seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13: Darah di Atas Aspal
Bau aspal yang terbakar matahari bercampur dengan aroma amis yang menusuk indra penciuman. Shafira berlari seolah kakinya tidak lagi menyentuh bumi. Di ujung area parkir khusus eksekutif, sebuah mobil sport merah milik Clara terhenti dalam posisi miring, menghantam pembatas beton. Namun, bukan kerusakan mobil itu yang membuat jantung Shafira serasa dicabut dari tangkainya.
Di depan mobil itu, seorang pria tua berseragam hijau kusam tergeletak tak berdaya. Topi lusuh yang biasa ia gunakan untuk menahan terik matahari terpental jauh, bersimbah cairan merah yang merembes cepat di antara celah paving blok.
"BAPAK!" teriakan Shafira memecah keheningan parkiran yang mendadak mencekam.
Shafira jatuh berlutut di samping tubuh ayahnya. Tangan halusnya gemetar hebat saat mencoba menyentuh wajah Pak Rahman yang pucat pasi. "Bapak... Pak, bangun... ini Shafira, Pak..."
Pak Rahman terbatuk, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Matanya yang sayu mencoba fokus menatap putri sulungnya. "N-nduk... Shafira..." suaranya hanya berupa bisikan yang nyaris hilang ditelan angin.
"Jangan bicara dulu, Pak. Ambulans sedang jalan. Bapak kuat, Bapak harus kuat," isak Shafira. Air matanya jatuh mengenai pipi sang ayah, membasuh noda tanah yang masih menempel di sana.
Di belakangnya, Dave Mahesa sampai dengan napas memburu. Ia terpaku melihat pemandangan di depannya. Pria yang setiap pagi menyapanya dengan senyum tulus, pria yang hanya beberapa jam lalu ia ajak bicara tentang ketenangan jiwa, kini sedang meregang nyawa karena amarah buta seorang wanita dari dunianya.
Dave menoleh ke arah mobil merah itu. Clara keluar dengan wajah pucat, rambutnya berantakan, dan matanya membelalak ketakutan. Namun, alih-alih mendekat untuk menolong, kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya justru menghunus rasa kemanusiaan Dave.
"Dia... dia tiba-tiba muncul! Dia menghalangi jalanku! Dave, lihat mobilku rusak! Ini semua karena orang tua ini tidak tahu tempat!" teriak Clara dengan suara melengking yang dipenuhi histeria.
Dave berjalan mendekat dengan tatapan yang bisa membunuh. Ia mencengkeram lengan Clara dengan sangat keras hingga wanita itu meringis. "Tutup mulutmu, Clara! Kau menabrak manusia, bukan anjing jalanan! Dan manusia itu adalah ayah dari wanita yang baru saja menyelamatkan posisiku!"
"Dave, lepaskan! Sakit! Dia cuma tukang kebun!"
"Dia lebih bernilai daripada seluruh harta keluargamu!" bentak Dave, lalu menghempaskan tangan Clara hingga wanita itu jatuh terduduk.
Suara sirine ambulans mendekat. Petugas medis segera turun dan mengambil alih. Dave melihat Shafira yang terus memegang tangan ayahnya bahkan saat tandu diangkat ke dalam ambulans. Shafira tidak lagi berteriak, ia hanya terisak dalam diam, sebuah pemandangan yang jauh lebih menyakitkan bagi Dave daripada teriakan histeris mana pun.
"Shafira, ikut aku. Kita naik mobilku," ujar Dave sambil merangkul bahu Shafira yang berguncang.
Shafira menggeleng, matanya masih terpaku pada ambulans. "Saya mau ikut Bapak, Pak Dave."
"Ambulans sudah penuh dengan petugas. Percayalah padaku, kita akan sampai di sana lebih cepat. Ayo!" Dave menarik lembut namun tegas, membawa Shafira ke mobil SUV-nya.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit Medika, Shafira hanya menunduk, bibirnya bergerak tanpa henti merapalkan doa. Dave sesekali meliriknya, merasa dadanya sesak oleh rasa bersalah yang tak terhingga. Seandainya ia tidak membawa Shafira ke dalam pusaran konflik keluarganya, seandainya ia tidak memaksa Shafira bekerja lembur semalam, mungkin Pak Rahman tidak akan berada di parkiran itu pada saat yang salah.
Sesampainya di UGD, suasana semakin kalut. Pak Rahman langsung dibawa ke ruang trauma. Shafira terduduk di kursi besi yang dingin, wajahnya kosong. Tak lama kemudian, Bu Aminah dan Arfan datang dengan taksi. Tangis pecah di lorong rumah sakit itu.
"Kak, Bapak kenapa? Tadi Bapak pamitnya mau kerja, Kak..." Arfan memeluk kakaknya, bahunya yang masih muda kini harus memikul beban ketakutan yang luar biasa.
