Gendis, mantan analis bank BUMN yang cemerlang, kini terjebak dalam hambarnya kehidupan rumah tangga demi menuruti keinginan suaminya, Indra. Lima tahun dedikasinya sebagai ibu rumah tangga justru dibalas dengan sikap dingin dan tekanan terkait ketidakhadiran buah hati.
Keharmonisan palsu itu runtuh saat Indra pulang membawa aroma alkohol dan parfum vanilla murah. Insting tajam Gendis terpicu ketika menemukan sehelai rambut pirang di kerah kemeja suaminya. Meski Indra mengelak dengan kasar, Gendis berhasil membongkar rahasia di ponsel suaminya: Indra berselingkuh dengan seorang pemandu lagu bernama Cindy.
Melihat foto mesra dan panggilan "Daddy" di layar ponsel tersebut, hancurlah harga diri Gendis. Namun, di atas kepedihan itu, muncul amarah yang terkontrol. Gendis bersumpah untuk berhenti menjadi istri yang tertindas. Malam itu, ia mulai menyusun rencana besar untuk merebut kembali jati dirinya dan membalas pengkhianatan Indra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruby Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelindung dalam Bayang-Bayang
Baskara Mahendra menyandarkan punggungnya di kursi kulit kebesarannya yang menghadap langsung ke cakrawala Jakarta yang penuh gedung pencakar langit. Di tangannya, sebuah bolpoin berbahan titanium diputar-putar dengan ritme yang gelisah.
Pertemuannya dengan Gendis tadi pagi telah mengusik kotak pandora yang selama belasan tahun ia gembok rapat. Pikirannya melayang kembali ke lorong-lorong SMA Harapan Bangsa. Ia mengingat sosok dirinya yang dulu, beringas, arogan, dan selalu haus akan perhatian.
Sebagai kapten tim basket dan putra dari penyumbang dana terbesar sekolah, Baskara merasa ia adalah penguasa. Namun, ada satu orang yang tidak pernah menatapnya dengan rasa kagum atau takut: Gendis.
Gendis remaja adalah teka-teki bagi Baskara. Saat gadis-gadis lain berteriak memanggil namanya di pinggir lapangan, Gendis justru berjalan melewati mereka dengan mata yang terpaku pada buku teks biologi.
"Aku dulu bodoh," gumam Baskara pada ruang kerjanya yang sunyi.
Ia membully Gendis bukan karena benci. Ia menyembunyikan sepatu Gendis agar gadis itu mau menatap matanya, meski dengan tatapan marah. Ia menguncinya di laboratorium agar Gendis menyadari keberadaannya.
Namun, strategi kekanak-kanakan itu justru menjadi bumerang. Ia membangun tembok kebencian yang begitu tinggi di antara mereka. Saat Gendis lulus dan menghilang menjadi bintang di dunia perbankan, Baskara merasakan kebanggaan yang aneh sekaligus perih. Ia bangga wanita yang ia puja secara rahasia itu menjadi sehebat itu, namun ia tahu ia adalah orang terakhir yang diinginkan Gendis di sisinya.
Malam itu, atas desakan teman-teman geng basketnya dulu, Reza dan Dimas yang kini juga menjadi pengusah, Baskara setuju untuk berkumpul di Club X. Ia butuh pengalihan dari bayang-bayang Gendis yang menghantui pikirannya seharian.
"Wah, gila! Lihat itu, Bas! LC baru di sini namanya Cindy, katanya lagi naik daun banget. Montok, Bro!" seru Reza sambil menunjuk ke arah panggung kecil di tengah kelab yang hiruk-pikuk dengan dentuman musik EDM.
Baskara hanya melirik sekilas dengan tatapan dingin. Matanya menyapu ruangan yang dipenuhi asap rokok dan aroma alkohol yang pekat. Namun, di sudut ruangan yang lebih gelap, di area balkon lantai dua yang menghadap langsung ke meja VIP tempat seorang pria yang ia kenali sebagai Indra sedang bermesraan dengan Cindy, langkah Baskara terhenti.
Ada seorang wanita di sana. Ia mengenakan hoodie hitam besar dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya, namun Baskara tidak mungkin salah mengenali postur tubuh itu. Itu Gendis.
Gendis berdiri mematung, matanya yang tajam mengawasi Indra yang sedang tertawa dan sesekali bercumbu sambil menuangkan wine ke dalam gelas Cindy. Gendis tampak seperti malaikat maut yang sedang mencatat dosa-dosa korbannya. Baskara bisa merasakan aura luka dan kemarahan yang memancar dari wanita itu.
"Dia di sini..." bisik Baskara. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengabaikan ocehan teman-temannya dan mulai melangkah menuju balkon, menjaga jarak agar tidak terlihat.
Gendis terlalu fokus pada pengkhianatan di depan matanya hingga ia tidak menyadari ada bahaya lain yang mendekat dari arah belakang. Seorang pria mabuk dengan pakaian bermerek namun berantakan menghampiri Gendis, mengira wanita berhodie itu adalah salah satu "pekerja" kelab yang sedang beristirahat.
"Heh, manis... Ngapain di tempat gelap begini? Ikut Abang yuk, di bawah terlalu berisik, kita cari tempat yang lebih privat," goda pria itu sambil mencoba merangkul bahu Gendis.
