NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:312.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Mendengar nada suara putrinya, Ustadz Yusuf langsung mengangguk dan mengajaknya berjalan ke teras musholla yang sepi. Mata ayah itu menunggu dengan penuh perhatian.

Kinara menarik napas sekali lagi sebelum akhirnya berkata,

“Abi, Kinara sudah melakukan shalat istikharah seperti yang Abi sarankan.” ucap Kinara yang membuat Ustadz Yusuf mengangguk pelan.

“Alhamdulillah. Dan apa jawabanmu, Nak?”

Suasana mendadak hening dalam sekejap. Hanya suara angin yang berbisik di antara mereka.

“Ada sesuatu yang Allah tunjukkan pada Kinara, abi.” ucap Kinara dengan lirih.

Air matanya hampir saja jatuh, tapi ia tahan. Ia ingin menyampaikan ini dengan keyakinan, bukan keraguan.

“Kinara bersedia menerima lamaran itu, Abi.”

Kalimat itu akhirnya keluar. Pelan namun berat. Menenangkan namun menghentak hatinya sendiri di saat yang sama. Ustadz Yusuf tertegun sejenak. Tatapan matanya membesar, tidak percaya bahwa keputusan itu benar-benar keluar dari bibir putrinya. Kemudian, pelan-pelan sebuah senyum merekah, senyum lega, bahagia, dan penuh rasa syukur.

Masih dengan matanya yang berkaca-kaca, tangan Ustadz Yusuf terangkat dan mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

“Masya Allah, Alhamdulillah Nak, Abi bangga sekali dengan keputusanmu ini.” Suara ustadz Yusuf bergetar.

Ia menarik Kinara ke dalam pelukannya yang hangat yang membuat semua beban di pundak perempuan berusia dua puluh satu tahun itu terasa sedikit lebih ringan.

“Terima kasih, Nak… terima kasih karena kau bersedia membuka hati untuk membantu seseorang yang sedang terluka. Abi yakin, Allah akan menjagamu dalam setiap langkah yang kau ambil.”

Kinara menelan rasa harunya yang naik ke tenggorokannya. Ia membalas pelukan itu dengan erat. Pelukan yang terasa seperti benteng terakhir sebelum ia memasuki hidup yang sama sekali baru.

“Abi doakan, semoga keputusanmu ini menjadi ladang pahala dan kebahagiaan dunia akhirat. Semoga engkau mampu membawa Farhan kembali kepada Allah dan kepada dirinya sendiri.” lanjut ustadz Yusuf yang suaranya berubah menjadi doa yang panjang dan sungguh-sungguh.

Mereka berdua diam cukup lama. Hanya saling meresapi rasa syukur dan harapan yang menggantung dalam keheningan pagi.

Setelah melepaskan pelukannya dari tubuh putrinya, Ustadz Yusuf segera berdiri dengan benar. Tanpa menunda sedikit pun, ia merogoh ponsel dari sakunya.

“Abi akan kabarkan kabar baik ini pada sahabat Abi .sekarang juga. Pak Ardhan pasti akan sangat senang mendengarnya.” ucap ustadz Yusuf sambil tersenyum penuh rasa lega.

Kinara mengangguk. Ia tahu percakapan itu akan mengubah segalanya. Ustadz Yusuf menyentuh layar teleponnya, mencari nama sahabat lamanya, lalu menekan tombol panggil. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya terdengar suara berat seorang pria di seberang sana yang terdengar lelah namun tetap ramah.

“Assalamu’alaikum, Yusuf. Ada kabar apa?” tanya Pak Ardhan.

Dan Ustadz Yusuf menjawab dengan nada suaranya yang penuh dengan kebahagiaan:

“Wa’alaikumussalam, Ardhan. Alhamdulillah, Kinara putriku telah menerima lamaranmu.”

Sejenak, tidak ada suara yang keluar dari mulut pak Ardhan yang membuat suasana terasa hening. Bahkan Ustadz Yusuf sempat berpikir kalau sambungan teleponnya terputus. Namun kemudian suara tarikan napas berat terdengar dari seberang telepon, diikuti suara yang bergetar, nyaris seperti isak tangis yang berusaha ditahan.

