Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Pukul empat sore tepat. Ruang rapat utama sudah disterilkan, aroma pengharum ruangan berpadu dengan ketegangan yang menggantung di udara. Aku berdiri di ujung meja panjang, merapikan letak laptop dan memastikan slide presentasiku sempurna. Di sebelah kananku, Arlan duduk dengan kaku, sesekali ia melirikku, namun aku tetap memperlakukannya seolah dia hanyalah bagian dari dekorasi ruangan.
"Klien sudah datang," bisik sekretaris Pak Bram di ambang pintu.
Pak Bram masuk dengan wajah sumringah, diikuti oleh rombongan pria berjas rapi. Di barisan paling depan, seorang pria jangkung dengan karisma yang mendominasi ruangan melangkah masuk. Ia mengenakan setelan jas custom-made berwarna abu-abu arang.
Langkahku terhenti. Napasku tertahan sejenak.
"Perkenalkan, ini adalah CEO baru dari Vantara Group, Bapak Harva Widjaya," ujar Pak Bram dengan nada bangga.
Harva? Harva Widjaya?
Ingatanku langsung terlempar ke masa kuliah di Jogja. Harva adalah teman sekelasku, si kutu buku yang selalu duduk di pojok belakang dan sering meminjam catatanku karena dia sibuk bekerja paruh waktu. Dia pria yang diam, namun selalu memperhatikanku dengan tatapan yang sulit diartikan dulu.
Harva menghentikan langkahnya tepat di depan meja. Matanya yang tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu langsung tertuju padaku. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya.
"Lama tidak bertemu, Rania," suaranya berat, jauh lebih berwibawa dibanding Harva yang kukenal dulu.
Aku berdeham, berusaha menguasai diri. "Selamat sore, Pak Harva. Senang bertemu Anda kembali. Mari silakan duduk."
Aku bisa merasakan aura di sebelahku berubah. Arlan tampak gelisah. Dia tentu ingat siapa Harva. Harva adalah orang yang dulu sering ia ejek "si miskin pemburu beasiswa" saat kami masih berpacaran di kampus. Sekarang, keadaan berbalik 180 derajat.
"Jadi, ini tim yang akan memegang proyek besar kita?" tanya Harva sambil menyandarkan punggungnya, matanya beralih ke Arlan sejenak dengan tatapan dingin, lalu kembali padaku. "Saya harap kualitas kerjanya sebagus kualitas catatannya saat kuliah dulu, Rania."
Pak Bram tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan di bawah permukaan. "Wah, kalian ternyata teman lama? Baguslah, kerja sama pasti akan lebih mudah."
Presentasi dimulai. Aku berusaha seprofesional mungkin, namun aku merasa sepasang mata Harva terus mengikutiku, bukan mengikuti slide di layar. Setiap kali Arlan mencoba memberikan penjelasan tambahan, Harva akan memotongnya dengan pertanyaan teknis yang sangat tajam, membuat Arlan berkali-kali gagap dan kehilangan kata-kata.
"Data ini kurang akurat, Arlan," potong Harva dingin saat Arlan mempresentasikan bagian anggaran Jogja. "Sebagai orang yang lama di sana, seharusnya Anda tahu detailnya. Atau fokus Anda terbagi ke hal lain?"
Wajah Arlan memerah padam. Dia menunduk, tangannya gemetar di atas meja. Aku hanya diam, tidak berniat membantunya. Ini adalah panggungnya untuk membuktikan diri, dan dia gagal total di depan pria yang dulu dia remehkan.
Setelah dua jam yang melelahkan, rapat berakhir. Pak Bram mengantar tim Vantara keluar, namun Harva tetap di tempatnya, berpura-pura merapikan berkas.
"Arlan, tolong bawa dokumen ini ke ruang arsip. Saya ingin bicara berdua dengan Ibu Rania mengenai detail kontrak," perintahku tegas.
Arlan menatapku, lalu menatap Harva dengan tatapan penuh kecemburuan yang tak tertutup. Namun, dia tidak punya kuasa untuk membantah. Dia keluar dari ruangan dengan bahu merosot.
Hening sejenak. Hanya ada aku dan Harva di ruangan luas itu.
Harva berdiri, berjalan perlahan mendekatiku hingga jarak kami hanya terhalang meja rapat. Dia melepas kacamatanya.
"Kamu berubah, Ran. Tembok es ini... siapa yang membangunnya setinggi ini? Si pengecut tadi?" tanya Harva to the point.
Aku menutup laptopku dengan bunyi klik yang nyaring. "Itu bukan urusan bisnis, Pak Harva."
"Panggil aku Harva, seperti dulu," dia menghela napas. "Aku dengar apa yang terjadi di Jogja tiga tahun lalu. Maaf aku tidak ada di sana saat itu untuk... menjagamu."
Aku menatapnya tajam. "Aku tidak butuh penjaga, Harva. Aku sudah cukup kuat untuk berdiri sendiri."
"Aku tahu. Tapi wanita sekuat apa pun butuh tempat untuk bersandar sesekali," Harva merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama pribadi yang elegan. "Makan malam denganku besok? Sebagai teman lama, atau sebagai mitra bisnis. Kamu yang pilih."