Pernikahan yang di dasari oleh paksaan sering kali tidak berjalan harmonis dan ironisnya Nika dan Devan harus terlibat di hubungan yang seperti itu.
Nika yang menyetujui pernikahan itu hanya karena semata mata untuk keselamatan perusahaan keluarga nya yang sudah susah payah di bangun oleh para sesepuh keluarganya.
Sedangkan Devan yang menyusulkan persyaratan pernikahan sebagai jaminan bukan semata mata menginginkan tubuh Nika sebagai hadiah dari kedermawanannya menyelamatkan perusahaan keluarga Nika namun jauh dari itu Devan memiliki alasan tersembunyi yang jauh dari perkiraan Nika.
Dan sepanjang pernikahan yang sudah berjalan Nika yang memang memiliki watak yang keras kepala sering sekali memberikan perilaku dingin dan kata kata menyakitkan pada Devan suaminya hanya untuk membuat pria itu menyerah akan pernikahan mereka.
Dan saat harapan Nika hampir terwujud mengapa bukan senang yang ia rasakan? Novel ini akan menceritakan perjuangan Nika untuk kembali mengambil hati suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25. Ombak, Sutra, dan Papan Selancar
Setelah badai hukum yang menyeret Pak Batubara dan Rendy ke balik jeruji besi mereda, dunia seolah memberikan napas baru bagi Devan dan Nika. Jakarta yang bising dan penuh intrik mereka tinggalkan sejenak. Devan, sang CEO yang biasanya tak bisa lepas dari deru mesin proyek dan aroma kopi kantor, akhirnya memutuskan untuk menutup laptopnya rapat-rapat. Ia menyerahkan kendali operasional sementara kepada Siska—yang kini bekerja dengan dedikasi dua kali lipat untuk menebus kesalahannya di masa lalu.
Destinasi mereka adalah Bali, namun bukan Bali yang penuh debu proyek atau rapat koordinasi di hotel berbintang. Devan memesan sebuah vila pribadi yang tersembunyi di balik tebing tinggi kawasan Uluwatu, di mana satu-satunya suara yang terdengar hanyalah nyanyian ombak pecah dan desiran angin yang membawa aroma garam laut.
"Mas! Lihat pasirnya! Warnanya mirip gula halus, aku jadi ingin menaburkannya di atas donat!" seru Nika begitu mereka menginjakkan kaki di teras vila yang menjorok langsung ke Samudera Hindia.
Devan tersenyum tipis, meletakkan koper mereka di samping dipan kayu jati yang elegan. Penampilan Devan hari ini sangat langka; ia mengenakan kemeja linen tipis yang kancing atasnya dibuka, celana pendek chino, dan sandal kulit santai. Tidak ada jas, tidak ada dasi sutra, dan tidak ada raut wajah tegang yang biasanya ia tunjukkan di depan dewan komisaris.
"Di sini tidak ada rapat, tidak ada audit, dan tidak ada plester ayam kalau kamu tidak terluka. Hanya ada kita, matahari, dan ombak, Ni," ucap Devan sambil menghirup udara laut yang segar.
Nika tidak langsung menjawab. Ia justru sibuk membongkar kopernya dengan semangat yang meluap-luap. "Tapi Mas, aku bosan kalau cuma berjemur seperti ikan asin di pinggir pantai. Kita harus melakukan sesuatu yang menantang! Sesuatu yang membuat jantung kita berdebar lebih kencang daripada saat menghadapi polisi kemarin!"
Nika kemudian berlari ke arah balkon, menunjuk ke arah sekelompok peselancar di kejauhan yang tampak seperti titik-titik kecil di atas gulungan ombak biru. "Aku mau coba itu. Aku mau belajar selancar!"
Devan mengangkat sebelah alisnya, ekspresi skeptis yang sangat familiar muncul kembali. "Berselancar? Nika, menjaga keseimbangan di atas sepatu hak tinggi sepuluh senti saja kamu sering limbung dan hampir menabrak manekin, apalagi di atas papan tipis di tengah ombak yang bergerak."
Nika mengerucutkan bibirnya, memberikan tatapan "maut" yang justru terlihat menggemaskan di mata Devan. "Jangan meremehkan kekuatan tekad seorang desainer, Mas Bos! Kalau aku bisa menyatukan potongan kain yang berantakan menjadi gaun mahakarya, aku pasti bisa menyatukan tubuhku dengan papan itu!"
Satu jam kemudian, Devan berdiri di pinggir pantai dengan tangan di pinggang. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak tertawa, namun usahanya gagal total saat melihat Nika keluar dari vila.
