li Wei seketika waspada.
Li Wei membuka matanya, tangannya secara insting mencari gagang pedang di sampingnya. "Apa itu?"
"Patroli Elit. Level 5," Chen Xi menunjuk ke arah celah ventilasi di langit-langit beton yang tinggi.
Pendar cahaya merah dari pemindai sensor udara menyapu celah sempit itu, menciptakan garis-garis cahaya yang bergerak lambat di dinding ruang pompa. Suara deru mesin jet yang halus namun berat terdengar melintas di atas mereka—sebuah tanda bahwa pasukan pencari sudah memperluas radius perburuan dari sektor pipa induk menuju zona industri bawah.
"Mereka menggunakan pemindai panas spektrum tinggi," Chen Xi bergerak mendekati Li Wei, membawa selembar kain sisa zirah yang telah dibasahi air dingin. "Zirahmu masih memancarkan sisa energi dari Neural Overclock tadi. Jika kita tidak mendinginkan suhu tubuhmu secara manual, mereka akan menemukan koordinat kita dalam hitungan detik."
Li Wei merasakan kain dingin itu menyentuh lehernya yang panas. Chen Xi bekerja dengan gerakan yang sangat efisien, mengompres titik-titik saraf di tengkuk dan bahu Li Wei untuk menekan emisi termal.
"Terima kasih," gumam Li Wei saat rasa dingin mulai meresap, membantu menenangkan denyut sarafnya yang kelelahan.
"Jangan berterima kasih padaku untuk hal sepele seperti ini," balas Chen Xi tanpa menatap mata Li Wei. Ia fokus pada luka bakar kimia di lengan Li Wei, mengoleskan sisa gel medis yang ia miliki. "Kau harus tetap hidup karena aku tidak tahu cara menghadapi mekanik bernama Xiao Hu itu sendirian. Aku butuh wajah 'perwira jujur' milikmu untuk mendapatkan kepercayaannya."
Li Wei mendengus pelan, sebuah reaksi yang hampir menyerupai tawa getir. "Wajah jujur? Setelah aku membantai rekanku sendiri di lorong itu?"
"Dunia ini tidak butuh kejujuranmu, Li Wei. Dunia ini hanya butuh hasil," Chen Xi menarik tangannya kembali setelah memastikan luka Li Wei tertutup. Ia duduk bersandar di depan Li Wei, memeluk lututnya sendiri di tengah kegelapan. "Apa kau pernah berpikir, kenapa mereka begitu terobsesi pada emosi kita? Kenapa Kekaisaran repot-repot memanen rasa sakit Han?"
"Dulu aku percaya itu untuk sinkronisasi kekuatan yang lebih stabil," jawab Li Wei sambil menatap kalung Han yang ia letakkan di lantai antara mereka berdua. "Tapi melihat apa yang terjadi pada Han... aku sadar kita bukan lagi manusia bagi mereka. Kita hanya komponen biologis. Mereka memanen emosi karena emosi adalah bentuk energi Qi yang paling murni dan paling sulit dipalsukan."
"Dan Xiao Hu memiliki akses ke faksi ketiga," Chen Xi menyambung pikiran Li Wei. "Jika data di chip Han benar, Xiao Hu bukan sekadar mekanik. Dia adalah jangkar akses untuk sistem yang tidak dikuasai oleh Kekaisaran maupun faksi Naga Laut. Dia adalah celah di dalam dinding dunia ini."
"Maka kita harus sampai di sana sebelum Jenderal Zhao Kun mengirim lebih banyak orang seperti Han," Li Wei mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan membiarkan kematian Han menjadi sia-sia."
Mereka terdiam selama beberapa saat, membiarkan suara patroli di atas sana perlahan menjauh. Udara di dalam ruang pompa terasa semakin dingin, namun chemistry di antara keduanya mulai bergeser—bukan lagi sekadar dua musuh yang terjebak, melainkan dua jiwa yang terikat oleh beban rahasia yang sama.
"Kau tahu, Chen Xi," Li Wei memecah kesunyian, "saat di akademi, mereka selalu mengajarkan bahwa musuh adalah angka yang harus dikurangi. Tapi saat melihatmu tertatih membantuku di gorong-gorong tadi, angka itu mulai memiliki nama."
Chen Xi tertegun sejenak, lalu memalingkan wajahnya ke arah bayangan. "Simpan sentimenmu untuk Xiao Hu, Komandan. Aku masih punya banyak alasan untuk membencimu jika perang ini berakhir nanti."
"Adil bagi saya," balas Li Wei pendek.
Cahaya fajar mulai mengintip melalui celah ventilasi, bukan warna kuning yang hangat, melainkan warna merah neon dari polusi langit Megacity yang terpantul pada kabut pagi. Li Wei bangkit berdiri, merasakan tubuhnya sudah cukup pulih untuk bergerak kembali. Ia mengenakan kembali masker zirahnya, mengunci baut-baut logamnya dengan bunyi klik yang tegas.
"Waktunya pergi," ucap Li Wei. Matanya kini berkilat dengan tekad yang lebih dingin daripada sebelumnya. "Kita harus melintasi atap gedung untuk menghindari blokade jalan di bawah. Level 5 mungkin punya sayap, tapi mereka tidak punya alasan untuk bertarung sekeras kita."
Chen Xi ikut berdiri, memeriksa senjatanya, Yan-Zuo, yang kini kembali stabil. "Sektor B-12 berjarak tiga kilometer dari sini. Siapkan jantung nagamu, Li Wei. Perjalanan di atas sana tidak akan sesunyi di sini."
Mereka meninggalkan Ruang Pompa melalui jalur pipa pembuangan yang sempit, bergerak diam-diam menuju permukaan. Di atas mereka, langit Megacity yang merah telah menanti, dipenuhi oleh siluet jet patroli yang meluncur memecah awan polusi. Li Wei menatap ke atas, menggenggam chip Han di dalam sakunya, dan melangkah maju menuju takdir yang baru saja terdekripsi.