NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Sumpah yang Mengakhiri Kebencian

Masalah makanan menjadi pemicu pagi ini. Seorang anak manusia mencuri beberapa umbi yang dikumpulkan Elf. Seorang Iblis mencoba mengambil ikan hasil pancingan manusia. Dan sekarang, semuanya meledak.

Mereka begitu asyik dalam kebencian dan rasa sakit mereka sendiri sehingga tidak ada yang menyadari kedatanganku. Aku sudah berdiri di pinggir kerumunan selama beberapa menit, menyaksikan pertunjukan menyedihkan ini. Rasa kesal mulai mendidih di dadaku. Ini persis seperti yang kukhawatirkan.

"Aku sudah muak dengan semua ini!" teriak pria manusia itu, mengangkat kapaknya. Beberapa Elf sudah meraih busur panah mereka. Kaum Iblis mencakar dengan kuku mereka yang runcing.

Waktunya berhenti diam.

"Ratri," bisikku, suara rendah namun penuh perintah. "Tenangkan mereka. Sekarang."

Ratri, yang berdiri di belakangku dalam wujud remajanya, mengangguk. Dia tidak berteriak atau mengancam. Dia hanya mengangkat satu tangan, telapaknya menghadap ke langit.

Lalu, sesuatu yang luar biasa terjadi.

Suara menghilang.

Bukan hanya teriakan mereka, tapi semua suara. Desau angin, debur ombak, kicau burung—lenyap. Dunia seolah tertutup oleh kubah keheningan mutlak. Para pengungsi terengah, mulut mereka masih terbuka mengeluarkan kata-kata yang tak terdengar, mata mereka melotot penuh kebingungan dan ketakutan primordial. Mereka mencoba bergerak, tapi tubuh mereka seolah tertanam di pasir, bergerak sangat lambat, seperti melawan arus madu yang kental.

Ratri berjalan maju, melangkah ke tengah kerombolan yang membeku. Dia berjalan dengan tenang, matanya yang emas memandang setiap wajah yang dipenuhi kebencian yang membeku. Dia tidak marah. Ekspresinya datar, hampir sedih.

Dia mengepalkan tangan yang terangkat.

WHOOSH!

Sebuah gelombang tekanan halus namun kuat menjalar dari tubuhnya. Tidak menghancurkan apa pun, tapi mendorong setiap orang—Elf, manusia, Iblis—untuk terduduk ke pasir dengan lembut namun tak terbantahkan. Keheningan pecah, digantikan oleh erangan dan napas terengah yang serempak.

Dan suara kembali. Tapi kini, hanya ada desau angin dan napas mereka sendiri yang terdengar.

Aku melangkah maju, sekarang semua mata tertuju padaku—dan pada Ratri—dengan campuran rasa takut, hormat, dan kebingungan yang mendalam.

"SUDAH CUKUP!" Suaraku meledak, menggelegar di teluk yang sunyi, dipenuhi oleh segala rasa frustrasi dan kemarahan yang terkumpul. Aku tidak berteriak histeris, tapi suaraku keras, tajam, dan penuh amarah yang dingin.

Mereka semua terpana, bahkan si pria manusia berkapak dan elf perempuan yang tadi paling vokal.

Aku menatap mereka, satu per satu, mataku menyapu kerumunan. "Gue lihat dari tadi. Dengerin semua omongan kalian yang kek tai kucing basi! Manusia nyalahin elf. Elf nyalahin manusia. Terus berdua nyalahin iblis. Iblis balas nyalahin kalian berdua. PUTARAN BOLONG BANGET, SUMPAH!"

Kata-kata kasarku membuat beberapa orang tersentak, terutama para Elf yang terlihat jijik.

"Lo pikir ada ras yang paling bener? Paling suci? Paling enggak bersalah? BULLSHIT!" Aku menunjuk ke diriku sendiri. "Gue manusia. Tapi gue enggak bakal berdiri di sini dan bilang manusia paling bagus. Karena gue TAU! Sejarah di dunia gue aja penuh sama manusia bunuh sesama manusia, perang, perbudakan, penjajahan, karena beda agama, beda kulit, beda suku! Itu FAKTA! "

Lalu aku menunjuk ke para Elf. "Dan lo elf! Jangan sok suci! Gue yakin dalam sejarah lo juga ada perang saudara, pengkhianatan, elitisme yang nyakitin sesama elf sendiri! Betul enggak?" Beberapa elf menunduk, tidak bisa membantah.

