(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Pedang Pemutus Takdir
Di dalam ruang rahasia bawah tanah Benteng Hitam, waktu terasa berjalan lebih lambat.
Han Luo berdiri di depan cermin perunggu. Tangan kanannya baru saja selesai memotong sepertiga dari persediaan darah esensinya, memasukkannya ke dalam Boneka Darah Es yang berwujud Tuan Mo.
Boneka itu berkedip, lalu berjalan keluar dari ruangan dengan langkah gontai dan cacat, siap untuk menjalankan tugas terakhirnya: Mati sebagai tumbal.
Setelah boneka itu pergi, Han Luo tidak langsung berganti pakaian. Dia duduk bersila, menatap telapak tangannya yang mulai pucat pasi.
Dia sedang mempersiapkan Satu Pedang Pemutus Takdir.
Ini bukanlah teknik pedang biasa. Ini adalah teknik kausalitas, rahasia tertinggi dan paling mematikan yang tersembunyi di lapisan terdalam Sutra Seribu Wajah—teknik yang hanya bisa diakses oleh jiwa anomali yang tidak terikat oleh hukum dunia ini (Transmigrator).
Han Luo membedah logika teknik ini di dalam kepalanya untuk memastikan tidak ada kesalahan: Di dunia kultivasi, Dao Langit (Kehendak Semesta) mengikat setiap makhluk hidup dengan "Benang Karma". Semakin tinggi ranah seseorang—seperti Leluhur Ranah Pemutus Roh yang ada di atas sana—semakin tebal dan berat Benang Karma mereka.
Memotong benang baja itu dengan gunting kertas (kekuatan Inti Emas Han Luo) adalah kemustahilan absolut. Hukum alam akan menghancurkan si penyerang sebelum serangannya sampai.
Satu-satunya cara membunuh eksistensi yang jauh lebih tinggi dalam satu serangan adalah dengan menukarkan "Bobot Takdir" yang setara di Timbangan Kausalitas Dao Langit.
Masalahnya, nyawa seorang Inti Emas seperti Han Luo tidak cukup berharga untuk ditukar dengan nyawa Pemutus Roh.
Lalu, apa yang digunakan Han Luo sebagai gantinya?
"Eksistensi Fiktif," gumam Han Luo, suaranya bergetar menahan tekanan mental yang mulai menumpuk.
Inilah kengerian sejati dari Sutra Seribu Wajah. Han Luo tidak hanya memalsukan wajah; dia memalsukan sebuah Kehidupan.
"Persona 'Tuan Mo'..." Han Luo menatap cermin. "Tuan Mo telah menaklukkan Reruntuhan Keempat. Tuan Mo telah membangun Aliansi Gerhana, mengalahkan Jenderal Wu, dihormati oleh Long Tian(Protagonis), dan ditakuti oleh Sekte Langit Suci serta Kekaisaran Pusat. Di mata Dao Langit, 'Tuan Mo' memiliki Karma yang sangat besar. Dia adalah Raja Laut Selatan yang nyata."
Inilah amunisinya. Han Luo menciptakan persona, membesarkan reputasi mereka, dan memberi mereka sejarah, hanya agar suatu hari nanti... dia bisa membakar mereka di tungku kausalitas.
"Dengan membunuh wujud fisik Tuan Mo di depan umum, dan menghapus eksistensinya secara permanen dari jiwaku... ditambah lima puluh tahun umur asliku... bobotnya akan cukup untuk mematahkan leher sang Leluhur."
Ini adalah harga yang sangat gila. Setelah hari ini, Dao Langit akan menghapus Tuan Mo dari aliran keberuntungan. Ingatan Han Luo sendiri tentang perasaan dan pengalaman menjadi Tuan Mo akan ikut terkoyak.
Han Luo memejamkan mata. Dia mulai menggeser struktur tulangnya.
Tubuhnya meninggi lima sentimeter. Bahunya melebar. Wajahnya kehilangan semua ciri manusiawinya, menjadi kanvas kosong. Dia mengenakan jubah sutra hitam kosmik dan menempelkan topeng Bintang Jatuh tanpa fitur di wajahnya.
Dia mengaktifkan Lengan Boneka Sutra untuk menutupi bahu kirinya yang cacat, membuatnya tampak memiliki dua lengan yang utuh namun kaku.
Lalu, dia menarik sebilah pedang kayu murahan dari dinding.
"Mulailah pembakarannya."
Di dalam jiwanya, karma persona "Tuan Mo" mulai terbakar menjadi energi abu-abu yang pekat, mengalir ke dalam pedang kayu itu. Setiap detik pembakaran ini mencukur habis sisa umurnya, membuat ujung rambut hitamnya mulai memutih perlahan. Pedang kayu itu menjadi hitam pekat, menelan semua cahaya.
Di Permukaan - Geladak Atas Benteng Hitam.
Langit di atas Pulau Tengkorak Naga tiba-tiba terdistorsi. Awan-awan tersibak paksa, membentuk lubang pusaran berdiameter sepuluh mil.
Tekanan spiritual turun seperti meteorit.
