Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Stempel Merah di Dahi
Pukul enam pagi di Petamburan memiliki ritme yang brutal. Tidak ada kicau burung atau sinar matahari yang menyelinap lembut dari balik tirai sutra. Yang ada hanyalah suara batuk tetangga di balik dinding tripleks, tangisan bayi yang melengking, dan bau selokan yang menguap bersama panas bumi.
Alana terbangun dengan punggung kaku. Kasur busa tipis di lantai kontrakan Rini sudah kempes di bagian tengah, membuat tulang rusuknya terasa remuk setiap kali ia bergerak. Ia menatap langit-langit yang berjamur, butuh beberapa detik untuk mengingat siapa dirinya sekarang. Bukan Alana Wardhana, putri tunggal pemilik imperium properti. Ia hanya Alana, perempuan pengangguran dengan sisa uang tunai kurang dari satu juta rupiah di dompet.
Rini sudah tidak ada di sampingnya. Suara desis minyak goreng terdengar dari dapur sempit—yang sebenarnya hanya berjarak dua meter dari tempat tidur.
"Mbak Alana, bangun. Mandi dulu mumpung airnya masih ngalir lancar," seru Rini tanpa menoleh, sibuk membalik tempe di wajan hitam yang penyok.
Alana bangkit, melipat selimut kumal itu dengan rapi. Kebiasaan lamanya sulit hilang. Ia mengambil handuk dan peralatan mandinya, lalu melangkah keluar menuju kamar mandi umum yang harus dibagi dengan tiga pintu kontrakan lain. Antrean sudah ada dua orang. Seorang ibu berdaster menatap Alana dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan curiga, seolah kulit putih dan rambut terawat Alana adalah sebuah anomali yang menyinggung perasaan di gang sempit itu.
Satu jam kemudian, Alana sudah berdiri di depan cermin retak di kamar Rini. Ia mengenakan kemeja putih polos—satu-satunya kemeja kerja yang ia bawa saat diusir—dan celana bahan hitam. Riasannya tipis, hanya untuk menutupi lingkar hitam di bawah matanya. Ia tidak memakai perhiasan apapun. Gelang ibunya sudah berubah menjadi beras dan token listrik.
"Hari ini mau ke mana, Mbak?" tanya Rini sambil menyodorkan piring berisi nasi putih dan satu potong tempe goreng.
"Ada dua interview. Satu di biro arsitek di Tebet, satu lagi kontraktor di daerah Cipete," jawab Alana sambil mengunyah cepat. Rasanya hambar, tapi perutnya tidak punya hak untuk protes.
"Hati-hati, Mbak. Kalau ada apa-apa, telepon aku. Eh, tapi pulsaku tinggal dikit, deng," Rini tertawa getir.
Alana tersenyum tipis. "Aku nggak akan lama, Rin. Doakan saja."
Perjalanan ke Tebet adalah pelajaran tentang bertahan hidup. Alana tidak memesan taksi online; itu kemewahan yang tidak terjangkau. Ia naik TransJakarta, berdesakan dengan ratusan tubuh lain yang beraroma keringat dan parfum murah. Ia harus berdiri terjepit di dekat pintu, menjaga tasnya erat-erat di depan dada. Dulu, ia melihat bus ini dari balik kaca jendela sedan Mercedes-nya yang dingin, mengasihani orang-orang di dalamnya. Sekarang, ia adalah salah satu dari mereka.
Sesampainya di kantor 'Griya Estetika', sebuah ruko tiga lantai yang cukup modern di Tebet, Alana merapikan kemejanya yang kusut. Ia masuk dengan percaya diri. Portofolionya—meski tanpa nama Wardhana—tetaplah karya lulusan terbaik universitas ternama.
Resepsionis memintanya menunggu. Tiga puluh menit berlalu. Akhirnya, seorang pria paruh baya berkacamata tebal memanggilnya masuk. Pak Teguh, kepala arsitek di sana.
Pak Teguh membolak-balik portofolio Alana dengan wajah datar. "Desain kamu bagus. Garisnya bersih, konsepnya matang. Terlalu matang untuk fresh graduate."
"Saya banyak belajar dari proyek-proyek besar selama magang, Pak," jawab Alana diplomatis, sengaja tidak menyebut nama perusahaan ayahnya.
Pak Teguh meletakkan berkas itu di meja, lalu menatap Alana lekat-lekat. Tatapan itu bukan tatapan kekaguman profesional, melainkan tatapan seseorang yang sedang mengamati binatang sirkus.
"Alana..." Pak Teguh mengetuk-ngetukkan jari di atas kertas CV. "Nama belakangmu tidak dicantumkan di sini. Tapi wajahmu familiar."
Jantung Alana berdegup kencang. "Saya ingin dinilai berdasarkan karya saya, Pak, bukan nama keluarga."
Pak Teguh terkekeh sinis. Ia memutar layar laptopnya ke arah Alana. Di sana terbuka sebuah halaman forum gosip online. Judulnya terpampang jelas: *Putri Taipan Properti Diusir Karena Narkoba & Pergaulan Bebas.*
Alana merasa darahnya surut dari wajah. Ada foto dirinya—foto candid yang diambil sembarangan saat ia keluar dari kontrakan Rini kemarin, terlihat lusuh dan berantakan. Narasinya diputarbalikkan sedemikian rupa. Hendra benar-benar bekerja cepat.
"Itu tidak benar, Pak. Itu fitnah," suara Alana bergetar, namun ia berusaha tetap tegak.