Nika muncul bukan dengan baju selam (wetsuit) profesional berbahan neoprene yang ketat. Tidak, itu terlalu biasa bagi seorang Arunika Batubara. Ia mengenakan kreasi terbarunya yang ia sebut sebagai "Baju Renang Koleksi Samudera". Itu adalah one-piece berwarna biru toska yang ia modifikasi dengan rumbai-rumbai kain sifon panjang di bagian pinggang. Kain itu melambai-lambai ditiup angin, memberikan kesan ia lebih mirip penari balet air daripada seorang peselancar. Di kepalanya, ia memakai kacamata renang biru besarnya (lagi) dan sebuah topi pantai lebar yang ia ikat dengan pita di dagu.
"Nika... kamu mau berselancar atau mau ikut karnaval budaya di tengah laut?" tanya Devan sambil menyeka air mata yang muncul karena tawanya yang meledak.
"Ini namanya Surfing Glamour, Mas! Biar kalau aku jatuh tergulung ombak dan ada fotografer lewat, aku tetap terlihat estetik di foto majalah!" jawab Nika penuh percaya diri sambil menyeret papan selancar yang ukurannya hampir dua kali lipat tubuh mungilnya.
Nika mulai melangkah masuk ke dalam air dengan gaya anggun, seolah-olah pantai itu adalah runway Paris Fashion Week. Namun, alam memiliki selera humor yang berbeda. Baru saja air mencapai lututnya, sebuah ombak kecil datang menyapa. Rumbai-rumbai kain sifon yang tadi melambai indah itu seketika menjadi berat karena air, melilit kaki Nika seperti jerat tanaman rambat.
Gubrak!
Nika terjatuh dengan posisi tengkurap, wajahnya mencium pasir basah, dan papan selancarnya terlepas meluncur ke samping.
"Papan selancar satu, Nika nol," gumam Devan sambil berjalan santai menghampiri istrinya yang sedang berusaha melepaskan lilitan kain dari kakinya.
Devan membantu Nika berdiri, dengan sabar membersihkan butiran pasir yang menempel di ujung hidung dan kacamata renang istrinya. "Ayo, lepaskan dulu semua ornamen desainer ini. Laut tidak butuh rumbai-rumbai, Ni. Laut butuh fokus. Aku akan mengajarimu secara teknis. Anggap saja papan ini adalah fondasi jembatan. Kamu harus menemukan titik beratnya agar struktur tubuhmu tidak runtuh."
Nika merengut, melepaskan rumbai-rumbai sifonnya dengan enggan. "Baiklah, asisten teknis. Tunjukkan padaku bagaimana cara 'mengecor' keseimbangan di atas air ini."
Sore itu pun berubah menjadi sesi pelatihan yang penuh tawa. Devan, dengan kesabaran yang luar biasa, memegangi papan selancar di area air dangkal sementara Nika mencoba naik ke atasnya.
"Mas! Pegang yang kencang! Papannya goyang-goyang seperti hatiku saat melihat Rendy!" seru Nika panik, tangannya menggapai-gapai udara.
"Ini karena kamu tidak menaruh beban di tengah, Nika. Geser kakimu sedikit ke kanan. Bayangkan ini adalah garis simetri pada pola baju," instruksi Devan dengan nada serius namun matanya berbinar senang.
Setiap kali Nika mencoba berdiri, ia akan bertahan selama dua detik sebelum akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh tercebur. Dan setiap kali jatuh, Nika memastikan ia menarik lengan Devan ikut masuk ke dalam air. Mereka berakhir berendam bersama, tertawa di antara buih ombak yang asin.
"Mas! Kamu sengaja ya membuatku jatuh supaya bisa menangkapku di air?" tuduh Nika sambil menyemprotkan air laut ke wajah Devan menggunakan telapak tangannya.
Devan tertawa lepas, ia menangkap pinggang Nika dan mengangkat tubuh kecil itu tinggi-tinggi di atas permukaan air. "Itu namanya prosedur penyelamatan darurat, Sayang. Sebagai asisten yang baik, aku harus memastikan aset berhargaku tidak tenggelam."
Waktu seolah melambat saat matahari mulai turun mendekati garis cakrawala. Langit Bali yang tadinya biru cerah berubah menjadi palet warna ungu, oranye, dan merah jambu yang magis. Mereka berhenti bermain dan memutuskan untuk duduk di atas papan selancar yang terapung tenang di air yang setinggi pinggang.
Nika menyandarkan kepalanya di bahu lebar Devan, membiarkan kakinya menjuntai di dalam air yang hangat. Suasana menjadi hening, hanya ada suara napas laut yang teratur.
"Mas," panggil Nika pelan, suaranya kini lebih dalam dan tulus, hilang sudah nada candanya yang tadi.
"Ya?"
"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku. Saat aku masih jadi 'Nika yang menyebalkan', yang kerjanya hanya belanja dan menghinamu setiap hari. Terima kasih sudah memberiku kesempatan kedua untuk mencintaimu... meskipun caraku mencintaimu terkadang melibatkan bando suster dan seragam petugas kebersihan."
