Ketika Adrian Richard memutuskan untuk melamar di atap gedung yang romantis, ia mengira semuanya sudah terencana sempurna.
Namun saat ia berlutut, wanita yang berbalik bukanlah kekasihnya, melainkan orang asing bernama Briana Edmond.
Apa yang dimulai sebagai tawa bersama atas kesalahan konyol berubah menjadi bencana saat kekasih Adrian datang dan menyaksikan apa yang tampak seperti pengkhianatan.
Kini, saat satu hubungan hancur, ikatan tak terduga mulai muncul di antara dua orang asing yang tidak seharusnya bertemu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Briana menatap kotak beludru kecil itu. Cincin berlian di dalamnya berkilau, memantulkan cahaya lampu kota. Meskipun ia tahu cincin itu bukan untuknya, ia tidak bisa menahan rasa hangat yang menjalar di dadanya.
Selama ini, hubungannya dengan Clark terasa datar. Clark selalu sibuk dengan bursa saham Wall Street, jarang ada waktu untuk sekadar makan malam, apalagi menyiapkan kejutan emosional seperti ini.
Melihat Adrian yang begitu berantakan karena cinta, Briana merasa sedikit iri pada Elena—wanita yang seharusnya berada di posisinya saat ini.
"Begitukah rasanya diperjuangkan?" batin Briana saat ia tertawa kecil untuk menutupi rasa canggungnya.
"Adrian," panggil Briana lembut. Suaranya tenang, membawa kedamaian khas wanita yang terbiasa bersujud dalam doa. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Niatmu adalah ibadah, sebuah niat baik untuk memuliakan wanita yang kamu cintai. Tuhan mungkin punya cara yang berbeda untuk menunjukkan siapa yang benar-benar layak menerima cincin itu."
Adrian mendongak, menatap mata Briana. Di balik kerudungnya, wanita asing ini memancarkan ketenangan yang tidak pernah ia temukan pada Elena yang selalu menuntut. Ada rasa damai yang tiba-tiba menyelimuti Adrian, seolah pertemuan salah alamat ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang sedang menguji arah hidupnya.
Setelah keheningan yang cukup lama, Briana melirik jam di pergelangan tangannya. Clark tak kunjung datang, dan pesan singkat darinya tadi sudah cukup menjelaskan bahwa pria itu lebih memilih tumpukan berkas di kantor daripada makan malam ini.
"Sepertinya saya juga harus pergi, Adrian," ucap Briana lembut sambil membenarkan letak tas tangannya.
"Keajaiban malam ini sudah cukup sampai di sini."
Adrian tersentak dari lamunannya. Ia merasa sangat tidak enak hati. Bagaimanapun, malam Briana yang seharusnya tenang menjadi kacau karena drama pertengkarannya dengan Elena.
"Briana, tunggu," cegat Adrian.
"Tolong, izinkan saya mengantarmu pulang. Ini sudah larut, dan New York bisa sangat tidak terduga di jam-jam seperti ini. Setidaknya, biarkan saya menebus rasa bersalah karena telah membuatmu terseret dalam masalah pribadi saya."
Briana sempat ragu.
"Tidak perlu, Adrian. Saya bisa memesan taksi."
"Saya memaksa," ujar Adrian dengan senyum tipis yang tulus. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena kamu tidak menyiramkan air ke wajah saya saat saya salah berlutut tadi."
Briana akhirnya tertawa dan mengangguk pelan. "Baiklah, jika itu membuatmu merasa lebih baik."
Di dalam mobil sedan mewah milik Adrian, suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan di atas rooftop tadi. Suara musik jazz diputar pelan, mengiringi rintik hujan yang mulai membasahi kaca jendela.
"Jadi..." Adrian memecah keheningan sambil memutar setir di persimpangan jalan menuju Brooklyn. "Kita tadi belum benar-benar berkenalan secara normal."
Ia mengulurkan tangan kirinya sejenak ke arah tengah.
"Nama lengkap saya Adrian Richard. Saya seorang arsitek yang ternyata sangat buruk dalam mengenali detail orang yang saya cintai."
Briana menyambut uluran tangan itu dengan jabat tangan singkat yang hangat. "Dan saya Briana Edmond. Saya seorang kurator di museum seni. Dan jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, Adrian.
Di bawah lampu remang-remang tadi, siluet siapa pun bisa terlihat menipu."
"Kurator seni?" Adrian menaikkan alisnya, tampak tertarik. "Pantas saja kamu tetap tenang saat Elena mengamuk tadi. Kamu pasti terbiasa menghadapi situasi yang penuh tekanan."
"Seni mengajarkan saya untuk melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif," jawab Briana sambil menatap lampu-lampu jalan yang bergerak cepat.
"Termasuk kejadian tadi. Bagi Elena, itu pengkhianatan. Tapi bagi saya... itu adalah sebuah ketidaksengajaan yang puitis."
Adrian terdiam sejenak, meresapi kata-kata Briana. Kalimat wanita ini begitu menyejukkan. Elena biasanya akan langsung meledak jika ada hal kecil yang tidak sesuai rencananya, sangat kontras dengan pembawaan Briana yang dewasa.
"Apa Clark kekasihmu sering membuatmu menunggu seperti ini?" tanya Adrian hati-hati.
Briana menghela napas, matanya sedikit meredup. "Clark pria yang sangat ambisius. Di kota seperti ini, kadang-kadang cinta berada di urutan kesekian setelah karier. Tapi malam ini, melihatmu berlutut... itu mengingatkanku bahwa ada pria yang masih mau berusaha keras demi sebuah momen."
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen bergaya klasik di kawasan Brooklyn.
"Terima kasih sudah mengantarku, Adrian Richard," ucap Briana sebelum membuka pintu.
"Sama-sama, Briana Edmond," jawab Adrian. Ia merasakan dorongan aneh untuk tidak mengakhiri malam itu di sini.
"Bisakah aku... maksudku, apakah tidak keberatan jika kapan-kapan kita minum kopi tanpa ada drama lamaran yang salah alamat?"
Briana terdiam sejenak di ambang pintu mobil, lalu tersenyum, senyum paling tulus yang Adrian lihat malam itu. "Kurasa New York berhutang satu pertemuan yang normal pada kita. Aku akan menunggumu menghubungiku."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰🥰🥰🥰😍
tetep sehat
selalu semangat
karyamu jadi relaksasi tersendiri utk ku