"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.
"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"
"Kecuali apa, hm?"
Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.
✧✧✧
Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.
Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.
Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?
*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Gue duluan. Gue harus susul dia, takut dia kenapa-napa," ucap Dafa kepada Galvin dan juga Khaira.
Dia tahu bagaimana Jenna akan mengendarai motornya dalam keadaan marah seperti itu.
Dalam keadaan baik-baik saja, Jenna selalu cepat saat berkendara, apalagi keadaan emosi.
Semua orang yang melihatnya, pasti akan takut sekaligus ngelihatnya berkendara.
"Hati-hati, Daf. Tolong jaga Jenna," ucap Khaira, yang begitu mengkhawatirkan Jenna.
"Kabarin kita kalau terjadi sesuatu," sambung Galvin, dan langsung mendapat anggukan pelan dari Dafa.
Setelah itu, Dafa langsung menaiki motor besarnya, kemudian melesatkan motornya dari sana untuk menyusul Jenna yang sudah pergi lebih dulu.
"Gimana kalau Jenna kenapa-napa? Dia marah karena aku, Gal." Khaira menunduk lesu. Rasa bersalah kian menguasai dirinya.
"Jangan nyalahin diri lo," ucap Galvin, sedikit menenangkan Khaira.
Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan lemas. Dia tetap menyalahkan dirinya sendiri. "Tapi kalau Jenna sampai kenapa-napa, itu karena salah aku," ucapnya.
"Bukannya lo pernah bilang, jangan berpikir buruk akan sesuatu? Dan sekarang lo ngelakuin itu?" cibir Galvin, mengingatkan kembali kata-kata yang pernah Khaira keluarkan sebelumnya.
'Astaghfirullah hal adzim. Maafkan aku, Ya Allah.'
Khaira menunduk seraya memejamkan kedua kelopak matanya sejenak. Berdoa untuk keselamatan teman-temannya.
"Pulang sekarang," ucap Galvin, sambil berjalan ke arah mobilnya.
Dengan semangat yang sudah menghilang, Khaira berjalan di belakang Galvin, mengikuti Galvin menuju mobil mereka untuk pulang.
"Biar aku saja, Gal."
Khaira hendak menghentikan Galvin saat Galvin membukakan pintu mobil untuknya. Namun, Galvin tidak mendengarkannya dan tetap membuka pintu mobil itu
untuk Khaira.
"Terima kasih," ucap Khaira, akhirnya.
Galvin sudah terlanjur membukakan pintu itu untuknya dan dia tidak mungkin meminta Galvin untuk menutup pintu itu kembali.
Galvin tidak memberikan respon apa pun atas terima kasih yang Khaira katakan. Dia langsung saja melangkah ke arah pintu sebelahnya, di mana itu adalah tempat untuknya mengemudi.
Tidak ada pembicaraan apa pun begitu keduanya sudah sana-sama berada di dalam mobil.
Galvin langsung saja membawa mobil itu keluar dari parkiran, setelah dia memastikan bahwa Khaira sudah memasang sabuk pengaman.
"Gal...," sahut Khaira tiba-tiba, saat Galvin sedang fokus mengendarai mobilnya.
"Hm?" gumam Galvin, sambil melirik sekilas ke arah Khaira.
"Semoga Jenna baik-baik saja," ucap Khaira.
Galvin melirik kembali ke arah Khaira, dan kali ini dia menatap Khaira dalam waktu yang sedikit lebih lama.
"Kenapa, Gal?" tanya Khaira, mulai merasa gugup karena sampai detik ini, Galvin masih menatapnya dalam diam.
Lampu merah di perempatan jalan itu seolah mendukung situasi mereka saat ini untuk saling memperhatikan.
"Jangan terlalu khawatir," ucap Galvin, di tengah keheningan itu.
Khaira langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan, walaupun itu terasa berat untuknya, dia akan tetap mencoba untuk tidak terlalu mengkhawatirkan Jenna.
Detik berikutnya, dia kembali
mengedarkan pandangannya ke sembarang arah. Lebih tepatnya ke samping jalan, hingga dia memalingkan wajahnya dari hadapan Galvin.
Galvin yang melihat itu, tentu saja mengerti jika Khaira masih dikuasai oleh rasa khawatir dan rasa bersalah terhadap Jenna.
"Khaira," sahut Galvin kepada Khaira, begitu pelan dan terdengar berat.
Namun suara itu masih terdengar jelas di telinga Khaira.
"Iya, Gal?" tanya Khaira, kembali mengalihkan pandangannya kepada Galvin.
Galvin tidak menjawab. Dia hanya diam sambil menatap Khaira selama beberapa detik.
Tanpa Khaira sadari, Galvin mulai mendekatkan wajah ke arahnya. Hingga akhirnya...
Cup!
Sebuah kecupan hangat tiba-tiba Khaira rasakan di keningnya.
