"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: MELODI DI RUANG KEDAP SUARA
Lantai marmer yang dingin terasa sejuk di bawah telapak kaki telanjang Arunika. Pagi ini, ia tidak menunggu Sandra membukakan tirai. Ia sudah berdiri di dekat jendela, mengenakan gaun sutra tipis berwarna putih tulang yang memberikan kesan rapuh namun murni. Di cermin, ia berlatih mengatur raut wajahnya—menghilangkan kilatan kebencian, menggantinya dengan sorot mata yang sedikit sayu dan bingung, persis seperti seseorang yang baru saja pulih dari trauma mental.
"Topeng ini harus melekat dengan sempurna," bisiknya pada pantulan dirinya sendiri.
Pintu kamar terbuka. Adrian masuk dengan langkah tegap, aroma parfum sandalwood dan maskulin yang mahal segera memenuhi ruangan. Pria itu berhenti, menatap Arunika yang tampak tenang.
"Kau bangun lebih awal, Sayang. Bagaimana perasaanmu? Masih ada sisa-sisa mimpi buruk itu?" Adrian mendekat, tangannya melingkar di pinggang Arunika, menariknya ke dalam pelukan yang terasa seperti belitan ular yang protektif.
Arunika menyandarkan kepalanya di bahu Adrian, menghirup aroma tubuh suaminya dengan kepura-puraan yang luar biasa. "Sudah lebih baik, Adrian. Kau benar... mungkin aku hanya terlalu lelah. Mimpi itu terasa begitu nyata, tapi pagi ini semuanya terasa jauh lebih jernih."
Adrian mengelus rambut Arunika, sebuah gerakan yang tampak penuh kasih namun sebenarnya adalah cara untuk memeriksa apakah ada ketegangan di tubuh istrinya. "Bagus. Aku senang kau mulai bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya bunga tidur. Aku tidak suka melihatmu tersiksa oleh imajinasimu sendiri."
"Adrian..." Arunika mendongak, menatap mata gelap suaminya dengan binar yang memohon. "Aku bosan hanya di kamar. Bolehkah hari ini aku menghabiskan waktu di ruang musik? Aku merindukan suara piano. Mungkin melodi bisa membantuku melupakan sisa-sisa kegelisahan ini."
Adrian menyipitkan mata. Ruang musik terletak di Sektor Timur, dekat dengan perpustakaan tempat ia "menangkap" Arunika di dalam mimpinya (atau kenyataan yang diputarbalikkan). Namun, melihat wajah Arunika yang begitu pasif dan tunduk, egonya merasa menang. Pria itu percaya bahwa gaslighting yang ia lakukan semalam telah berhasil mematahkan semangat perlawanan Arunika.
"Tentu saja. Musik sangat baik untuk terapi saraf," ujar Adrian sambil mengecup kening Arunika. "Tapi Sandra akan menemanimu di sana. Aku tidak ingin kau pingsan lagi sendirian."
Arunika tersenyum manis. "Terima kasih, Adrian. Kau sangat pengertian."
Ruang musik itu adalah sebuah mahakarya estetika yang dingin. Dindingnya dilapisi busa kedap suara yang ditutupi oleh kain beludru merah darah. Di tengah ruangan, sebuah Grand Piano hitam mengkilap berdiri angkuh. Namun, mata Arunika tidak tertuju pada instrumen mahal itu. Matanya menyapu dinding, mencari lukisan yang disebutkan dalam pesan Elena.
Ada sebuah lukisan minyak berukuran raksasa di sana—pemandangan hutan yang kelam di bawah sinar bulan purnama. Bingkainya terbuat dari emas murni yang berat.
Sandra berdiri diam di dekat pintu, tangannya terlipat di depan tubuh, matanya menatap lurus ke depan seperti prajurit yang tidak punya jiwa.
"Sandra, bisakah kau ambilkan aku teh melati?" tanya Arunika sambil duduk di kursi piano. "Tenggorokanku terasa kering."
"Tuan meminta saya untuk tidak meninggalkan Anda, Nyonya," jawab Sandra tanpa ekspresi.
Arunika tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat ringan. "Aku hanya di ruangan ini, Sandra. Pintunya terkunci dari luar dengan sistem sidik jari Adrian, bukan? Aku tidak akan bisa lari ke mana-mana. Hanya lima menit. Aku sangat butuh teh hangat."
Sandra ragu sejenak. Ia melihat ke arah kamera CCTV di sudut ruangan. Ia tahu Adrian sedang mengawasi, namun permintaan teh adalah hal yang manusiawi. Akhirnya, Sandra mengangguk. "Baiklah, Nyonya. Saya akan segera kembali."
