NovelToon NovelToon
Figuran Yang Direbut Takdir

Figuran Yang Direbut Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Time Travel / Romansa / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Shahinaz adalah gadis cantik dengan kesabaran yang nyaris tak ada. Ia tak pernah menyangka hidupnya akan berantakan gara-gara satu hal paling mustahil: terjebak di dalam novel milik sahabatnya sendiri.

Masalahnya, Shahinaz bukan tokoh utama. Bukan pula karakter penting. Ia hanya figuran—pelengkap cerita yang seharusnya tak berpengaruh apa pun. Namun segalanya berubah ketika Dreven, karakter pria yang dikenal posesif dan dominan, justru menjadikannya pusat dunianya.Padahal Dreven seharusnya jatuh cinta pada Lynelle. Seharusnya mengikuti alur cerita. Seharusnya tidak menoleh padanya.

“Aku nggak peduli cerita apa yang kamu maksud,” ucap Dreven dengan tatapan dingin. “Yang jelas, kamu milik aku sekarang.”

Selena tahu ada yang salah. Ini bukan alur yang ditulis Venelattie. Ini bukan cerita yang seharusnya. Ketika karakter fiksi mulai menyimpang dari takdirnya dan memilihnya sebagai tujuan, Shahinaz harus menghadapi satu pertanyaan besar "apakah ia hanya figuran… atau justru kunci?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ancaman Bahaya

Tips and trik menjadi figuran biasa, tetapi tetap menjadi tokoh utama di dalam hidupmu sendiri:

1. Jangan ikut campur dengan jalan cerita.

2. Sembunyi, jangan sampai terlibat percekcokan dengan tokoh-tokoh cerita.

3. Jualan kembang. Tetaplah bekerja sampai kamu punya duit segunung, lalu jadilah pengangguran kaya raya.

4. Entah ini mimpi, halusinasi, atau nyata, tetaplah nikmati hidup meskipun lagi-lagi harus sebatang kara.

Catatan yang ditulis besar oleh Shahinaz, harusnya ia ingat dan dia bawa ketika pergi ke mana-mana. Jangan sampai karena suatu hal, dia sampai terlena dengan fakta, kalau sebenarnya dia sedang memerankan suatu tokoh dari novel yang dibuat oleh sahabatnya sendiri. Tapi sebelum benar-benar mati, dia harusnya menikmati hidup dulu bukan?

"Gue kemarin terlalu berlarut-larut dalam kesedihan. Karena sekarang gue diberi kesempatan hidup kedua, seharusnya gue menikmati hidup dengan ala kadarnya kan sekarang?" pikir Shahinaz dengan suara lirih.

Teng!

Bel itu menandakan jika ada pelanggan yang berkunjung ke toko bunga yang sedang disinggahinya. Tapi seharusnya pintu masuk toko sudah dikunci semenjak karyawan-karyawannya pulang bukan? Kenapa pintunya masih bisa terbuka?

"Pak, maaf sudah tutup, saya tidak bisa melayani pelanggan lagi dikarenakan ini sudah lewat dari jam buka. Mohon pengertiannya ya." kata Shahinaz berusaha untuk senyum seramah mungkin, meskipun sebenarnya tidak bisa dia lakukan. "Di papan depan sana, sepertinya juga ada tulisan sudah tutup. Anda bisa kembali besok atau lain kali, terimakasih."

Ini ciri-ciri Shahinaz yang paling utama, semaunya sendiri dan terlalu tepat waktu. Dia tidak akan melayani siapapun di luar jam kerja, meskipun itu baru kelewat satu menit saja. Waktu adalah uang, tapi jika uang datang di waktu yang tidak tepat, maka lebih baik Shahinaz menolaknya.

"Maaf Nona, Tuan muda kami sangat butuh bunga sekarang. Tolong bantu kami Nona, kami tidak ingin mendapat hukuman dari Tuan Muda kami, hanya toko bunga ini satu-satunya harapan kami." kata laki-laki berbadan kekar, dia mungkin ajudan dari orang berkuasa di kota ini.

Shahinaz menatap laki-laki berbadan kekar yang berdiri di depan pintu dengan tatapan tajam. Dia terlihat sangat serius dan tampaknya benar-benar dalam situasi darurat. Shahinaz masih ragu, tetapi ada sesuatu dalam nada suara laki-laki itu yang membuatnya merasa iba. Tapi dia paling malas jika harus menyusun bunga di luar jam seperti ini!