Aku menunjuk ke kaum Iblis. "Dan lo iblis! Jangan juga nuding-nuding gitu! Mungkin ada benernya lo sering jadi kambing hitam. Tapi apa di antara lo enggak ada yang bener-bener jahat? Yang nikmatin penderitaan orang lain? Pasti ada!

Aku menarik napas dalam, mencoba meredakan gemuruh di dada. Suaraku masih tegas, tapi lebih terkendali.

"Masalahnya bukan rasnya. Masalahnya di sini!" Aku menepuk dadaku. "Di sifat dasar kalian masing-masing yang bisa jadi serakah, takut, benci, dan egois. DAN KALIAN SEMUA DI SINI SEKARANG MEMBUKTIKAN ITU!"

Aku menunjuk ke anak-anak yang ketakutan bersembunyi di balik orang tua mereka, ke ibu-ibu yang wajahnya kosong karena keputusasaan. "Lihat! Lihat mereka! Kalian pada ribut soal siapa yang bikin kalian terusir dari tanah kelahiran. Tapi mau sampe kapan? Besok? Lusa? Tahun depan? Anak-anak kalian tumbuh di tengah kebencian yang lo ajarin? Besok-besok kalian bakal perang beneran di sini. Saling bunuh. Dan siapa korban selanjutnya?" Suaraku terdengar serak oleh emosi. "Yah, mereka! Anak-anak, orang tua, yang enggak ikut-ikutan ribut tapi kena getahnya! Tanah ini bakal jadi kuburan massal karena keegoisan lo semua!"

Keheningan yang berat menyelimuti teluk. Tangisan seorang anak kecil terdengar jelas.

Hatiku masih berdebar kencang, tapi kemarahan mulai mereda, digantikan oleh kelelahan yang mendalam. Aku berbicara lagi, lebih pelan, tapi setiap kata tertimbang.

"Gue kasih pilihan. Kalau kalian tetap mau ribut, saling benci, gue sediain tempat. Ada lembah di balik bukit timur. Gue bikin arena khusus. Di sana, silakan. Manusia bunuh elf. Elf bunuh iblis. Iblis bunuh manusia. Saling hancurkan. Habiskan sisa tenaga dan hidup lo untuk itu. Gak ada yang menang. Yang ada cuma mayat dan anak yatim. Itu yang lo mau? Perlihatkan ke anak-anak lo bahwa solusi satu-satunya adalah bantai sesama?"

Beberapa orang menunduk, malu. Yang lain masih memandang dengan keras, tapi api kebencian di mata mereka mulai redup oleh realitas pahit yang kuucapkan.

"Atau," lanjutku, suara akhirnya menjadi tenang dan datar, "kalian bisa berhenti. Sekarang. Tarik napas. Lihat sekitar. Kita semua di sini. Terdampar. Tidak punya apa-apa kecuali baju di badan dan kapal yang rusak. Kalian sama-sama korban. Korban dari sesuatu yang lebih besar. Tapi kalian masih punya pilihan: terus jadi korban dengan saling menyiksa, atau... coba jadi sesuatu yang lain."

Aku memandang mereka untuk terakhir kalinya. "Gue enggak mau tanah tempat tinggal gue jadi medan perang karena keegoisan kalian. Ini pulau cukup buat semua. Tapi gue enggak akan biarin kalian menghancurkannya—dan menghancurkan diri kalian sendiri—di sini. Pilihan ada di tangan kalian."

Aku berbalik. Ratri sudah berada di sampingku. Eveline, yang ternyata sudah berdiri di tepi hutan dekat tebing dengan senjatanya siap, mengikuti gerakanku.

"Renungkan. Besok, jika masih ada yang ingin bicara dengan kepala dingin, tentang bertukar keahlian, bertahan hidup bersama, gue di rumah. Tapi jika besok saya masih dengar teriakan dan ancaman... jangan salahkan aku untuk konsekuensinya."

Tanpa menunggu respons, aku berjalan pergi. Kaki-kakiku melangkah mantap meninggalkan teluk yang sunyi senyap, meninggalkan sekumpulan pengungsi yang tercengang, dipermalukan, dan mungkin—hanya mungkin—sedikit tersentak kesadarannya.

Di perjalanan pulang, Ratri berkata pelan, "Itu... cukup keras, Rian."

"Kadang-kadang, yang pahit itu yang dibutuhkan," jawabku, suara lelah. "Mereka butuh dicolek keras. Kalau enggak, besok-besok kita yang harus bersih-bersih mayat. Atau jadi mayat."

Aku berharap kata-kataku menusuk. Berharap setidaknya beberapa dari mereka yang punya akal sehat bisa melihat kebodohan dari kebencian siklus yang mereka pertahankan. Pulau ini seharusnya menjadi awal yang baru, bukan sekadar lanjutan dari pertikaian lama di tempat baru.

