NovelToon NovelToon
ASI Anak SMA

ASI Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia / Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Malamfeaver

___Folow Ig:gaabriiellaaa12

"Vanya Gabriella" memiliki kelainan saat menginjak usia 18 tahun,dimana dia sudah mengeluarkan as* padahal dia tidak hamil.
dan disekolah barunya dia bertemu dengan ketua OSIS, "Aiden Raditya", dan mereka adalah jodoh.

"lo ngelawan sama gua? "
bentak Aiden marah

"nggak kak...maaf"
jawab vanya sambil menunduk ketakutan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malamfeaver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab.19 1 kamar

Rabu pagi tiba dengan suasana yang terasa berbeda di kediaman Saputra. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden kamar utama terasa lebih redup, seolah ikut merasakan beratnya hati penghuni rumah itu.

 Vanya terbangun dan mendapati sisi kiri serta kanannya sudah kosong. Papa dan Mamanya sepertinya sudah bangun lebih dulu untuk mempersiapkan segala keperluan pindahannya.

​Vanya mendesah panjang, memeluk guling milik Mamanya erat-berat.

"Gweh beneran pindah hari ini ya?"

 bisiknya pada keheningan kamar.

​Dengan langkah gontai dan rambut yang sedikit acak-acakan, ia berjalan menuju kamarnya sendiri di lantai atas.

 Ia mandi dengan sangat lama, membiarkan kucuran air hangat membasahi tubuhnya, mencoba mengusir rasa cemas yang terus menghantui.

   Setelah selesai, ia memakai setelan baju kasual berupa sweater rajut oversize berwarna pastel dan celana pendek.

  ​Bukannya langsung turun, Vanya justru merebahkan dirinya di atas ranjang merah mudanya.

Ia menatap langit-langit kamar, menyentuh tekstur sprei yang sudah menemaninya sejak kecil.

  Rasa malas dan sedih bercampur menjadi satu. Rasanya ia ingin menghilang saja agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa besok ia akan menjadi seorang istri.

​"Vanya? Sayang? Kok belum turun?"

suara Mama Olivia terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.

​Vanya menoleh dengan wajah cemberut.

 "Ma... Vanya masih mau di sini. Nggak mau pindah sekarang,"

 rengeknya manja, menarik selimut sampai menutupi hidungnya.

​Mama Olivia mendekat, duduk di pinggir ranjang dan mengusap dahi putrinya.

"Aiden sudah di bawah, Sayang. Dia sudah jemput. Ayo, nggak enak kalau dia nunggu lama."

​Mendengar nama Aiden, jantung Vanya berdegup kencang.

Ia terpaksa bangkit meski dengan bibir yang mengerucut tajam.

​Di lantai bawah, suasana sudah sibuk.

 Beberapa petugas pindahan tampak mengangkut koper-koper besar Vanya ke dalam mobil boks.

Sementara itu, Aiden berdiri dengan tenang di dekat pintu utama, mengenakan kemeja santai berwarna putih yang kancing atasnya dibuka, membuatnya terlihat sangat tampan.

​Begitu melihat Vanya turun, tatapan Aiden langsung mengunci gadis itu.

"Lama banget. Gue kira lo kabur lewat jendela," sindir Aiden datar.

​Vanya tidak menyahut.

Ia justru langsung menghambur ke pelukan Papa Airlangga yang berdiri di dekat sofa.

 "Papaaa! Hiks..Vanya nggak mau pergi sekarang! Besok aja Vanya ke sana pas mau nikah"

tangis Vanya pecah.

Ia memeluk Papanya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskan pelukan itu, dunianya akan berakhir.

​"Cup, cup... jangan nangis, Putri Papa yang paling cantik,"

 bisik Papa Airlangga, matanya juga sedikit berkaca-kaca.

 "Besok Papa sama Mama pasti ke sana. Sekarang kamu berangkat bareng Aiden dulu, ya? Belajar mandiri, Sayang."

​Vanya berpindah memeluk Mamanya, tangisnya semakin menjadi-jadi.

 "Mama jangan lupa besok datang pagi-pagi banget! Vanya takut!"