Kedua kelopak mata indah itu mendadak tertutup secara sempurna, merasakan lebih dalam tindakan yang baru saja Galvin lakukan kepada nya.
Kecupan itu mampu membuat Khaira menarik diri dari
pikirannya yang terlalu mengkhawatirkan Jenna.
Detik berikutnya, kedua manik-manik indah itu kembali terbuka, menatap ke arah Galvin seolah sedang meminta penjelasan atas apa yang Galvin lakukan.
"Gue bilang, jangan terlalu khawatir," ucap Galvin.
Dia sengaja memberikan kecupan hangat kepada Khaira supaya pikiran Khaira teralihkan, dan Khaira tidak akan terlalu khawatir terhadap Jenna.
Khaira masih mencoba untuk mencerna itu semua. Tindakan yang dilakukan Galvin bisa dikatakan berhasil, karena saat ini pikiran Khaira langsung teralihkan.
Jantungnya mendadak berdebar, karena Galvin melakukan itu untuk yang kedua kali.
Pertama, Galvin mengecup bibirnya, dan sekarang Galvin mengecup keningnya.
Tindakan Galvin sungguh di luar prediksinya.
Derztt... Derztt... Derztt...
Getaran ponsel itu tiba-tiba berbunyi dan membuat layar panggilan Galvin menyala.
Panggilan itu berasal dari Dafa.
"Gimana?" tanya Galvin, begitu panggilan itu terhubung dengan Dafa.
"Gue udah ikutin dia sampai depan gerbang rumahnya. Dia aman. Sekarang gue mau balik," ucap Galvin di sebrang telepon itu.
"Oke. Bagus," sahut Galvin.
Kemudian panggilan mereka terputus. Entah siapa yang mematikan panggilan itu lebih dulu.
Yang jelas informasi utamanya sudah berhasil disampaikan.
"Dia udah sampai rumah," ucap Galvin, memberitahu Khaira, yang masih duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah."
Khaira langsung menghembuskan napasnya dengan lega. Setidaknya, rasa khawatirnya sedikit berkurang terhadap Jenna.
"Kita pikir, lo ga bakal datang, Jen!" ucap salah satu teman Jenna di area balapan itu.
Begitu sampai di area balapan, Jenna langsung turun dari motor besarnya, kemudian menyandarkan diri di motor besar itu.
"Awalnya gue ragu, mau ikut balapan ini atau ga," jawabnya, sambil melepaskan helm hitam kesayangannya.
"Terus kenapa lo mutusin buat ikut?" tanya salah satu dari mereka.
"Penasaran, karena udah lama gue ga ikut balapan. Sekaligus mau tes kemampuan gue, berkurang atau justru sebaliknya," jawab Jenna, yang langsung disambut tawa oleh teman-temannya.
"Kita yakin, kemampuan lo makin keren," ucap salah satu dari mereka, dan langsung mendapat anggukan setuju dari yang lainnya.
"Gimana? Udah siap? Sebentar lagi dimulai," ucap salah satu panitia yang bertugas mengatur jalannya balapan.
"Siap!" Jenna menjawab dengan penuh percaya diri.
Malam itu, langit begitu gelap dan jalanan seakan memanggil Jenna untuk mengikuti balapan liar yang diadakan oleh para penggemar motor di kota itu.
Dia tahu betul, balapan seperti itu sangat berbahaya. Bahkan dia paham jika teman-temannya sangat mengkhawatirkannya, terutama Khaira.
Namun, pikirannya terus tergiur oleh hadiah yang menjanjikan sejumlah uang yang cukup besar.
"Selama pertandingan nanti, lo harus fokus. Jangan mikirin apa pun."
"Iya, benar. Gue yakin, lo pasti menang."
Ucapan semangat Jenna dapatkan dari teman-temannya. Hal itu membuat Jenna yakin bahwa malam ini dia akan memenangkan pertandingan.
Untuk mendapatkan titik fokusnya, dia mencoba dengan keras membuang ucapan Khaira, Galvin, dan juga Dafa yang melarangnya untuk mengikuti balapan itu.
Dia akan membuktikan kepada mereka bertiga bahwa dia bisa walaupun tanpa dukungan mereka.
Setelah mengenakan helm hitam dan jaket kulit, dia menggeber motor kesayangannya.
Mesin motor bergegas meruung, menandakan siap untuk balapan.
Dia merasa degup jantungnya semakin cepat, adrenalin mulai memompa ke seluruh tubuhnya.
Walaupun ini bukan pertama kali untuknya, tetapi rasa gugup itu sangat wajar dirasakan oleh semua orang, begitu mereka mendekati detik-detik pertandingan dimulai.
'Lo pasti bisa'
Jenna menyemangati dirinya sendiri. Dia sangat yakin akan kemampuan yang dia miliki.
Tiga.. Dua.. Satu.. Go!!