Hanya waktu yang akan memberi tahu, apakah benih kesadaran yang kutanam hari ini akan tumbuh, atau akan terinjak-injak oleh amarah dan ketakutan purba mereka sekali lagi.

 Matahari sore mulai condong ke barat, mengecat langit dengan warna jingga dan ungu. Aku duduk di bangku kayu di teras rumah, sedang meraut sepotong kayu untuk dijadikan pegangan alat baru, ketika sekelompok orang terlihat mendaki lereng menuju tempatku. Mereka berjalan perlahan, terlihat ragu-ragu.

Aku mengenali beberapa wajah: pria manusia berbadan besar yang kemarin menjadi juru bicara, wanita elf yang wajahnya contong karena kemarahan tadi pagi, dan pria iblis bertanduk bengkok. Mereka mewakili masing-masing kelompok. Mereka berhenti beberapa meter dariku, berdiri dengan postur tubuh yang canggung, seperti anak sekolah yang dipanggil kepala madrasah.

Pria manusia itu, yang kuketahui namanya Gregor, membersihkan kerongkongannya. "Tuan... kami datang untuk menyampaikan sesuatu."

Aku meletakkan pisauku dan kayunya, menatap mereka tanpa ekspresi. "Saya mendengarkan."

Wanita elf itu, Lirea, berbicara dengan suara yang jauh lebih kecil dari teriakannya tadi pagi. "Kami... ingin meminta maaf. Atas keributan tadi pagi. Kami telah mengganggu ketenanganmu, dan menunjukkan sisi yang memalukan di hadapanmu."

Pria iblis, Kael, mengangguk, matanya yang kuning menyipit. "Ya. Kami malu. Itu bukan cara seharusnya tamu bersikap."

Aku menghela napas perlahan, lalu menggeleng kepala. Bukan dengan gerakan marah, tapi seperti seorang guru yang kecewa karena muridnya salah memahami pelajaran.

"Bukan begitu," ucapku, suaraku tenang namun tegas. "Kalian keliru. Kalian datang ke sini, kepada saya, untuk meminta maaf. Itu salah alamat."

Mereka saling pandang, bingung.

"Yang seharusnya kalian lakukan," lanjutku, "adalah saling memandang satu sama lain. Manusia kepada Elf dan Iblis. Elf kepada Manusia dan Iblis. Iblis kepada Manusia dan Elf. Kalian saling menyakiti dengan kata-kata, saling menyalahkan, saling mengancam. Bukan saya yang terluka oleh itu—walaupun ketenangan saya memang terusik. Tapi luka yang lebih dalam, kebencian yang kalian pupuk, itu ada di antara kalian sendiri. Jadi, permintaan maaf yang sesungguhnya harusnya diberikan kepada sesama pengungsi, bukan kepada saya."

Gregor menunduk, wajahnya memerah. "Kami... kami mengerti. Tapi setelah kejadian tadi, suasana menjadi... berat. Kami tidak tahu bagaimana memulai."

"Saya hanya penengah. Bukan hakim, bukan raja. Tapi saya benci melihat perpecahan seperti itu. Saya benci melihat energi yang seharusnya digunakan untuk bertahan hidup malah dihabiskan untuk saling menyerang." Aku berdiri, menghadap mereka sepenuhnya. "Jika kalian benar-benar tulus ingin berubah, ingin memulai dari nol di tempat baru ini, maka lakukanlah. Mulailah dengan saling memaafkan, lalu berbenah."

Aku melihat ke arah perkemahan di kejauhan. "Jadi, bukan kepada saya kalian harus minta maaf. Tapi jika kalian serius, jika kalian ingin membuktikan bahwa keributan tadi hanyalah sisa-sisa keputusasaan dari masa lalu dan bukan jati diri kalian yang sebenarnya... maka datanglah nanti malam. Setelah matahari terbenam. Datang ke tempat ini, semuanya. Anak-anak, orang tua, semua."

Lirea menatapku dengan penuh pertanyaan. "Untuk apa, Tuan?"

"Untuk membuat sebuah kesepakatan. Sebuah perjanjian yang lebih kuat dari sekadar kata-kata di atas pasir yang bisa dihapus ombak. Sebuah ikrar bersama, yang disaksikan oleh semua penduduk dari setiap ras yang hadir di pulau ini. Agar kalian punya pedoman. Agar ada bukti bahwa kalian pernah bersepakat untuk hidup damai."

Kael mengerutkan keningnya yang berkerut. "Perjanjian seperti apa?"

