Zivanya Alkaridz siswi cerdas dan populer di Sekolah Menengah Pertama (SMP) memilih berpenampilan jelek saat masuk ke Sekolah SMA unggulan di kotanya.
Diejek tak memupuskan semangatnya, ia mencari persahabatan dan cinta yang tulus di masa peralihannya itu.
Bias Putra Samudra, seorang siswa tampan dan populer menarik perhatiannya. Hingga tanpa di duga sebuah surat yang menyatakan cinta ia terima tertanda Bias sang idola.
Hati Zee tak menentu, "Mungkinkah Kak Bias benar-benar menyukaiku yang jelek?"
Munculnya Surat itu adalah penyebab konflik dalam kisah ini. Yuk ikuti!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMANFAATKAN RASA ZEE
..."Katakan dan yakinlah bahwa kamu bisa, makan kamu akan bisa! Biarkan otak positifmu mengarahkan setiap indra dan gerakmu menjadi diri yang hebat!" (Bias)🥀...
...________________________________________...
Matahari meninggi, seorang gadis dengan seragam olah raga baru saja ke luar dari bangunan masjid setelah menjalankan ibadah zuhurnya. Di sisi masjid yang lain, seorang pria baru saja memasuki masjid setelah menyendiri menghabiskan gulungan tembakau di belakang sekolah.
______________
"Bii, tumben telat?" Seorang pria tegap berkulit hitam langsung menghampiri Bias yang baru datang dengan tergopoh.
"Sorry, Bang," jawabnya.
"Lo baik?"
"Yup."
"Gue masih belum lihat Mayang, Bii. Gimana kondisi dia sebenernya sih?" tanya pria bernama Johan yang menjadi pelatih Bias dan rekan-rekan dalam tim basket sekolah.
"Bisa kita bicara sebentar, Bang!"
"Dinda, lo pegang anak baru dulu, ya!" Johan berteriak pada seorang wanita tinggi semampai yang merupakan senior basket seangkatan dengan Bias. Dinda menaikkan jempolnya, Johan dan Bias seketika menepi.
"Gimana, gimana? Jadi gimana Mayang?"
"Doi usus buntu, Bang, jadi belum bisa gabung ke tim basket sementara waktu. Kemarin doi baru operasi dan dokter minta seminggu ini doi bedrest, setelahnya juga orang tua Mayang gak ngijinin kalo doi langsung ikut tanding Basket."
"Gawat! Trus gimana nasib tim basket kita!" Johan menyugar rambutnya dengan bibir terus berdecih. Bias memperhatikan dan bisa memahami perasaan Johan.
"Seminggu lagi, Bii! Gimana ini! Lo tau sendiri gimana gue merjuangin tim basket putri bisa ikut tanding. Eh, giliran sekolah deal malah personelnya yang gak kompak."
"Bukan gak kompak, Bang. Ini kan sebab sakit. Gak ada juga yang mau sakit, begitu juga sama Mayang!"
"Oke, oke. Trus penyelesaiannya gimana menurut lo, Secara lo kan ketua basket di sekolah ini! Siapa kira-kira yang bisa gantiin Mayang? Kita cuma punya pemain inti 5 orang termasuk Mayang. Ada memang 5 cadangan tapi tetep aja kurang 1 orang kalau Mayang gak bisa ikut."
Bias masih bergeming hingga tiba-tiba matanya menangkap gadis tinggi semampai yang sedang melakukan lempar tangkap bola dibimbing Dinda.
"Bang, sebentar deh Bang!"
Johan yang sedang menunduk dengan posisi tangan memijat kepala seketika mengangkat kepala.
"Kenapa?"
"Kalo tuh cewek, menurut lo gimana, Bang?"
"Yang mana?"
"Itu, yang pakai kaos olga!"
"Yang i-tem i-tu?"
"Ya elah, Bang. Jangan mandang fisik, lah! Lihat cara dia nerima bola yang dilempar Dinda. Tangkepannya mantep gak ragu. Orangnya juga tinggi. Gimana menurut lo?"
"Hmm____
Johan bergeming.
"Apa yang buat lo ragu, Bang?"
"Dia itu baru sehari ini latihan. Yakin tuh anak bakalan konsisten latihan? Kalo besok mogok gimana? Masih kelas satu tuh, pasti manja dan kolokan. Males gue!"
"Gue jamin dia orangnya bisa tanggung jawab, Bang!" Bias menatap Johan sungguh-sungguh.
"Kenapa lo, Bi? Yakin bener! Jangan bilang do-i____
"Jangan mikir macem-macem, Bang! Tuh cewe cuma temen gue lomba kemarin di Mandala."
"Oh ya? Pinter dong tuh anak? Menang nggak?" Tampak Johan meragukan kemampuan Zee.
"Doi juara 1 Matematika."
"Oh ya? Keren dong masih kelas 1 udah dimajuin lomba dan menang."
"Itu dia, makanya kita jangan mandang fisik, Bang."
"Yaudah, tapi lo yang urus tuh anak ya, lo ajarin! Kayaknya doi ngelirikin lo dari tadi. Suka kayaknya doi sama lo, Bii!"
"Ada-ada aja lo, Bang!"
"Nggak tau, yakin aja gue. Eh serius ini, lo aja yang ngajarin tuh anak!"
"Kok gue, lo aja lah!"
