Follow IG @Lala_Syalala13
Adrian Arkadia, seorang CEO jenius dan penguasa bisnis yang dingin, menyamar sebagai pria miskin demi memenuhi wasiat kakeknya untuk mencari cinta sejati.
Ia kemudian menikahi Arumi, gadis sederhana berhati emas yang dijadikan "pelayan" dan pemuas ambisi oleh ibu serta adiknya yang materialistis.
Di tengah hinaan keluarga mertua dan ancaman rentenir, Adrian menjalani kehidupan ganda yaitu menjadi kuli panggul yang direndahkan di malam hari, namun tetap menjadi raja bisnis yang menghancurkan musuh-musuhnya secara rahasia di siang hari.
Perlahan tapi pasti, Adrian menggunakan kekuasaannya untuk membalas setiap tetes air mata Arumi dan mengangkat derajat istrinya hingga para penindasnya berlutut memohon ampun.
Bagaimana kelanjutannya???
Jangan lupa mampir baca yaaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BSB BAB 22_Suara di Balik Tirai Kekuasaan
Pagi di Singapura telah tiba, Arumi berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih gading kiriman "pengagum rahasia" itu.
Ia tampak sangat cantik, sangat elegan, dan siap menaklukkan dunia, Adrian berdiri di belakangnya, mengenakan kemeja rapi yang ia beli di toko lokal kemarin, menatap pantulan istrinya dengan bangga.
'Waktunya bersinar, Arumi Arkadia.' batin Adrian.
'Dunia akan segera mengenal namamu, dan aku akan memastikan jalanmu bertabur bunga.'
Gedung convention center di Marina Bay berdiri megah dengan fasad kaca yang memantulkan kilauan air laut Singapura.
Di dalamnya, suasana begitu formal dan elegan, karpet tebal berwarna merah marun meredam setiap langkah kaki para tamu undangan yang terdiri dari arsitek ternama, investor properti, dan jurnalis desain internasional.
Arumi berdiri di belakang panggung, jemarinya yang dingin meremas kain gaun sutra putih gadingnya.
Jantungnya berdegup kencang, seolah-olah ingin melompat keluar, ia berkali-kali menarik napas panjang, mencoba mengingat setiap kata dalam presentasinya yang telah ia latih bersama Adrian semalaman di kamar hotel.
"Mas Ian..." bisik Arumi, menoleh ke samping.
Adrian berdiri di sana, di area terbatas bagi pendamping peserta.
Ia mengenakan kemeja katun biru muda yang rapi namun sederhana, meski berpakaian seperti orang biasa, ia berdiri dengan ketenangan yang kontras dengan kegugupan orang-orang di sekitarnya.
Sejak kejadian di koridor hotel semalam, Adrian berusaha tampil se-normal mungkin agar Arumi tidak kembali curiga.
"Jangan melihat ke penonton sebagai hakim Arumi." ucap Adrian sambil menggenggam tangan istrinya.
Kehangatan tangannya seolah menyalurkan energi baru ke tubuh Arumi.
"Lihatlah mereka sebagai orang-orang yang sedang menunggu untuk kau ceritakan tentang sebuah rumah impian, kau bukan sedang dinilai tapi kau sedang memberi mereka inspirasi." ucap Adrian.
Arumi mengangguk kecil. "Mas tidak akan pergi, kan?"
"Aku akan berdiri tepat di sudut itu." Adrian menunjuk ke area sayap panggung yang agak gelap namun memiliki pandangan jelas ke mimbar.
"Setiap kali kau merasa ragu lihatlah ke arahku, aku tidak akan memalingkan wajah sekejap pun." ucap Adrian.
"Selanjutnya finalis dari Indonesia, Arumi Arkadia." suara moderator bergema di seluruh ruangan.
Arumi melangkah ke atas panggung, lampu sorot yang terang sempat membuatnya silau, namun saat ia berdiri di balik podium dan melihat lautan manusia di depannya, ia mencari sosok suaminya.
Begitu ia melihat siluet Adrian yang berdiri tegak di sayap panggung, keberaniannya muncul.
Ia memulai presentasinya, suaranya yang awalnya agak bergetar perlahan menjadi stabil dan penuh keyakinan.
Ia tidak berbicara tentang teknis yang kaku tapi ia berbicara tentang bagaimana ruang bisa menyembuhkan luka, bagaimana sebuah pojok baca kecil bisa menjadi tempat perlindungan bagi jiwa yang lelah.
Layar besar di belakangnya menampilkan sketsa-sketsa Arumi yaitu garis-garis yang lahir dari kegelapan gudang belakang namun memancarkan cahaya harapan.
Para juri yang awalnya terlihat skeptis, kini mulai condong ke depan, menyimak dengan saksama.
Profesor Wijaya yang duduk di barisan depan tampak tersenyum bangga.
