DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Putus
Langkah Aqqela langsung berhenti di ambang pintu. Matanya membelalak sekalipun Vicky sudah menguraikan ciuman mereka, sementara Oliver sudah mendorongnya menjauh.
Apa...apa yang terjadi?
"Aqqela, aku-"
Aqqela mundur beberapa langkah, membuat tenggorokan Oliver tercekat.
"A-aku...bisa jelasin. Ini nggak kayak yang kamu li-"
"Berhenti di sana! Jangan ngomong apa-apa!" kata Aqqela masih syok.
Oliver menggigit bibir dengan mata memerah. Entah kenapa mulai takut jika Aqqela meninggalkannya setelah ini.
"Jadi ini yang lo maksud? Kesalahan fatal yang lo bahas semalam itu ini?"
Oliver menggeleng cepat. Tetapi untuk sekedar membuka suaranya, dia kesulitan sekarang.
"Jawab!" kata Aqqela, "Kalian selingkuh di belakang gue?"
Vicky mengalihkan wajah, di susul senyum sinis, "Gue sama Oliver yang selingkuh? Kayaknya pertanyaan itu lebih pantas buat di kasih sama lo, deh."
Raut wajah Aqqela langsung kebingungan.
"Gue sama Oliver-"
"Vicky diem!" tegas Oliver.
"KAMU YANG DIEM!" balas Vicky tak mau kalah, lalu memandang Aqqela, "Dari awal, Oliver punya gue. Tapi lo tiba-tiba datang dan rusak semuanya tau nggak."
Mata Aqqela membulat sepenuhnya.
"Sayang, nggak-nggak! Kamu jangan dengerin dia," kata Oliver khawatir dan mendekati Aqqela.
Vicky terkekeh miris, "Kalau kayak gini, kesannya kayak gue yang selingkuhan, ya? Padahal di sini elo pelakor-nya. Licik banget," sinisnya.
"Gue nggak ngerti lo ngomong apa."
"Elo tau kan, jauh sebelum lo datang, gue udah kenal Oliver duluan?"
Aqqela bungkam.
Dia memang tau bahwa Vicky dan Oliver satu SMP sebelumnya.
Tapi...hanya itu.
"Dan lo nggak pernah tau kan, kalau gue udah ngejar-ngejar dia dari SMP? Gue sayang banget sama Oliver. Gue berjuang mati-matian biar dia mau lihat ke arah gue."
"Vicky, cukup!" sentak Oliver, kemudian meraih tangan Aqqela, "Qell, kita ngobrol berdua, ya! Aku bakalan jelasin semuanya."
"Elo diem! Biar dia yang ngomong," kata Aqqela pada Oliver marah.
"Mimpi gue tercapai waktu kelas 10. Oliver terima gue dan kami pacaran setelahnya," kata Vicky tajam.
Sungguh, seluruh tubuh Aqqela membeku. Entah kekecewaan apa yang meninju dadanya sekarang. Namun kedua netranya memanas.
Vicky tersenyum sinis, "Seminggu setelah kami pacaran, Oliver justru minta izin buat pacaran sama lo. Gue yang bego sih, ya. Saking bucin-nya sama dia, gue iya-iya aja waktu dia ngajak back street dan minta izin pacaran lagi."
Aqqela membelalak.
Oliver sendiri terdiam. Mengusap wajahnya benar-benar kalut.
"Lo tau satu hal Qell..." desis Vicky tajam, "Kedatangan elo, bener-bener ngerusak semua mimpi-mimpi gue!"
"GUE NGGAK TAU APA-APA," teriak Aqqela meradang.
Oliver menelan ludah tercekat, "Aqqela-"
"Elo diem dulu!" tunjuk Aqqela nyalang, "Elo yang jahat dari awal, kenapa di sini jadi gue yang kelihatan salah?"
Mata Oliver mulai memanas.
Tatapan tajam Aqqela mengarah ke Vicky lagi, "Kalau lo cewek pinter, harusnya elo nggak kasih izin cowok lo selingkuh sama sahabat lo sendiri."
"Karena dia nggak suka sama lo. Tujuan dia jadiin lo pacar, cuma buat balas dendam sama bokap lo. Nggak usah kepedean."
"Nggak-nggak, jangan di dengerin! Please, Vicky cuma bohong. Percaya sama aku, ya!" Oliver langsung mendekap tubuh Aqqela, benar-benar takut kehilangannya.
Aqqela memberontak, tetapi Oliver menguatkan dekapan. Vicky terkekeh miris melihat itu.