​Aiden yang melihat drama keluarga itu hanya bisa menghela napas.

meski dalam hati ia merasa gemas melihat sisi rapuh Vanya. Ia mendekat, lalu dengan lembut namun paksa, menarik tangan Vanya.

 "Udah, ayo berangkat. Sebelum hujan."

​Vanya melambai dengan tangan gemetar saat mobil sport Aiden mulai melaju keluar dari gerbang rumahnya.

 Ia terus menoleh ke belakang sampai bayangan orang tuanya menghilang di balik tikungan.

​Suasana di dalam mobil hening sejenak, hanya ada suara isakan kecil dari Vanya yang masih sibuk mengusap air matanya dengan tisu.

 Aiden melajukan mobilnya dengan tenang, membelah kemacetan Jakarta menuju kawasan apartemen elit di Jakarta Selatan.

​"Berhenti nangisnya, Vanya. Lo kayak mau dikirim ke panti asuhan aja,"

ucap Aiden dingin.

​"Gwehh emang sedih taukk! Kak Aiden nggak punya perasaan!"

 semprot Vanya barbar, suaranya serak karena habis menangis.

"Pokoknya di apartemen nanti gwehh mau kamar sendiri! Jangan deket-deket gwehh!"

​Aiden justru menyeringai miring, sebuah

 seringai yang selalu membuat Vanya bergidik ngeri.

 Ia memelankan laju mobilnya saat memasuki area yang agak sepi. Aiden mencondongkan tubuhnya ke arah Vanya, satu tangannya tetap di kemudi, sementara tangan lainnya mendekati telinga Vanya.

​"Kamar sendiri?"

bisik Aiden dengan suara parau yang sangat sensual.

"Gue rasa lo lupa, Sayang. Malam ini adalah malam terakhir lo jadi anak mama. Mulai nanti malam, gue bakal pastiin lo nggak bakal sempet mikirin buat tidur sendirian."

​Vanya menelan ludah, badannya menegang.

 "K-kak... maksudnya?"

​"Gue udah kangen asupan segar gue,"

lanjut Aiden sambil melirik dada Vanya dengan tatapan yang sangat lapar.

"Nanti malam, nggak butuh plastik. Gue bakal pake cara yang lebih... memuaskan. Lo siap-siap aja ngerengek sepuasnya di bawah gue."

​"Ihhh! Mesum! Gweh laporin Papa ya!"

teriak Vanya manja, wajahnya merah padam sampai ke leher.

"Gweh tetep mau tidur pisah! Gwehh mau cari kamar lain!"

​Aiden hanya tertawa dingin.

"Cari aja kalau ketemu."

​Mereka akhirnya sampai di sebuah gedung apartemen pencakar langit dengan fasilitas keamanan super ketat.

 Aiden membawa Vanya menuju unit penthouse di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka dengan kode akses, Vanya terpaku.

​Unit itu sudah dihias dengan sangat cantik. Ada rangkaian bunga mawar putih di beberapa sudut, aroma terapi yang menenangkan, dan dekorasi elegan yang sebenarnya lebih mirip suasana bulan madu daripada sekadar pindahan.

 Ruang tamunya sangat luas dengan pemandangan langsung ke arah gedung-gedung tinggi Jakarta.

​Vanya berjalan berkeliling dengan takjub.

 "Wah... bagus banget,"

gumamnya pelan, sesaat melupakan ketakutannya.

​Aiden meletakkan kunci mobilnya di atas meja marmer.

"Ini unit baru yang dibeliin Papi buat kita. Suka?"

​"Suka sih... tapi..."

Vanya menghentikan langkahnya saat melihat hanya ada satu pintu besar di lorong utama yang menuju ke area kamar.

 "Kak, kamar gue yang mana? Terus kamar Kakak yang mana?"

​Aiden berjalan mendekat.

 berdiri tepat di belakang Vanya hingga Vanya bisa merasakan hawa panas dari tubuh cowok itu.

 "Lo mau tau kamar lo di mana?"

Aiden menunjuk ke satu-satunya pintu besar yang tadi dilihat Vanya.

