Ye Xuan, pria berusia 35 tahun yang terjebak dalam kehidupan monoton dan menyedihkan sebagai pekerja minimarket, tewas mengenaskan akibat tabrak lari di tengah malam yang sedang hujan lebat. Di detik-detik terakhir hidupnya yang dipenuhi penyesalan atas takdir yang selalu menginjak-injaknya, ia memohon sebuah kehidupan yang tenang.
Namun, kesadarannya justru ditarik ke dalam Ruang Gacha raksasa yang membekukan waktu, memberinya satu tiket emas sebagai kompensasi anomali takdir, lalu melemparnya kembali ke masa SMA.
Kini, dibekali warisan Tabib Dewa kuno dan sebuah sistem Gacha, pria paruh baya di dalam tubuh remaja ini harus merancang ulang jalan hidupnya, siap memotong siapa saja yang berani menghalangi tujuannya di dunia kultivasi modern wuxia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Harga Dari Sebuah Kesombongan 3
Bugh!!!
Suara hantaman daging yang sangat pekat bergema.
Seketika, seluruh momentum preman berbadan gempal itu berhenti. Matanya melotot hingga hampir keluar dari rongganya. Mulutnya terbuka lebar namun tidak ada satu pun suara yang keluar. Aliran darah ke jantungnya seolah diblokir secara paksa oleh tekanan pukulan Ye Xuan.
Bruk!
Preman itu ambruk ke tanah seperti karung beras basah. Tubuhnya kejang-kejang hebat, mulutnya memuntahkan busa putih bercampur sedikit darah. Dia lumpuh total hanya dengan satu serangan telak.
Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti area pabrik terbengkalai itu.
Sisa cerutu di mulut Kak Long hampir terjatuh. Preman-preman lainnya mematung, menatap teman mereka yang terkapar tak berdaya dengan ngeri. Anak SMA macam apa yang bisa melumpuhkan pria seberat delapan puluh kilogram hanya dengan satu pukulan pendek?!
Ye Xuan menurunkan tangan kanannya secara perlahan. Dia memutar lehernya hingga berbunyi gemeretak kecil, lalu menatap sembilan preman yang tersisa dengan mata hitamnya yang memancarkan aura membunuh seorang predator puncak.
"Kalian merusak waktu makan malamku," ucap Ye Xuan dengan suara rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya. "Maju saja kalian semua. Mari kita selesaikan ini dalam satu menit."
"B-Bajingan! Dia hanya beruntung! Serang dia bersama-sama! Cincang dia!" raung Kak Long yang akhirnya sadar dari keterkejutannya, merasa otoritasnya ditantang.
Sraatt!
Sembilan preman itu mengamuk. Mereka menerjang ke arah Ye Xuan secara bersamaan dari berbagai arah, mengayunkan parang dan pipa besi secara membabi buta.
Di sinilah tarian maut dimulai.
Ye Xuan tidak menggunakan jarum peraknya. Dia menggunakan Seni Pukulan Pemutus Meridian sepenuhnya. Pertarungan jarak dekat ini berlangsung sangat brutal dan taktis. Tidak ada tendangan terbang yang indah atau jurus mencolok. Setiap gerakan Ye Xuan murni didasarkan pada efisiensi anatomis.
Seorang preman menebaskan parangnya secara horizontal. Ye Xuan menunduk dengan kecepatan kilat, menyusup ke area pertahanan musuh (blind spot), lalu menghantamkan siku kirinya dengan sangat keras ke arah rahang bawah preman itu, menghantam titik saraf Jiache.
Krakk!
Rahang preman itu bergeser dari tempatnya. Dia terpelanting ke udara dan jatuh pingsan seketika sebelum tubuhnya menyentuh tanah.
Di saat yang bersamaan, preman lain mengayunkan rantai besi dari arah belakang Ye Xuan.
Mendengar desingan angin, Ye Xuan berputar menggunakan tumitnya. Tangan kanannya menangkap rantai besi itu di udara dengan cengkeraman sekuat baja, menariknya dengan sentakan kuat hingga tubuh preman itu tertarik maju kehilangan keseimbangan. Menyambut tubuh yang terhuyung itu, Ye Xuan mendaratkan serangan telapak tangan ke ulu hati musuhnya, tepat di titik Jiuwei.
Bugh!
Udara di paru-paru preman itu terkuras habis. Dia jatuh berlutut, memegang dadanya sambil terbatuk darah, tidak bisa bernapas sama sekali.
Bam! Krak! Bugh!