"Ugh!" Long Tian yang berada di geladak langsung jatuh berlutut, tulang-tulangnya berderit.
Su Qingxue memuntahkan darah hitam, Seni Iblis-nya padam seketika. "Tekanan ini... ini bukan Jiwa Baru Lahir... Ini Pemutus Roh!"
Melangkah keluar dari pusaran awan, seorang pria tua kurus dengan jubah biru pudar menatap ke bawah. Dia adalah Leluhur Sekte Langit Suci. Dia tidak membawa senjata; kehadirannya sendiri adalah senjata pembunuh massal.
"Aliansi Gerhana," suara Leluhur itu terdengar di kedalaman otak setiap orang di pulau itu. "Kalian telah membunuh cucu muridku, Peri Lin. Dosa yang tidak bisa dicuci dengan air laut."
Leluhur itu menatap Long Tian. "Kau, Anak Naga, akan ikut denganku. Sisanya... akan menjadi abu."
Leluhur itu mengangkat satu jarinya. Di ujung jarinya, bola energi seukuran matahari kecil mulai terbentuk, siap menghapus pulau itu.
"Tunggu!"
Sebuah teriakan serak memecah keputusasaan.
Dari pintu utama Benteng, sosok Tuan Mo (Boneka Darah) berjalan keluar. Langkahnya pincang. Pedang rongsokan di bahunya bergetar.
"Saudara Han!" Long Tian berteriak ngeri. "Jangan ke sana! Larilah!"
Tuan Mo mendongak menatap dewa di langit itu.
"Kau mencari pemimpin Aliansi Gerhana?!" teriak Tuan Mo, tertawa menantang. "Akulah orangnya! Orang-orang ini hanya pionku! Jika kau ingin darah, ambillah darahku!"
Leluhur itu menatap Tuan Mo dengan tatapan jijik. "Seorang semut yang cacat. Kau bahkan tidak layak mati oleh tanganku. Tapi karena kau meminta..."
Leluhur itu menjentikkan jarinya.
Sebuah sinar tipis melesat dari langit, menghantam tubuh Tuan Mo.
BLAM!
Tidak ada perlawanan. Tubuh Tuan Mo meledak menjadi kabut darah di depan mata Long Tian dan Su Qingxue. Dagingnya, topeng emasnya, pedang di bahunya—semuanya lenyap tak bersisa.
"SAUDARAAA!" Long Tian meraung histeris. Air mata meledak dari matanya. Sosok guru dan jenderal yang dia hormati, dihapus begitu saja seperti debu.
Su Qingxue bergetar hebat. Monster licik yang selalu selangkah di depannya itu... mati semudah itu? Inilah teror nyata dari Ranah Pemutus Roh.
"Satu semut mati. Sekarang, giliran pulau ini," kata Leluhur itu dengan bosan.
Namun, saat bola energi itu hampir dilepaskan...
Langit tiba-tiba menjadi... Gelap Gulita.
Bukan gelap karena malam. Cahaya matahari secara harafiah ‘ditelan’. Suhu anjlok drastis hingga laut di bawah pulau membeku menjadi daratan es seketika.
Leluhur itu menghentikan serangannya. Matanya melebar penuh kewaspadaan. "Domain macam apa ini? Siapa yang berani mencampuri urusan Sekte Langit Suci?!"
Di tengah kegelapan absolut itu, sebuah suara bergema dari Ketiadaan.
"Mo hanyalah salah satu pion pengurus tingkat rendah kami yang cacat. Kematiannya disayangkan... tapi kami tidak suka orang luar membuang sampah di halaman kami."
Dari kegelapan itu, di atas atap tertinggi Benteng Hitam, sesosok bayangan memanifestasikan dirinya. Dia seperti lubang hitam yang menelan segala hukum alam di sekitarnya. Dia mengenakan topeng tanpa wajah dan memegang sebuah pedang kayu yang menghitam.
Tuan Gerhana.
Di bawah, Long Tian dan Su Qingxue menahan napas. Mereka akhirnya melihatnya. Pemimpin tertinggi yang selama ini hanya mitos.
Leluhur Sekte menatap sosok itu. Keringat dingin mengalir di dahi tuanya. Instingnya yang telah diasah selama ratusan tahun menjerit: BAHAYA MUTLAK!
"Siapa kau?!" teriak Leluhur itu, langsung membentuk perisai spiritual seribu lapis yang tak bisa ditembus oleh serangan fisik apa pun.
Tuan Gerhana (Han Luo) tidak menjawab.
Di balik topengnya, Han Luo sedang menahan rasa sakit yang hampir merobek kewarasannya. Energi kehidupan dan Karma Tuan Mo telah mencapai titik kritis di pedang kayunya. Transaksi dengan Dao Langit telah disetujui.
Han Luo perlahan mengangkat pedangnya. Dia tidak membidik tubuh fisik Leluhur itu. Dia membidik Benang Emas konseptual di atas kepala pria tua itu—garis takdir sang Leluhur.
"Satu Pedang..." suara Tuan Gerhana berbisik pelan, bergema di seluruh pulau. "...Pemutus Takdir."