“Allahu Akbar, yang benar, Yusuf?” tanya pak Ardhan yang terdengar tidak percaya.

“Benar, Ardhan. Putriku bersedia menikah dengan Farhan.” jawab ustadz Yusuf lagi.

Dan setelah itu, perasaan yang ada dalam diri pak Ardhan tidak bisa dibendung lagi. Pak Ardhan menangis.

Tangis yang dipenuhi rasa syukur. Tangis seorang ayah yang selama dua tahun ini memendam pilu melihat putranya terluka parah dan tidak kunjung membaik. Tangis bahagia karena akhirnya ada harapan, secercah cahaya yang mungkin bisa menuntun putranya keluar dari kegelapan yang panjang.

“Yusuf, kau tidak tahu betapa aku bersyukur saat ini. Terima kasih, terima kasih. Semoga Allah membalas kebaikanmu dan keluargamu karena ini.” suara Pak Ardhan terdengar patah-patah.

“Sama-sama, sahabatku. Semoga ini menjadi langkah awal yang baik untuk Farhan.” jawab Ustadz Yusuf sambil mengusap dadanya sendiri karena merasa lega luar biasa.

Kinara yang duduk di samping ayahnya ikut mendengarkan. Ia menunduk. Hatinya dipenuhi rasa haru dan juga rasa tanggung jawab yang kian membesar. Setelah beberapa menit berbicara, ustadz Yusuf dan pak Ardhan pun mengakhiri panggilan teleponnya. Ustadz Yusuf menurunkan ponselnya lalu tersenyum hangat ke arah putrinya.

“Baiklah, mulai hari ini, kita akan mempersiapkan semuanya.”

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan dipenuhi kesibukan. Pembicaraan panjang antara dua keluarga dimulai. Pertemuan demi pertemuan dilakukan antara Ustadz Yusuf dan Pak Ardhan untuk mendiskusikan pernikahan Farhan dan Kinara yang akan datang.

Pak Ardhan, yang biasanya terlihat tegas dan kaku sebagai seorang pengusaha besar, kini lebih sering tampak tersenyum dan ringan dalam bertindak. Ia benar-benar tidak menyangka kalau putri ustadz Yusuf itu adalah perempuan yang ia lihat saat pertama kali datang ke pondok pesantren kala itu, yang mana hal itu membuat pak Ardhan menaruh harapan besar pada pernikahan ini. Baginya, ini bukan hanya sekadar menyatukan dua anak manusia, melainkan menyatukan dua takdir yang mungkin akan sama-sama saling melengkapi satu sama lain.

“Kita buat yang sederhana saja, sesuai dengan kondisi di sini.” ujar Ustadz Yusuf suatu ketika saat mereka membicarakan konsep pernikahan Farhan dan Kinara.

Pak Ardhan mengangguk, meskipun sebenarnya ia ingin memberikan pesta pernikahan yang terbaik dan megah untuk putranya. Tapi ia tahu kalau kesederhanaan memiliki keberkahannya tersendiri. Ia tidak ingin mengubah apa pun dari kehidupan Kinara yang suci dan sederhana ini.

Semua dipersiapkan dengan penuh kehati-hatian dan harapan. Persiapan undangan, makanan, hingga penetapan pondok pesantren Darul Qur'an Al Majid yang bakal dijadikan tempat diselenggarakannya pernikahan Farhan dan Kinara.

Bu Mariam pun tidak bisa menutupi rasa bangganya saat melihat anaknya yang begitu dewasa dalam menghadapi takdir yang besar ini. Setiap malam, doa demi doa terus mengalir. Untuk Farhan, untuk Kinara, untuk masa depan mereka yang masih tertutup kabut misteri.

Namun di balik semua kesibukan itu, ada satu kenyataan: Kinara belum pernah bertemu Farhan secara langsung. Satu-satunya gambaran yang ia punya hanyalah dari mimpi yang Allah tunjukkan kepadanya. Laki-laki dengan tatapan yang kosong dan penuh luka. Laki-laki yang sedang hilang arah dan mungkin menunggu untuk dibimbing ke jalan yang benar.