Devan terdiam sejenak, ia menatap hamparan laut luas di depan mereka. Tangan besarnya mengusap sisa air laut di pipi Nika. "Aku tidak pernah menyerah karena aku tahu di balik tembok yang kamu bangun dari rasa takut dan ego itu, ada hati yang sangat hangat. Aku hanya perlu sedikit sabar... dan ternyata kuncinya adalah beberapa kilogram ikan asin untuk meruntuhkan pertahananmu."
Nika tertawa kecil, mencubit lengan Devan pelan. "Ikan asin itu sejarah, Mas. Jangan dibahas lagi."
"Tapi jujur, Ni," lanjut Devan. "Melihatmu berjuang di kantor tempo hari, melihatmu berani memilih kebenaran daripada melidungi kesalahan Papamu... itu adalah momen di mana aku sadar bahwa aku tidak salah memilih rumah. Kamu adalah rumahku sekarang."
Nika terenyuh, matanya berkaca-kaca terkena pantulan cahaya senja. "Mas, setelah pulang dari sini, aku mau kita buat sesuatu yang lebih besar. Bukan cuma proyek gedung atau butik. Aku mau kita buat yayasan untuk anak-anak pekerja konstruksi di lokasi proyekmu. Biar mereka punya sekolah dan tempat bermain yang bagus. Aku yang akan desain seragam dan interiornya agar mereka merasa keren, dan kamu yang bangun gedungnya agar tidak roboh. Bagaimana?"
Devan mengecup puncak kepala Nika yang masih basah. "Itu rencana yang luar biasa. Kita akan sebut itu 'Yayasan Arunika-Adiguna'. Kita mulai persiapannya bulan depan."
Nika tersenyum lebar, ia merasa hidupnya kini benar-benar utuh. Namun, sifat jahilnya tak bisa hilang begitu saja. Ia melihat Devan yang sedang tampak sangat puitis menatap matahari terbenam.
"Mas," panggil Nika lagi.
"Ya, Sayang?"
"Sekarang giliranmu. Aku mau lihat kamu berdiri di papan ini. Tunjukkan padaku kalau CEO Adiguna Group punya keseimbangan yang lebih baik daripada asistennya!" tantang Nika dengan nada provokatif.
Devan merasa tertantang. Ia berdiri di atas air yang dangkal, naik ke atas papan selancar dengan gerakan atletis yang sangat lancar. Ia berdiri tegak, merentangkan tangannya, tampak sangat gagah dengan latar belakang matahari terbenam—pemandangan yang sanggup membuat Nika terpana.
"Lihat? Ini namanya penguasaan medan, Ni," ucap Devan bangga.
Namun, tepat saat Devan merasa di atas angin, Nika dengan gerakan kilat menggoyangkan bagian belakang papan selancar itu menggunakan kakinya.
"Gravitasi, Mas! Ingat gravitasi!" seru Nika.
Devan yang tidak siap seketika kehilangan keseimbangan. Lengannya berputar-putar di udara seperti baling-baling sebelum akhirnya jatuh tercebur dengan suara byurrr yang keras dan posisi badan yang sangat tidak elegan—menyerupai nangka jatuh.
"Nikaaaaa!" teriak Devan saat muncul kembali ke permukaan, wajahnya penuh dengan rumput laut yang entah dari mana tersangkut di telinganya.
Nika sudah berlari menuju tepi pantai sambil tertawa terbahak-bahak hingga memegang perutnya. "Hahaha! CEO-nya tenggelam! Ternyata fondasi kakimu masih butuh disemen lagi, Mas Bos!"
Devan segera mengejarnya, berlari di atas pasir yang basah. Di bawah langit Bali yang indah, bayangan mereka yang berkejaran tampak begitu bahagia. Tidak ada lagi beban hutang, tidak ada lagi pengkhianatan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang telah memilih untuk saling mencintai dengan segala keanehan dan kegilaan yang ada.
Saat Devan berhasil menangkap Nika di dekat bibir pantai, ia mengangkat tubuh istrinya dan mereka terjatuh bersama di atas pasir yang lembut. Devan menatap Nika yang masih tertawa, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya, memberikan kecupan yang dalam dan penuh janji di bibir Nika.
"Aku mencintaimu, Nika. Sampai kapan pun," bisik Devan di sela deru ombak.
"Aku juga, Mas. Lebih dari ikan asin mana pun di dunia ini," jawab Nika sambil memeluk leher suaminya erat.
Malam mulai turun di Bali, namun bagi mereka, ini adalah awal dari fajar yang sesungguhnya. Mereka tidak tahu badai apa lagi yang akan datang di Jakarta nanti, tapi malam ini, mereka hanya butuh satu sama lain—dan mungkin sebuah plester bergambar anak ayam jika Devan benar-benar terluka saat mengejar Nika tadi.