"Elo nggak tau kan, kalau selama ini lo cum-"
"BRENGSEK! GUE UDAH SURUH LO BUAT DIEM DARI TADI!" bentak Oliver.
"Karena dia harus tau posisi dia yang sebenarnya," balasnya tak mau kalah.
Aqqela terdiam seribu kata sekarang.
"Elo!" tunjuk Vicky ke Aqqela, "Cuma bahan taruhan anak-anak Xlovenos."
Aqqela tersentak. Bahkan membekap mulut saking syok-nya.
"Sayang, enggak kayak gitu! Aku minta maaf!"
pinta Oliver benar-benar ketakutan.
"Dan lo, cuma alat buat Oliver balas dendam atas kejahatan yang di lakuin bokap lo di masa lalu. Karena kelicikan om Michael, mamanya Oliver jadi di penjara."
Pertahanan Aqqela ambruk seketika. Tangis yang coba dia tahan akhirnya tumpah begitu saja, membuat Oliver berusaha mendekatinya.
"MENJAUH DARI GUE!" teriaknya histeris, menepis tangannya kasar.
"Maafin aku Qell, maafin aku!" kata Oliver benar-benar menyesal.
Vicky terkekeh sinis, "Dia pengen lihat lo sengsara dan menderita. Bukannya lucu, kalau anaknya hakim licik itu depresi saat tiba-tiba di tinggalin waktu udah bener-bener jatuh cinta?"
"Ja-jadi elo tau sejak awal?" tanya Aqqela pada Vicky dingin.
"Of course, gue tau semu-
PLAK!!
Vicky tersentak saat menerima tamparan keras dari Aqqela.
"Maksud lo apa?" jerit Vicky marah.
"Itu untuk temen penghianat kayak lo," katanya dingin.
"Ap-"
PLAK!!
Tamparan kembali Aqqela berikan ke Vicky yang terkejut.
"Elo nggak bisa marah sama gue, karena dari awal gue nggak tau soal apapun. Gue korban kelicikan kalian berdua di sini. TAPI ELO..." tunjuk Aqqela meradang, "Dari awal lo tau tentang tujuan Oliver mau ngehancurin gue, tapi elo nggak berniat cegah sama sekali. Lo bener-bener temen brengsek, demi kebucinan tolol lo."
kata. Vicky mengatupkan bibir. Bungkam seribu
"Kalau lo sahabat yang baik, elo nggak mungkin tega Vic, biarin gue masuk perangkap manusia jahat kayak dia. Emang anjing lo berdua!"
"Aqqela!" Oliver menarik lengannya.
PLAK!
Kali ini gantian Oliver yang di tampar, membuat pemuda itu terdiam.
"Jangan sentuh gue! Gue pikir lo beda sama Fattah, tapi lo jauh lebih brengsek dari dia."
Matanya menyorot tajam Oliver yang terdiam di depannya.
"Mulai hari ini, kita putus!"
Oliver tersentak. Matanya membulat kaget. Tubuhnya langsung terpaku begitu saja. Tetapi terkejut ketika Aqqela berlari keluar dari rumahnya.
Oliver segera mengejarnya, "Aqqela, enggak! Aku nggak mau putus. Kita bisa omongin ini baik-baik. Sayang, please! Jangan pergi dulu!"
Aqqela meronta, menepis berkali-kali tangan Oliver yang mencegahnya pergi.
"Aku sayang sama kamu! Aku nggak bohong," kata Oliver sudah berkaca-kaca.
"LEPASIN GUE!"
"Qell, kalau kita lagi ada masalah bukan begini caranya..." kata Oliver memohon.
"Semuanya udah jelas."
"Tujuan awal aku emang salah. Tapi aku beneran jatuh cinta sama kamu sekarang. Kita bisa mulai-"
"Tau bullshit nggak lo?"
Oliver menggigit bibir, benar-benar sakit melihat tatapan penuh kebencian dari mata gadis itu, "Qell, aku..."
Aqqela terkekeh sinis, "Pantesan, lo dulu ngejar-ngejar gue, padahal gue tolak berkali-kali. Harusnya gue curiga sih ya, seorang badboy sekolah, pujaan seluruh cewek dari awal MOS, tiba-tiba deketin gue sore itu di koridor yang notabene-nya murid biasa aja. Ternyata karena balas dendam doang? Hebat, banget," sindirnya, membuat Oliver bungkam.
"Tapi aku nggak-"
"Jangan pernah muncul lagi! Jangan pernah datang lagi! Kita putus! Kita akhiri hubungan palsu ini sekarang," tegasnya dan beranjak.
