Mereka menyebutnya menantu sampah.
Lelaki tanpa harta. Tanpa kekuasaan. Tanpa kehormatan.
Ia dipermalukan di meja makan, ditertawakan di depan pelayan, dan istrinya… memilih diam.
Tapi mereka lupa satu hal.
Darah yang mengalir di tubuhnya bukan darah biasa.
Saat ia mati dalam kehinaan, sesuatu bangkit bersamanya.
Bukan cinta. Bukan ampun.
Melainkan kutukan kuno yang menuntut darah keluarga itu satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megga kaeng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 – Harga yang Harus Dibayar
Ledakan cahaya itu seperti mengoyak langit, mengguncang seluruh alam semesta mereka. Tubuh Defit dan Maya terlempar ke belakang, tubuh mereka terhantam dinding tak terlihat yang memisahkan dimensi ini dengan dimensi lain. Dalam sekejap, mereka merasa terhisap ke dalam jurang yang dalam dan gelap, seperti tenggelam dalam lautan tanpa batas. Seluruh dunia terpecah di hadapan mereka, dan mereka hanya bisa merasakan kekuatan yang semakin meluap, semakin menuntut.
Defit membuka matanya perlahan, masih merasa terhuyung, dan menemukan dirinya terbaring di tanah yang keras. Di sekelilingnya, hanya ada kegelapan yang tebal. Maya duduk di sampingnya, wajahnya pucat, napasnya terengah-engah. Mereka berdua terdiam beberapa saat, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Kekuatan yang begitu besar, yang mereka pilih untuk menyatu dengannya, telah membentuk dunia ini, dunia yang berbeda dari yang mereka kenal.
“Apa yang terjadi?” Maya akhirnya berbisik, suaranya gemetar. “Dimana kita? Apa yang telah kita lakukan, Defit?”
Defit mengangkat kepalanya, menatap sekeliling. Semuanya tampak hancur, seperti dunia yang telah jatuh ke dalam kegelapan abadi. Tidak ada langit, tidak ada bintang hanya kegelapan yang pekat, menyelimuti semuanya. Namun di tengah kekosongan itu, sebuah cahaya lembut mulai muncul, seperti sebuah bintang yang perlahan tumbuh besar. Itu datang dari kristal yang mereka sentuh, yang kini melayang di tengah-tengah ruang kosong yang mereka masuki.
"Kita… kita ada di tempat yang berbeda," kata Defit, suaranya penuh kebingungan. "Ini bukan dunia yang kita kenal. Ini adalah… konsekuensi dari pilihan kita."
Maya merasakan sebuah rasa sakit di dadanya, seakan ada sesuatu yang membebaninya. “Kita melepaskan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, Defit. Kekuatan itu kekuatan itu datang dari tempat yang lebih gelap daripada yang kita bayangkan.”
“Tidak ada pilihan lain,” Defit berkata, namun suaranya tidak sekuat sebelumnya. “Kita tidak bisa mundur. Kita harus menghadapi ini.”
Mereka berdua berdiri, perlahan-lahan, merasakan beban yang semakin berat di dada mereka. Mereka tahu bahwa kekuatan yang telah mereka ambil bukan hanya tentang mereka berdua. Ini lebih besar dari itu lebih besar dari sekedar pilihan mereka. Mereka sekarang menjadi bagian dari sesuatu yang lebih dalam, lebih rumit. Sesuatu yang menunggu untuk terungkap.
Tiba-tiba, suara bergema, datang dari segala penjuru ruangan yang gelap. Suara itu begitu dalam, penuh dengan penyesalan dan ancaman. “Defit… Maya… Kalian telah membangkitkan kekuatan yang telah lama tertidur. Kekuatan yang tidak seharusnya ada. Kalian telah memilih untuk mengarahkan takdir dunia ini, namun tahukah kalian apa yang kalian lepaskan?”
Defit menegakkan tubuhnya, menatap ke arah suara itu. “Apa yang kita lepaskan? Apa yang kita lakukan, jika itu tidak bisa dihentikan lagi?”
