Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27
Malam kedua di kediaman Julian merayap dengan kesunyian yang mencekam, hanya dipecah oleh suara detak jam dinding yang seolah menggema di setiap sudut koridor yang dingin. Di kamar tamu yang remang-remang, Kenzie perlahan mulai mendapatkan kembali kesadarannya. Kelopak matanya terasa seberat baja dan setiap sendi di tubuhnya seolah baru saja disatukan kembali setelah hancur berkeping-keping.
Hal pertama yang ia rasakan bukanlah rasa sakit, melainkan kehangatan yang asing namun menenangkan. Kenzie mengernyit, mencoba menggerakkan tubuhnya yang masih kaku. Ia menyadari ada beban yang melingkar di pinggangnya, sebuah pelukan yang sangat erat dan posesif.
Kenzie menoleh perlahan dan mendapati Julian tertidur di sampingnya, di atas ranjang yang sama. Laki-laki itu tidak melepaskan Kenzie barang satu inci pun. Wajah Julian berada sangat dekat dengan bahunya, deru napasnya yang teratur terasa hangat menyentuh kulit leher Kenzie.
Kenzie mematung. Ia terdiam selama beberapa menit, hanya untuk mengamati wajah Julian di bawah siraman cahaya bulan yang menembus jendela. Di saat tidur seperti ini, Julian tidak tampak seperti pria yang sombong, kasar atau penuh rahasia. Julian tampak hancur. Ada gurat kelelahan yang sangat dalam di bawah matanya dan sisa-sisa air mata yang mengering di pipinya menceritakan segalanya tentang apa yang telah terjadi selama dua malam Kenzie tak sadarkan diri.
Kenzie teringat memori terakhirnya, darah yang mengucur, wajah Elena yang membiru dan rasa sakit yang menyedot seluruh energinya hingga ia merasa jiwanya memudar. Namun sekarang, ia merasa berbeda. Ada aliran energi baru di dalam nadinya, energi biru yang dingin namun stabil milik Julian.
Kau memberikan bagian dari jiwamu padaku, Julian? batin Kenzie.
Kenzie menyentuh lengan bawahnya yang terluka di festival. Luka itu sudah menutup sempurna, meninggalkan kulit yang halus seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Kenzie mencoba melepaskan diri dari dekapan Julian. Ia tidak ingin membangunkan pria itu yang tampaknya baru bisa memejamkan mata setelah terjaga selama puluhan jam. Setelah berhasil turun dari kasur, Kenzie berdiri sejenak, menyeimbangkan tubuhnya yang masih sedikit limbung.
Pikiran pertamanya tertuju pada satu nama, Elena.
Kenzie melangkah keluar dari kamar tamu. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin, menciptakan bunyi derit halus di tengah keheningan malam. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kamar utama, tempat di mana ia terakhir kali melihat Elena berjuang di ambang maut.
Jantung Kenzie berdegup kencang. Ia berharap darahnya telah bekerja dengan sempurna. Kenzie berharap bisa melihat senyum Elena lagi, meski ia tahu bahwa maut bagi manusia adalah kepastian yang tak terelakkan.
Begitu ia sampai di depan pintu kayu besar itu, ia menarik napas panjang dan membukanya perlahan.
"Elena?" bisiknya pelan.
Namun, tidak ada jawaban. Kamar itu tidak gelap, tapi juga tidak terang. Hanya ada cahaya lampu tidur yang redup. Pandangan Kenzie menyapu ruangan dan seketika itu juga, langkahnya terhenti.
Tempat tidur itu kosong.
Seprai yang sebelumnya ternoda oleh darah dan kekacauan medis kini telah diganti dengan kain putih yang bersih, rapi dan tegang. Tidak ada tabung oksigen, tidak ada peralatan obat-obatan dan tidak ada aroma penyakit yang menusuk. Kamar itu berbau lavender aroma kesukaan Elena. Namun, aroma itu terasa hambar karena pemiliknya tidak ada di sana.
Semuanya terlalu rapi. Dan bagi Kenzie, kerapian ini adalah pertanda yang paling mengerikan. Kerapian ini berarti perjalanan telah berakhir.
"Ibu pergi dengan sangat cantik, Kak."
Suara serak itu membuat Kenzie tersentak. Ia berbalik dan melihat Clara berdiri di ambang pintu. Gadis kecil itu tampak jauh lebih kurus hanya dalam dua hari. Matanya sembab, mengenakan gaun hitam polos yang kontras dengan kulitnya yang pucat.
"Clara..." suara Kenzie tercekat.