"Siapa Tuan Muda yang anda maksud?" tanya Shahinaz, mencoba mengungkap lebih banyak informasi sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan. "Dan kenapa bunga begitu penting sampai-sampai kalian merasa terpaksa datang ke sini di luar jam buka?"

Teng!

Seseorang masuk lagi ke dalam toko bunganya, dan itu membuat Shahinaz geram setengah mati tentu saja. Namun melihat laki-laki berbadan kekar di depannya tiba-tiba menunduk, dia jadi menyadari satu hal, mungkin laki-laki muda itu Tuan Mudanya.

"Nah, jadi anda Tuan Mudanya. Begini, toko ini sudah tutup, karyawan-karyawan disini juga sudah pulang semua, jadi mohon maaf jika pesanan bunga anda tidak bisa saya layani saat ini juga. Anda bisa kembali besok ketika jam buka." jelas Shahinaz panjang lebar, semoga saja mereka masih mau mengerti.

Tuan Muda yang baru saja memasuki toko bunga Shahinaz, memiliki aura yang cukup kuat. Mungkin benar dengan apa yang dipikirkan Shahinaz tadi kekuasaan tinggi di kota ini. Tapi tetap saja, ini diarea jam kerja Shahinaz!

"Maaf Tuan Muda Dreven. Saya sudah membujuknya untuk menjual bunga sejak tadi, tapi Nona ini tidak mau menerima pesanan dari saya." kata ajudan itu sambil menundukkan kepalanya lagi.

Shahinaz mendelik, kenapa dia yang akhirnya disalahkan? Padahal dia sudah berbaik hati dan menjelaskan dengan sopan, kalau tokonya sudah tutup sejak tadi!

"Aishhh, gue udah bilang tutup kan tadi? Ini diarea jam kerja, dan gue udah muak dengan bunga-bunga ini. Kenapa masih pada maksa gue sih!" kesal Shahinaz sambil berkacak pinggang, kesabarannya benar-benar hilang dan meluap begitu saja.

Dreven Vier Kingsley, laki-laki itu sebenarnya sedikit terkejut dengan sosok gadis di hadapannya, tapi untung saja wajahnya tidak berubah dan tetap menunjukkan ekspresi yang sama. Bukannnya itu gadis yang sama, gadis yang terkena lemparan bola basket dan berakhir pingsan di UKS tadi. Gadis itu pemilik toko bunga ini?

"Nona, saya paham jika Anda sudah menutup toko, tetapi ini adalah situasi yang sangat mendesak sekarang," kata sang Ajudan dengan suara yang lembut namun terdengar tegas. "Tuan kami membutuhkan bunga ini saat ini juga, dan hanya toko Nona yang masih terlihat pemiliknya dan bisa dimintai tolong."

Menghirup napas sebanyak-banyaknya, kemudian menghembuskannya secara perlahan setelah itu, kali ini Shahinaz memilih untuk mengalah saja dan tidak ingin mengeluarkan banyak tenaga untuk berdebat lagi, "Oke mau bunga apa? Buka melati, kamboja, mawar? Silahkan dipilih. Terus mau dibagaimanakan bunganya? Awas jangan buat yang rumit-rumit!"

Ajudan itu semakin menunduk tidak berani, namun sebenarnya dia salut dengan keberanian Shahinaz. Semua orang juga takut kepada Tuan Mudanya itu, tetapi kenapa gadis di hadapannya ini tidak ada tampang takut-takutnya!

Sedangkan Dreven, laki-laki itu menarik salah satu sudut bibirnya. Menyaksikan interaksi sengit antara Shahinaz dan ajudannya, membuatnya cukup terkesan dengan ketegasan dan keberanian gadis itu. Berbeda dengan kebanyakan gadis di sekelilingnya yang merasa terintimidasi dan hanya berani memujanya dari jauh, Shahinaz tampak tidak gentar sama sekali.

Dia memperhatikan bagaimana Shahinaz tidak segan-segan mengekspresikan kemarahannya dan tetap teguh pada pendiriannya meskipun berada dalam situasi yang mendesak. Dan sekarang, entah kenapa Dreven jadi tertarik dengan sosok di depannya!