Begitu pintu tertutup dan suara kunci otomatis berbunyi, Arunika segera beraksi. Ia tidak punya banyak waktu. Ia mulai memainkan tuts piano dengan satu tangan, menciptakan melodi acak yang cukup keras untuk menutupi suara gesekan yang mungkin ia buat, sementara tangan lainnya meraba tepian lukisan raksasa itu.
Dia menyukai melati, tapi dia benci baunya di pagi hari... Keindahan hanyalah tirai bagi kebusukan.
Arunika menarik pinggiran bingkai lukisan itu. Sangat berat. Ia mengerahkan seluruh tenaganya sampai kuku-kukunya memutih. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah celah kecil di balik kanvas bagian bawah. Ada sebuah kompartemen tersembunyi yang tersamarkan dengan sangat rapi.
Di dalamnya, ia menemukan sebuah amplop cokelat tua yang sudah berdebu.
Dengan jantung yang berdebar kencang, ia membuka amplop itu. Isinya bukan surat, melainkan serangkaian foto polaroid yang mengerikan. Foto-foto itu menunjukkan luka-luka memar di tubuh seorang wanita—bahu yang membiru, pergelangan tangan yang lecet bekas ikatan, dan punggung yang penuh bekas cambukan halus. Di setiap foto, ada catatan tanggal dan jenis "kesalahan" yang dilakukan.
12 Maret: Elena menolak makan malam bersama kolega. Hukuman tingkat 2.
15 April: Elena mencoba menyuap pelayan. Isolasi total 72 jam.
Arunika menutup mulutnya agar tidak berteriak. Ini adalah bukti fisik. Ini bukan mimpi. Adrian adalah seorang sadis yang mencatat penyiksaan istrinya seperti sebuah eksperimen sains.
Namun, di lembar terakhir, ada sebuah kunci perak kecil dengan gantungan kunci berbentuk mawar yang sudah berkarat. Di kunci itu tertempel label kecil: "Loker Belakang - Paviliun Melati".
Paviliun Melati adalah bangunan kecil di taman belakang yang sudah lama dikunci dan dibiarkan terbengkalai. Adrian melarang siapa pun ke sana dengan alasan bangunan itu sudah tidak aman.
Tap. Tap. Tap.
Langkah kaki terdengar dari balik pintu. Arunika dengan cepat memasukkan kembali foto-foto itu ke dalam amplop, namun ia menyelipkan kunci perak itu ke dalam belahan gaunnya. Ia mendorong lukisan itu kembali ke posisi semula tepat saat pintu terbuka.
Sandra masuk membawa nampan teh. Ia menatap Arunika yang kini sedang memainkan melodi Nocturne karya Chopin dengan sangat khusyuk, seolah-olah ia tidak pernah beranjak dari kursi piano itu.
"Teh Anda, Nyonya," ucap Sandra.
Arunika berhenti bermain, menoleh, dan tersenyum. "Terima kasih, Sandra. Musik ini benar-benar membuatku merasa lebih tenang."
Ia menyesap tehnya, membiarkan uap panasnya menghangatkan wajahnya yang sebenarnya pucat pasi karena ngeri. Di bawah sentuhan kain gaunnya, kunci perak itu terasa seperti membakar kulitnya. Ia kini memiliki bukti bahwa Elena tidak hanya sekadar "pergi" atau "sakit", tapi Elena adalah penyintas dari neraka yang sama yang kini sedang Arunika tinggali.
Malam itu, saat makan malam, Adrian menatap Arunika dengan tatapan penuh kepuasan. "Kau tampak sangat bercahaya malam ini, Arunika. Musik benar-benar mengubahmu."
Arunika menyuapkan sepotong daging ke mulutnya, menatap Adrian dengan pandangan yang paling patuh yang bisa ia berikan. "Ya, Adrian. Aku baru menyadari... bahwa di rumah ini, tidak ada gunanya menyembunyikan apa pun darimu. Kau selalu tahu yang terbaik untukku."
Adrian tertawa, suara tawa yang penuh kemenangan. Ia tidak tahu bahwa di balik senyuman patuh itu, Arunika sedang menyusun rencana untuk mengunjungi Paviliun Melati. Ia menyadari bahwa ia sedang menjalani pengulangan sejarah, tapi kali ini, ia bersumpah akhir ceritanya tidak akan sama dengan Elena.
"Oh, satu lagi, Sayang," ujar Adrian sambil mengelap bibirnya dengan serbet. "Besok aku akan mengajakmu ke acara amal. Ini adalah debut pertamamu sebagai istriku di depan publik. Pakailah perhiasan yang kuberikan. Aku ingin dunia melihat betapa sempurnanya koleksi milikku."
Arunika mengangguk patuh. "Tentu, Adrian. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Dalam hati, Arunika berbisik: Ya, dunia akan melihat. Tapi mereka tidak akan melihat apa yang kau inginkan.