"Qell-"
"Jangan ngejar gue!" sentaknya saat melihat Oliver ingin mengejarnya, "Ini terakhir kali. Berhenti gangguin gue! Gue nggak bisa maafin kelakuan sampah lo."
Aqqela menarik kasar kalung di leher, pemberian Oliver dan melemparnya ke cowok itu, "Kita selesai sampai di sini."
Dan setelahnya, Aqqela berlari kencang meninggalkan halaman rumah itu.
"Semua yang kita lewati nggak pernah palsu buat aku, Qell! Demi Tuhan! Aku beneran bahagia waktu bareng sama kamu."
Oliver membungkuk kecil, menumpukan kedua tangannya ke lutut dan mulai terisak pelan.
Hal yang Oliver takutkan benar-benar terjadi hari ini. Ya Tuhan, bagaimana caranya untuk memperbaiki semuanya? Oliver tidak mau kehilangan Aqqela-nya.
Sampai Oliver menyadari jika Aqqela sudah berlari cukup jauh.
"Aqqela!" teriaknya dan kembali mengejar.
Vicky membekap mulutnya dengan tubuh merosot ke lantai. Tangisnya tumpah, merasakan patah hati terhebatnya, melihat laki-laki yang dia cintai, mengejar gadis lainnya.
Dan itu...sahabatnya.
***
Suara musik yang menghentak keras, memasuki pendengaran Fattah saat dia sedang duduk di salah club malam di Jakarta Selatan, yang mengundang semua orang untuk berjoget di dancefloor. Termasuk Noel yang sudah asik berdansa bersama perempuan seksi. Di antara semua anak LEVIAN, hanya dia yang jago main perempuan.
Aroma alkohol dan nikotin sudah menyengat dimana-mana. Beberapa pasangan juga tampak bercumbu di setiap meja-seakan tidak malu.
Fattah menegak minuman yang baru saja di bawakan bertender.
"Udah Fatt, jangan banyak-banyak! Elo bawa motor," tegur Mattewu.
"Gue baru minum dikit," desisnya, membuat Jefan yang sejak tadi memperhatikan wajah murung ketuanya, mendesah pelan.
"Masalah lo sama Aqqela yang kemarin belum selesai, ya?" tanya Jefan.
"Bukan urusan lo!" katanya dingin sambil menarik satu batang rokok dan menyelipkannya di bibir.
"Udah lah, cari yang lain aja! Udah ceweknya Oliver bos, susah. Percaya sama gue! Oliver tuh bucin akut sama Aqqela, gue tau itu."
Fattah menghisap rokoknya. Garis wajahnya jadi kaku dan terkesan dingin.
"Elo beneran sayang dia? Atau karena ego lo doang pengen milikin dia? Kalau emang iya, mending berhenti dari sekarang sebelum jauh. Itu bukan sayang namanya," kata Jefan.
Fattah melirik Jefan dengan tatapan tajam, terkesan menyeramkan.
"Tapi kalau lo beneran sayang dia, confess Fatt! Jangan kasar sama dia! Elo nggak bisa ngomong pakai nada tinggi terus-terusan karena Aqqela itu cewek. Dia bakalan takut sama lo, bukannya suka balik. Elo udah buat batin dia terkejut karena keputusan lo bawa dia ke sini. Semua serba mendadak dan nggak semua orang bisa nerima itu.
Termasuk Aqqela."
"Entahlah. Gue benci pikiran gue..." ucap Fattah serak, "Tapi gue nggak suka tiap dia nentang gue karena Oliver. Gue pengen dia nurut sama gue, se-simpel itu. Kenapa harus Oliver terus?"
Mattew dan Jefan melebarkan mata samar.
"Ya kan Oliver emang pacarnya. Orang yang masih di sayang Aqqela sampai detik ini," kata Jefan polos.
"Makanya, gue nggak tau gue kenapa. Mungkin kalian yang tau jawabannya," kata Fattah putus asa.
Sebenarnya merasa bersalah karena harus se-emosi kemarin, hingga mengunci Aqqela dan berakhir membuatnya menangis lagi.
Tapi Fattah gengsi mau minta maaf duluan.
"Serius, hati lo masih berfungsi setelah Odit pergi?" tanya Mattewu segera di tendang Jefan agar diam.
Jefan kali ini menatap Fattah serius, "Tapi Mattewu ada benernya. Sorry kalau bikin lo tersinggung! Gimana sama Odit? Apa lo yakin kalau masa lalu lo udah bener-bener selesai?"
Fattah menggigit ujung bibirnya samar. Dia diam sebentar dan mengalihkan wajah.
