NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUNCI EMAS DI BALIK LABIRIN FINANSIAL

Fajar di Singapura pecah dengan warna emas yang pucat, memantul di atas gedung-gedung kaca yang menjulang di distrik finansial Raffles Place. Kota ini sudah terbangun bahkan sebelum matahari benar-benar menampakkan dirinya. Di lantai 15 rumah sakit, suasananya masih mencekam, namun rencana telah berubah. Vivien tidak memiliki waktu untuk berduka atau merenungi nasib ibunya yang masih koma; ia kini memikul tanggung jawab yang lebih berat.

Maximilian berdiri di depan jendela besar, menatap tajam ke arah gedung Bank of Singapore yang terlihat dari kejauhan. Luka di perutnya berdenyut setiap kali ia bernapas dalam, namun ia mengabaikannya. Di tangannya, ia memegang kartu nama tua milik Aksara yang ditemukan dari penyusup semalam.

"Kau siap, Vivien?" tanya Maximilian tanpa berbalik. Suaranya serak, tanda bahwa ia tidak tidur sedetik pun.

Vivien muncul dari kamar ibunya. Ia telah mengganti pakaiannya dengan setelan blazer hitam yang kaku dan formal—pakaian perang bagi seorang wanita di dunia korporasi. Rambutnya diikat rapi, menonjolkan wajahnya yang tirus namun memiliki tatapan mata yang penuh api. "Jika benar kunci terakhir ada di sana, aku akan membukanya. Bukan untukmu, Max. Bukan juga untuk harta. Tapi agar Ibu bisa hidup dengan tenang tanpa diburu lagi."

Maximilian berbalik, menatap istrinya dengan rasa kagum yang ia sembunyikan dengan baik. "Bagus. Karena begitu kita melangkah masuk ke bank itu, kita tidak hanya masuk ke gedung baja. Kita masuk ke dalam mulut singa. The Obsidian Circle pasti sudah menempatkan orang-orang mereka di sana."

Tepat pukul 09.00 pagi, iring-iringan tiga mobil SUV hitam berhenti di depan lobi megah Bank of Singapore. Kawasan itu dijaga oleh sistem keamanan tingkat tinggi, namun kehadiran Maximilian Alfarezel dan Vivien Aksara tetap menarik perhatian. Mereka tidak datang sebagai pelarian, melainkan sebagai pasangan paling berpengaruh di Asia Tenggara yang baru saja mengguncang berita internasional.

Gideon dan Bara memimpin di depan, mata mereka terus memindai kerumunan orang yang berlalu-lalang dengan koper dan kopi di tangan. Di dunia intelijen, ancaman terbesar sering kali datang dari orang yang paling tidak mencolok.

"Ingat, Vivien," bisik Maximilian saat mereka melangkah masuk ke dalam lobi yang lantainya terbuat dari marmer putih Italia. "Bank ini adalah zona netral secara hukum, tapi secara operasional, mereka akan mencoba menghambat kita jika ada instruksi dari 'atas'. Tetaplah tenang."

Mereka disambut oleh seorang manajer senior bernama Mr. Chen, pria paruh baya dengan kacamata tanpa bingkai yang tampak sangat teliti. "Tuan Alfarezel, Nyonya Aksara. Sebuah kehormatan. Kami sudah menerima permintaan akses untuk Safe Deposit Box atas nama Nyonya Aksara."

"Kami ingin aksesnya sekarang," ucap Vivien tegas.

Mr. Chen berdehem, tampak ragu sejenak. "Secara prosedural, karena pemegang akun utama sedang tidak sadar, kami membutuhkan surat kuasa medis yang sah dan... verifikasi biometrik dari ahli waris langsung. Namun, sistem kami baru saja menerima 'peringatan keamanan' dari pihak regulator."

Maximilian melangkah maju, memperpendek jarak dengan Mr. Chen hingga pria itu sedikit mundur. "Regulator atau seseorang yang membayar regulator? Jangan bermain kata dengan saya, Chen. Saya memiliki dokumen hukum dari Project Crimson yang bisa membekukan seluruh operasional bank ini jika Anda terbukti menghalangi akses ahli waris yang sah."