Saat tanda start diberikan, dia langsung melesat bersama peserta balapan lainnya.
Meskipun berbahaya, dia merasa sangat hidup saat melaju kencang di jalanan malam itu.
Motor-motor lain bersaing ketat, saling mendahului satu sama lain.
Dalam balapan, dia memperlihatkan keahliannya dalam mengendarai motor.
Dia melewati tikungan dengan sangat gesit, membuat para peserta lain terpaku pada kecepatan dan keberaniannya.
Namun, di tengah euforia, dia tidak menyadari bahaya yang mengintai di depan.
Tiba-tiba, sebuah truk besar muncul dari tikungan dan melaju dengan kecepatan tinggi.
Jenna yang tidak siap menghadapi situasi ini panik dan kehilangan kendali.
Motor yang ditungganginya oleng dan terjatuh, membuat dia terlempar dari motor dan tergeletak di jalan dengan tubuh penuh luka.
Terdengar jeritan dan kegaduhan dari para peserta balapan yang menyaksikan kecelakaan tersebut.
Mereka segera berhenti dan mendekati Jenna yang terkapar tak berdaya.
Beberapa dari mereka segera menghubungi ambulans untuk memberikan pertolongan.
"Jenna kecelakan!"
Informasi itu langsung seolah menghentikan detak jantung Khaira pada detik itu juga.
Baru saja Dafa memberikan informasi kepadanya dan juga Galvin. Informasi yang sama sekali tidak ingin mereka dengar.
"Jenna," lirih Khaira, dengan tubuhnya yang mendadak melemas.
Informasi itu mereka dengar, saat mereka sedang berkumpul di ruang tengah, membahas topik yang akan mereka sampaikan pada rapat besok hari.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Galvin, sambil menahan tubuh Khaira yang sudah tidak bertenaga.
Khaira langsung menganggukkan kepalanya dengan lemas. Saat ini, pikirannya berada di antara keadaan sadar dan tidak sadar.
Hal itu terjadi karena dia masih tidak percaya jika Jenna mengalami hal itu, sekaligus dia belum ikhlas menerima.
Tidak membutuhkan waktu lama, Galvin dan Khaira sudah berada di rumah sakit yang Dafa beritahukan sebelumnya.
"Assalamu'alaikum, Daf. Dia mana Jenna?" tanya Khaira, begitu melihat Dafa yang sedang duduk di kursi tunggu, dengan kepalanya yang menunduk.
"Wa'alaikumsalam," jawab Dafa, seraya mengangkat kepalanya, menghadap ke sumber suara.
"Gal, Khai!" sahut Dafa, begitu dia melihat Galvin dan Khaira sudah berdiri dihadapannya.
"Gimana keadaan nya?" tanya Galvin, menyambung pertanyaan Khaira sebelumnya.
"Gue belum tau. Dokter masih meriksa dia di ruangan," jawab Dafa, sambil menunjuk ke arah sebuah pintu rumah sakit itu, menggunakan gerakan mata.
Sudah dipastikan jika Jenna berada di balik ruangan itu.
Setelah menunggu berjam-jam lamanya, akhirnya Jenna selesai diperiksa dan mereka diizinkan untuk melihat kondisi Jenna, dengan berbagai persyaratan yang harus mereka ikuti.
Keadaan Jenna yang masih kritis, membuat mereka hanya bisa melihat Jenna dari kejauhan, lewat jendela kaca.
Pintu kaca yang menghubungkan antara ruang rawat dengan dunia luar menjadi dinding pemisah yang nyata antara Jenna dan teman-temannya yang sangat mengkhawatirkan kondisinya.
"Jenna, kenapa kamu seperti ini?" lirih Khaira begitu pelan, dengan tetesan air mata yang mulai membasahi cadarnya.
Galvin yang melihat Khaira menangis seperti itu, membuatnya ingin menghapus air mata itu.
Namun hal itu tidak mungkin dia lakukan, karena di sana tidak hanya ada mereka, tetapi juga ada Dafa yang tidak mengetahui hubungan mereka sebenarnya.
'Andaikan lo mau dengerin ucapan kita dan lo ga keras kepala,' batin Dafa, menyesal tindakan yang Jenna lakukan.
Namun semuanya sudah terlambat. Penyesalan itu tidak ada gunanya.
Yang harus dia lakukan adalah berdoa supaya Jenna segera sadar dan pulih seperti sediakala.
'Lo harus cepet sadar. Gue males kalau harus nyari partner ribut selain lo,' batin Dafa, sambil menatap ke arah Jenna yang masih berbaring tidak berdaya.
Seluruh ruangan dipenuhi dengan alat-alat medis dan tabung oksigen, menjadi bukti nyata dari perjuangan Jenna untuk tetap hidup setelah kecelakaan mengerikan yang disebabkan oleh balapan motor liar. Malam ini, dia harus membayar mahal atas keputusannya mengikuti balapan motor liar.