"Itu," kataku, "akan kita buat bersama nanti. Sekarang, sampaikan pada semua orang. Siapa yang ingin pulau ini menjadi rumah, bukan sekadar tempat persinggahan yang penuh pertikaian, hadirlah."

Mereka terdiam sejenak, lalu mengangguk perlahan. Tanpa banyak bicara lagi, mereka berbalik dan menuruni lereng, kembali ke perkemahan dengan tugas baru.

Malam tiba dengan cepat. Bulan purnama tergantung tinggi, menerangi padang rumput di depan rumahku dengan cahaya perak. Aku telah menyiapkan sebuah tempat sederhana: sebuah api unghun besar di tengah, dikelilingi oleh batu-batu datar dan balok kayu sebagai tempat duduk.

Satu per satu, mereka datang. Perlahan, berkelompok-kelompok kecil berdasarkan keluarga atau teman dekat, tetapi tidak lagi terpisah secara rasial yang kaku. Mereka duduk, bercampur. Wajah-wajah itu masih lelah, masih penuh dengan bayangan ketakutan masa lalu, tetapi ada juga harapan dan keingintahuan.

Aku berdiri di dekat api unggun, ditemani Ratri di sebelah kananku dalam wujud remajanya, dan Eveline di sebelah kiri, berdiri kaku seperti patung penjaga. Kehadiran mereka, terutama setelah demonstrasi kekuatan Ratri tadi pagi, menambah bobot keseriusan malam ini.

"Terima kasih sudah datang," ucapku, suaraku terdengar jelas di keheningan malam. "Saya akan langsung pada intinya. Kalian semua ada di sini karena berbagai alasan, berbagai penderitaan. Tapi kalian punya satu kesamaan sekarang: pulau ini. Dan kalian punya pilihan: apakah pulau ini akan menjadi babak baru dari pertikaian lama, atau menjadi awal yang benar-benar baru."

Aku berjalan perlahan di depan mereka, menatap sekeliling wajah yang diterangi api. "Tadi pagi, saya marah. Bukan karena terusik, tetapi karena saya melihat kebodohan yang akan menghancurkan kalian sendiri. Saya melihat anak-anak yang ketakutan, dan orang tua yang putus asa, sementara energi dihabiskan untuk saling menyalahkan."

"Karena itu, malam ini, saya mengusulkan kita buat sebuah perjanjian. Bukan perjanjian dengan saya. Tapi perjanjian di antara kalian sendiri. Sebuah ikrar untuk hidup bersama di pulau ini."

Aku berhenti, memastikan semua mendengarkan.

"Pasal Pertama: Pengakuan Kesetaraan. Semua ras yang hadir—Manusia, Elf, Iblis—diakui memiliki hak dan martabat yang sama di pulau ini. Tidak ada ras yang lebih unggul, lebih suci, atau lebih berhak atas tanah dan sumber daya ini. Pelanggaran terhadap prinsip ini akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap perjanjian ini."

Desis kecil terdengar, terutama dari beberapa elf yang lebih tua, tetapi tidak ada yang berani protes.

"Pasal Kedua: Tanggung Jawas Kolektif dan Individual. Kita akan membangun dan menjaga pulau ini bersama-sama. Namun, jika terjadi pelanggaran—pencurian, kekerasan, pengrusakan—maka yang bertanggung jawab adalah individu pelakunya, bukan seluruh ras atau kelompoknya. Tidak ada lagi 'karena dia manusia' atau 'karena dia iblis'. Siapa pelakunya, dialah yang menghadapi konsekuensi. Ini untuk mencegah balas dendam buta dan mengajarkan tanggung jawab pribadi."

Kali ini, banyak yang mengangguk, terutama kaum Iblis yang sering menjadi kambing hitam.

"Pasal Ketiga: Penyelesaian Konflik. Jika terjadi perselisihan, tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan atau ancaman. Akan dibentuk sebuah dewan perwakilan—satu dari manusia, satu dari elf, satu dari iblis—untuk mendengarkan dan mencari solusi. Jika tidak tercapai, baru meminta penengah dari luar—dalam hal ini, bisa saya atau Ratri."

"Pasal Keempat: Ikatan Keluarga Antar Ras. Saya memahami di masa lalu mungkin ada tabu atau larangan. Di sini, pernikahan atau ikatan serius antar ras diperbolehkan, dengan satu syarat mutlak: persetujuan sukarela dari kedua belah pihak yang terlibat. Bukan paksaan dari keluarga, apalagi perintah dari ketua suku atau pemimpin mana pun. Ketua suku atau tetua boleh hadir untuk memberi restu dan kehadiran, tetapi bukan untuk memutuskan. Karena pernikahan adalah urusan dua orang dan keluarga inti mereka, bukan alat politik atau rekonsiliasi paksa."