Wajah Mr. Chen memucat. Ia menyadari bahwa menghadapi Maximilian Alfarezel dalam kondisi terluka jauh lebih berbahaya daripada saat pria itu sedang sehat. "Tentu, Tuan. Silakan ikuti saya ke ruang brankas bawah tanah."

Mereka menuruni lift khusus yang membutuhkan pemindaian kartu akses ganda. Udara di dalam lift terasa lebih dingin, berbau logam dan kertas lama. Lift itu berhenti di lantai dasar paling bawah, jauh di bawah permukaan jalanan Singapura yang sibuk. Di sini, kesunyian terasa begitu padat hingga detak jantung Vivien terdengar seperti drum di telinganya.

Pintu lift terbuka mengungkap sebuah koridor panjang dengan pencahayaan redup. Di ujung koridor terdapat sebuah pintu baja raksasa setebal satu meter yang hanya bisa dibuka dengan koordinasi tiga kunci berbeda.

"Tempat ini dirancang untuk menahan ledakan nuklir," gumam Bara yang berjalan di belakang mereka, tangannya tetap siaga di balik jas.

Begitu pintu raksasa itu terbuka dengan suara desisan hidrolik yang berat, Vivien merasa seolah masuk ke dalam katedral logam. Ribuan kotak kecil berjajar di dinding, menyimpan rahasia dari ribuan keluarga terkaya di dunia. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kecil dengan lampu sorot tunggal.

"Kotak nomor 8809," ucap Mr. Chen sambil menunjuk ke sebuah sudut yang tersembunyi.

Vivien melangkah menuju kotak itu. Tangannya gemetar saat ia meraba permukaan logam yang dingin. Maximilian berdiri tepat di belakangnya, kehadirannya memberikan kekuatan yang aneh bagi Vivien.

"Verifikasi biometrik, Nyonya," instruksi Mr. Chen.

Vivien menempelkan ibu jarinya pada sensor pemindai. Cahaya hijau menyapu sidik jarinya. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ke arah lensa pemindai retina. Sebuah suara mekanis terdengar dari dalam mesin.

“Verification Successful. Access Granted.”

Mr. Chen memasukkan kunci fisik kedua, dan Vivien memasukkan kunci perak kecil yang ia temukan di bunker Jakarta. Dengan suara 'klik' yang memuaskan, pintu kecil kotak itu terbuka.

Di dalam kotak itu tidak ada tumpukan uang tunai atau emas batangan. Hanya ada satu hal: sebuah hardware wallet (perangkat penyimpanan kripto) berwarna hitam dan sebuah surat yang ditulis tangan di atas kertas yang sudah menguning.

Vivien mengambil surat itu dengan napas tertahan. Ia mengenali tulisan tangan ibunya yang rapi, namun ada coretan kasar dari ayahnya, Aksara, di bagian bawahnya.

"Vivien, jika kau membaca ini, artinya dunia yang kami bangun telah runtuh. Jangan cari kami di masa lalu, carilah masa depanmu di dalam kunci ini. Kripto ini berisi kode akses ke 'The Heart of Crimson'—sebuah basis data yang tidak bisa dihapus oleh siapa pun. Ini adalah asuransi nyawamu."

Di bawah pesan itu, ayahnya menulis satu baris yang membuat Vivien membeku:

"Maximilian adalah kuncinya. Tanpa dia, data ini hanyalah sampah digital. Percayalah padanya seperti aku percaya pada Alaric."

Vivien memberikan surat itu kepada Maximilian. Saat membacanya, Maximilian tertegun. Matanya membelalak, dan ia menyandarkan tubuhnya ke dinding brankas, napasnya memburu.

"Max? Apa maksudnya kau adalah kuncinya?" tanya Vivien bingung.

Maximilian menatap hardware wallet itu, lalu menatap tangannya sendiri. Ia membuka kancing lengan kemejanya, memperlihatkan sebuah bekas luka kecil di pergelangan tangan bagian dalam yang berbentuk seperti titik-titik yang tidak beraturan—sebuah tato mikroskopis yang ia dapatkan saat masih kecil, yang selalu ia kira adalah tanda lahir atau bekas luka biasa.

