Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Whiskey Peak
"TANAH! ADA TANAH!" Luffy berteriak dari haluan kapal sambil menunjuk ke depan dengan excited.
Setelah berlayar beberapa jam dari tempat Laboon, akhirnya kami melihat pulau pertama kami di Grand Line. Pulau dengan bentuk yang unik—dipenuhi dengan bebatuan berbentuk seperti kaktus raksasa.
"Itu Whiskey Peak," kata Nami sambil memeriksa Log Pose. "Pulau pertama di salah satu rute Grand Line."
Aku menatap pulau itu dengan perasaan campur aduk. Dalam pengetahuanku dari kehidupan lama, Whiskey Peak adalah perangkap—pulau yang dihuni oleh bounty hunter dari organisasi Baroque Works yang menyamar sebagai penduduk ramah untuk menjebak bajak laut.
Tapi aku tidak bisa langsung memberitahu itu tanpa terlihat mencurigakan. Bagaimana aku bisa tahu tentang Baroque Works kalau aku baru pertama kali datang ke Grand Line?
"Kenji, kau baik-baik saja?" Robin tiba-tiba ada di sampingku, menatapku dengan mata tajamnya. "Kau terlihat... khawatir."
Aku tersentak. Robin memang orang yang paling observant di kru ini.
"Ah, aku hanya... nervous," jawabku sambil tersenyum paksa. "Ini pulau pertama kami di Grand Line. Siapa tahu apa yang menunggu di sana."
"Healthy paranoia," Robin tersenyum tipis. "Di Grand Line, selalu bijak untuk waspada."
Spider Sense ku berdering pelan—bukan bahaya langsung, tapi lebih seperti warning. Ada sesuatu yang tidak beres di pulau itu.
Saat Going Merry berlabuh di pelabuhan Whiskey Peak, kami disambut oleh pemandangan yang... ramah? Terlalu ramah.
Puluhan penduduk kota berkumpul di pelabuhan, melambaikan tangan dengan antusias.
"SELAMAT DATANG, BAJAK LAUT!" teriak mereka bersamaan.
"SELAMAT DATANG DI WHISKEY PEAK!"
"MARI KAMI RAYAKAN KEDATANGAN KALIAN!"
Luffy langsung berbinar. "WOAH! MEREKA RAMAH SEKALI!"
"Terlalu ramah," gumam Zoro sambil menyipitkan mata. Tangannya tidak jauh dari gagang pedangnya.
"Zoro benar," aku berbisik ke Nami. "Ini aneh. Penduduk kota mana yang menyambut bajak laut dengan pesta?"
Nami mengerutkan kening. "Kau pikir ini perangkap?"
"Mungkin," jawabku sambil mengaktifkan Spider Sense ku lebih dalam. "Kita harus waspada."
Tapi Luffy sudah melompat dari kapal dengan semangat. "YOSH! AYO PESTA!"
"LUFFY, TUNGGU!" Nami berteriak, tapi sudah terlambat.
Seorang pria dengan rambut keriting dan mahkota—Igarappoi, atau Mr. 8—maju dengan senyum lebar. "Selamat datang, para bajak laut pemberani! Kami menghormati keberanian kalian untuk memasuki Grand Line! Mari kami rayakan kedatangan kalian dengan pesta besar!"
"PESTA?! AKU SUKA PESTA!" Luffy langsung setuju tanpa pikir panjang.
"Luffy, bodoh..." gumam Nami sambil menghela napas.
Kami akhirnya mengikuti Luffy—meskipun sebagian dari kami tetap waspada. Penduduk kota membawa kami ke gedung besar di tengah kota yang sudah disiapkan dengan makanan dan minuman berlimpah.
"Ini... terlalu berlebihan," gumam Sanji sambil mengamati makanan. "Tidak ada kota yang akan menyiapkan pesta sebesar ini untuk orang asing."
"Setuju," aku mengangguk sambil duduk di sebelah Zoro. "Kita harus tetap waspada."
Zoro melirikku. "Kau punya insting yang tajam untuk bajak laut rookie."