"Dengar, Mbak Alana," potong Pak Teguh, nada suaranya berubah dingin. "Industri kita ini sempit. Klien kami kebanyakan pengembang yang kenal baik dengan Pak Hendra. Kalau saya mempekerjakan kamu—anak yang di-blacklist oleh ayahnya sendiri karena kasus narkoba—siapa yang mau pakai jasa firma kami? Kredibilitas kami taruhannya."
"Saya tidak memakai narkoba! Anda bisa tes urine saya sekarang juga!" Alana setengah berdiri, suaranya meninggi.
"Silakan keluar," Pak Teguh menunjuk pintu tanpa emosi. "Dan tolong, jangan masukkan firma kami ke dalam daftar referensi lamaran kamu selanjutnya."
Alana berjalan keluar dari ruko itu dengan kaki lemas. Matahari Jakarta pukul sebelas siang terasa membakar kulit. Ia merasa seperti ditelanjangi di depan umum. Stempel 'pecandu narkoba' itu jauh lebih mematikan daripada sekadar kemiskinan. Ayahnya tidak hanya memotong uangnya; Hendra sedang membunuh masa depannya.
Ia duduk di halte bus yang panas, menahan air mata yang mendesak keluar. Menangis tidak akan menghasilkan uang. Menangis hanya akan membuatnya haus, dan ia harus menghemat air minumnya.
"Lanjut," bisiknya pada diri sendiri. "Jangan berhenti."
Ia melanjutkan perjalanan ke Cipete. Kali ini tujuannya adalah 'CV. Bangun Jaya', sebuah kantor kontraktor kecil yang letaknya di belakang pasar. Berbeda dengan firma di Tebet yang ber-AC dingin, kantor ini penuh debu semen dan asap rokok kretek. Lantainya kotor oleh jejak sepatu bot para tukang.
Seorang pria gemuk dengan kemeja batik yang kancing perutnya hampir lepas menyambutnya. Namanya Pak Irawan. Dia sedang merokok di dalam ruangan ber-AC yang pengap.
"Arsitek?" tanyanya sambil menyipitkan mata melihat Alana yang tampak salah kostum di tempat kumuh itu.
"Ya, Pak. Saya bisa drafting, 3D rendering, dan pengawasan lapangan," jawab Alana tegas. Ia tidak peduli lagi dengan gengsi.
Pak Irawan tidak mengecek internet. Dia bahkan tidak melihat portofolio desain konseptual Alana yang artistik. Dia langsung melempar sebuah denah kusut ke atas meja.
"Ini proyek renovasi gudang di Cikarang. Drafter saya kabur kemarin bawa lari laptop kantor. Saya butuh gambar kerja detail untuk instalasi pipa dan kelistrikan. Besok pagi harus jadi. Bisa?"
Alana menatap denah itu. Itu pekerjaan kasar. Pekerjaan teknis yang membosankan dan melelahkan, bukan mendesain gedung pencakar langit. Tapi ia melihat peluang.
"Bisa, Pak. Tapi saya butuh komputer."
"Pakai yang di pojok sana," tunjuk Pak Irawan pada sebuah PC tua dengan monitor tabung yang layarnya sudah menguning. "Kalau kerjamu bagus, saya gaji tiga setengah juta sebulan. Masa percobaan tiga bulan. Nggak ada asuransi, nggak ada uang makan."
Tiga setengah juta. Dulu, itu hanya harga satu botol wine yang ia buka saat makan malam santai. Sekarang, itu adalah harga dirinya selama tiga puluh hari kerja keras.
"Saya ambil," kata Alana tanpa ragu.
"Bagus. Mulai sekarang. Jangan pulang sebelum selesai," Pak Irawan kembali menekuni kertas-kertas tagihannya, mengabaikan keberadaan Alana.
Alana duduk di kursi plastik yang reyot di pojok ruangan. Keyboard komputer itu berdebu dan lengket. Mouse-nya kadang macet. Tapi ketika ia membuka program AutoCAD, jari-jarinya menari dengan lincah. Ia menenggelamkan kemarahan, rasa malu, dan sakit hatinya ke dalam garis-garis digital di layar monitor.
Setiap garis yang ia tarik adalah perlawanan. Setiap detail yang ia selesaikan adalah bukti bahwa ia masih hidup.
Pukul sembilan malam, Alana baru keluar dari kantor itu. Matanya perih karena menatap monitor tabung selama berjam-jam. Punggungnya menjerit minta diistirahatkan. Tapi di saku kemejanya, ada uang seratus ribu rupiah—uang muka transportasi yang ia minta dengan paksa pada Pak Irawan tadi.
Alana berjalan kaki menuju halte busway. Di kejauhan, lampu-lampu gedung tinggi SCBD berkelap-kelip angkuh. Di salah satu puncak gedung itu, ayahnya dan Siska mungkin sedang tertawa, mengira Alana sedang menangis di pojokan jalan.
Alana meremas uang seratus ribu di sakunya. Kertasnya lusuh dan bau pasar, tapi nilainya lebih nyata daripada janji manis siapapun.
"Tunggu saja," gumam Alana, matanya menatap tajam ke arah gedung Wardhana Tower yang menjulang. "Aku akan kembali. Bukan sebagai putri yang memohon, tapi sebagai lawan yang akan membeli gedung itu dari kalian."
Ia naik ke dalam bus yang sepi, menyandarkan kepalanya di jendela kaca, dan membiarkan Jakarta malam yang kejam membawanya pulang ke Petamburan.