"Buat yang simpel, tapi elegan." kata Dreven yang kemudian membuka suaranya setelah itu.

"Bunga apa?" tanya Shahinaz ketus.

"Lily, anggrek."

Shahinaz mengangguk malas, kemudian mengatur letak bunga yang di sebutkan laki-laki itu baru saja.

Dengan tangan terampilnya, dia mulai memilih dan menyusun lily sekaligus anggrek dengan hati-hati. Meskipun sempat kesal, dia menyadari betapa pentingnya bunga tersebut untuk orang tersayang mereka, dan rasa empati perlahan-lahan menggantikan kemarahannya dengan segera.

Shahinaz bekerja dengan cepat dan hati-hati.

Dalam waktu singkat, dia selesai menyusun rangkaian bunga yang sederhana namun elegan-komposisi lily yang bersih dan anggrek yang indah, membentuk satu kesatuan yang memancarkan keanggunan.

"Butuh revisi atau udah cukup kayak gini?" tanya Shahinaz setelah susunan bunganya selesai.

"Cukup." jawab Dreven yang sudah cukup puas dengan hasil terampil Shahinaz, "Berapa?"

Shahinaz menyerahkan hasil rangkaian bunganya, kemudian memberikan kepada Dreven dengan sedikit tidak rela, "Sembilan puluh delapan ribu. Anggap aja gue ikhlas ngerjainnya, makanya nggak gue kenakan biaya tambahan. Dan karena ini penutupan, saat ini gue cuma nerima cash doang."

Dreven menyerahkan rangkaian bunga itu kepada ajudannya, lalu merogoh sakunya untuk mengambil dompet yang senantiasa dia bawa kemana-mana. Lalu mengambil lima lembar uang berwarna merah muda dan memberikannya kepada Shahinaz selepas itu.

"Lo nggak denger gue ngomong apa tadi?Sembilan puluh delapan ribu, dan lo ngasihnya kebanyakan." kata Shahinaz yang kemudian meraih tangan kanan Dreven, meletakkan kembali uang empat ratus ribu lainnya kepada sang pemiliknya, "Tunggu sebentar, masih ada kembaliannya."

Shahinaz berjalan menuju laci kasir, kemudian mencari uang kembalian untuk diberikan kepada laki-laki yang katanya berstatus sebagai Tuan Muda itu. "Nah, kembaliannya dua ribu. Lumayan buat bayar parkir motor di minimarket kan? Oh ya, terimakasih sudah belanja di toko kami, lain kali tolong jangan balik lagi!"

Dreven mengamati Shahinaz dengan tatapan yang sulit dibaca. Tindakan dan kata-kata gadis itu jelas tidak biasa-sebuah campuran antara ketulusan dan keberanian yang jarang ditemui dalam dunia yang sering dipenuhi kepura-puraan. Gadis itu tampil apa adanya, tanpa melihat status, atau orang yang sebenarnya sedang dia lawan sekarang.

"Terima kasih, Nona. Saya meminta maaf karena terlalu memaksa Nona belum lama tadi." kata Ajudannya sambil menunduk hormat.

"Ya! Yang penting besok jangan balik lagi!"

Memang dasarnya Shahinaz yang sudah tidak ingin berbasa-basi lagi. Ketika Tuan Muda dan ajudannya sudah pergi dari toko bunganya, dengan cepat dia mengemasi barangnya dan memilih untuk pulang. Dia akan melanjutkan rencana yang sedang dia susun di rumah saja!

"Besok, gue beli motor aja deh. Ya kali gue jalan kaki tiap hari, gue kan nggak bisa bawa mobil. Tapi kira-kira, si Shahinaz ini nyimpen duit-duitnya dimana ya? Apa duitnya udah terkumpul banyak? Gue jadi penasaran." kata Shahinaz sambil berjalan santai tanpa rasa takut sama sekali.

Dia bisa beladiri, jadi jika ada ancaman bahaya di jalan nanti, dirinya tidak akan terlalu gugup atau khawatir dengan keselamatan nyawanya. Padahal Shahinaz tidak tau saja, jauh beberapa meter dibelakangnya, mobil mewah keluaran terbaru terlihat jelas sedang mengikutinya!

1
Iry
Halo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!