Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan yang Elegant
Laras berdiri mematung di balik pilar beton hotel berbintang itu. Tangannya yang menggenggam ponsel terasa sedingin es, namun matanya menyala, merekam setiap detik pengkhianatan yang tersaji di depan mata. Di sana, Arga pria yang telah berbagi ranjang dengannya selama empat tahun tengah merangkul mesra seorang wanita dengan tawa yang tak pernah ia tunjukkan lagi di rumah. Angel. Wanita itu tampak begitu percaya diri, menggelayut manja di lengan Arga seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Laras menarik napas panjang, membiarkan oksigen yang sesak memenuhi paru-parunya. Jarinya menekan tombol berhenti pada rekaman video. Cukup. Ia punya semua yang ia butuhkan, bukti visual, waktu dan lokasi.
"Jangan sekarang, Laras. Jangan hancurkan dirimu dengan amukan murahan." batinnya memperingatkan.
Ia berbalik, melangkah pergi dengan punggung tegak meskipun hatinya remuk redam. Di dalam mobil, pertahanannya runtuh sesaat. Isak tangis yang tertahan pecah begitu saja.
"Empat tahun, Mas... Empat tahun aku mengabdi, mengalah pada ibumu, bersabar pada adikmu, bahkan membiarkanmu mengaku-ngaku rumah pemberian ayahku sebagai hasil kerja kerasmu. Tapi ini balasanmu?" Laras mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih.
Ingatan tentang tanda merah di dada Arga beberapa hari lalu kembali melintas. Saat itu, Arga berdalih itu hanya alergi. Bodohnya, Laras memilih percaya. Namun sekarang, kabut itu sirna. Laras menghapus air matanya dengan kasar. Pria sampah seperti Arga tidak layak mendapatkan tangisan lebih lama lagi. Jika Arga ingin bermain sandiwara sebagai pria sukses yang dermawan, maka Laras akan menjadi sutradara yang akan menutup panggungnya dengan kehancuran paling memalukan.
Di atas sana, di salah satu kamar suite, atmosfer pengap oleh aroma parfum murah dan keringat. Arga menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, sementara Angel melingkarkan lengan di lehernya.
"Mas... jujur ya, punyaku sama istrimu, lebih memuaskan mana?" Angel bertanya dengan nada provokatif, jarinya menelusuri rahang Arga.
Arga mendengus remeh. "Jangan bandingkan dirimu dengan dia, Sayang. Laras itu hambar. Membosankan. Sudah sebulan ini aku bahkan tidak bernafsu menyentuhnya. Aku hanya menginginkanmu."
Angel tersenyum penuh kemenangan. "Kalau begitu, tunggu apa lagi? Aku tidak mau hanya jadi selingkuhan. Aku mau status, Mas. Aku mau jadi satu-satunya Nyonya Arga."
Arga terdiam. Ada bimbang yang menyelinap. Meski ia menganggap Laras membosankan, Laras adalah sosok yang mengurus segala kebutuhannya tanpa keluh. Namun, ambisi Arga jauh lebih besar dari rasa syukur.
"Aku pasti menikahimu, Angel. Tapi orang tuamu... apa papamu akan merestui pria yang belum resmi cerai?"
Angel memutar otak, menyusun kebohongan yang telah ia siapkan sejak lama. "Papa itu keras, Mas. Dia sangat menjunjung kemandirian. Tapi semalam lewat telepon, aku sudah memberi sinyal. Papa bilang, jika aku menikah dengan pria yang tepat, aku harus ikut suami dulu selama setahun. Setelah itu, sebagai ujian kesetiaan, seluruh kerajaan bisnis ekspor-impor kopi dan ratusan hektar perkebunan di pelosok akan diserahkan penuh kepadaku. Kita akan menjadi ahli waris tunggal."
Mata Arga berbinar seketika. Bayangan tentang tumpukan uang dan kekuasaan menari-nari di kepalanya. Selama ini ia merasa bangga bisa memamerkan rumah Laras sebagai miliknya, namun membayangkan memiliki perkebunan kopi ratusan hektar? Itu adalah level yang berbeda.
"Saty tahun? Itu waktu yang singkat untuk kekayaan sebesar itu." bisik Arga penuh nafsu. "Baiklah, aku akan segera mengurus perceraian dengan Laras. Aku tidak akan membiarkan harta itu jatuh ke tangan orang lain."
Angel tersenyum manis, menyembunyikan rasa gugupnya. Ia sebenarnya hanyalah wanita yang terhimpit hutang, berharap Arga adalah "pangeran kaya" yang bisa menyelamatkannya. Mereka berdua adalah dua penipu yang saling memangsa dalam ketidaktahuan.
**
Sore harinya, Laras tiba di kediaman orang tuanya. Rumah bergaya kolonial yang asri itu selalu menjadi tempat persembunyian terbaik. Ia disambut oleh Bu Sulis yang tengah menyiram bunga di halaman.
