Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Anehnya aroma dari arah itu… justru terasa menenangkan perutnya sedang bergejolak. Tidak tajam dan tidak membuat perutnya merasa mual. Sebaliknya perutnya yang kosong terasa seperti ditarik ingin menyantap bubur tersebut.
Seolah Kay hanya menginginkan bubur itu. Bukan roti mahal. Bukan telur truffle, tapi hanya bubur sederhana dan acar segar tanpa perlu tambahan apapun. Ia bisa memerintahkan pelayan untuk menghidangkan bubur yang sama, tetapi ia hanya menginginkan bubur di tangan Axlyn.
Tatapannya mengeras, seolah sedang mengambil keputusan penting dalam rapat bisnis bernilai miliaran. Axlyn yang awalnya langsung menghindari tatapan Kay, kini ia malah merasakan tatapan itu hingga tanpa sadar mengangkat wajahnya. Dimana mata mereka langsung bertemu secara langsung.
Ada sesuatu yang ganjil dalam sorot mata yang Kay perlihatkan. Baik Noah, Spencer maupun yang lainnya menyadari akan hal itu. Namun, sebelum siapa pun bisa menebak apa yang akan terjadi… Kay mulai berjalan menghampirinya. Langkahnya panjang, cepat, langsung menuju meja pengawal.
Seluruh ruangan membeku, menunggu apa yang akan Kay lakukan. Dimana Kay terus berjalan menuju meja Axlyn dan rekannya berada tanpa memperdulikan tatapan orang lain yang ditunjukkan kepadanya saat itu.
“Noah, apalagi yang dia akan lakukan sekarang?” bisik Spencer penasaran.
Noah tidak langsung menjawab, sebab ia juga tidak tahu apa yang sedang Kay pikirkan saat itu. Ia hanya bisa menatap dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya benar-benar kehilangan kendali situasi akibat morning sickness nya.
Kay berhenti tepat di depan meja itu. Ia menatap mangkuk bubur yang berada tepat di hadapan Axlyn, bahkan bubur itu sudah beberapa suap wanita itu makan. Lalu tanpa berkata apa pun, tangannya terulur. Dan dalam satu gerakan tegas, Kay mengangkat mangkuk itu dari depan Axlyn.
Semua orang jelas terpaku melihat apa yang Kay lakukan. Rekan pengawal Axlyn yang berada di sampingnya bahkan hampir tersedak. Begitu juga Noah yang langsung menyemburkan minuman yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, sedangkan Spencer dan Hezlyn serta semua orang di sana menatap kejadian itu dengan mulut terbuka.
“T-Tuan…?” Axlyn bersuara lirih. “Itu… bubur milikku. Aku bahkan sudah memakannya tadi.”
Namun Kay sudah duduk di kursi kosong tepat di sebelah Axlyn tanpa izin dengan sendok yang sudah berada di tangannya. Ia meniup perlahan uap bubur itu seolah itu memang miliknya sejak awal. “Mulai sekarang bubur ini menjadi milikku. Kau makan saja, makanan yang ada di sana.”
Kay menunjuk pada berbagai hidangan yang berada di meja makan utama. Lalu suapan pertama masuk ke mulutnya. Suasana hening seketika, semua orang menunggu ekspresi Kay.
Namun, beberapa detik berlalu dan untuk pertama kalinya pagi itu, morning sickness yang Kay alami setiap pagi mereda. Mual yang tadi menggulung ganas perlahan surut. Kay menghembuskan napas panjang, seolah baru saja memenangkan pertempuran besar. Kay tampak senang dan menikmati bubur itu, karena akhirnya bisa menikmati sarapannya tanpa merasa mual ataupun pusing.
“… bubur ini,” kata Kay pendek, masih memegang sendok, “lebih baik dari makanan di sana.”
Semua orang saling pandang. Noah menatap langit-langit, seakan mempertanyakan logika dunia. Sementara itu, Axlyn membeku di tempatnya menatap buburnya yang kini hampir di santap habis oleh Kay. Lain halnya dengan Spencer yang merasa dugaannya semakin kuat.
Brakk….
Bahkan tanpa sadar Spencer menggebrak meja seraya berseru dalam hati, “Fiks, dugaanku sepertinya tidak meleset kali ini. Axlyn adalah wanita itu… wanita yang sedang Kay dan keluarga Xavier cari. Dan aku yakin, dia pasti sedang mengandung anak milik Kay saat ini."
“Sial, kau mengejutkanku! Kenapa kau tiba-tiba memukul meja, Hah?” sentak Noah tanpa sengaja mengumpat. “Cukup dia saja yang bertingkah aneh, karena calon istrinya sedang hamil. Kau jangan ikut-ikutan bisa tidak.”
Perkataan itu terdengar sampai di telinga Axlyn. Dimana lagi-lagi wanita itu menyimpulkan sendiri apa yang Noah katakan. Tadinya Axlyn pikir morning sickness yang Kay alam karena efek kehamilannya, rupanya memang sudah ada wanita lain di sisi Kay selama ini. Tidak hanya anak berusia lima tahun yang kini sedang ia lindungi, tetapi ada anak kedua yang tengah menanti untuk lahir.
Axlyn memandang bubur yang sejak beberapa minggu terakhir selalu ia pilih karena perutnya sendiri tidak bisa menerima makanan berat. Jahe untuk meredakan mual yang kadang ia rasakan.
Acar segar untuk menahan rasa asam di tenggorokan. Menu yang… identik dengan morning sickness.
Jantung Axlyn berdetak tak teratur, “Jadi, semua ini karena istrinya sedang mengandung sama sepertiku. Memang apa yang bisa aku harapkan.”
Axlyn menatap pria di sampingnya yang kini dengan tenang menghabiskan buburnya, tanpa menyadari ironi yang begitu jelas dalam raut wajahnya. Perasaan kecewa yang tak dapat Axlyn ungkapkan begitu saja. Ia hanya mengelus pelan perutnya, berharap anaknya akan mengerti jika terlahir tanpa sosok seorang ayah.
Berbeda dengan apa yang para pelayan dan pengawal lain pikirkan. Seorang pria. Mengalami mual pagi hari. Menginginkan makanan yang sama dengan wanita yang sedang mengandung anaknya. Hanya menebaknya pun mereka bisa tahu jawabannya.
Salah satu pengawal berbisik pelan, “Kenapa Tuan Kay terlihat seperti….”
“Diam,” potong yang lain cepat. “Simpan saja semua pemikiranmu saat ini di kepalamu saja.”
Karena tak seorang pun berani menyelesaikan kalimat itu. Kay akhirnya meletakkan sendoknya. Mangkuknya kini sudah kosong, bersih tanpa tersisa sedikitpun. Ia kemudian berdiri, kembali pada wibawanya seolah tak ada yang aneh terjadi.
“Pelayan!”
“Y-ya, Tuan?”
“Mulai sekarang, siapkan bubur seperti itu untukku setiap pagi.”
Kay berbalik pergi tanpa menyadari tatapan tak percaya dari seluruh ruangan. Kay kembali duduk di kursinya di meja makan utama. Tanpa menyadari bahwa wanita yang makanannya baru saja ia rebut kini memegang ujung meja erat-erat, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya.
Karena entah kebetulan atau takdir yang terlalu kejam untuk kembali mempermainkan hatinya. Gejala itu. Keinginan itu. Mual yang sama. Semua terasa seperti benang halus yang berusaha kembali menghubungkan mereka. Benang yang perlahan menegang, menunggu saatnya untuk terungkap.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