Terkadang, rasa takut menyelinap kembali ke hati Kinara. Rasa takut tentang berbagai kemungkinan yang terus berputar di dalam pikiran Kinara. Akankah ia mampu menyembuhkan luka hati Farhan yang sedalam itu? Ataukah ia hanya akan terluka karenanya?

Namun setiap kali ragu itu datang, Kinara kembali teringat bisikan yang terdengar jelas dalam mimpinya.

“Bimbing dia pulang.”

Kalimat itulah yang menjadi kekuatan baru untuk Kinara setiap hari. Membuatnya melangkah lagi meski hatinya masih gemetar. Hingga tiba hari ketika rencana itu semakin dekat untuk diwujudkan. Hari ketika dua hati yang sama-sama asing akan dipertemukan dalam ikatan suci pernikahan.

Hari ketika semuanya dimulai.

Dan tanpa mereka sadari, Allah telah menulis sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mampu mereka bayangkan.

1
Febby fadila
jangan dipaksakan Kinara buat Farhan nyaman sama kamu dulu baru pelan² menuntun dirinya kejlan yg sama kek kamu
Febby fadila
jangan mengedepankan ego yang akan menghancurkan semua hati dan jiwa kamu Farhan, berdamailah dengan masa lalu itu jauh lbih indan 🥰🥰
Febby fadila
hmmm dari sifat Farhan aku jadi ingat sama om aku juga bgt, hingga kini nggak nikah² bahkan umurnya udah 37 Thun 🥹
Umi Kulsum
se.angat farhan ayat alqur,an memang bisa menenangkan
Febby fadila
aku sampai nggak bisa komen apa, seakan lidahku ikut keluar
Febby fadila
Farhan karena kamu hidup terlalu lama dlm kehidupan gelap jadi kamu nggak tau maksud dari ayah kamu
Febby fadila
ya Thor air mataku menetes di bagian waktu Farhan meletakkan tangan dikepala Kinara dan berdoa 😭😭😭😭
Febby fadila
lagian ngapain kamu harus berpatokan untuk masa lalu yang hanya buat luka, lupankan Adilla, dan menata masa depan yg bahagia bersama istri dan anakmu kelak
Febby fadila
pernikahan itu ibadah jadi jalani aja dulu, dan bukalah hatimu untuk istrimu dan melihat kedepan meyakinkan bahwa kamu berhak bahagia
Febby fadila
semua yg kamu anggap nggak baik tp itu adalah jln yg akan kamu tuju ke masa depan Farhan yg lebih cerah dan penuh dengan cinta dan sayang
Febby fadila
semoga pernikahan mereka berjalan dengan baik, dan Farhan bisa membuka hatinya untuk Kinara
Febby fadila
Semoga setelah semuanya siap dengan cara sholat istikharah, kamu bisa meluluhkan es di hati Farhan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aamiin 🤲
total 1 replies
Febby fadila
sungguh peraturan yg ajaib di perusahaan Farhan 🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: saking traumanya sama perempuan kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Febby fadila
semua orang berhak bahagia, dan semua orang dewasa pun pernah merasakan yg namax sakit hati karena cinta, tapi bukan berarti harus di jadikan sebagai patokan untuk menutup diri,
Febby fadila
betul tu kata ayahmu Farhan nggak seharusx kamu hidup dalam luka masa lalu yg adlle lakukan, buktikan padanya kalau kamu bisa jauh lbih baik tanpanya
Febby fadila
kenapa musti jadikan patokan untuk menyakiti diri sendiri cobalah untuk kembali hidup dengan tenang dan lupakan masa lalu dan menata hidupmu agar bisa menjadi lebih baik lagi, klw trus seperti itu berarti kamu kalah farhan
Umi Kulsum
mantep jadi swami yang selalu siaga farhan...
Umi Kulsum
ya tambah pebasaran aja
Umi Kulsum
sedih eh mbacaya...lanjut tor
Umi Kulsum
bagus atuh klau kmu menyadarinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!