"Gue udah nggak pernah kepikiran soal Odit lagi. Lagian, emang gue suka Aqqela apa? Gue cuma kesel dia selalu utamain Oliver."
"Hadeh," kata Jefan lelah.
"Lo yakin udah lupa Odit? Gue pikir cinta lo udah habis di dia, karena lo seberantakan itu waktu dia meninggal. Lo pernah denger nggak, kalau cowok hanya jatuh cinta sekali dan sisanya cuma melanjutkan hidup?" tanya Mattewu.
"Omongan sampah siapa yang lo denger?" tanyanya tajam. Fattah meneguk alkoholnya, "Bukannya yang selanjutnya, selalu jadi alasan buat tetep hidup?" lanjutnya membuat Mattewu melebarkan mata, tak menyangka Fattah akan mampu menjawab.
Fattah melengos, mematikan rokoknya dan meraih kunci motornya membuat dua temannya mendongak.
"Gue mau nemuin Aqqela," katanya singkat.
***
Fattah berjalan cepat, setelah keluar dari dalam lift dan masuk unit apartemennya.
Brak!
Dia bergegas menuju ke kamar Aqqela dan membukanya. Jantungnya seakan berhenti berdetak melihat tak ada siapapun di sana.
"Aqqela!"
Dia mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan.
"Nggak...nggak, Aqqela. Elo nggak mungkin kabur dari gue, kan?" Dia menggeleng dan mencari Aqqela di segala tempat.
"AQQELA!"
Napasnya memburu, terputus-putus. Fattah berlari ke dapur, membuka pintu kamar mandi juga, sampai ke gudang, dia mencarinya. Tapi sosok itu tidak ada.
Dia panik luar biasa.
"BIBI!!!" teriaknya membuat bi Tya yang sengaja belum pulang malam itu jadi terkejut.
"Ya, den?"
"Aqqela kemana?" tanyanya meradang.
"L-loh, bukannya di kamar, den? Tadi bibi habis kasih non Aqqela makan," katanya sok polos.
"Kenapa pintunya nggak di kunci lagi?" bentaknya murka, membuat bi Tya gelagapan.
"Den Fattah nggak nyuruh. Maaf, den! Bibi salah."
Fattah bergerak mendekatinya dengan kilatan mata tajam, "Bibi bantu dia kabur, kan?"
Bi Tya membelalak kaget, "Eng-enggak, den. Bibi nggak tau apa-apa."
"Aku udah kasih perintah. Habis ngantar makanan, langsung di kunci lagi pintunya," sentaknya.
Bibi Tya mulai gemetaran. Tau sekali jika sifat Fattah dan ayahnya tidak berbeda jauh, sama-sama kejam dan suka semena-mena.
BRAK!!
"Anjing!" Fattah menendang meja kasar.
Fattah merogoh sakunya mencari ponsel, dengan kilatan mata tajam.
"Cepetan naik ke atas! Anjing lo semua," katanya tak terbantahkan.
Tidak lama setelahnya, empat ajudan terlihat memasuki apartemen-nya dengan takut-takut.
Mereka ajudan yang berjaga di bawah-dekat pos satpam, yang di perintah Jordan untuk menjaga Fattah dan Aqqela.
"GIMANA BISA LO SEMUA NGGAK ADA YANG LIHAT DIA KABUR?" Dia menonjok keras rahang satu ajudan paling depan.
"Gue udah nyuruh kalian awasi selama gue pergi, sialan! Becus kerja nggak sih lo semua?" Tonjokan Fattah melayang ke seluruh wajah ajudan, tanpa perlawanan. Mereka menunduk hormat, penuh sesal.
"Maaf tuan muda, kami sudah lalai. Tapi kami di perintahkan tuan besar untuk mengawasi nyonya seharian ini dan baru menjaga di bawah lagi sore hari tadi. Maafkan kami tidak memberitahu anda sebelumnya!"
Tidak lama setelahnya, dua ajudan berlari mendekat.
"Permisi, saya ingin menginformasikan!
Tapi...nona Aqqela benar-benar kabur tuan muda.
Dari pantauan CCTV, nona naik... taxi pagi tadi."
Infonya takut-takut ketika melihat tatapan mengerikan Fattah.
"Brengsek! Cepetan cari Aqqela! Kalau sampai nggak ketemu, gue habisin lo semua satu-satu."
Fattah langsung berlari pergi, di susul cepat oleh ke-enam ajudannya. Meninggalkan bibi Tya yang mengelus dadanya, masih syok melihat kemurkaan majikannya.
"Ya Allah Gusti, selamet aku!" katanya mengurut dada mengucap syukur.
***