Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Langkahku terasa berat saat memasuki ruang rapat besar di lantai dua puluh dua . Aroma kopi mahal dan pengharum ruangan yang biasanya menenangkan, kini justru membuat mual. Di ujung meja oval, Pak Hendra, manajerku, sudah duduk rapi. Di sampingnya, sosok yang paling ingin kuhindari saat ini telah bersiap dengan laptopnya. Baskara.
"Ah, Aruna, silakan duduk. Kita baru saja mau mulai," sapa Pak Hendra ramah. "
Baskara duduk di tempatnya . Tatapannya dingin, Di seberang meja, Rasya duduk sebagai perwakilan vendor kreatif, tersenyum manis tanpa menyadari badai di antara kami.
"Oke, Baskara, silakan dipandu. Saya ingin tahu bagaimana data bisa membantu tim kreatif Rasya untuk kampanye ini," ujar Pak Hendra.
Baskara berdiri, memutar pulpen di jarinya dengan gerakan yang sangat tenang. "Terima kasih, Pak. Inti dari proyek ini adalah Retensi dan Loyalitas. Kita perlu membedah mengapa seseorang memilih untuk pergi dan apakah mereka layak untuk dicari kembali."
Ia menekan remote presentasi. Layar besar menampilkan grafik penurunan kepercayaan pelanggan.
"Dalam data ini, Pak," lanjut Baskara, suaranya berat dan berwibawa, "seringkali kita kehilangan 'aset' karena kita mengabaikan mereka. Kita merasa mereka akan selalu ada meskipun kita bersikap dingin atau tidak responsif terhadap pesan-pesan mereka. Benar begitu, Aruna?"
Aku tersentak saat namanya disebut. Pak Hendra menoleh padaku, menunggu pendapat profesional.
"Secara teknis... iya, Pak. Ada faktor pengabaian yang membuat loyalitas itu luntur," jawabku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Tepat sekali," sahut Baskara cepat. "Masalahnya, Aruna, data menunjukkan bahwa sekali seseorang menghilang tanpa kabar—katakanlah selama satu tahun—maka kemungkinan untuk membangun kembali kepercayaan itu hampir nol. Mereka biasanya sudah menemukan 'vendor' baru yang jauh lebih menghargai keberadaan mereka."
Baskara melirik Rasya dengan tatapan lembut yang sengaja ia tunjukkan di depanku, lalu kembali menatapku dengan sorot mata yang mendingin dalam sekejap.
"Pertanyaannya untuk tim analisis," tanya Rasya polos, "apakah kita masih perlu mengejar mereka yang sudah pergi tanpa pamit itu?"
Baskara tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa seperti sembilu bagi hatiku. "Menurut saya, tidak perlu. Buang-buang energi untuk sesuatu yang sudah dianggap sampah oleh masa lalu. Lebih baik kita fokus pada mereka yang setia di sisi kita sekarang."
Ruang rapat mendadak terasa sangat sempit. Aku meremas jemariku di bawah meja hingga kuku-kukuku memutih. Di depan manajerku dan di depan wanita yang kini menggantikanku, Baskara sedang menggunakan angka dan presentasi untuk menguliti harga diriku hidup-hidup.
"Aruna, kamu pucat sekali. Kamu sakit?" tanya Pak Hendra khawatir.
"Saya... saya hanya butuh udara segar sebentar, Pak. Permisi," aku berdiri dengan terburu-buru, mengabaikan map yang tersenggol hingga jatuh. Aku harus keluar dari ruangan ini sebelum air mataku benar-benar tumpah di depan mereka semua.
Aku berjalan setengah berlari menuju toilet yang berada di ujung lorong lantai dua puluh dua. Begitu pintu tertutup rapat, aku menguncinya dan bersandar pada daun pintu yang dingin. Napasku tersengal, bukan karena lelah, tapi karena sesak yang menghimpit ulu hati.
Baskara benar-benar sudah berubah. Pria yang dulu memohon-mohon kabarku, kini menggunakan kecerdasannya untuk mempermalukanku di depan umum—semua terbungkus rapi dalam terminologi bisnis.
Dengan tangan bergetar, aku mengambil ponsel dari saku blazer. Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk tumpuan selain satu-satunya orang yang tahu seluruh kebusukan masa laluku.
Aruna: Dan, aku bener-bener nggak kuat.
Aruna: Baskara... dia pakai presentasi kerja buat nyindir aku di depan Pak Hendra dan Rasya. Dia bilang aku ini 'aset' yang mengabaikan dia, dia bilang aku ini 'sampah' masa lalu yang nggak layak dikasih kesempatan kedua.
Hanya butuh beberapa detik sampai status online muncul di kolom chat Danesha.
Danesha: Na? Kamu di mana sekarang? Masih di kantor?
Aruna: Lagi di toilet. Aku benci diriku sendiri karena merasa sakit hati, tapi aku lebih benci fakta kalau dia bener, Dan. Dia bener tentang semuanya. Tapi kenapa harus di depan Rasya? Kenapa harus bikin aku kelihatan nggak kompeten di depan manajerku sendiri?
Danesha: Na, dengerin aku. Itu namanya mekanisme pertahanan diri dia. Baskara terluka setahun penuh karena kamu, sekarang dia punya 'power' buat balik nyakitin kamu. Dia pengen kamu ngerasain posisi dia yang dulu—diabaikan dan nggak dianggap.
Aruna: Tapi ini keterlaluan, Dan. Rasya tadi tanya ke dia apa kita perlu ngejar orang yang pergi tanpa pamit, dan dia jawab nggak perlu karena cuma buang-buang energi. Dia natap Rasya lembut banget... sementara ke aku, matanya kayak mau bunuh aku. Aku ngerasa kayak kuman di ruangan itu.
Danesha: Kamu mau resign?
Aku menatap pertanyaan Danesha cukup lama. Resign? Menghilang lagi untuk kedua kalinya?
Aruna: Kalau aku pergi sekarang, aku cuma bakal ngebuktiin kalau aku emang pengecut yang hobi lari. Aku nggak mau dia menang dengan cara itu.
Aruna: Tapi Dan... tiap detik di deket mereka berdua rasanya kayak disiksa perlahan. Aku harus gimana?
Danesha: Hadapi, Na. Kamu yang nanem benihnya, kamu yang harus cabut akar pahitnya. Jangan lari lagi. Selesaiin rapat itu, tunjukin kalau kamu profesional. Masalah hati? Kita bahas nanti malem di tempatku. Cuci muka kamu, Aruna. Jangan kasih dia kepuasan dengan ngelihat kamu nangis.
Aku mematikan layar ponsel, menatap bayanganku di cermin. Benar kata Danesha. Jika aku keluar sekarang dan tidak kembali ke ruang rapat, Pak Hendra akan mempertanyakan profesionalismeku, dan Baskara akan semakin yakin bahwa aku hanyalah pecundang yang tidak punya harga diri.
Aku membasuh wajahku dengan air dingin, memperbaiki tatanan rambutku, dan menarik napas sedalam mungkin. Aku akan kembali ke sana, bukan sebagai Aruna yang penuh sesal, tapi sebagai Aruna yang siap menerima konsekuensi dari "sampah" yang pernah kubuang sendiri.