"Spider Sense," jawabku sambil menunjuk ke kepala. "Aku bisa merasakan bahaya. Dan sekarang, instingku berdering pelan. Tidak keras, tapi... ada sesuatu."
"Percaya pada instingmu," kata Zoro sambil meneguk sake. "Di Grand Line, insting bisa menyelamatkan nyawa."
Pesta dimulai dengan meriah. Luffy, Usopp, dan sebagian kru lainnya makan dengan lahap. Nami minum wine yang disediakan. Bahkan Sanji ikut menikmati makanan—meskipun dia tetap waspada.
Tapi aku, Zoro, dan Robin tidak makan banyak. Kami hanya mengamati.
"Mereka mencoba membuat kita lengah," bisik Robin sambil sipping wine-nya perlahan. "Classic tactic. Beri mereka makanan dan minuman, tunggu sampai mereka tertidur atau mabuk, lalu serang."
"Jadi apa rencana kita?" tanyaku pelan.
"Pura-pura ikut," jawab Zoro sambil "minum" sake-nya—aku perhatikan dia tidak benar-benar meneguknya. "Biarkan mereka pikir kita lengah. Lalu kita lihat gerakan mereka."
Aku mengangguk dan mengikuti strategi itu. Aku pura-pura makan dan minum, tapi sebenarnya aku membuang makanan secara diam-diam dan tidak menelan minumannya.
Beberapa jam berlalu. Satu per satu anggota kru mulai tertidur—Luffy tertidur sambil tersenyum lebar, perutnya gembung penuh makanan. Usopp tertidur dengan wajah merah karena mabuk. Nami tertidur di meja. Bahkan Sanji akhirnya tertidur karena kelelahan.
"Sempurna," bisik suara dari luar.
Spider Sense ku berdering keras!
Aku langsung buka mata—yang sebenarnya tidak pernah benar-benar tertutup. Aku hanya pura-pura tidur.
Zoro juga membuka matanya.
Dan Robin duduk dengan tenang, sama sekali tidak tidur.
"Kalian juga sadar, ya?" bisik Robin dengan senyum tipis.
"Tentu saja," jawab Zoro sambil berdiri perlahan. Dia berjalan ke arah jendela dan melihat keluar.
Aku mengikuti dan melihat pemandangan yang mengkonfirmasi kecurigaan kami.
Penduduk kota yang "ramah" tadi sekarang berkumpul di luar gedung—tapi mereka tidak lagi terlihat ramah. Mereka semua memegang senjata—pedang, pistol, senapan, dan berbagai senjata lainnya.
Dan di depan mereka, berdiri Mr. 8 dan seorang wanita dengan rambut biru—Miss Monday.
"100 bajak laut sudah kami tangkap di pulau ini," kata Mr. 8 dengan senyum jahat. "Kalian akan jadi yang ke-101."
"Baroque Works," gumam Zoro. "Jadi ini perangkap organisasi bounty hunter."
"Baroque Works?" aku pura-pura tidak tahu. "Apa itu?"
"Organisasi bounty hunter rahasia," jelas Robin dengan tenang. "Mereka berburu bajak laut untuk bounty. Sangat efisien dan kejam."
Mr. 8 mengangkat tangannya. "SERANG! TANGKAP MEREKA SEMUA!"
Puluhan bounty hunter menyerbu gedung dari semua arah!
"Kenji!" Zoro melempar pedangnya yang ketiga ke arahku. "Pegang ini! Aku akan butuh tangan kosong untuk beberapa dari mereka!"
"Eh?! Aku tidak bisa pakai pedang!" protesku sambil menangkap pedang itu dengan canggung.
"Tidak perlu pakai! Cukup jaga agar tidak ada yang mengambilnya!" Zoro sudah mengambil dua pedangnya yang lain dan bersiap.
Bounty hunter pertama masuk lewat pintu—langsung ditendang oleh Zoro dengan brutal.
"Kenji, Robin," kata Zoro dengan serius. "Jaga yang lain. Aku akan handle bounty hunter ini."