"Ayahku... dia menyuntikkan chip biometrik pasif di bawah kulitku saat aku masih berusia lima tahun," bisik Maximilian, suaranya dipenuhi rasa tidak percaya. "Dia selalu bilang itu adalah 'pelindung'. Ternyata... itu adalah kunci privat untuk membuka data ini."

Tiba-tiba, suara alarm gedung berbunyi dengan keras. Lampu merah di ruang brankas berputar-putar, menciptakan bayangan yang mengerikan di dinding logam.

"Tuan! Kita harus pergi! Sistem keamanan bank telah diambil alih dari luar!" teriak Gideon melalui interkom.

Mr. Chen panik. "Ini tidak mungkin! Protokol penguncian otomatis sedang berjalan! Kita akan terjebak di sini!"

"Bara, ledakkan pintu lift!" perintah Maximilian. Ia menyambar hardware wallet itu dan menarik Vivien ke dalam pelukannya. "Mereka tahu kita sudah membukanya. Mereka akan mengubur kita hidup-hidup di brankas ini jika kita tidak bergerak sekarang!"

Ledakan kecil dari Bara berhasil merusak sensor pintu lift, memungkinkan mereka merangkak keluar tepat sebelum lift itu terkunci secara permanen. Mereka berlari kembali menembus koridor bawah tanah, sementara suara langkah kaki taktis terdengar dari arah tangga darurat.

"Mereka bukan polisi Singapura! Mereka adalah tentara bayaran Obsidian!" seru Bara sambil melepaskan tembakan ke arah dua pria berpakaian hitam yang muncul di ujung lorong.

Pertempuran pecah di ruang bawah tanah bank yang megah itu. Suara tembakan bergema di dinding beton, menciptakan suara yang memekakkan telinga. Maximilian, meskipun menahan rasa sakit di perutnya, menarik sebuah senjata cadangan dari pergelangan kakinya dan mulai menembak dengan akurasi yang mematikan.

"Vivien, tetap di belakangku!" bentak Maximilian.

Mereka mencapai area parkir bawah tanah, di mana SUV mereka sudah menunggu dengan mesin yang menderu. Namun, jalan keluar sudah diblokir oleh dua truk pengangkut uang yang sengaja dipasang melintang.

"Terjang saja, Gideon!" perintah Maximilian saat mereka melompat ke dalam mobil.

Mobil SUV hitam itu menghantam celah di antara truk dengan kekuatan penuh. Kaca-kaca pecah, dan bodi mobil yang antipeluru mengeluarkan percikan api saat bergesekan dengan baja. Mereka berhasil keluar ke jalanan Orchard Road yang sibuk, memicu kepanikan di antara para turis dan pejalan kaki.

"Ke mana kita, Tuan?" tanya Gideon sambil melakukan manuver gila di antara bus-bus tingkat Singapura.

"Ke pelabuhan Jurong. Kita butuh jalan keluar yang tidak terpantau radar," jawab Maximilian. Ia kemudian menoleh ke Vivien yang masih menggenggam erat surat ayahnya. "Data di tanganmu ini adalah akhir dari mereka, Vivien. Tapi itu juga berarti kita tidak akan pernah aman sampai setiap anggota Obsidian Circle hancur."

Vivien menatap hardware wallet hitam itu, lalu menatap Maximilian. Ia menyadari bahwa takdir mereka bukan hanya terikat oleh masa lalu, tapi disatukan oleh sebuah desain besar yang dibuat oleh kedua ayah mereka sejak mereka masih anak-anak.

"Max," ucap Vivien di tengah deru mobil yang dikejar. "Kenapa Ayah bilang dia percaya padamu?"

Maximilian menatap ke arah depan, ke arah pelabuhan yang mulai terlihat di cakrawala. "Mungkin karena dia tahu, hanya pria yang cukup gila untuk mencintaimu dalam dendam yang bisa melindungimu dari dunia yang kejam ini."

Di atas kepala mereka, helikopter polisi Singapura mulai terlihat, namun di belakang mereka, tiga mobil hitam tanpa plat nomor terus mengejar tanpa ampun. Permainan di Singapura baru saja mencapai titik didihnya, dan kunci emas yang mereka bawa akan membuka pintu menuju perang terbuka yang sesungguhnya.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!