"Elo, Bii! Firasat gue dia bakalan cepet bisa lewat sentuhan tangan lo!"
"Siakek lo, Bang!" Bias berdecih sadar Johan meledeknya. Namun beberapa saat setelahnya Bias tersenyum.
Gue yakin lo bisa jadi tim yang solid, Zee, batin Bias.
"Din, kumpulin tim cewek kita di lapangan samping! Kita latihan di sana!" Johan yang sudah berdiri berteriak memberi perintah pada Dinda.
"Ndra, Kemal, lo berdua urus anak kelas 1!" Baru saja Zee melangkahkan kaki bersama anak kelas 1 yang lain mendekati Andra dan Kemal, Johan berteriak.
"Elo, Zee!" Zee menoleh ke arah Johan sambil sesekali melirik Bias.
"Sa-ya, Ka-k?"
"Khusus lo ikut Bias!"
"Hah?" Pandangan Zee beralih ke wajah Bias, Bias mengangguk.
Setelahnya, semua sudah berpencar sesuai job masing-masing. Johan bersama tim basket putri sudah menuju lapangan lain yang berada di samping Sekolah. Sedang lapangan yang berada di center bangunan sekolah dibagi menjadi 2 bagian. Separuh untuk Andra dan kemal mengajar anak baru, sedang separuhnya dipakai Bias untuk mengajari Zee.
Zee tampak berjalan membuntuti Bias, otaknya bingung mengapa ia dipisahkan sendiri dan dimentori oleh Bias, tapi langkah kakinya menurut saja mengikuti setiap langkah Bias. Zee percaya Bias.
"Duduk dulu, Zee!" Pun keduanya duduk saat ini di atas bata yang sudah dilapisi semen di bawah pohon rindang di tepi lapangan. Zee bergeming, ia ingin bertanya tapi hati menahannya, ia tak ingin banyak berinteraksi dengan Bias, pun ia memilih diam.
"Lo pasti bertanya-tanya kenapa lo dipisahin sendiri?"
Zee melirik Bias sekilas dan mengangguk.
Seminggu lagi ada pertandingan basket se-Jakarta Barat untuk tim basket putri. Anggota kita ada yang sakit dan butuh pengganti. Bang Johan, cowok yang tadi manggil lo itu pelatih kita, dia milih lo untuk gantiin Mayang anggota yang sakit."
"Ke-na-pa a-ku, Kak?" Seperti biasa Zee selalu gugup dan bicara terbata jika berhadapan dengan Bias.
"Karena dia merasa lo mampu!" Bias berkilah, padahal sejujurnya Bias lah yang yakin Zee mampu.
"Ta-pi ... aku ma-sih bela-jar, Kak. Wak-tu SMP me-mang a-ku pernah la-tihan bas-ket ta-pi aku ba-ru bi-sa dasar- da-sarnya a-ja." Ucapan Zee berhenti, ia menatap Bias berusaha meyakinkan Bias ia sungguh tak mampu.
"Bisa dasar itu udah bagus. Please demi sekolah kita mau ya, Zee." Zee menoleh mendengar pernyataan itu, ia menggeleng sambil menatap Bias.
"Please, Zee ...."
"Ng-gak, Ka-k. Nanti a-ku cuma malu-malu-in tim bas-ket seko-lah!"
"Waktu sekolah minta lo ikut kompetisi matematika lo mau, kenapa sekarang tanding bawa nama sekolah juga lo nggak mau?"
"I-ni beda. Mate-mati-ka i-tu kesukaan a-ku, bidang a-ku, ta-pi bas-ket_____ Zee menggeleng.
"Gue yakin lo sebetulnya juga suka basket karena lo ada di sini!" Bias menghadapkan duduknya kini ke arah Zee. "Zee, lihat gue!"
"Ka-k?" Sebentar Zee menatap Bias, sebentar ia menunduk.
"Pelajaran matematika yang pure pake otak aja lo mampu, basket cuma ketangkasan fisik, Zee. Oke otak juga dipake tapi gak dominan. Yakin nggak ada yang nggak mungkin kalo kita yakin! Pertama yang lo harus tanemin di main set lo adalah lo mau dulu, mau bantu tim basket kita dan mau banggain nama sekolah, itu aja dulu! Lo ma-u, ka-n?"
"Ta-pi, Kak a-ku____
"Demi gu-e!"
"Hah?" Mata Zee membulat.
"Iya, please lakuin demi gue!"
"De-mi Ka-kak?"
"Please ...!" Mata Bias mengiba, Bias seketika teringat ujaran Johan yang mengatakan Zee kerap mencuri pandang ke arahnya dan Johan sangat yakin Zee menyukainya tiba-tiba memenuhi otak Bias. Penting bagi Bias meyakinkan Zee untuk bergabung di tim basket putri dan ia menggunakan rasa Zee padanya sesuai asumsi Johan.
Zee menunduk, ia tampak berfikir hingga beberapa saat setelahnya Zee mengangguk. Bias tersenyum.
Jadi asumsi Johan bener, sorry gue pakai cara ini Zee. Coz pertandingan ini penting untuk sekolah kita dan gue akan buat lo mampu dan pantes berjejer bareng yang lain! Gue yakin lo bisa, Zee! monolog Bias.
...________________________________________...
🥀Happy reading😘
🥀Thanks for full support, sayang kalian semua❤️❤️