"Laras? Tumben datang tanpa telepon dulu, Nduk?" Bu Sulis mendekat, menyadari ada gurat kelelahan yang tak biasa di wajah putrinya.
"Laras rindu masakan Ibu." jawab Laras singkat, mencoba tetap tegar.
Pak Harun muncul dari pintu jati besar rumah mereka. "Baru saja Bapak mau mengajak Ibu ke rumahmu. Katanya sudah lama tidak mengobrol dengan besan, Bu Ajeng."
Jantung Laras berdegup kencang. Ia belum siap jika orang tuanya harus bertemu dengan mertuanya yang parasit di rumah itu.
"Duduk dulu, Pak, Bu. Ada yang perlu Laras luruskan." ajak Laras menuju ruang tamu yang sejuk.
Setelah secangkir teh hangat dihidangkan, Laras mulai bercerita. "Bu Ajeng dan Tiara sudah tinggal di rumah Laras selama dua minggu ini. Rumah mereka disita Bank Orange karena hutang yang menumpuk. Jadi, kalau Bapak dan Ibu mau menginap, sepertinya suasananya sedang tidak nyaman."
Pak Harun meletakkan cangkirnya dengan dahi berkerut. "Lalu kenapa kamu masih bertahan di sana? Rumah ini, rumah yang kamu tempati itu, semuanya milikmu, Laras. Itu hadiah ulang tahun dariku agar kamu hidup tenang, bukan untuk menampung parasit."
"Bapak benar," sahut Bu Sulis sedih. "Sejak awal Ibu sudah bilang, terimalah aset-aset itu secara terbuka. Kita punya perkebunan cengkeh dan kakao yang luas, swalayan kita sudah punya dua cabang besar. Kenapa kamu memilih hidup sederhana dan kerja kantoran seolah-olah kekurangan?"
Laras tersenyum getir. "Laras hanya ingin dicintai karena diri Laras sendiri, Bu. Bukan karena harta Bapak. Tapi ternyata, kebaikan Laras justru dimanfaatkan. Mas Arga mengaku pada ibunya bahwa rumah itu adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia malu jika harus mengakui bahwa istrinya jauh lebih kaya."
"Kurang ajar." Pak Harun menggebrak meja pelan. "Dia menjual harga dirimu demi kesombongannya?"
"Biarkan saja, Pak. Laras ingin tahu seberapa jauh mereka akan bertindak. Tapi untuk sekarang, Laras ingin menjauh dulu. Laras tidak mau mereka melihat Laras sedang terluka."
Bu Sulis mengelus bahu Laras. "Kalau begitu, besok ikutlah kami ke rumah Tantemu. Dia ada acara khitanan anaknya. Kebetulan lusa tanggal merah, kita bisa menginap di sana sampai Rabu pagi. Kamu butuh udara segar, Nduk."
Laras mengangguk. "Iya, Bu. Laras akan ikut. Biarkan Mas Arga menikmati kemenangannya di rumah itu sementara aku menyusun langkah untuk menendangnya keluar."
**
Di sisi lain kota, Arga dan Angel baru saja keluar dari mall dengan tangan penuh belanjaan. Arga merasa seperti raja, meski ia menggunakan kartu kredit yang tagihannya akan ia minta Laras bayar nanti dengan alasan "keperluan rumah tangga".
"Jadi, kapan aku bisa bertemu papamu sayang?" tanya Arga saat mereka menuju parkiran.
Angel sedikit tersentak. "Ah... itu, orang tuaku baru pulang dari luar kota besok. Nanti kalau sudah tenang, aku hubungi kamu lagi ya, Mas Sayang."
"Kenapa sepertinya sulit sekali bertemu calon mertua?" Arga mulai merasa ada yang aneh.
"Bukan sulit, Mas. Tapi Papa itu perfeksionis. Dia tidak suka orang yang terburu-buru. Oh iya, nanti kalau kita menikah, kita akan tinggal di mana? Di rumahmu yang besar itu?" tanya Angel, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Arga membusungkan dada. "Tentu saja. Rumah itu hasil kerja kerasku selama ini. Aku tidak akan membiarkan Laras mengambil satu senti pun darinya saat cerai nanti. Itu hakku."
Angel tersenyum lebar, membayangkan dirinya menjadi nyonya di rumah mewah tersebut. Ia tidak tahu bahwa rumah itu bukan milik Arga. Arga tidak tahu bahwa kebun kopi ratusan hektar itu tidak pernah ada. Dan keduanya tidak tahu, bahwa Laras, wanita yang mereka remehkan, sedang menyiapkan badai yang akan meratakan istana kebohongan mereka dalam sekejap.
Pembalasan yang elegan tidak membutuhkan teriakan. Cukup dengan menarik kembali semua fasilitas dan membiarkan mereka jatuh ke lubang kemiskinan yang sebenarnya.