Han Luo menarik pedang itu ke bawah.
Sebuah ayunan sederhana.
Tidak ada gelombang energi yang membelah langit. Tidak ada cahaya yang menyilaukan. Hanya ada distorsi kecil di ruang hampa. Serangan ini tidak melintasi ruang fisik; ia melintasi dimensi waktu langsung menuju inti jiwa lawan.
Di udara, perisai mutlak seribu lapis milik Leluhur itu masih utuh. Tidak tergores sedikit pun.
Leluhur itu memeriksa tubuhnya. Dia tidak merasakan luka apa pun.
"Hahaha!" Leluhur itu tertawa gugup, merasa lega. "Gertakan kosong! Kau pikir kau bisa menakutiku dengan trik ilusi rendahan?!"
Tapi Tuan Gerhana sudah menyarungkan pedangnya kembali. Dia berbalik.
"Garis takdirmu sudah terpotong sejak satu detik yang lalu," kata Tuan Gerhana pada kekosongan. "Kau hanya belum menyadari bahwa kau sudah menjadi mayat."
Saat Tuan Gerhana menyelesaikan kalimatnya... tawa Leluhur itu terhenti.
Mata tuanya melotot lebar. Mulutnya terbuka seolah ingin menghirup udara, tapi paru-parunya tidak merespons.
Dia menatap tangannya yang tiba-tiba menua dengan kecepatan ribuan kali lipat. Energi kehidupannya yang berusia delapan ratus tahun menguap ke udara, karena "Sumbu Waktu" miliknya telah dihapus dari semesta.
"Ti... tidak... mustahil... Hukum Kausalitas?!"
Tubuh kultivator Ranah Pemutus Roh itu mulai retak seperti abu rokok.
KRAK... PRANG!
Dalam pandangan ngeri semua orang di pulau itu, tubuh Leluhur yang tak terkalahkan itu hancur menjadi debu halus dan tertiup angin laut. Perisai seribu lapisnya pecah berantakan tanpa disentuh.
Mati. Dihapus dari eksistensi tanpa sempat meninggalkan wasiat.
Keheningan yang mematikan mencekik Pulau Tengkorak Naga.
Dewa telah dibunuh dengan satu ayunan pedang kayu.
Tuan Gerhana melangkah masuk kembali ke dalam menara, menghilang dalam bayang-bayang, meninggalkan Long Tian dan Su Qingxue yang kini bersujud di tanah karena teror absolut yang tidak bisa dipahami nalar fana.
Di Dalam Ruang Rahasia Bawah Tanah.
Begitu pintu ruang rahasia tertutup dan formasi isolasi aktif, postur dewa kematian Han Luo runtuh seketika.
"UHUUKK!"
Han Luo ambruk ke lantai, memuntahkan gumpalan darah hitam yang sangat kental.
Pedang di tangannya hancur menjadi serbuk kayu biasa. Topeng tanpa fitur di wajahnya terlepas, jatuh berdenting di lantai batu.
Pria itu berguling, mencengkeram dadanya yang terasa seperti dihancurkan dari dalam. Di bawah cahaya obor yang redup, harga mematikan dari Satu Pedang Pemutus Takdir langsung terlihat.
Rambut hitamnya yang panjang memutih separuh dengan cepat. Kulit di sekitar mata dan tangannya mulai muncul kerutan halus. Lima puluh tahun umur kehidupan fananya baru saja dirampas secara brutal sebagai bayaran.
Dan yang terburuk... pikirannya serasa robek. Kenangan tentang kebanggaannya sebagai "Tuan Mo", emosi kemenangannya di turnamen, semua itu memudar menjadi abu.
"Hah... hah... hah..." Han Luo terengah-engah, wajah aslinya berlumuran darah dan keringat dingin. Lengan kirinya (lengan boneka sutra) berderit kaku.
Dia menatap bayangannya di genangan darahnya sendiri. Setengah tua, cacat lengan, dan nyaris kehabisan nyawa.
"Sakit... sialan... ini jauh lebih buruk dari amputasi," rintihnya dengan senyum gila yang dipaksakan.
Dia merangkak dengan susah payah menuju laci meja, mengambil sebotol Pil Penambah Umur kualitas rendah yang dia simpan untuk keadaan darurat, dan menelannya dengan rakus tanpa dikunyah. Pil itu tidak akan mengembalikan lima puluh tahunnya, tapi setidaknya akan mencegah organ dalamnya gagal total malam ini.
Di luar sana, dunia mengira dia adalah Dewa Kematian yang tak tersentuh.
Tapi di ruang gelap ini, Han Luo menyadari betapa mahalnya harga yang harus dia bayar untuk memanipulasi hukum semesta.
"Tuan Mo sudah mati," bisik Han Luo pada dirinya sendiri, menyeka darah di dagunya sambil tertawa serak, air mata fisiologis mengalir dari matanya akibat rasa sakit jiwa. "Pion sialan itu mati dengan indah... Sekarang, Long Tian akan mengira aku adalah monster berusia sepuluh ribu tahun."
tpi gw demen....