Di sudut gelap Adrian memperhatikan setiap ekspresi istrinya, ia merasa dadanya sesak oleh rasa bangga.
'Inilah alasan mengapa aku melindungimu Arumi karena bakatmu terlalu berharga untuk terkubur di bawah cacian keluargamu.' gumamnya dalam hati.
Setelah presentasi selesai tepuk tangan riuh memenuhi aula, Arumi turun dari panggung dengan perasaan lega yang luar biasa.
Namun, acara belum berakhir yaitu pengumuman pemenang akan dilakukan oleh dewan komite tertinggi Arkadia Global Design Foundation.
"Mohon perhatiannya," moderator kembali berbicara.
"Karena ketua yayasan kami berhalangan hadir secara fisik karena harus mendampingi dewan penasihat utama kami, beliau akan memberikan sambutan dan mengumumkan pemenang melalui saluran audio langsung dari kantor pusat."
Suasana menjadi hening, sebuah speaker besar di sisi panggung berderak pelan.
"Selamat siang, para hadirin." sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan penuh otoritas menggema di aula.
Arumi membeku, tubuhnya mendadak kaku, ia mengenal jenis frekuensi suara itu, ia mengenal jeda napas di antara kata-katanya.
Suara itu... suaranya terdengar sangat mirip dengan suara Adrian saat pria itu sedang berbicara serius dengannya, meski suara di speaker ini terdengar lebih dingin dan memiliki wibawa yang sanggup mengintimidasi satu ruangan.
"Bakat yang kita lihat hari ini adalah bukti bahwa desain tidak mengenal batas sosial. Pemenang tahun ini telah menunjukkan bahwa kemewahan sejati adalah kejujuran dalam berkarya..." suara itu melanjutkan.
Arumi menoleh ke arah sayap panggung mencari Adrian, ia melihat suaminya masih berdiri di sana, namun Adrian sedang menunduk, seolah sedang sibuk dengan sesuatu di saku celananya.
"Dan pemenang Global Interior Visionary Award tahun ini adalah... Arumi Arkadia."
Aula meledak dalam sorak-sorai. Arumi berdiri terpaku, ia memenangkan penghargaan dunia, namun pikirannya terpecah.
Ia terus menatap ke arah Adrian yang kini tersenyum lebar dan memberikan jempol ke arahnya.
Setelah menerima trofi Arumi digiring menuju ruang VIP untuk sesi wawancara, Profesor Wijaya mendampinginya dengan penuh semangat.
"Kau luar biasa, Arumi! Masa depanmu sudah terjamin!" seru Profesor Wijaya.
"Terima kasih, Prof. Tapi... siapa sebenarnya ketua yayasan tadi?" tanya Arumi penasaran.
"Ah, dia adalah Adrian Arkadia. Cucu tunggal dari Tuan Haris Arkadia, pemilik kerajaan bisnis ini, Adrian adalah pemimpin yang sangat tertutup dan dia jarang muncul di publik karena menghormati gaya kepemimpinan Kakek Haris yang lebih suka bergerak di balik layar."
Arumi terdiam. Nama itu lagi, Adrian Arkadia. Nama yang dipanggil oleh pria di bandara kemarin.
Saat ia keluar dari ruang VIP, ia mendapati Adrian sedang menunggunya di depan pintu. Ia membawakan sebotol air mineral untuk istrinya.
"Selamat, Istriku. Kau hebat sekali tadi," ucap Adrian tulus.
Arumi menatap mata Adrian dalam-dalam. "Mas Ian... tadi Mas dengar suara orang yang mengumumkan namaku? Suaranya sangat mirip denganmu."
Adrian tertawa kecil, berusaha tetap rileks. "Wah, benarkah? Mungkin suara orang yang sedang bahagia memang terdengar mirip satu sama lain atau mungkin karena speaker-nya terlalu besar jadi terdengar pecah."
"Tapi Mas..."
"Sudahlah, Arumi. Jangan pikirkan suara itu. Hari ini adalah harimu. Ayo, aku ingin mengajakmu jalan-jalan sebentar sebelum kita pulang besok."
Malam harinya, Adrian mengajak Arumi berjalan-jalan di Orchard Road untuk merayakan kemenangannya.
Mereka menikmati es krim potong di pinggir jalan seperti turis biasa.
Namun, kedamaian itu terusik ketika sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di samping mereka.
Dua pria berjas rapi turun, Adrian langsung mengenali mereka tapi mereka adalah ajudan pribadi Kakek Haris.
"Tuan Muda," salah satu pria itu berbisik pelan namun cukup jelas untuk didengar Arumi.
"Tuan Haris ingin bertemu, beliau tahu Anda di Singapura dan beliau menunggu di hotel."
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
kpn kau sadar, heran seneng amat lihat suami tersiksa, jd sebel Ama Rumi jdnya sok yes 😡😡