"Seorang diri?" tanyaku. "Ada ratusan dari mereka!"
Zoro menyeringai. "Ratusan? Ini cuma pemanasan."
Dan dia melesat keluar gedung.
Aku dan Robin saling pandang.
"Dia serius?" tanyaku.
"Sangat serius," jawab Robin sambil tersenyum. "Roronoa Zoro bukan swordsman biasa. Dia bisa menangani ini."
Tapi Spider Sense ku tetap berdering. "Ada yang lain. Ada musuh yang lebih kuat."
"Kau benar," Robin mengangguk. "Baroque Works punya sistem partner. Setiap agent punya partner dengan nomor yang sama. Kalau Mr. 8 di sini, kemungkinan besar ada agent bernomor lain juga."
Tepat saat Robin berkata itu, atap gedung meledak!
BOOM!
Aku refleks menembakkan jaring dan membuat perisai di atas kru yang tertidur, melindungi mereka dari reruntuhan.
Dari lubang di atap, turun dua sosok.
Seorang pria dengan rambut blonde dan kacamata—Mr. 5. Dan seorang wanita dengan payung—Miss Valentine.
"Ara ara," kata Miss Valentine dengan suara yang dibuat-buat manis. "Sepertinya ada yang tidak tertidur."
Mr. 5 menatap kami dengan tatapan dingin. "Mr. 8 dan Miss Monday terlalu ceroboh. Mereka membiarkan tiga dari kalian sadar."
"Tiga?" aku mengerutkan kening.
Mr. 5 menunjuk ke sudut ruangan. "Ada satu lagi yang bersembunyi di sana."
Aku menoleh dan melihat... seorang gadis dengan rambut biru muda, bersembunyi di balik tirai.
"Princess Vivi," kata Mr. 5 dengan senyum jahat. "Atau haruskah kukatakan... Miss Wednesday?"
Gadis itu—Vivi—keluar dari persembunyiannya dengan wajah pucat. "Kalian... kenapa kalian di sini?!"
"Boss mengirim kami," jawab Mr. 5. "Karena kau dan Mr. 8 sudah ketahuan sebagai mata-mata. Boss tidak suka pengkhianat."
"Mata-mata?" aku bergumam. Jadi Vivi dan Mr. 8 (yang sebenarnya Igaram, pengawal Vivi) sudah menyusup ke Baroque Works untuk mengetahui identitas boss-nya.
Mr. 5 mengeluarkan sesuatu dari hidungnya—kotoran hidung—dan menjitinya ke arah Vivi!
Spider Sense berdering keras! Aku tahu apa itu—Mr. 5 adalah pengguna Bomu Bomu no Mi, Buah Iblis yang membuat semua bagian tubuhnya bisa meledak!
"VIVI!" aku berteriak sambil menembakkan jaring, menciptakan perisai di depan Vivi.
BOOM!
Kotoran hidung itu meledak saat menyentuh jaring! Ledakannya kuat, menghancurkan jaring dan menciptakan asap tebal!
"Kenji!" Robin berteriak.
Aku baik-baik saja—aku sudah melompat mundur sebelum ledakan. Tapi jaring ku hancur.
"Buah Iblis Logia?" tanyaku sambil menatap Mr. 5.
"Paramecia," koreksi Mr. 5. "Bomu Bomu no Mi. Aku adalah manusia bom."
"Dan aku adalah manusia berat!" Miss Valentine tiba-tiba melayang di udara dengan payungnya, lalu menukik ke arahku sambil berteriak. "Kilo Kilo no Mi! 10.000 KILO PRESS!"
Tubuhnya tiba-tiba menjadi sangat berat—10.000 kilogram—menukik ke arahku dengan kecepatan tinggi!
Spider Sense! Aku menghindar ke samping—Miss Valentine menghantam lantai dengan keras, menciptakan kawah besar!
"Whoa!" aku terkejut melihat kekuatan serangannya. "Kau bisa mengubah beratmu?!"
