Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding Kasta
Jakarta menyambut Arya dengan kemacetan yang menyesakkan dan udara gerah yang seolah membakar kulit. Namun, bagi Kapten Pradipta Arya, kebisingan ibu kota tidak ada apa-apanya dibandingkan kegaduhan yang sedang terjadi di dalam dadanya. Setelah menyelesaikan urusan administrasi di markas besar, ia memacu mobilnya menuju kawasan Menteng, tempat rumah dinas megah sang ayah berdiri.
Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia meninggalkannya. Besar, kokoh, dan berwibawa, namun selalu terasa sedikit dingin dengan penjagaan provost di gerbang depan. Arya menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Ia membawa beban yang berat: sebuah janji kepada seorang gadis di Jogja dan sebuah kabar duka tentang kepergian salah satu prajurit terbaik yang pernah ia kenal.
Di ruang makan yang luas, meja jati panjang sudah tertata rapi. Aroma masakan mewah tercium hingga ke selasar. Papi Arya, Letnan Jenderal Sudrajat, duduk di ujung meja dengan kacamata baca yang bertengger di hidungnya, sementara Maminya, Ibu Lastri, tampak sibuk mengatur letak piring porselen dengan ketelitian seorang perfeksionis.
"Akhirnya, putra kebanggaan Mami pulang juga," sapa Ibu Lastri dengan senyum yang dipaksakan simetris. Ia memeluk Arya, namun matanya seolah sedang menilai apakah putranya itu masih "layak" menyandang nama besar keluarga setelah bertahun-tahun di hutan.
Tak lama kemudian, kedua kakak perempuan Arya, Aurel dan Arista, datang bersama suami mereka masing-masing yang juga merupakan perwira menengah di lingkungan TNI. Suasana yang seharusnya menjadi acara syukuran kepulangan Arya perlahan berubah menjadi rapat keluarga yang kaku.
*
Setelah hidangan utama selesai dinikmati, Papi meletakkan sendok dan garpunya dengan suara denting yang tegas. Isyarat bahwa pembicaraan serius akan segera dimulai.
"Arya, Papi dan Mami sudah membicarakan masa depanmu," buka Papi Sudrajat dengan suara baritonnya yang tenang namun memerintah. "Pangkatmu Kapten sekarang. Kariermu sedang di puncak, apalagi setelah prestasi di Papua. Tapi, seorang perwira tidak akan lengkap tanpa pendamping yang sepadan di sampingnya."
Arya mengerutkan kening, perasaannya mulai tidak enak. Ia melirik Aurel dan Arista. Kedua kakaknya itu hanya tertunduk, sesekali mereka saling berpandangan dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebagai kakak yang menyaksikan tumbuh kembang Arya, mereka tahu betul siapa yang bertahta di hati adik laki-laki mereka itu. Mereka ingat kalung sepatu balet yang dibeli Arya dengan uang sakunya sendiri, dan mereka ingat bagaimana Arya selalu bertanya tentang Nina setiap kali mereka berkunjung ke Akmil.
"Papi sudah bicara dengan Mayor Jenderal Baskoro," lanjut Papi. "Beliau punya putri tunggal, Maura. Lulusan luar negeri, cerdas, dan yang terpenting, dia sangat paham bagaimana menjadi istri seorang perwira tinggi di masa depan. Kami sepakat untuk mempertemukan kalian minggu depan."
Dunia Arya seolah melambat. Perjodohan. Kata yang terdengar sangat kolot di telinganya, namun sangat nyata di hadapannya.
Arya meletakkan serbetnya di atas meja. Ia menatap ayahnya, lalu beralih ke ibunya yang tampak sangat bersemangat.
"Papi, Mami... mohon maaf sebelumnya," ucap Arya dengan nada yang diusahakan tetap tenang dan hormat. "Arya sangat menghargai niat baik Papi dan Mami untuk masa depan Arya. Tapi, Arya tidak bisa menerima perjodohan ini."
Suasana meja makan seketika membeku. Ibu Lastri yang baru saja hendak menyesap tehnya, meletakkan cangkir itu dengan hentakan yang cukup keras.
"Kenapa tidak bisa, Arya? Maura itu pilihan terbaik. Dia cantik, berpendidikan, dan keluarganya adalah kolega terdekat Papi. Apa yang kurang?" suara Mami mulai meninggi.
Arya menarik napas dalam. Ia tahu ini akan menjadi medan tempur yang lebih sulit daripada hutan Papua. "Bukan soal apa yang kurang dari Maura, Mi. Tapi soal janji yang sudah Arya buat. Arya sudah memiliki pilihan sendiri."
Arista tampak menarik napas tertahan. Ia ingin membela adiknya, namun tatapan tajam Papi membuatnya terdiam.
"Pilihan sendiri? Siapa?" tanya Papi dengan nada mengintimidasi.