Suara itu kembali bergema, lebih menakutkan dan penuh dengan amarah. “Kekuatan itu akan menuntut bayarnya. Takdir kalian yang telah dipilih bukan hanya tentang menyelamatkan dunia. Takdir kalian adalah kehancuran dunia yang telah ada atau kebangkitan dunia yang baru. Kalian akan menjadi penguasa dunia baru, atau kalian akan menjadi kehancuran itu sendiri.”
Maya menggenggam tangan Defit dengan erat, merasakan ketakutan yang hampir menguasai dirinya. “Defit, kita tidak tahu apa yang kita hadapi. Kita hanya hanya berusaha untuk melindungi segalanya. Mengapa kekuatan ini begitu mengerikan?”
Defit menggigit bibirnya, seolah merasakan ketidakberdayaan yang menyelimuti jiwanya. “Maya, aku tahu ini sulit. Kita tidak tahu apa yang akan datang. Tapi kita sudah memilih. Kekuatan ini tidak bisa ditarik kembali.”
Suara itu kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih tenang, namun penuh dengan ancaman yang lebih besar. “Satu-satunya cara untuk mengendalikan kekuatan ini adalah dengan mengorbankan segalanya segala sesuatu yang kalian cintai, segala sesuatu yang kalian anggap penting. Kalian akan dipilih oleh takdir ini, atau kalian akan dihancurkan olehnya.”
Maya merasakan seakan seluruh dunia runtuh di atas pundaknya. Bayangan akan kehilangan yang begitu besar datang begitu tiba-tiba. Apa yang bisa mereka lakukan? Apa yang bisa mereka korbankan?
“Tapi kami tidak punya apa-apa lagi!” Maya berteriak, suaranya penuh dengan amarah dan ketidakberdayaan. “Kami hanya ingin menyelamatkan dunia ini! Apa yang harus kami bayar untuk itu?”
Suara itu terdiam sesaat, seolah memberi mereka waktu untuk mencerna kata-kata yang baru saja mereka dengar. Kemudian, suara itu kembali terdengar, kali ini dengan jawaban yang lebih menakutkan. “Harga yang harus kalian bayar adalah segalanya. Kekuatan ini bukan tanpa harga. Jika kalian ingin mengendalikan takdir dunia ini, kalian harus siap untuk kehilangan diri kalian sendiri. Kekuatan ini akan menghancurkan kalian jika kalian tidak mampu menguasainya. Kalian akan dipilih atau kalian akan jatuh.”
Defit menatap Maya, matanya penuh dengan kebingungan dan kesedihan. “Maya, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa membiarkan dunia ini hancur. Kita harus mengendalikan kekuatan ini.”
Maya menunduk, merasakan air mata yang mulai mengalir di pipinya. “Aku takut, Defit. Aku takut kehilangan diriku sendiri. Apa yang akan terjadi pada kita jika kita menguasai kekuatan ini?”
Defit memandang kristal yang terus bersinar di hadapan mereka, mengeluarkan aura yang sangat kuat. Di dalam hatinya, ia tahu bahwa tak ada jalan mundur. Mereka sudah terlalu jauh, dan satu-satunya pilihan adalah untuk maju, untuk bertarung dengan takdir yang telah menunggu mereka. Apa pun yang mereka hadapi, mereka harus menghadapinya bersama.
“Kita akan melalui ini bersama, Maya,” kata Defit dengan tegas, meskipun ada keraguan yang menyelimuti hatinya. “Apa pun yang terjadi, kita akan memilih untuk hidup.”
Maya menatapnya, matanya penuh dengan air mata, namun ada secercah keberanian yang mulai tumbuh dalam dirinya. “Bersama,” jawabnya pelan, “kita akan menghadapi takdir ini, bersama.”
Dengan langkah yang mantap, mereka berdua melangkah maju, mendekati kristal yang semakin terang. Tidak ada lagi yang bisa menghentikan mereka. Mereka telah membuat pilihan mereka dan sekarang, mereka harus siap menghadapi harga yang harus dibayar.
terus menarik ceritanya 👍