Suara tulang yang patah, persendian yang digeser paksa, dan rintihan kesakitan bergema susul-menyusul. Ye Xuan bergerak meliuk-liuk di antara kepungan senjata tajam layaknya bayangan. Setiap kali tangannya atau kakinya menyentuh tubuh musuh, satu orang pasti akan tumbang dengan saraf yang hancur sementara atau rasa sakit yang mematikan organ gerak mereka. Ini adalah pembantaian sepihak. Seni bela diri tingkat bumi dipadukan dengan pengetahuan medis adalah mimpi buruk bagi petarung jalanan.
Kurang dari empat puluh detik kemudian.
Area pabrik itu dipenuhi oleh erangan kesakitan. Sembilan preman terkapar di tanah dalam posisi tubuh yang tidak wajar. Ada yang lengannya menekuk ke belakang, ada yang kedua kakinya mati rasa, dan ada yang terus memuntahkan cairan lambung. Tidak ada yang mati, namun tubuh mereka rusak parah.
Hanya tersisa satu orang yang masih berdiri. Kak Long.
Pria besar itu berdiri gemetar, parang di tangannya terlepas dan jatuh berdenting ke tanah berdebu. Wajahnya yang garang kini dipenuhi keringat dingin dan teror absolut. Pakaian kemejanya basah oleh keringat ketakutan.
Ye Xuan berdiri di depannya. Pakaian kasual Ye Xuan bahkan tidak berkerut sama sekali. Napasnya masih setenang air. Tidak ada setetes darah pun yang menempel padanya.
"Kau... monster apa kau sebenarnya..." suara Kak Long bergetar hebat. Kakinya lemas, membuatnya jatuh terduduk di atas tanah. "Tolong... tolong ampuni aku! Ini semua perintah Tuan Muda Zhao! Aku hanya seorang pesuruh!"
Ye Xuan berjalan perlahan mendekati Kak Long. Setiap langkahnya terdengar seperti ketukan palu kematian di telinga preman besar itu.
"Aku tahu," jawab Ye Xuan dengan datar. "Tapi kau yang menerima uangnya, bukan?"
Ye Xuan mengangkat kaki kanannya, bersiap untuk menginjak dan menghancurkan tempurung lutut Kak Long sebagai peringatan.
Namun, tepat sebelum sepatunya mendarat...
Wushhhh!
Hawa membunuh yang sangat pekat, berkali-kali lipat lebih kuat dari gabungan sepuluh preman ini, tiba-tiba melesat dari atas atap pabrik terbengkalai.
Insting Ye Xuan berteriak memperingatkannya. Bulu kuduknya berdiri seketika.
Tanpa berpikir dua kali, Ye Xuan membatalkan tendangannya, menarik tubuhnya ke belakang, dan melompat mundur sejauh tiga meter.
BUMMMM!!!!
Tepat di posisi Ye Xuan berdiri sedetik yang lalu, sesosok pria berbadan besar jatuh menghantam tanah dari ketinggian. Hantaman kakinya memecahkan lantai beton di bawahnya, menciptakan kawah kecil yang menerbangkan debu dan kerikil ke segala arah.
Angin kencang yang dihasilkan dari hantaman itu memaksa Ye Xuan menyilangkan tangannya di depan wajah.
Ketika debu perlahan menipis, terlihatlah sosok Kuang, ahli bela diri tingkat menengah dari Keluarga Ji. Pria botak dengan otot menonjol itu berdiri tegap, memancarkan energi Qi berwarna merah redup yang menyelimuti kepalan tangannya. Matanya yang liar dan buas menatap tajam ke arah Ye Xuan.
"Hahaha! Insting yang sangat tajam untuk seorang bocah SMA," tawa Kuang menggelegar, tidak memedulikan Kak Long yang pingsan ketakutan di dekat kakinya. Kuang menjilat bibirnya yang kering, menatap Ye Xuan seolah sedang menatap mangsa yang lezat.
"Kudengar kau menyukai pertarungan jarak dekat, Bocah? Menghancurkan preman jalanan ini bukan apa-apa. Biarkan Paman Kuang mengajarimu bagaimana rasanya tulang rusukmu dihancurkan satu per satu!"
Mata Ye Xuan menyipit tajam. Tubuhnya secara refleks mengambil kuda-kuda bertarung dari Seni Pemutus Meridian. Otot-ototnya menegang dalam mode waspada penuh. Pria di depannya ini bukan sampah jalanan, melainkan kultivator sejati yang hidup dari membunuh.
"Hahhhhh..." Ye Xuan menghela napas pelan, senyum dinginnya perlahan mengembang. Darahnya, untuk pertama kalinya sejak dia kembali ke masa lalu, mendidih karena antisipasi.
"Keluarga Ji akhirnya mengirim anjing yang bisa menggigit. Baiklah. Mari kita lihat sekeras apa tulangmu."