"Sabar, Fan... Doakan Bapak. Bapak sedang ditangani dokter," jawab Shafira, mencoba tegar demi ibu dan adiknya, meski ia sendiri merasa dunianya sedang runtuh.
Dave berdiri beberapa meter dari keluarga itu. Ia merasa seperti orang asing, sosok yang membawa sial bagi keluarga kecil yang bahagia ini. Saat itulah, ponselnya bergetar. Ibunya, Bu Sarah.
"Dave! Kamu di mana? Clara menelepon Mama sambil menangis. Dia bilang kamu menghinanya di depan umum karena tukang kebun itu? Dengar, Dave, Mama sudah mengurus polisi. Kita akan bilang itu kecelakaan murni karena orang tua itu ceroboh. Jangan buat masalah ini besar, saham kita bisa anjlok!"
Dave memejamkan mata, urat di lehernya menegang. "Mama masih memikirkan saham saat seseorang sedang berjuang hidup karena ulah teman Mama?"
"Dave, jadilah realistis—"
"Tidak, Ma. Kali ini aku yang akan menentukan siapa yang realistis," potong Dave dingin. "Jika Pak Rahman tidak selamat, aku sendiri yang akan memastikan Clara masuk penjara, bahkan jika aku harus membayarnya dengan seluruh jabatan yang aku miliki. Jangan telepon aku lagi."
Dave mematikan ponselnya dan membuangnya ke kursi tunggu. Ia berjalan mendekati Shafira yang sedang berdiri di depan kaca ruang UGD.
"Shafira," panggil Dave pelan.
Shafira menoleh. Matanya merah dan sembab. "Pak Dave... Ayah saya tidak pernah menyakiti siapa pun. Dia hanya ingin bekerja agar adiknya bisa kuliah. Kenapa dunia begitu kejam pada orang baik seperti dia?"
Dave tidak bisa menjawab. Ia ingin memeluknya, menenangkannya, tapi ia tahu ia tidak memiliki hak itu. Ia hanya bisa berdiri di sana, menjadi saksi bisu betapa kuatnya iman seorang gadis yang bahkan dalam kondisi hancur, ia tetap kembali bersujud saat adzan ashar berkumandang dari masjid rumah sakit.
Dave mengikuti langkah Shafira ke mushola secara diam-diam. Ia berdiri di pintu belakang, melihat Shafira bersujud dalam mukena putih yang ia bawa di tasnya. Suara isak tangis Shafira dalam sujudnya terdengar begitu pilu.
"Ya Allah... Hamba ikhlas dengan takdir-Mu, tapi hamba mohon... jangan ambil Bapak sekarang. Hamba belum sempat membahagiakannya..."
Dave tertegun. Untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun hidupnya, Dave merasa iri. Ia iri pada hubungan Shafira dengan Tuhannya. Di tengah badai yang begitu hebat, Shafira tahu ke mana harus pulang. Sementara Dave, dengan segala miliaran rupiahnya, merasa tersesat dan sendirian.
Tiba-tiba, seorang dokter keluar dari ruang UGD. Wajahnya tampak sangat serius.
"Keluarga Bapak Rahman?"
Shafira, Bu Aminah, dan Arfan berlari mendekat. Dave juga berdiri di belakang mereka dengan jantung berdegup kencang.
"Bapak Rahman mengalami pendarahan hebat di otak dan patah tulang rusuk yang menusuk paru-paru. Kami harus melakukan operasi darurat sekarang juga. Namun, risikonya sangat tinggi, dan biayanya..."
"Lakukan saja, Dok!" potong Dave dengan suara lantang sebelum dokter sempat menyelesaikan kalimatnya. "Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Masalah biaya, jangan pernah sebutkan lagi di depan keluarga ini. Semua menjadi tanggung jawab saya pribadi."
Shafira menatap Dave dengan pandangan yang tak terbaca. Ada rasa terima kasih, namun ada juga luka mendalam yang tersirat di sana.
"Silakan tanda tangani surat persetujuannya," ujar dokter.
Saat operasi dimulai, lampu merah di atas pintu ruang bedah menyala. Di lorong itu, Dave Mahesa, sang CEO arogan yang dulunya menganggap agama adalah hal kuno, perlahan-lahan duduk di lantai rumah sakit. Ia menundukkan kepalanya, menyatukan kedua telapak tangannya, dan mencoba melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kecil.
Ia mencoba berdoa.
Namun, ia tidak tahu bahwa di luar sana, Bu Sarah dan Clara sedang merencanakan sesuatu yang lebih licik untuk menyingkirkan Shafira dan ayahnya selamanya agar skandal ini tidak mencoreng nama besar Mahesa.
.