"Nina," jawab Arya mantap. "Aura Shenina, putri dari mendiang Sersan Mayor Hamdan. Bawahan Papi dulu di Gatot Subroto. Arya sudah berjanji padanya, dan Arya sudah memantapkan hati untuk menjaganya."
Mendengar nama itu, wajah Ibu Lastri berubah merah padam. Ia berdiri dari kursinya, tangannya menunjuk ke arah Arya dengan gemetar.
"Nina? Anak bintara itu?! Anak tukang jahit itu yang kamu pilih daripada putri seorang Jenderal?" teriak Mami, suaranya melengking memenuhi ruang makan. "Arya! Kamu sudah gila? Kamu itu Kapten! Masa depanmu cerah! Kamu mau menghancurkan kariermu dan nama baik keluarga ini hanya untuk gadis asrama yang hanya bisa menari-nari tidak jelas itu?"
"Mami, jaga bicara Mami!" Arya ikut berdiri, suaranya meninggi namun tetap terkontrol. "Nina bukan sekadar gadis asrama. Dia wanita yang mandiri, berpendidikan, dan dia putri dari Pak Hamdan, orang yang sudah Papi anggap sebagai tangan kanan Papi sendiri. Papi selalu bilang kalau TNI adalah keluarga besar tanpa memandang pangkat, lalu kenapa sekarang Mami merendahkannya hanya karena jabatan ayahnya?"
"Itu di lapangan, Arya! Di urusan dinas!" potong Mami histeris. "Tapi untuk urusan pernikahan, ada kasta yang harus dijaga! Ada kehormatan keluarga yang dipertaruhkan! Apa kata teman-teman Mami nanti kalau menantu Mami hanya anak seorang bintara? Mami tidak setuju! Sampai mati pun Mami tidak akan memberikan restu!"
Papi Sudrajat tetap diam, namun tatapannya sangat tajam, seolah sedang menimbang-nimbang antara harga diri korps dan kebahagiaan putranya.
"Papi, Mami... Pak Hamdan baru saja meninggal," ucap Arya, suaranya kini melunak namun penuh penekanan. "Beliau meninggal saat Arya ada di sana. Arya melihat bagaimana Nina dan ibunya hancur. Di depan makam beliau, Arya bersumpah untuk menjaga mereka. Apakah Papi dan Mami tega menyuruh Arya melanggar sumpah di atas tanah kuburan seorang prajurit?"
Aurel akhirnya tidak tahan untuk diam. "Mi, Nina itu anak baik. Dia mahasiswi berprestasi di ISI Jogja. Arya sudah menyukainya sejak kecil, Mami tahu itu. Kenapa kita harus memaksakan ego pangkat dalam urusan hati?"
"Kamu diam, Aurel!" bentak Mami. "Kamu dan Arista sudah menikah dengan perwira-perwira pilihan. Hidup kalian terjamin. Sekarang giliranku memastikan adikmu tidak melakukan kesalahan fatal!"
Arya menatap ibunya dengan tatapan kecewa yang mendalam. Ia merasa tidak lagi mengenal wanita yang melahirkannya itu. Di mata ibunya, ia bukan lagi seorang manusia dengan perasaan, melainkan sebuah aset keluarga yang harus dipasangkan dengan aset berharga lainnya.
"Mami," kata Arya pelan namun terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian itu. "Selama di Papua, Arya belajar bahwa satu-satunya hal yang nyata adalah kesetiaan. Arya tidak akan mengkhianati Nina, sebagaimana Arya tidak pernah mengkhianati negara ini. Jika Mami tetap memaksakan perjodohan ini, Arya lebih baik kembali ke pedalaman dan tidak usah pulang ke rumah ini lagi."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Arya memberi hormat singkat kepada ayahnya, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruang makan tanpa menoleh lagi.
"Arya! Kembali kamu! Pradipta Arya!" teriak Maminya, namun Arya terus melangkah.
Di meja makan, Ibu Lastri menangis histeris, sementara Papi Sudrajat memijat keningnya yang berdenyut. Aurel dan Arista hanya bisa saling menggenggam tangan di bawah meja. Mereka tahu, badai besar baru saja dimulai. Perjuangan Arya untuk Nina bukan lagi sekadar melawan jarak, tapi melawan darahnya sendiri.
Arya masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraan itu keluar dari kompleks Menteng. Ia butuh udara. Ia butuh ketenangan. Di dalam saku seragamnya, ia meraba ponselnya. Ia ingin menelepon Nina, ingin mendengar suara gadis itu, namun ia ragu. Ia tidak ingin Nina tahu bahwa cintanya kini menjadi penyebab keretakan di keluarganya.
"Maafkan aku, Nin," bisiknya pada kegelapan malam Jakarta. "Tapi aku tidak akan menyerah. Aku sudah berjanji pada Ayahmu, dan aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Garis takdir mereka kini benar-benar terjal. Tembok kasta militer berdiri tinggi di depan mata, dan Arya baru saja menyatakan perang terhadap tembok itu.