 "Itu satu-satunya kamar di unit ini, Vanya. dan mulai malam ini, itu jadi wilayah kekuasaan kita berdua."

​Vanya melotot, jantungnya seolah berhenti berdetak.

 "Hah?! Satu kamar?! Kak Aiden bohong kan?! Apartemen segede ini masa cuma satu kamar?!"

​"Ini konsep modern loft, Sayang. Memang didesain buat pasangan,"

ucap Aiden sambil memutar tubuh Vanya agar menghadapnya. Ia mengunci tatapan Vanya yang ketakutan.

 "Selamat datang di rumah baru kita, Vanya. Dan inget janji gue... malam ini gue nggak akan biarkan lo tidur sebelum gue kenyang."

​Vanya gemetar hebat.

1
Bunda Silvia
sukurin impas itu cuman 1 laki2 lah lo 2 cewek sekaligus nempel2 di biarin aja
Bunda Silvia
bego giliran ketahuan sama istri baru marah meluap2 tadi ngapain aja diem di pepet 2 perempuan emang ngga peka lo jadi laki2 aiden
Bunda Silvia
bidoh aiden emang keterlaluan egois kemauan dia maunya di turutin tapi dia ngga peka anter jemput istri sekolah selagi libur apa salahnya
Haryati Atik Atik
masa anak sma gak bisa bedain gula manja boleh bodoh jgn
Haryati Atik Atik
benci dgn sifat nya Aiden yg gak jujur kan biar sekli masuk penjara
Bunda Silvia
bukanya else dateng ke pernikahan vanya ko dia ngga tau kan ijut sama bagas juga
Qaisaa Nazarudin
Makanya tau masih kecil udah main JANJI2 aja sampe2 sengaja beliin CINCIN BERLIAN pula,bukan EMAS biasa yah..
Qaisaa Nazarudin
Waahh baru SMP aja udah di kasih CINCIN BERLIAN,bukan kaleng2 gaya pacaran nya anak SULTAN,aku dulu main kawin kawinan di kasih CINCIN dari daun singkong yg disimpul gitu lho, Apa kabar ya SUAMI masa KECIL ku sekarang yah?? 🤔🤔🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Udah kayak Baby aja ya punya insting saat ibunya ada..😄
Qaisaa Nazarudin
Nah kan bener situasi seperti ini selalu berhasil meluluhkan si wanitanya..
Qaisaa Nazarudin
Biasanya situasi kek gini yang dijadiin Alesan biar si Wanitanya LULUH, biasanya kan gitu..
Qaisaa Nazarudin
Salah kalian para ORTU juga sih,Tau Anak2 masih pada Labil malah di Nikahkan hanya dengan ALASAN karena Anak kalian Butuh ASI demi MENYAMBUNG hidupnya ckk Egois banget.
Qaisaa Nazarudin
Tujuan awal NIKAH aja udah SALAH,Hanya untuk kesehatan dirinya demi asupan untuk menyambung hidupnya doang..
Qaisaa Nazarudin
Lumayan
Qaisaa Nazarudin
Seolah Aiden Nikahin Vanya hanya untuk manpaatin Vanya demi kesejatannya doang..
Qaisaa Nazarudin
Waah LICIK Aiden dia tau Vanya Marah ke dia,Dan pasti gak mau ketemu sama dia,Makanya dia bawak adeknya biar Vanya busa luluh..
Qaisaa Nazarudin
Kan bukan salah kamu,Munta aja utk diliat CCTV nya..kamu kan cuman membela diri..Aiden juga maunya kamu bersikap TEGAS dan jangan Manja..
Qaisaa Nazarudin
Karena Aiden pengen luat sampai dimana Vanya mau ditindas..
Qaisaa Nazarudin
Woowww niat banget Aiden mau nina ninu ,udah persiapan aja,emangnya Vanya mau? 🤣🤣🤭🤭
Qaisaa Nazarudin
Ku pikir Aiden itu tulus, ternyata ada udang di balik bakwan,Makanya aku sempat heran,Baru aja ketemu tapi sikapnya udah kayak orang udah pacaran lama aja kan..😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!