Poin ini menyebabkan bisik-bisik yang lebih keras. Beberapa wajah tua tampak berkerut, tetapi beberapa anak muda, terutama sepasang manusia dan elf yang duduk berdekatan, saling memandang dengan cahaya baru di mata mereka.

"Pasal Kelima: Masa Depan Bersama. Perjanjian ini dibuat dan disaksikan pada malam ini, di bawah bulan purnama. Ini adalah janji kalian kepada sesama penghuni pulau. Saya dan Ratri hanyalah saksi. Pelanggaran terhadap perjanjian ini berarti pengingkaran terhadap janji kalian sendiri, bukan kepada saya."

Aku mengambil sebuah wadah berisi abu halus dari dekat api. "Ini bukan pasir pantai yang bisa hilang oleh ombak. Ini abu dari api yang sama yang menghangatkan kita malam ini, dicampur dengan tanah pulau ini." Aku menuangkannya ke sebuah batu datar yang besar. "Saya mengajak setiap perwakilan dewasa dari setiap keluarga, tanpa memandang ras, untuk membubuhkan cap jari atau tanda mereka di atas campuran abu dan tanah ini di batu ini. Batu ini akan diletakkan di tempat yang bisa dilihat semua orang, sebagai pengingat fisik dari perjanjian malam ini."

Diam yang penuh makna menyelimuti. Lalu, Gregor si manusia berdiri. "Saya setuju. Dan saya akan menjadi yang pertama membubuhkan tanda." Dia melangkah maju, mencelupkan jarinya ke dalam campuran basah, dan menekankannya di batu.

Lirea si elf berdiri berikutnya. "Elf dari klan Daun Kering juga setuju. Sudah waktunya untuk mengubur dendam lama." Jari rampingnya meninggalkan tanda di samping milik Gregor.

Kael si iblis mengangguk, wajahnya serius. "Kaum Iblis dari klan Tanduk Bengkok menyetujui. Kami lelah menjadi pengkambinghitam. Kami ingin hidup damai." Cap jarinya yang kasar menyentuh batu, menyelesaikan trio pertama.

Satu per satu, orang-orang dewasa dari semua ras maju. Suasana tidak lagi canggung. Ada anggukan, bahkan beberapa senyum kecil. Proses itu berlangsung khidmat. Anak-anak memperhatikan dengan mata berbinar, menyaksikan orang tua mereka membuat sejarah baru.

Setelah selesai, batu itu dipenuhi oleh puluhan tanda—sidik jari, simbol sederhana, coretan nama—bercampur menjadi satu dalam mosaik yang kacau namun penuh arti.

"Perjanjian ini telah dibuat," ucapku, suara terdengar agak serak. "Sekarang, jagalah. Jaga kata-kata kalian. Jaga kepercayaan ini. Bangunlah rumah kalian yang sesungguhnya di sini—bukan hanya dari kayu dan daun, tapi dari saling menghormati."

Aku mundur selangkah. "Malam ini, silakan berbagi makanan jika kalian punya. Bicaralah. Bukan tentang masa lalu yang pahit, tapi tentang rencana esok hari. Tentang di mana akan membangun sumur, atau jenis tanaman apa yang bisa dicoba."

Orang-orang mulai bergerak. Percakapan timbul, kali ini dengan nada yang berbeda. Masih ada rasa kikuk, tapi tidak lagi bermusuhan. Beberapa bahkan mulai berbagi potongan ikan asap atau sisa buah.

Aku melihat Ratri. Dia tersenyum kecil, senyum yang penuh dengan kebijaksanaan dan sedikit kebanggaan. Eveline hanya mengamati, mungkin tidak sepenuhnya memahami pentingnya emosi di balik ritual itu, tetapi mengerti bahwa situasinya telah berubah.

Aku sendiri menarik napas lega. Ini bukan akhir. Masih akan ada masalah, perselisihan, dan ujian. Tapi setidaknya, mereka telah mengambil langkah pertama yang penting—bukan karena dipaksa, tapi karena memilih untuk melakukannya bersama-sama.

Batu perjanjian itu, yang akan ditempatkan di suatu tempat di antara perkemahan mereka dan rumahku, akan menjadi pengingat bisu. Sebuah janji di bawah bulan, bahwa di pulau terpencil ini, berbagai ras yang terluka memutuskan untuk mencoba sesuatu yang lebih baik. Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!