Gendis tersentak, mencoba melepaskan diri.
"Jangan sentuh saya! Pergi!"
"Alah, jangan sok jual mahal. Berapa biasanya kamu dibayar? Aku kasih dua kali lipat," pria itu semakin agresif, tangannya mulai menarik lengan Gendis dengan paksa.
"Lepaskan!" Gendis mulai panik. Ia tidak ingin membuat keributan yang akan menarik perhatian Indra di bawah sana, namun pria ini mulai bertindak kasar.
Sebelum pria itu sempat menarik Gendis lebih jauh, sebuah tangan kekar mencengkeram kerah bajunya dan menyentaknya hingga pria itu terpelanting ke dinding marmer.
Bugh!
Satu pukulan mentah mendarat di rahang pria mabuk itu. Baskara berdiri di sana, matanya menyala dengan kemarahan yang murni. Ia tidak memberikan kesempatan bagi pria itu untuk membalas, ia menarik kerah bajunya lagi dan membisikkan ancaman yang membuat nyali pria itu menciut seketika.
"Kalau kamu menyentuhnya lagi, aku pastikan besok pagi kamu tidak akan pernah bisa menyentuh apa pun lagi dengan tanganmu. Pergi!" bentak Baskara.
Pria itu lari terbirit-birit, menyisakan Gendis yang masih terengah-engah dan Baskara yang berdiri dengan tangan yang masih mengepal.
"Ikut aku. Sekarang," ujar Baskara tanpa menunggu jawaban. Ia meraih tangan Gendis, namun Gendis sempat memberontak.
"Lepaskan, Baskara! Aku harus melihat mereka!"
"Kamu sudah melihat cukup banyak untuk malam ini, Gendis! Kalau kamu tetap di sini, Indra akan melihatmu dan rencana apa pun yang kamu susun akan hancur berantakan. Ayo!"
Kalimat Baskara ada benarnya. Dengan perasaan kalut, Gendis membiarkan Baskara menuntunnya keluar melalui pintu darurat di samping balkon. Mereka melewati kerumunan tanpa disadari oleh Indra yang masih asyik dengan dunianya jahanamnya.
Di lantai bawah, Reza dan Dimas melihat Baskara berjalan cepat dengan seorang wanita bertudung hitam.
"Eh, Bas! Mau ke mana lo? Itu siapa?" teriak Reza dari meja mereka.
Baskara tidak menoleh. Ia terus berjalan menuju area parkir valet. Teman-temannya hanya bisa melongo, tidak menyadari bahwa wanita yang dibawa pergi oleh Baskara dengan begitu protektif adalah "Si Kutu Buku" yang dulu sering mereka jadikan bahan tertawaan.
Baskara membukakan pintu mobil SUV hitamnya untuk Gendis, lalu memutar dan duduk di kursi kemudi. Ia tidak langsung menjalankan mobil. Keheningan di dalam kabin mobil yang kedap suara itu terasa sangat kontras dengan kebisingan kelab tadi.
Gendis melepaskan tudung hoodie-nya. Rambutnya sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, Baskara melihat air mata mengalir di pipi wanita yang selalu terlihat tangguh itu.
"Kenapa kamu di sana, Baskara?" tanya Gendis dengan suara bergetar.
Baskara menatap lurus ke depan, tangannya masih memegang kemudi dengan erat.
"Mungkin karena semesta tahu kamu butuh seseorang untuk menjagamu, meski itu adalah orang yang paling kamu benci di dunia ini."
Gendis memalingkan wajah, melihat ke luar jendela. "Aku tidak butuh dijaga. Aku sedang bekerja."
"Bekerja dengan menyiksa diri sendiri melihat suamimu dengan wanita itu?" Baskara menoleh, menatap Gendis dengan intensitas yang dalam. "Kamu lebih berharga daripada semua sampah yang ada di dalam kelab itu, Gendis. Jangan hancurkan dirimu hanya untuk membuktikan dia bersalah. Kita semua sudah tahu dia bersalah."
Gendis terdiam. Ada kehangatan aneh yang menyusup ke hatinya mendengar kata-kata itu. Baskara, pria yang dulu menghancurkan hari-harinya di sekolah, kini adalah satu-satunya orang yang berdiri di sampingnya saat dunianya runtuh.
"Antarkan aku pulang," bisik Gendis.
"Bukan ke rumah itu," jawab Baskara tegas.
"Aku tidak akan membiarkanmu pulang ke rumah di mana kamu harus berakting menjadi istri yang baik setelah apa yang kamu lihat malam ini. Aku punya apartemen kosong di dekat sini. Kamu bisa istirahat di sana sampai pikiranmu tenang."
Gendis hendak memprotes, namun ia melihat mata Baskara—tatapan yang kini tidak lagi dingin, melainkan tatapan penuh perlindungan yang tulus. Gendis menyandarkan kepalanya di kursi, menutup matanya rapat-rapat.
"Hanya untuk malam ini, Baskara," gumam Gendis lemah.
Baskara mengangguk pelan, menjalankan mobilnya membelah malam Jakarta. Dalam hatinya, ia bersumpah jika Indra telah selesai menghancurkan hati Gendis, maka Baskara akan menjadi orang yang memunguti kepingannya, satu per satu.