Clara berjalan mendekati Kenzie, langkahnya tidak lagi ceria seperti biasanya. Ia berhenti tepat di depan Kenzie dan menatap tempat tidur ibunya yang kosong. "Ibu meninggal beberapa jam setelah Kak Kenzie pingsan. Dia tidak kesakitan. Dia hanya menutup mata sambil tersenyum, seolah dia sedang bermimpi indah. Ayah bilang, itu karena darah Kak Kenzie."
Kenzie menunduk, rasa bersalah dan duka bercampur menjadi satu. "Maafkan aku, Clara. Aku tidak bisa menyelamatkannya sepenuhnya."
"Jangan minta maaf." Clara menggeleng kuat, air mata kembali menggenang di matanya. "Ibu bilang ini yang terbaik. Dia tidak ingin hidup lebih lama jika hanya menjadi beban bagi Ayah dan Kak Kenzie. Sebelum dia benar-benar tertidur, dia menulis ini."
Clara mengulurkan sebuah amplop berwarna krem yang tampak sedikit lecek karena sering digenggam. "Ibu bilang, hanya Kak Kenzie yang boleh membacanya. Dia memintaku memberikan ini tepat saat Kakak bangun."
Kenzie menerima amplop itu dengan tangan yang gemetar. Ia membukanya perlahan, merasakan tekstur kertas yang masih menyisakan aroma parfum Elena. Di dalamnya, terdapat tulisan tangan yang miring dan lemah, namun setiap goresannya terasa sangat tegas.
...─────────⊱⁜⊰──────────...
Kenzie.
Saat kau membaca ini, aku mungkin sudah berada di tempat di mana waktu tidak lagi menjadi musuhku. Jangan menangisi kepergianku, karena untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun terakhir, aku merasa sangat ringan. Terima kasih atas darahmu, Kenzie. Darah itu memberiku kesempatan untuk melihat apa yang selama ini tertutup oleh keterbatasan manusiaku.
Aku melihatnya, Kenzie. Aku melihat benang yang mengikatmu dengan Julian. Benang itu sudah ada jauh sebelum aku lahir dan akan tetap ada setelah aku tiada. Julian telah memberikan sebagian dari jiwanya untukmu agar kau tetap hidup. Sekarang, dia bukan lagi hanya seorang Aethern yang kesepian, dia adalah bagian darimu.
Tolong, jangan lari lagi. Aku menitipkan suamiku padamu. Dia mungkin pria yang keras kepala dan penuh dosa, tapi dia mencintaimu lebih dari dia mencintai keabadiannya sendiri. Jagalah dia, Kenzie. Jangan biarkan dia tenggelam dalam penyesalan atas kematianku. Katakan padanya bahwa aku pergi dengan bahagia karena aku tahu dia tidak akan sendirian.
Dengan kasih, Elena.
...─────────⊱⁜⊰──────────...
Air mata yang sejak tadi ditahan Kenzie akhirnya jatuh, membasahi kertas surat itu. Kenzie meremas surat itu di dadanya, merasakan sesak yang luar biasa. Selama empat ratus tahun, ia selalu menghindari ikatan karena ia takut akan kehilangan. Namun di sini, seorang wanita yang baru ia kenal, seorang wanita yang seharusnya membencinya karena telah merebut perhatian suaminya, justru memberinya restu yang paling suci.
Kenzie menyadari satu hal, pengorbanan Julian menyembuhkannya bukan hanya soal menutup luka fisik, tapi soal menyerahkan identitasnya. Julian telah melanggar hukum alam demi dirinya.
"Di mana Ibu mu sekarang?" tanya Kenzie pada Clara, suaranya bergetar.
"Ayah dan aku sudah menguburnya di halaman belakang rumah pagi tadi." jawab Clara lirih. "Ibu bilang, masih ada Ayah dan Kak Kenzie yang akan menjagaku. Aku tidak boleh menangis."
Kenzie menatap Clara penuh iba. Anak sekecil itu tidak seharusnya dipaksa mengerti keadaan. Clara adalah anak yang kuat, sama seperti Elena. Dengan gerakan perlahan, Kenzie menarik Clara ke dalam pelukannya. Ia mengusap rambut panjang anak itu dengan gerakan lembut saat tangis yang berusaha ia tahan akhirnya tumpah di sana.
"Tidak apa-apa, Clara. Menangislah. Ibu mu tidak akan marah karena kau menangis bersama Kakak." ucap Kenzie, memicu isakan dari Clara yang semakin keras. Tubuh mungilnya berguncang-guncang dalam pelukan Kenzie, dengan tangannya yang melingkar di punggung Kenzie erat.
...•••...