"1 kilo sampai 10.000 kilo!" Miss Valentine tertawa. "Kau tidak bisa menghindar selamanya!"
Mr. 5 menyerang lagi, melempar napasnya—yang juga bisa meledak!
Aku menembakkan jaring ke langit-langit dan mengayunkan tubuhku, menghindari ledakan. Tapi ledakannya mengenai dinding, menghancurkan sebagian gedung!
"Sial!" gumamku. "Kalau ini terus, gedungnya akan runtuh dan kru yang tertidur akan tertimpa!"
"Kenji!" Robin memanggil. "Bawa mereka keluar! Aku akan handle ini!"
"Tapi—"
"Percaya padaku!" Robin sudah menyilangkan tangannya. "Cien Fleur!"
Puluhan tangan muncul dari lantai, dinding, dan langit-langit—kekuatan Hana Hana no Mi milik Robin!
Tangan-tangan itu langsung menangkap Mr. 5 dan Miss Valentine, menahannya.
"Aku akan beli waktu!" kata Robin. "Cepat evakuasi mereka!"
Aku mengangguk dan langsung bergerak. Aku menembakkan jaring ke tubuh Luffy, Nami, Usopp, Sanji, dan yang lainnya, lalu menarik mereka semua sekaligus dengan kekuatan penuh!
Tubuh mereka melayang di udara, dan aku mengarahkan mereka keluar gedung melalui jendela.
"Kenji! Vivi juga!" teriak Robin.
Aku menoleh dan melihat Vivi masih berdiri di sana, shock dan tidak bisa bergerak.
"VIVI! LARI!" teriakku sambil menembakkan jaring, menangkap tangannya dan menariknya ke arahku.
Tepat saat itu, Mr. 5 melepaskan diri dari genggaman tangan Robin dan melempar bom besar!
BOOM!
Ledakan menghancurkan separuh gedung!
Aku, Robin, dan Vivi terlempar keluar dari ledakan. Kami mendarat di tanah dengan keras.
"Uhh..." aku mengeluh sambil berdiri. Tubuhku sakit, tapi tidak ada yang patah.
Robin berdiri dengan tenang, meskipun pakaiannya sedikit robek. "Kau baik-baik saja, Kenji-kun?"
"Aku baik," jawabku sambil membantu Vivi berdiri. "Kau?"
Vivi menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa... kenapa kalian menyelamatkanku? Aku... aku menjebak kalian..."
"Kau tidak terlihat seperti orang jahat," jawabku sambil tersenyum. "Dan instingku bilang kau butuh bantuan."
"Kenji benar," kata Robin. "Kau jelas bukan bagian dari mereka. Kau ketakutan. Jadi... siapa kau sebenarnya?"
Vivi menatap kami berdua, air mata mengalir di pipinya. "Aku... aku Nefertari Vivi. Princess dari Kerajaan Alabasta. Aku menyusup ke Baroque Works untuk mencari tahu siapa boss mereka... karena dia merencanakan untuk menghancurkan kerajaanku."
Aku dan Robin saling pandang.
"Alabasta," gumam Robin dengan ekspresi serius. "Kerajaan gurun di Grand Line."
Sebelum kami bisa berbicara lebih jauh, Mr. 5 dan Miss Valentine muncul dari reruntuhan gedung.
"Lari tidak akan membantu, Princess," kata Mr. 5 sambil bersiap menyerang lagi. "Boss sudah memberi perintah—kau harus mati."
"Kalau begitu," aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Vivi dan musuh. "Kalian harus melewatiku dulu."
Zoro tiba-tiba muncul di sampingku, pedang-pedangnya berlumuran darah—tapi bukan darahnya sendiri. "Dan aku."
"Aku juga," Robin berdiri di sisi lain.
Mr. 5 menatap kami bertiga, lalu tersenyum tipis. "Tiga lawan dua? Kalian pikir itu cukup?"
"Lebih dari cukup," jawab Zoro dengan seringai. "Karena kami adalah Kru Topi Jerami."
Dan pertarungan sesungguhnya dimulai.